Visi Keluarga Muslim

Publikasi: Senin, 20 Zulhijjah 1433 H / 5 November 2012 08:22 WIB

Oleh : Ust. Fathuddin Ja’far

Visi keluarga Muslim sangat besar, mulia dan jangka panjang, yakni keberkahan hidup di dunia yang sementara, selamat dari neraka dan masuk syurga di akhirat nan abadi. Agar kita mudah memahami dan menerapkan visi tersebut, ada beberapa hal yang perlu kita pahami dengan baik:

1. Allah menciptakan manusia dengan visi menjadi “Khalifah” dan misi “Ibdadah” semasa hidup di atas bumi

Sebagaimana yang dijelaskan-Nya dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Dan (ingatlah) ketika Rab-mu berkata kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku menjadikan “khlaifah” di atas bumi… (Al-Baqarah : 30)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melaikan untuk mengabdi/beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariat : 56)

2. Asal muasal manusia adalah dari Adam, sedangkan Adam Allah ciptakan dari tanah. Kemudian Allah ciptakan istrinya dari diri Adam sendiri dan dari pasangan tersebut Allah kembangbiakkan manusia sampai hari ini dan sampai kiamat nanti.

Allah menjelasakan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya (Adam) Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisa’ : 1)

Tentang penciptaan Adam dari tanah kemudian anak cucunya dari sperma dan beberapa fase yang harus dilewatkan (kecuali Isa ‘alaihissalam) serta dengan umur hidup (life time) di dunia yang dibatasi,  Allah menjelaskan:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (67) هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ فَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (68)

Dia-lah yang menciptakan kamu (Kakekmu) dari tanah kemudian dari nuthfah (satu sel sperma), sesudah itu dari ‘alaquh (zigot yang menempel di dinding rahim), kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu (tua). (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).(67) Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.(68). (Ghofir/Al-Mukmin : 67 – 68)

3. Allah tetapkan sesuai kehendak-Nya, bahwa manusia hidup di dunia dengan berpasang-pasangan dan berketerununan

Seperti yang dijelaskan-Nya dalam Al-Qur’an:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا (54)

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air (sperma) lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan, seperti menantu, ipar, mertua dan sebagainya.) dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (Al-Furqan : 54)

4. Kehidupan manusia di dunia ini hanya salah satu fase dari lima fase yang harus mereka lewati.

Allah menjelaskannya:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati (fase ke 1), lalu Allah menghidupkan kamu (fase ke2), kemudian kamu dimatikan (fase ke3) dan dihidupkan-Nya kembali (fase ke4), kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (fase ke5)? (Al-Baqarah : 28)

5. Allah menciptakan manusia dari tidak ada (mati pertama) dan kemudian Dia menghidupkan manusia di dunia. Kemudian mematikan mereka dan setelah itu menghidupkan mereka kembali adalah dengan tujuan untuk menguji siapa di antara mereka yang ta’at dan yang durhaka kepada-Nya.

Allah menjelaskan:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (1) الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (2)

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan (alam ini), dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,(1) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (2) (Al-Mulk : 1 – 2)

6. Allah mengingatkan manusia bahwa dalam mejalani kehidupan dunia ini banyak hambatan dan tantangan, termasuk diri sendiri (syahwat), kehidupan dunia berupa harta, anak, istri, kedudukan dan berbagai bentuk kenikmatan lainnya. Semua itu menjadi ujian bagi manusia apakah mereka berhasil melewatinya dan tidak tergoda olehnya. Oarang-orang yang tergoda oleh kehidupan dunia dipastikan ia lalau dan bahkan bisa lupa diri sehingga visi dan misi hidupnya tidak dapat ia laksanakan.

Allah menjelaskan:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. ( Al-Hadid : 20)

7. Di antara ancaman paling dahsyat yang Allah jadikan sebagai ujian bagi manusia adalah setan dan para pengikutnya, dari kalangan jin dan manusia. Mereka senentiasa bekerja keras dan licik siang dan malam untuk menyesatkan dan menjauhkan mereka dari jalan Allah dan kebenaran yang diturunkan-Nya kepada para rasul-Nya, termasuk Rasul Muhammad Saw.

Allah menjelaskan:

يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27) وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آَبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (28)

Hai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (27) Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (28) (Al-A’raf : 27 – 28)

Dari tujuh (7) hal tersebut di atas, kita dapat memahami bahwa kehadiran kita di dunia dengan jatah umur yang sangat terbatas dan memiliki kecenderungan berkeluarga itu bukan begitu saja, akan tetapi didesign oleh Allah dengan visi yang besar, jangka panjang dan amat mulia. Dikatakan besar karena keberkahan hidup di dunia dan keselamatan diri dan keluarga dari neraka di akhirat adalah nikmat Allah yang amat sangat besar yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang berhak meraihnya. Dikatakan jangka panjang, karena terbentang sejak dari dunia sampai ke akhirat yang kekal abadi. Dikatakan mulia, karena kemuliaan yang sesungguhnya adalah saat kita dan keluarga kita diselamatkan Allah dari api neraka di akhirat kelak. Sedangkan manusia terhina ialah yang masuk ke dalam neraka sebagai akibat kedurhakaan mereka kepada Allah, Tuhan Pencipta alam semesta.

Visi tersebut terhimpun dalam kalimat : “Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka”, seperti yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim : 6)

Sebab itu, keluarga Muslim bukanlah dibangun di atas visi hubugan biologis sebagaimana yang berkembang dalam masyarakan Barat yang tidak mengenal Allah dengan benar. Karena makhluk Allah yang bernama binatang juga bisa membangun hubungan keluarga didasari naluri biologis yang Allah tanamkan dalam diri mereka. Keluarga Muslim tidak pula dibangun di atas visi material yang dijadikan banyak kalangan, khususnya kaum materialistis sebagai lambang kesuksesan hidup di dunia. Atau apapunlah pernak-pernik duniawi yang menjadi lambang kemualiaan dan kepuasan kaum hedonis alias yang mengikuti dan mempertuhankan syahwat duniawi mereka, tanpa mengindahkan sedikitpun sistem Allah yang bertujuan memuliakan manusia sejak di dunia sampai akhirat. Akan tetapi, keluarga Muslim memiliki visi yang amat besar, amat jangka panjang dan amat mulia, seperti yang dijelaskan sebelumya.

Nah, pertenyaaan berikutnya adalah, apa kiat dan strategi yang efektif agar keluarga Muslim sukses menjalankan visi keluarga seperti yang dicanangkan Allah? Insya Allah, jawabannya akan kita bahas pada artikel berikunta… Allahu A’lamu Bish-Shawab