Syarat-Syarat Pelaksanaan Qishas

Publikasi: Senin, 9 Rabiul Awwal 1437 H / 21 Desember 2015 16:16 WIB

(MTF) — Tulisan ini masih membahas kitab “Al-Fiqhul Muyassar, Fi Dhou-il Kitabi Wassunnah”, (Fiqih Praktis, Sesuai Cahaya Al-Qur’an dan Assunnah). Tulisan ini akan membahas bab tentang Syarat-Syarat Pelaksanaan Qishas.

Apabila syarat-syarat keharusan qishas telah terpenuhi maka tidak bisa dilakukan qishas kepada pelaku kejahatan kecuali:

1. Hendaknya yang berhak diqishas sudah mukallaf, balik dan berakal. Kalau seandainya masih anak-anak atau gila maka tidak boleh maka tidak boleh dilaksanakan qishas padanya, akan tetapi ditunggu sampai ia dewasa apabila pelakunya masih kecil, tapi apabila pelakunya orang gila maka ditunggu sampai sadar.

Hal ini pertama kali dilakukan oleh Muawiyyah dan disepakati oleh sahabat yang lainnya, sehingga menjadi ijma sahabat. Dalam hal ini berarti harus terdapat penjara anak-anak dan tidak boleh diqishas sampai memenuhi syarat di atas.

2. Diharuskan semua keluarga/wali orang yang ditumpahkan darahnya ini sepakat untuk qishas, tidak boleh ada diantara mereka yang tidak sepakat. Apabila ada yang tidak sepakat atau tidak hadir, masih kecil, atau akalnya kurang sehat, maka ditunggu sampai dia sehat. Seandainya dia mati dan qishas belum terlaksana sebelum hukum qishas dilaksanakan, maka diteruskan oleh ahlinya. Adapun qishas menjadi batal apabila ada sebagian keluarganya yang memaafkan.

3. Harus diyakini keamanannya agar tidak ada nantinya dendam dan pelanggaran qishas kepada selain yang melakukan kejahatan dan tidak sampai merambat kemana-mana. Oleh karena itu Allah mengingatkan kita;

وَمَن قُتِلَ مَظْلُوماً فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَاناً فَلاَ يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُوراً

Dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Al-Isra`: 33).

Kalau ternyata orang yang di qishas itu adalah orang yang hamil maka harus ditunggu sampai melahirkan, karena membunuh ketika pelaku hamil maka akan merusak janinnya. Jika pelaku telah melahirkan, kemudian ada orang yang bisa menggantikan ia dalam menyusukan anaknya, maka dilaksanakanlah qishas. Namun apabila tidak ada maka dibiarkan sampai masa menyusuinya selesai lalu di qishas.

Ketika pada zaman Rasulullah saw ada seorang wanita yang mengadu bahwa ia melakukan zina, Rasulullah mengatakan tidak bisa untuk melaksanakan rajam, biarkan dulu sampai anaknya lahir dan disusuinya karena anaknya tidak ada yang menyusuinya. Lalu ada salah seorang ansor berkata saya akan bertanggung jawab untuk menyusuinya, maka Rasul pun merajamnya.

Sungguh mulianya ajaran islam.!!!

Diantara hukum-hukum qissas adalah:

Pertama, qissas dilakukan dengan menghadirkan hakim, pemimpin atau wakilnya, merekalah yang melaksanakan keputusan dan dimintai izin agar tidak terjadi kejahatan lain, agar dia (para hakim) bisa melaksanakan berdasarkan hukum Islam.

Hal ini merupakan salah satu cara efektif untuk menahan pengerusakan, kerusakan dan kekacauan dalam masyarakat, sebagaimana firman Allah:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاْ أُولِيْ الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 179).

Kedua, dasar penegakan hukum qishas dilakukan berdasarkan seperti apa yang dia lakukan kepada orang-orang yang dia jahati

Dasarnya sebagaimana firman Allah;

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَآ أَنَّ ٱلنَّفْسَ بِٱلنَّفْسِ وَٱلْعَيْنَ بِٱلْعَيْنِ وَٱلْأَنفَ بِٱلْأَنفِ وَٱلْأُذُنَ بِٱلْأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُۥ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah: 45)

Ketiga, hendaklah alat yang digunakan tajam dan tidak menyakiti

Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

عن أبي يعلى شداد بن أوس رضي الله عنه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” إن الله كتب الإحسان على كل شيء، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبحة، وليحد أحدكم شفرته، وليرح ذبيحته ” رواه مسلم

“Dari Abu Ya’la Syidad bin Aus Rodhiyallahu ‘anhu dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ” Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan [baik] dalam segala sesuatu, maka jika engkau membunuh, maka hendaknya engkau membunuh dengan baik, dan jika engkau menyembelih [sembelihan], maka hendaklah engkau menyembelih dengan baik, dan hendaknya seseorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya ” [HR Muslim]

Keempat, pada dasarnya yang melakukan adalah wali orang yang dibunuh dengan syarat dia bisa melakukannya dengan baik, apabila tidak bisa maka diwakilkan.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa;

> Kita bisa melihat dengan sangat jelas betapa berbedanya hukum buatan manusia dengan hukum Allah, hukum buatan manusia dibuat hanya serampangan saja. Ini menjelaskan bahwa inilah hukum yang baik yang diciptakan oleh Sang Maha Kasih Sayang, maka ketika Allah menghukum kita di dalamnya penuh dengan kasih sayang juga, dan tidak sekedar karena Allah berkuasa sehingga menetapkan sekehendak-Nya, semuanya benar-benar hanya untuk kemaslahatan manusia.

>Yang tidak da pada hukum-hukum lain adalah spirit akhiratnya yang mana dalam melaksanakannya pun mengandung ibadah, dalam ibadah Allah memberikan pilihan-pilihan seperti apabila dia dan walinya memaafkkan maka selesailah perkara. adakah hukum buatan manusia seperti itu?

Dalam hukum Islam tidak ada yang memanipulasi, sehingga sangat efektif dan berakibat jera. Karena orang tak akan jera kecuali dihadapkan kepada neraka.

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا ,وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa yang membunuh seorang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya[18]. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (An-Nisa’ : 93)

Allah telah mengancam dengan semua itu akan tetapi masih saja ada, maka dibuka peluang taubat. Karenanya dalam masa penahanan dalam Islam ada unsur tarbiyahnya, kadang-kadang orang mendapatkan hidayah setelah berbuat dosa tersebut.

Sedangkan kalau hukum buatan manausia maka terkadang labih tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Oleh sebab itu, mengapa kita takut dengan hukum Islam? alaisalllahu biahkamil haakimiin…bukankah Allah sebaik-baik Hakim (pengambil keputusan).

Hukum Islam berdasarkan kasih sayang kepada hamba-Nya, dan tidak ada yang berdasarkan kezaliman. Sementara hukum manusia terkadang siapa dan sponsornya siapa. Dalam Islam si pelaku yang kena tidak boleh melebar, yang menjadikan seharusnya tidak terkena hukuman (qishas) menjadi diqishas.

فَلاَ يُسْرِف فِّي الْقَتْلِ

….. tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh.” (Al-Isro :33)

Kemudian juga syarat-syarat pelaksanaan sangat luar biasa, (sebagaimana yang telah dijelaskan di atas). Ketika hukum Islam ditegakkan maka kriminalitas akan turun drastis. Contohnya di saudi yang kalau dibandingkan dengan negara maju seperti di New York yang mana menurut sebuah penelitian terjadi kejahatan setiap 6 detiknya, berarti dalam 1 menit terjadi 10 kali kejahatan. Di saudi dalam beberapa tahun baru ada kejahatan padahal penerapan hukum islam pun di Saudi belum maksimal.

Ketika seorang muslim ragu-ragu menerima Islam maka akan dipertanyakan keimanannya.

Wallahu a’lam bissowab