Tafaqquh Fiddin : Hari Kiamat Al-baats dan An-Nasyr

Publikasi: Jum'at, 19 Muharram 1438 H / 21 Oktober 2016 06:58 WIB

Oleh : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

pertama kali dibangkitkanArtikel ini adalah transkrip dari ceramah tentang “Hari Kiamat Al-ba’ats dan An-Nasyr” yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA pada kajian rutin Majelis Tafaqquh Fiddin (MTF) setiap sabtu pagi, Pukul 07.000 – 10.00 WIB di masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh 1, Cimanggis, Depok.

Makna Al-Baa’ats adalah kembalinya manusia dalam bentuk fisik. dan hidupnya kembali dari kematian. Berarti Allah ciptakan kali kedua pada manusia. Karena nanti fisik diciptakan dua kali, dan ruh hanya sekali. Sekali untuk fisik dunia, dan sekali untuk fisik akherat. Manusia nanti dibangkitkan dari tulang punggung yang tidak dimakan tanah.

Makna An-nusr adalah sinonim dari Al-Ba’ats. Maksudnya dibangkitkannya seorang mayyit pada suatu kebangkitan. Ia kembali hidup setelah mati. Kenapa dia bangkit? karena dia hidup. Kenapa dia hidup? karena dia bangkit.

Ketika Allah berkehendak mengembalikan manusia dan menghidupkan kembali, Allah tinggal suruh isrofil untuk meniup sangkakala, Lalu isrofil melakukannya. Maka tiba-tiba ruh kembali kepada jasad baru yang Allah ciptakan dari tulang punggung itu.

Setelah itu manusia bangun  dan menuju Allah rabbul alamin.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

“Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi sangkakala itu maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (QS. Azzumar: 68).

Dari dalil diatas ada urutan dalam kebangkitan. Urutan pertama adalah mematikan. Urutan kedua dibangunkan dan menunggu keputusan Allah.

Allah tabaroka wata’ala telah menceritakan kepada kita gambaran, situasi kebangkitan yang ajaib dan aneh sekali. Allah jelaskan dalam surat Yasin ayat 51-53

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ

إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ

“Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera keluar dari dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami”.  (QS. Yasin: 51-53).

Jadi saat dibangkitkan, para manusia langsung menuju satu titik. Sudah tahu kepada tujuan mereka dan tidak ada yang bertanya-tanya kemana seharusnya pergi. Mereka menuju kesuatu tempat yang bernama Mahsyar.

Para ulama menyebutkan bahwa mahsyar ada dua. Pertama ada mahsyar di syam. Kedua mahsyar sebagai tempat penghimpunan manusia, yaitu diakherat.

Dalam hadist dijelaskan bahwa ada sesuatu yang turun dari langit sebelum ada tiupan. Maka dari situlah jasad hamba ini seperti kembali. Ibarat cendawan dimusim hujan.  Artinya tumbuh.

Dari shahih muslim, dari Abdillah bin Amr, berkata, Rosulullah bersabda, “Nanti ditiuplah sangkakala tidaklah mendengar seseorang kecuali bangkit dan cepat bergerak.”

Dalam sebuah hadist lain disebutkan, “Orang yang pertama kali mendengar adalah orang yang sedang berada ditempat minum untanya. Lalu dia pingsan. Kemudian semua manusia pingsan.”

Allah banyak memberi perumpamaan pada ciptaannya untuk akherat. Agar manusia senantiasa ingat kepada kampung sebenarnya.

وَهُوَ الَّذِى يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَآءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِۦ مِن كُلِّ الثَّمَرٰتِ ۚ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿الأعراف:٥٧﴾

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf: 57)

Ada orang yang tidak yakin sama sekali terhadap akherat. Lalu Allah suruh lihat melalui ayat-ayatnya dibumi. Tentang bagaimana Dia menumbuhkan tumbuhan-tumbuhan yang tadinya mati dengan cara menurunkan hujan. Demikian juga Allah akan membangkitkan manusia yag sudah ada ditanah, dengan menurunkan hujan yang sama.

Namun ada juga orang yang beriman tidak paham dengan masalah ini. Maka hasilnya sama saja dengan mereka yang tidak beriman.

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَى بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَذَلِكَ النُّشُورُ

“Dan Allahlah yang mengirimkan angin; lalu (angin itu) menggerakkan awan, maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus) lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah mati (kering). Seperti itulah kebangkitan itu.” (QS. Fatir: 9).

Coba perhatikan dua kata ayat tadi, “Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”. Dan, “Seperti itulah kebangkitan itu”. Kedua-duanya sama dan mirip. Antara mengembalikan jasad sama dengan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Kedua-duanya dari tanah. Dan kedua-duanya setelah turun hujan sebelum ditiupkan sangkakala.

Begitu juga sebagaimana Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan setelah hujan turun dari langit. Kita mengetahui bahwa tumbuhan-tumbuhan itu bermula dari biji/benih yang sangat kecil. Dia terletak dalam bumi dalam bentuk yang keras dan tidak dapat bergerak. Sehingga saat turun air kepadanya,  mulailah bibit itu bergerak dan pecah. Lalu akar-akarnya menancap kebumi. Selanjutnya bibir yang calon pohon tadi menjulang kelangit. Kemudian semakin lama dia menjadi pohon yang sempurna.

Manusia nanti terbentuk dari tulang kecil yang ketika terkena air dia akan tumbuh seperti tumbuh-tumbuhan. Tulang ini letaknya dibelakang.

Dalam sebuah hadist disebutkan mengenai tiupan, dalam shahih Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rosulullah bersabda, “ Antara dua tiupan itu 40”. Beliau tidak mengatakan 40 hari, jam, tahun atau lainnya. Kemudian Allah menurunkan air dari langit. Lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya tanaman. Tidaklah semua fisik manusia kecuali hancur/fana.Namun hanya ada satu tulang yang tidak hancur. yaitu tulang ekor. Dari situlah disusun kembali manusia dihari kiamat.

Dalam hadist muslim disebutkan, “Didalam tubuh manusia itu ada satu tulang yang tidak dimakan bumi selama-lamanya. Dari situlah manusia akan disusun fisiknya pada hari kiamat.” Para sahabat bertanya, “Tulang apa itu wahai Rosulullah”. Beliau menjawab, “ tulang ekor”.

Ada hadist lain yang diriwayatkan oleh imam Abu dawud dan Nasa’i. “Tidak ada bani adam dimakan semua badannya kecuali yang tersisa hanya tulang ekornya”.

Beda halnya dengan jasad para nabi.

Dalam nash disebutkan bahwa mereka tidak akan hancur dimakan tanah.

Dalah hadist riwayat abu daud, Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya bumi diharamkan untuk memakan jasad para nabi.”

Wallahu Ta’ala A’lam

(saef/mtf-online.com)