Talak dalam Islam

Publikasi: Rabu, 22 Jumadil Akhir 1435 H / 23 April 2014 14:35 WIB

Pemateri : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

Talak Dalam IslamJadi talak ini ada dua yaitu talak yang sesuai dengan sunnah ada juga talak bid’ah yaitu talak yang tidak sesuai dengan sunnah. Talak sunnah yaitu talak yang diizinkan oleh Allah Ta’ala, talak yang di jatuhkan sesuai dengan syari’at Islam, dalam hal ini mencakup dua masalah.

  1. Berap jumlah talaknya
  2. Bagaimana cara jatuh talaknya

Talak syar’i, jumlah talaknya dua kali, sebagaimana firman Allah “attalaku marratain” , kemudian bagaimana jatuh talaknya? Yaitu talak yang jatuh pada saat istri sedang bersih dari haid dan belum di campuri.  Maka  orang yang hendak menalak istrinya ia harus menunggu sampai istrinya bersih dari haid dan dia belum mencampurinya, bukan dengan emosi, marah-marah lansung talak begitu saja, dan jika tidak dilakukan seperti itu maka talak itu talak bid’i,

Hukum Talak Sunnah

Hukum talak sunnah menurut para ulama, adalah sebuah realita, maksudnya adalah sesuatu yang tidak bisa di pungkiri, bahkan pada zaman Rasulullah sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, talak ini adalah salusi terakhir, dan walaupun itu salusi terakhir maka talak tetap di anggap sebagi solusi, bukan bencana, jika ada solusi akhir maka pasti ada solusi awal, solusi tengahnya, maka tidak boleh di anggap kiyamat (bencana) apapbila ada keluarga yang cerai selama proses-prosesnya dijalani dengan baik dan sempurna sesuai syari’at.

Talak Bid’i dan Hukumnya

Talak bid’i adalah talak yang dilakukan oleh seseorang  dengan cara yang di haramkan oleh Allah, dan talak bid’i ini mencakup salah satu dari dua perkara. Misalkan melakukan beberapa kali talak dalam satu kali bersih, atau mentalak istri dalam kondisi haid atau fasa’ (nifas), atau mentalak istri dalam keadaan suci akan tetapi ia telah menggaulinya. Atau mentalak istri dalam kondisi tidak jelas hamil atau tidak hamil, itu adalah contoh-contoh talak bid’i yang di larang oleh syari’at, dan yang melakukannya berdosa, jika sseorang melakukan talak bid’i dalam masalah jumlah: misalkan 3 talak dalam satu lafadz maka haram dia nikah lagi sebelum ia dinikahi orang lain, talak bdi’i dalam waktu yang disunnahkan bagi yang mentalak untuk segera ruju’, misalkan mentalak istri dalam kondisi haid, maka ia disunnahkan untuk segera ruju’. Karena sebenarnya belum terjadi talak, sebagaimana kasus dalam hadits Ibnu Umar:

“Bahwasanya Ibnu Umar pernah mentalak isrinya dalam kondisi haid maka Nabi memerintahkan untuk rujuk” dan jika ia kembali kepada istrinya maka wajib ia tahan sampai istri itu bersih, jika ia ingin mentalak maka ia hendaknya mentalak jika ia ingin rujuk maka ia rujuk.

Hukum Talak Bid’i

Hukum talak bid’i diharamkan baik yang berkaitan dengan jumlah maupun waktu, (waktu haid, waktu nifas, seperti yang telah kami sebutkan tadi). Secara hukum talak bid’i hukumnya jatuh pada yang ditalak, sebagaimana talak sunni, Cuma talak yang sunni tidak berdosa akan tetapi talak yang bid’i ini mengandung dosa.

Jika talak tidak jatuh maka tidak mungkin Nabi memerintahkan kepada Ibnu Umar untuk ruju’. Dan tidak akan terjadi ruju kecuali telah terjadi talak. Maka seorang suami apa bila mentalak istrinya dalam kondisi haid misalkan, maka talaknya sah dan dia mendapat dosa.

Ruju’

Ruju’ yaitu kembali kepada istri yang telah ditalaknya dengan talak selain talak bain tanpa akad yang baru. Jika talaknya adalah talak bain maka tidak boleh ruju’, jika ia ingin rujuk maka harus ada yang menikahi dahulu.

Dalil Ruju’

Dalail ruju’ antara lain:

{وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا } [البقرة: 228]

“Mantan suami mereka lebih berhak dari hal ini apabila ia ingin islah”

Jadi syarat kita kembali kepada istri kita, apabila kita ingin islah (memperbaiki) apa yang tadinya rusak, misal akhlaknya yang rusak, ubudiyahnya rusak, keluarganya rusak maka kembali untuk islah (perbaikan). Jadi rujuk bukan karena menyesak belum dapat gono gininya.

{وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ } [البقرة: 231]

Jika kamu ceraikan istri-istrimu sampai kepada mereka ajalnya (iddahnya) maka tahanlah mereka dengan baik.” (al-Baqarah : 231)

Adapun dalil dari sunnah Nabi:

Hadits Ibnu Umar bahwasanya ia menceraikan istrinya dan kemudian Nabi memerintahkan untuk ruju’ kembali.

Para ulama telah bersepakat bahwa barang siapa yang mentalak istrinya bukan talak tiga maka boleh dia kembali pada istrinya, selama masa iddah, jika sudah selesai masa iddah maka ia harus kembali

Hikmah Dihalalkanya Ruju’.

Ruju’ memberikan kesempatan, siapa tahu ia menyesal ketika menjatuhkan talak itu dan ia ingin kembali dengan baik, oleh karena itu Allah buka jalan dihadapanya. Inilah rahmat Allah dan kasih sayang Allah pada hambanya.

Syarat Ruju’

Secara jumlah milik oleh suami, maksudnya apabila ia merdeka belum sampai talak 3. Dan jika jumlahnya telah sempurna talak tiga maka ia tidak boleh lagi ruju’dan tidak boleh menikah lagi dengannya kecuali sudah dinikahi orang lain dan dicerai. Yang ditalak haruslah wanita yang sudah digauli, karena ruju’ tidak akan terjadi  kecuali pada masa iddah, sedangakan wanita yang belum digauli tidak ada masa iddah padanya.

Talak terjadi bukan karena ada ganti “iwad”(mengembalikan mahar) karena iwad dalam talak itu si wanita menjadikan dirinya sebagai tebusan bagi suaminya, dan itu tidak bias terjadi dengan ruju’ tidak halal ruju’ kecuali dengan akad baru dengan ridhonya, karena sudah dianggap wanita yang lepas.

Nikah yang sah tidak ada ruju’ ketika ditalak, sedangkan nikah yang fasid(nikah yang tidak sah/ tidak sesuai dengan aturan sya’i). Maka nikahnya tidak sah maka talaknya juga tidak sah. Karena talak adalah cabang dari nikah, dan jika talak tidak sah maka tidak ada ruju’ juga. Sedangkan nikah yang tidak sah (nikah fasid) misalkan: nikah dengan orang yang haram dinikahi, misalkan menikahi ibu sendiri, atau syarat nikah tidak terpenuhi (tiadak ada akad dan wali).

Ruju’ terjadi pada masa iddah,

Hendaknya ruju’ di realisasikan tanpa sarat.

Bagaimana Terjadinya Ruju’.

Ruju’ biasa terjadi dengan lafadz yang jelas, seperti kata aku kembali kepadmu, saya ruju’ kepadamu, kata apa saja yang mengarah kepada ruju’ maka itu dibolehkan.

Bisa juga dengan cara menggauli istrinya jika ia berniat untuk ruju’. Akan tetapi jika niatnya hanya unuk main-main saja maka zina,

Hokum Talak Raj’i.

Wanita yang ditalak dengan talak raj’I maka, selama masa iddah istri masih mendapatkan nafkah, pakean makanan tempat, masih boleh tinggal ditempat suami masih boleh berhiyas unutk suaminya, boleh berdua-duaan, dan boleh berhubungan badan apabila diniatkan untuk ruju’ kembali. Masih boleh saling mewarisi jika istri salah satu meninggal sedang masih dalam masa iddah. Tidak di syaratkan dalam ruju’ keridhoan istri ataupun walinya. Karena Allah menekankan untuk ruju’ apabila niatnya untuk islah.

Berakhir masa ruju’ dengan berakhirnya masa iddah yaitu 3x haid.  Jika habis masa haid yang ketiga itu kemudian dia bersih dan tidak terjadi ruju’ maka jadilah itu talak yang nyata, tidak boleh baginya bercampur kecuali dengan akad yang baru dengan syarat ada wali ada dua saksi.

Boleh talak roj’I dan bain itu boleh ruju’ selama belum selesai masa iddah dan jika habis maka tidak ada lagi kata ruju’.

Wallahu A’lam Bis Sowab

 

(saef/mtf-online.com)