Tafaqquh Fiddin : Khouf (Takut Kepada Allah)

Publikasi: Senin, 15 Muharram 1438 H / 17 Oktober 2016 15:57 WIB

Oleh : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

khoufArtikel ini adalah transkrip dari ceramah tentang “Khouf (Takut Kepada Allah)” yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA pada kajian rutin Majelis Tafaqquh Fiddin (MTF) setiap sabtu pagi, Pukul 07.000 – 10.00 WIB di masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh 1, Cimanggis, Depok.

Cerminan Khouf/takut kepada Allah itu takut kepada neraka, dan raja’ cerimanan kita berharap kepada Syurga. Khouf adalah hal yang dapat memicu kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Manusia takut terhadap benda atau hewan didunia. itu akan membuatnya manjauh darinya. Tapi kalau takut kepada Allah, itu akan membuatnya dekat pada Allah. Adanya rasa takut itu karena ada ilmu. Allah berfirman,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Artinya para ulama yang mengamalkan ilmunya. Bukan ulama yang ilmunya hanya sampai ditenggorokan. Pintar bicara dan sedikit beramal. Banyak manfaat dari keutamaan dari khouf. Allah menghimpunkan bagi orang yang memiliki rasa takut kepada-Nya dengan petunjuk, rahmat (kasih sayang), ilmu dan keridhoan Allah.

Syarat takut kepada Allah adalah dengan ilmu dan iman. Orang yang berilmu tanpa iman, mereka tidak takut kepada Allah. Banyak orang tahu yang menciptakan alam semesta adalah Allah. Tapi mereka tidak takut kepada pencipta-Nya. Ada bangsa yang tidak takut kepada Allah, belum tentu karena dia tidak tahu. Kalau ditanya siapa tuhannya pasti menjawab Allah. Tapi mereka berani kepada Allah, bisa jadi karena ilmunya yang kurang, atau imannya yang bermasalah.

Ilmu dan iman adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu Allah berfirman,

“Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman dan diberikan ilmu di antara kalian beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Mujadilah [58]: 11).

Iman yang dibangun atas dasar ilmu, maka itulah iman yang bermanfaat. Yang membuat takut kepada Allah Ta’ala. Ilmu tanpa iman akan membuat semakin jauh dan durhaka kepada-Nya. Maka para sahabat Rosul dahulu, diajarkan iman oleh Rosulullah sebelum ilmu.

Salah seorang sahabat berkata, “Kami diberikan Iman sebelum Al-Qur’an”.

Kalau seorang hamba tidak takut kepada Allah, hamba ini akan bisa pada tingkatan mempertuhankan diri. Sebagaimana Fir’aun yang dia mengatakan “sesungguhnya aku adalah tuhanmu yang tinggi”. Begitu juga dengan Qorun. dia mengatakan bahwa harta yang didapat adalah karena kecerdasannya. Kaum-kaum terdahulu pun diadzab karena berani kepada-Nya. Allah menenggelamkan kaum nabi Nuh. Allah menghancurkan kaum nabi luth, nabi Syu’aib dan seterusnya. Itu semua adalah akibat dari hamba yang tidak takut kepada Allah ta’ala dan tidak berharap ampunan kepada-Nya.

Oleh karena itu sifat khouf dan roja’ adalah sifat harus kita miliki. Keutamaan dari ini sangat jelas. Allah memberi hidayah kepada orang yang takut kepada-Nya. Jadi kalau mau ingin mendapat hidayah maka takutlah kepada Allah, menjauhi larangan dan mengamalkan semua perintah-Nya. Allah juga akan ridho kepada manusia yang takut kepada Allah. sebagaimana dalam firman-Nya.

رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ

“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)

Jadi membangun rasa takut kepada Allah itu penting. Karena itu konskwensi keimanan kita kepada Allah sebagai tuhan penguasa jagad raya ini. Yang tidak ada hambanya yang lolos dari ancaman dan adzab-Nya.

Maka saat iblis bangkang kepada Allah, kemudian saat Quraisy membangkang juga, Allah beri adzab kepada mereka. Hingga hari ini kita banyak menyaksikan Allah menurunkan adzab dimana-mana. Salah satunya karena hilangnya rasa takut, sehingga banyaknya melakukan kemaksiatan.

Maka selayaknya kita harus memiliki sifat khouf yang melahirkan ridho. Sebab khouf yang tidak melahirkan ridho bukannya hamba tersebut takut dengan mendekatkan diri, tapi lari menjauh dari-Nya.

Allah memerintahkan hambanya untuk khouf, dan menjadi syarat agar iman itu terwujud dalam diri para hamba. Seperti Allah katakan dalam surat ali imran ayat 175.

فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ

“janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (Ali ‘Imran: 175)

Iman inilah yang menjadi faktor utama yang membuat kita takut kepada Allah ta’ala. Bila imannya tipis, maka kadang dia takut kepada-Nya, kadang dia melanggar aturan dan larangan-Nya. Iman bisa berkurang dan bertambah. Bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan.

Dan keimanan manusia bisa habis. Dan kita tentu tidak akan merasa aman. Sebab kita terus masih membutuhkan hidayah dan taufik Allah ta’ala untuk mempertahankan iman yang Allah berikan kepada kita semua. Makanya bila tidak ingin keimanan kita terkuras dan habis,  mari perbanyak ketaatan kepada Allah ta’ala.

Tidak bisa tergambar jika ada seorang mukmin terlepas dari rasa takut kepada Allah walaupun kecil, tipis rasa takutnya. Artinya jika rasa takutnya habis, otomatis habis pula imannya. Lemah keimanan itu setara juga dengan lemah pengetahuan imannya kepada Allah ta’ala. Jadi kalau ingin meningkatkan iman, berarti harus meningkatkan pengetahuan kita kepada-Nya. Kemudian tingkatkan amal ibadah kita.

Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Fungsi ibadah bagi hati kita adalah ibarat air hujan yang menyirami bumi. Semakin banyak air hujan yang turun maka bumi semakin subur. Jadi kalau iman kita semakin subur didalam hati, pasti ketaatan semakin banyak. Jadi bila ada orang yang stagnan amal shalihnya, belum tentu karena ilmu. Bisa jadi karena iman.

Umar bin Khattab berkata, “Iman itu naik turun, saat iman itu naik, maka lakukanlah amal shalih sebanyak mungkin, baik yang sunnah apalagi yang wajib.” Karena pada saat turun iman dia akan masih memakan modal. Jadi modalnya tidak habis. Karena persedian imannya banyak.

Masa paceklik orang mukmin adalah hanya mengamalkan kewajiban, tidak mengamalkan sunnah. Maka itu bisa menimbulkan hati yang sempit dan kegelisahan. Jadi kalau amal shalih tidak berkembang, bahkan makin menyusut, maka itu keimanannya yang bermasalah. Salah satu cirinya adalah kurang memiliki sifat khouf.  

keuatamaan dari orang yang takut kepada Allah, tidak akan tersentuh oleh api neraka.

عينان لا تمسهما النار ، عين بكت من خشية الله ، وعين باتت تحرس في سبيل الله

“Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.”

(Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh Al-Albani dalam Sahih Sunan At-Tirmidzi [1338])

Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Barang siapa yang takut kepada Allah, rasa takutnya itu menggiring dia itu kepada kebaikan.” Maksud disini adalah takut yang produktif, bukan pasif.  Juga takut kepada Allah karena takut di adzab dan dihukum kepada-Nya. Sehingga banyak amal ketaatan agar tidak di adzab dan berusaha mencari cinta dan ridho-Nya. Dekati dengan amal-amal yang telah dicontohkan oleh Rosulullah. Karena Allah semakin senang bila hambanya makin dekat kepada-Nya.

Syaih Mutawalli Al-Syakhrowi, salah satu ulama di Mesir yang tidak takut kepada apapun kecuali Allah.  Beliau mengatakan, “peganglah kesabaran. Karena disitulah kuncinya lewatnya kehidupan. Allah bisa saja kabulkan doa kamu detik itu juga, bisa menghilangkan kesedihanmu dengan segera, dan bisa menanamkan kebahagiaan padamu waktu itu juga. Tapi kamu tidak dapat merasakan kenikmatan dekatnya kepada Allah.” Dengan dekatnya kepada Allah mencirikan orang yang memiliki rasa takut kepada-Nya.

Hasil dari rasa takut kepada Allah adalah mendorong kita untuk hidup tertib, produktif, dan mendorong kita untuk hidup berjuang. Jadi jangan sampai kita salah arti dalam memaknai khouf. Jika salah maka bukannya semangat, tertib dan rajin, tapi malah makin malas, tidak produktif dan semakin jauh kepada Allah.

Yahya bin Muadz berkata, “Tidaklah seorang mukmin melakukan dosa, kecuali dia mendapatkan dua syurga. Yaitu takut disiksa, dan berharap maaf”. Jadi bila kita telah takut kepada Allah dan berharap maaf, maka kehidupan kita akan tertib. Itulah Selayaknya seorang muslim kalau sudah terlanjur melakukan dosa. Harus bersamaan takut kepada Allah akan hukuman dan adzab, serta berharap maaf dari-Nya.  Hanya roja’ (harapan) saja saat melakukan dosa, maka tidak ada maaf  dan ampunan dari-Nya.

Banyak sekali hadist dan ayat mengenai khouf. Kita berdoa kepada Allah, supaya diberikan sifat khouf dan roja’ yang prduktif, yang melahirkan amal shalih yang banyak. Wallahu Ta’ala A’lam

(saef/mtf-online.com)