Tafaqquh Fiddin : Dahsyatnya Padang Mahsyar

Publikasi: Kamis, 25 Muharram 1438 H / 27 Oktober 2016 09:24 WIB

Oleh : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

padang mahsyarArtikel ini adalah transkrip dari ceramah tentang “Dahsyatnya Padang Mahsyar” yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA pada kajian rutin Majelis Tafaqquh Fiddin (MTF) setiap sabtu pagi, Pukul 07.000 – 10.00 WIB di masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh 1, Cimanggis, Depok.

Padang mahsyar adalah dataran bumi yang mana manusia dikumpulkan diatasnya, yaitu bumi lain bukan bumi yang ada di dunia ini. Prosesnya mahsyar adalah dari kehancuran alam semesta.  Allah ta’ala berfirman,

يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang berbeda dan (demikian pula) langit, dan meraka (manusia) menghadap Allah yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (QS.  Ibrahim: 48).

Maksudnya adalah dunia hari ini akan hancur. Tatkala padang mashyar telah digelar, maka Allah tidak mau melihat orang-orang kafir.

Rosulullah telah menceritakan kepada kita tentang sifat bumi yang baru ini dimana nanti adanya pada hasyr (himpunan/perkumpulan).

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ نَقِىٍّ » . قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ : لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لأَحَدٍ

“Manusia dikumpulkan pada hari kiamat di atas tanah putih kemerah-merahan seperti tepung roti yang bersih”, Sahl atau yang lainnya berkata, “Tidak ada tanda (bangunan atau gedung) milik siapa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi sama sekali tidak ada gunung, lembah dan bangunan. semuanya datar tanpa ada sesuatu apapun. Semua manusia akan berkumpul. Tidak ada satupun terlupakan.  Dan disana setiap manusia akan datang sendiri-sendiri.

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْداً

“Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (QS.Maryam:25)

Semua sudah tidak memiliki siapa-siapa. berjalan sendiri-sendiri. Kemudian Allah hitung satu persatu. Kata Sahl bahwa tidak ada patokan salah seorang akan tinggal dimana. Semua sama, tidak ada tempat khusus seorangpun. baik yang dulunya kaya, miskin, sederhana dan mewah, semuanya sama. akan ditempat pada satu tempat.

Kata Imam Al-Khitobi, Kata afra” maksudnya berwarna putih tapi tidak mengkilat.

Imam Iradh mengatakan, kalau afro’ itu adalah putih cenderung pada kemerahan sedikit.

Ibnu Faris, ahli bahasa mengatakan, kata afra’ adalah putih bersih, tidak ada satupun campuran warna apapun.

Adapun arti daqiq yaitu halus yang tidak ditutupi oleh apapun termasuk oleh pepohonan. Ada tanda yang menandakan pada suatu jalan. Dan manusia tidak akan tersesat. Batu-batu dan gunung sudah tidak ada. Atau tanda-tanda yang dibuat oleh manusia yang ditunjukkan sebagai petunjuk jalan, atau untuk membagi tanah. Jadi memang terbentang, dan terhampar luas, buminya putih, bersih, tidak ada gunung, tidak ada bukit atau halangan kecil apapun.

Banyak nash yang dijelaskan oleh para sahabat yang menjelaskan makna sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, Abdu Ibnu Humaid dan Thabari mengeluarkan, menyebutkan dalam tafsir mereka. Dan Imam Baihaqi menuliskan dalam Syu’abul iman, Melalui jalan Amr Bin Maimun, Dari Abdullah bin  Mas’ud, Tentang pemahaman ayat Allah mengenai dimana bumi akan digantikan pada bumi yang lain, Dia berkata, “Diganti bumi ini dengan bumi yang lain seakan-akan dia perak, belum pernah ditumpahkan darah disana (darah yang haram), belum pernah diatas bumi itu melakukan kesalahan dan dosa.”

Orang-orang yang menjelaskan makna tersebut adalah orang yang shahih, yang biasa meriwayatkan hadist shahih. Walaupun mauquf, tapi ditakhrij oleh Bukhori, oleh Baihaqi. Dari sisi lain marfu’. Disebutkan bahwa hadist ini mauquf itu lebih shahih.

Riwayat lain yang diriwayatkan oleh At-Thabari dan Hakim, “Bumi putih, seakan-akan dia celupan dari perak.” Para periwayat ini adalah terpercaya.

Riwayat dari Ibnu Abdu Humaid, Dia mengatakan, sampailah kepada kami cerita ini (maksudnya dari Rosul), bahwa maksud dari bumi itu adalah bumi sekarang yang sudah digulung. Disampingnya ada bumi lain, disitullah manusia akan dikumpulkan.

Dalam hadist Tsur yang panjang, Digantilah bumi ini degan bumi yang lain, lalu kemudian langit dibentangkan. Lalu Allah bentangkan sebentang bentangnya, sampai tidak ada lagi kelihatan bongkok-bengkok ataupun yang menunjol dan cekung. Kemudian terdengar tiupan, maka tiba-tiba mereka berada didalam dunia ini seperti tempat merek sebelumnya.

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa bumi yang diganti ini adalah sifatnya saja. Buminya tetap.

Ada hadist Abdullah bin Umar hadist al-Mauquf  (hanya dia saja yang mendengar), “Pada hari kiamat nanti dilebarkan selebar lebarnya dan disitulah manusia nanti dikumpulkan.”

Ada hadist yang diriwayatkan oleh Jabir secara Marfu’, “Dilebarkanlah bumi selebar lebarnya untuk anak adam. Dan tidak ada tempat bagi mereka kecuali hanya untuk dua kakinya saja.” Periwayat ini tsiqot. Tapi ada yang memperselisihkan Azzahri dan dua sahabat.

Dari Hadist ibnu Abbas, “Bumi ini ada yang ditambah ada  yang dikurangi. Lembah, gunung, pohon-pohonnya hilang.

Itulah pembahasan tentang Mahsyar. Yang jelas meski bentuk bumi berbeda dengan bumi hari ini, tidak banyak benda apapun, tapi yang terpenting adalah buminya adalah datar. Seluas luasnya dan buminya baru. Bukan bumi yang kita tinggal sekarang. Kemudian dia memiliki sifat bumi itu putih dan bersih. Maka itu yang harus kita yakini.

Adapun waktu pergantian bumi dengan bumi yang lain, adalah berdasarkan hadist, Rosulullah bersabda, “Waktu dimana kita berkumpul dan diganti dengan bumi yang lain adalah ketika kita melewati As-Shirath atau sebelumnya, sedikit.“

namun adanya mahyar adalah sebelum sirath. Karena tempat diputuskannya perkara adalah mahsyar. Dimahsyar itulah orang akan diberikan kitab sebelah kanan dan sebelah kiri. Orang yang dengan muka berseri seri atau yang gelap gulita.

Setelah di mahyar orang-orang yang berseri-seri akan diberikan pakaian di syurga. adapun orang kafir akan diberi pakaian api didalam neraka.

Dalam hadist muslim, Dari Aisyah berkata, ia bertanya kepada Rosulullah mengenai bumi diganti dengan bumi yang lain, Aisyah bertanya, dimana manusia ketika itu wahai rasulullah?” Beliau menjawab, “diatas sirath.

Dalam shahih muslim, seorang pendeta bertanya kepada rosul, dimanakah manusia itu wahai Rosulullah” saat bumi itu diganti dengan bumi yang lain?” Rosul menjawab, “Mereka berada dalam sebuah kegelapan sebelum sirath”.

Jadi memang sirath menempel dengan mahsyar. Dan ujung sirath adalah di syurga. Makanya dalam hadist lain, rosul mengatakan, “Orang mukmin dan orang munafik itu melewati as-sirath. Orang kafir tidak. Saat orang munafik melewati sirath, Orang mukmin mendapat cahaya. Orang munafik meminta cahaya itu dari orang mukmin. Namun kata orang mukmin carilah sendiri cahaya itu Lalu orang munafik itu dicegat oleh Allah, seakan mendapat rahmat, padahal adzab. dari situ mereka terbentur langsung kemudian jatuh. Adapun orang mukmin yang lolos ini adalah orang mukmin yang matinya dalam keadaan imannya terjaga, Bersih tidak terkotori oleh khurafat, syirik dan sebagainya.

Dan amal kebaikannya lebih banyak, dari pada amal kejahatannya. Dan saat ketika melewati sirath bermacam-macam. Ada yang seperti kilat. Ada yang seperti kuda berlari. Dan ada juga yang terpeleset-peleset dan dijilat oleh api neraka. Namun lama-lama dia sampai juga. Mereka ini, kata para ulama, adalah mereka yang sama amal kebaikannya dengan amal keburukannya. Itulah manusia yang paling telat masuk syurganya. Ada juga yang mengatakan itu adalah manusia yang dipending oleh Allah untuk diputuskan.

Maka manusia yang memiliki setengah amal kebaikan dan keburukan adalah hanya Allah yang mampu menimbang. manusia tidak bisa. Tidak bisa manusia menduga-duga.

Wallahu Ta’ala A’lam

(saef/mtf-online.com)