Zuhud terhadap dunia dan penjelasan hinanya dunia itu.

Publikasi: Jum'at, 7 Sya'ban 1435 H / 6 Juni 2014 09:38 WIB

Pemateri : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

zuhud dunia-mtf-online.com                Kita telah bahas apa itu zuhud, zuhud bukan berati kita harus hidup kumuh dan kotor atau terpaksa hidup jadi gembel, zuhud adalah pilihan kita untuk memilih yang lebih baik memilih yang lebih kekal dari pada yang fana yaitu akhirat, nah itulah zuhud yang sebenarnya, walaupun kita orang kaya, walaupun kita menjadi pengusa besar,

Ketika kita memilih akhirat dari pada dunia maka itu zuhud namanya, kebalikanya orang kafir mereka mengutamakan dunia karena mereka tidak mengenal akhirat, mereka tau itu  es krim tapi mereka tidak tau mutiara misalkan seperti itu. Orang yang pikiranya pendek mereka pasti memilih hal yang lebih dekat dan hina dari pada yang mulia akan tetapi jauh, akan tetapi orang yang paham hakikat maka ia akan memilih yang mulia dan meninggalkan yang hina dan sementra.

Rasulullah ibaratkan dunia ini di ibaratkan oleh nabi lebih hina bangkai kambing yang cacat dimata allah ta’ala, kemudian perbandingan dunia dengan akhirat ibarat engkau mencelupkan cari ini kelaut dan apa yang tertinggal di jari  kita, orang yang berada di gurun pasir sana paham laut itu begitu luas apalagi kita yang berkali-kali melihat laut maka kita tidak akan bisa sanggup membayangkan kenikmatan akhirat itu

Zuhud menurut para ulama’.

Yunus bin Maisyaroh: “bukanlah zuhud itu dengan mengharamkanyang halal tidak juga menyianyiakan harta, zuhud adalah kamu lebih percaya dengan apa yang ada disisi allah dari pada apa yang disisimu” jadi kalau kita masih dalam tatanan yang halal bukan berate kita tidak zuhud. Maka salah orang yang mengatakan “ untuk apalagi dia kerja lagi padahal uangnya sudah banyak” hal seperti ini salah karena bekerja itu wajib,  maka orang mukmin harus ada aktifitas ekonomi sekaya apapun kita, karena perjuangan menuju akhirat itu berat dan besar. Jadi semakin banyak harta kita jadikanlah untuk membantu kita menuju akhirat. Begitu juga ilmu “buat apa kita belajar kan sudah doctor” orang yang mengatakan seperti ini salah karena belajar itu adalah ibadah, walaupun kita tidak dapat ilmu maka ibadahnya dapat, dan menuntut ilmu adalah ibadah sunnah yang terbesar. Makanya setan itu lebih takut kepada orang yang berilmu dari pada ahli ibadah tanpa ilmu

Zuhud juga bukan berati menghabur hamburkan harta tanpa pertimbangan, maka kita harus menimbang mana yang kemanfaatanya untuk akhirat dan mana yang kemanfatanya unuk dunia mana yang tidak manfaat bagi keduanya.

Makanya orang yang zuhud itu jika mendapatkan karunia allah maka ia akan segera menitipkan pada allah, akan tetapi jika kita titipkan lewat infak fisabilillah pada allah maka allah akan menggandakan:

{مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ } [البقرة: 261]

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[1] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”

“Orang zuhud kondisinya dapat musibah tidak dapat musibah sama saja” kita tidak berubah di puji orang maupun tidak dipuji maka sama aja, maka kita simpulkan bahwa zuhud adalah urusan hati bukan urusan setelan kita, tidak terpengaruh oleh lingkungan, misalkan karena kita dikritik maka kita tidak berani memakai pakean bagus.

Zuhud terhadap dunia ini ditafsirkan melalui tiga perkara dan semuanya adalah amalan hati bukan amalah badan” maka seseorang tidak bisa melihat kemudian mengatakan “orang ini zuhud” karena zuhud ini adalah amalan hati. Tiga perkara tersebut adalah :

1. Lebih percaya kepada apa yang ada ditangan allah ketimbang apa yang ditangan kita, dan ini akan lahir dari kuatnya keyakinan kita kepada allah. pernah dikatakan kepada Abu hazim: “ apa hartanmu? Maka dia mengatakan aku memiliki dua harta dan aku tidak akan takut fakir karena aku memiliki dua hal itu” apa itu? maka dia  menjawab “ percaya penuh kepada allah dan putus asa dengan apa yang ada ditangan manusia” maksudnya dia tidak akan berharap kepada manusia.

Sebagaiman akisah nabi khidir pada waktu ia melewati suatu kampong dan kemudian meminta kepada mereka tidak di kasih, dan kemudian dia melihat rumah reot kemudian dia perbaiki kemudian musa bertanya kenapa kamu perbaiki rumah itu padahal masyraktnya adalah orang yang tidak mau menolong kita, maka khidzir menjawab: rumah ini adalah milik dua anak yatim dan dulu bapaknya adalah orang yang salih. Seperti inilah orang yang zuhud mereka tidak meminta balasan dalam membetulkan rumah itu dan hanya kepada allah mereka berharap. Dan dari kisah diatas maka bisa kita ambil pelajaran jika orang tua adalah orang sholeh maka allah kan mempermudah urusan rizki bagi anaknya atau mempermudah urusanya.

Ada juga kisah Umar bin Abdul Aziz. Saat dia meninggal dia meninggalkan anak 12 dan hanya meninggalkan 12 dinar. Dan mereka semua menjadi orang yang sukses dan kaya semua, kenapa bisa demikian karena ayahnya adalah orang yang saleh dan bertakwa. Dan disisi lain ada juga seorang anak pemimpin juga pada masa itu yang banyak korupsi dan setiap anak mereka mendapatkan 1000 dinar  dan kemudian mereka jatuh miskin semuanya. Maka dari kisah ini jika kita ingin anak kita menjadi orang yang sukses maka jadilah kita orang yang shaleh

Jadi apabila kita sudah yakin kepada allah dan lepas dari berharap dari manusia maka maka ini adalah dua harta kita yang termahal. Lanjut pada kisah ibnu hazm tadi: kemudian di tanyakan kepadanya; apakah kamu tidak takut miskin ? maka dia menjawab: bagaimana aku takut fakir sedangkan tuhanku adalah pemilik langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dan apa yang dibawah bumi”

Fudahail mengatakan: asalnya zuhud adalah ridho kepada allah ta’ala”. Dan ada yang mengatakan “orang yang  zuhud adalah orang yang paling kaya.”

Barang siapa yang berhasil mendapatkan keyakinan pada dirinya dan dia percaya penuh terhadap allah terhadap semua urusanya dan dia ridho terhadap aturan allah dan dia terputus dengan makhluk baik harap maupun takut” maka dia adalah orang yang zuhud dan dialah orang yang paling kaya walupun dia tidak memiliki apa-apa.  Orang yang menyandarkan masalah dunia ini kepada manusia adalah suatu hal yang di benci misalkan “kalau saya tidak kerja sama dia maka saya akan makan apa?”

Amar berkata: “cukuplah kematian sebagi pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai modal kekayaan, dan cukuplah ibadah yang menyibukkan”.

Ibnu Mas’ud berkata: “yakin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan mencari murka allah, engkau tidak hasad terhadap rizki yang di berikan allah pada orang lain, dan kamu tidak mencerca orang lain terhdap apa-apa yang belum allah berikan kepadamu, karena rizki allah tidak bisa digiring oleh orang yang rakus, dan rizki allah tidak bisa dicegah oleh orang yang tidak suka, allah jadikan kebahagiaan itu pada yakin dan ridho”  maka bagi orang mukmin ini harus yakin dengan rizki dari allah dan kita hanya mencari dan tawakkal, maka dari itu apabila kita yakin maka akan muncul kebahagiaan dan keraguan itulah yang mebuat kita tidak bahagia dan merasa takut terus, maka dari itu jika kita ragu pada allah maka kita akan menjadi orang yang sedih terus menerus. Orang yang tidak percaya pada allah sama seperti orang yang nganggur, orang yang biasa nganggur maka setelah dia dapat kerja maka dia akan cepat di PHK karena tidak bisa kerja. Karena apa dia tidak ada pegangngan, berbeda dengan orang yang biasa bekerja kapan dia dapat gaji santai aja, tapi  orang yang tidak pernah bekerja maka yang ia piker kapan gajian dan kapan gajian.

2. Seorang hamba bila di coba dengan hilang hartanya maka dia lebih suka apabila barang itu tidak kembali dari pada barang itu kembali. Karena jika barang itu kembali maka dia berfikir belum tentu dia akan menggunakan harta itu untuk di jalan allah. sebagai permisalan kita di tipu orang dengan 1.000.000. jika uang itu balik maka belum tentu barang itu dia gunakan untuk di jalan allah dan mungkin malah ia gunakan untuk maksiat.  Akan tetapi jika uang itu sudah hilang dan kita ihlas maka jelas tentu itu menjadi pahala bagi kita. Maka dengan hilangnya hartanya tidak membuatnya sedih. Maksudnya bukan suka kalau barangnya hilang, bukan demikian akan tetapi dia lebih suka dengan pahala di balik itu semua disisi allah.

Makaya orang yang kedzuhudanya sangat tinggi maka kehilangan harta apa saja yang ia cintai maka ia akan tetap sabar, ketika kehilangan anak maka ia mengharapkan pahala dari allah. dan semua ini akan lahir karena keyakinan kita yang kuat kepada allah. makanya Ali bin abi Tholib berkat: “barang siapa yang zuhud terhadap dunia maka ia akan mudah baginya dalam menghadapi musibah dunia”. Dan sebagian salaf berkata: “jikalau tidak karena musibah-musibah dunia ini bisa jadi kita kembali keakhirat dalam keadaan bangkrut”. Jadi musibah-musibah dunia inilah yang bisa memperbanyak pahala kita makanya kita perlu sabar  dan orang yang zuhud ini tidak sedih apabila dia hina dan sama saja baginya di puji ataupun tidak.

Jika dunia ini telah membesar pada hati seseorang maka dia akan memilih pujian dan dia tidak suka apabila dia di cerca, dan bisa jadi dia akan meninggalkan kebaikan dan kebenaran yang banyak karena takut di cerca orang. Misalkan “ngapain pake jilbab ini sudah jaman moderen.” Kemudian dia melepaskan jilbabnya maka orang seperti initidaklah dikatakan orang yang zuhud.   Bahkan orang yang seperti ini akan terjebak pada keburukan yang banyak. Barang siapa yang sama saja dipuji ataupun tidak dipuji menunjukkan bahwa telah jatuh di mata dia kedudukan makhluk dalam hatinya dan dia hatinya telah penuh dengan cinta pada kebenaran allah ta’ala dan dia telah mencintai keridhoan allah ta’ala sebagaimana yang dikatakan Abdullah Ibnu Mas’ud: “yakin itu ialah engkau tidak mencari ridho manusia dengan murka allah subhanahu wata’ala”.

Imam hasan berkata: “orang yang zuhud adalah orang ketika melihat orang lain maka ia akan mengatakan orang itu lebih zuhud dari pada aku “

imam ahmad pernah ditanya: “ apakah orang yang memiliki harta adalah orang yang zuhud?” “maka dia berkta: “ jika ia tidak bangga karena bertambah hartanya dan dia tidak sedih karena kurang hartanya maka dia adalah orang yang zuhud”.

Ibrahiom bin adam berkata: zuhud itu ada tiga, zuhud wajib, zuhud kemulyaan, dan zuhud kemulyaan. Zuhud yang wajib ialah zuhud pada yang haram, dzuhud kemulyaan yaitu zuhud pada yang halal, kemudian zuhud keselamatan yaitu zuhud pada hal-hal yang subhat”

Maka dari itu dari barang yang haram maka wajib bagi kita unuk meninggalkanya, dengankan untuk hal-hal yang mubah maka kita zuhud terhadapnya (tiak berlebih-lebihan) sedangkan dari yang subhat maka kita harus tinggalkan untuk keselamatan kita .Setiap orang yang menjual hartanya untuk akhirat maka itu adalah zuhud.

Wallahu a’alm bis shawab



[1] . Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

(saef/mtf-online.com)