Syirkah : Kerja Sama dalam Sebuah Pengelolaan

Publikasi: Ahad, 25 Rajab 1435 H / 25 Mei 2014 09:39 WIB

Pemateri : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

syirkah-191x160Kita lanjutkan Fikih muamalah. Dan sekarang kita sampai pada bab yang kesepuluh yaitu as-Sirku (sirkah). Makna as-Sirku adalah: berserikat atau bersama baik bentuknya perusahaan ataupun koprasi dan di sini ada dua pembahan yang pertama adalah: devinisi sirkah, hukumnya, dan dalil di syariatkanya.

Makna sirkah.

Makna sirkah secara bahasa adalah bercampur, yaitu mencampurkan dari dua harta dimana tidak bisa dibedakan dari sebagian yang lain. Misalakan harta si A bercampur dengan harta si B, dan menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sedangkan makna syar’I yaitu: kesepakatan untuk mencari sebuah maslahat yang hak dalam sebuah pengelolaan.

Misalkan membangun lembaga sosial yang non profit dan disitu ada modal kita sama-sama. Berkumpul dalam mencari hak serikat waris, syarikat wasiat, syarikat pemberian, pada barang atau manfaat ini juga dinamakan syarikatul aghlaq, kenapa dinamakan syarikatul irs, karena jika kita mati maka warisnya bersama-sama, syarikatul wasiah, syarikatul hibah.

Mislakan kita membangun sebuah perusahaan kemudian untungnya kita berikan kepada pesantren. Misalkan kita yang mengelola dan provesionalnya kita dapat akan tetapi keuntunganya semua diberikan kepada pesantren.

Di Arab sana bayak berkumpul sepuluh orang kaya kemudian membangun perusahaan dan kemudian hasilnya untuk da’wah dan lain sebagainya, atu perusahaan yang sudah berdiri kemudian memberikan 10% nya untuk umat, sedangkan di Indonesia masih sangat sedikit yang seperti ini, nah inilah yang dinamakan dengan syarikah kepemilikanya bersama. Yang kedua syarikata akad jika tadi syarikatul amlak, dan sekarang adalah sarikat akad.

Jika syarikat amlak maka murni semuanyamilik besama, jika syarikat ukud misalkan saham lepas. Misalkan kita tanam modal kepertamina dan jelas pertamina bukan milik kita kita hanya punya hak sebesar modal kita.

Dalil diperbolehkanya syarikat ada beberapa ayat dan hadits yang membolehkanya. Diantaranya:

{وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ } [ص: 24]

“dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain” (shod: 24)

Kebanyakan orang yang bercampur itu sebagian melampui sebagian yang lain maka dari itu harus ada, peraturan yang jalas agar seseorang tidak mendzalimi yang lain, dan syarikah ini adalah sebuah transaksi yang dibolehkan dalam syariat islam karena masyarakat membutuhkanya terlebih lagi pada proyek-proyek yang raksasa yang tidak mampu seseorang merealisasikan sendiri.

Jika sediri kita bisa dapat 1 milyar maka kalo berdua bisa dapat tiga milyar dan itu dan itu dianjurkan oleh allah jika niatnya adalah mencari ridha allah.  sebagai mana firman allah:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى} [المائدة: 2]

“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”

Jadi apabila kita bersama-sama maka akan mendapat yang lebih dari pada kita lakukan sendiri, asalkan prinsip dasarnya adalah kebajikan dan takwa. Makanya niatkan apa yang kita kerjakan ini untuk kebajikan dan taqwa bukan untuk hidup, karena jika niat kita adalah untuk hidup maka kita akan dililit oleh kehidupan ini, dapat uang sedikit stres dapat uang banyak tambah stes lagi.

Di Indonesia ini ladang untuk beramal lebih banyak dibandingkan tempat lain, di Arab orang berilmu sangat banyak orang berduit lebih banyak lagi akan tetapi di indonesia ini umat harus kita bangun dengan ilmu, fasilitas, intra struktur negara ini sudah ngos-ngosan kenapa? Karena  lebih banyak yang mereka makan dari pada yang mereka realisasikan. Ini artinya adalah peluang bagi kita untuk beramal, mari kita lihat ada atu tidak komlek yang tidak bolong-bolong jalanya? Kenapa bisa begitu? Padahal rumahnya gede-gede, itu semua karena belum tertanam ayat:

{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى} [المائدة: 2]

“dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa”

Kita berfikir jalan depan rumah saja tidak bisa mereka bagusin bagai mana dengan jalan yang jauh dari rumah mereka.  Jika orang yang benar-benar tertanam ayat di atas maka dia jangankan jalan di di depan rumah jalan yang jauh dari rumahpun akan dia betulkan.

Macam-macam sarikatul ukud

1.       Syarikatul inan

Yaitu bersepakat dua orang atau lebih dalam satu nilai harta untuk mereka perdagangkan, dan dinamakan syarikat inan karena ada unsur kesamaan bagi dua yang bersarikat dalam harta dan dalam pengelolaannya. Disyaratkan syahnya sarikat inan ini dalam kondisi modal dari setiap keduanya atau mereka yang ikut bersyarikat ada uang tunai yang disepakati dibayar, dan dibatasilah setiap dari keduanya itu bagian yang sudah disepakati.

2.       Syarikatul mudhorobah.

Seseorang memberikan uang kepada salah seorang syarikatnya yang dia usahakan dengan bagian tertentu, jadi hanya satu orang yang memiliki harta, dan yang satu menjalankan harta. Yang punya harta ini disebut dengan shohibul mal dan yang menjalankan disebut dengan al-mudhorib. Dan keuntungannya menurut kesepakatan mereka, yang penting prisipnya adalah tarodhin saling ridho.

3.       Syarikatul wujuh.

Keduaduanya bersama memiliki keuntungan apa yang mereka jual belikan berdasarkan posisi mereka garisinya hanya kepercayaan. Jadi lebih kepada brokrich. Bisa dikatakan syarikatul wujuh ini boker berkelompok seperti ini kira-kira

4.       Syarikatul abdan

Apa yang mereka lahirkan berdua dari badan mereka dari yang mubah, jadi bukan dari uang kan tetapi dari keahlian mereka

jadi sepirit apa yang kita dapat dari asyarikah ini ada syarikat inan, ada syarikat mudhorobah, ada syarikat wujuh, ada syarikat abdan, ini artinya apa emang hidup ini harus bersama

يدالله مع الجماعة

  “tangan allah itu ada pada jamaah”

Apalagi dalam masalah da’wah maka kita harus bersama karena akan lebih bisa menguatkan.

Mencari kayu, mencari ikan, mencari barang tambang, mencari rumput seperti menenun, menjahid upah yang mereka dapat adalah sesuai dengan yang mereka sepakati. Berati memang kerja kelompok itu sangat dianjurkan. Jadi keuntungan orang yang berserikat dibagi antara mereka yang berserikat menurut kesepakan yang mereka sepakati begitu pula jika ada kerugian maka harus ada kesepakatan juga hal ini berlaku pada selain mudhorobah, jika mudhorobah maka si mudhorib tidak menanggung kerugian. Orang yang berserikat boleh menghapus atau membatalkan akad kapan mereka sepakati sebagaimana batal juga syarikah jika ada yang mati atau gila

Wallahu A’lam Bis Shawab

(saef/mtf-online.com)