Syarat dan Rukun Nikah

Publikasi: Kamis, 23 Zulhijjah 1433 H / 8 November 2012 14:42 WIB

Kita masuk ke pembahasan selanjutnya, yaitu fiqih manajemen keluarga. Kita sudah sampai pada pembahasan masalah keenam dari bab nikah.

Masalah keenam, syarat dan rukun nikah
Disyaratkan dalam sebuah pernikahan sebagai berikut:

1. Menjelaskan setiap garis dari pasangan tersebut: tidak sah akad nikah atas seorang wanita yang tidak dijelaskan siapa dia.

Misalkan dengan perkataan, “Saya nikahkan dengan anak perempuan saya,” tanpa menjelaskan nama dan lainnya, apalagi jika anak perempuannya lebih dari satu. Atau juga dengan mengatakan, “Saya nikahkan dengan anak lelaki kamu,” tanpa menunjuk kepada siapa yang dimaksudkan. Harus dinyatakan dengan nama, atau dengan sifat, anak perempuan yang paling besar atau yang paling kecil. Jadi harus dijelaskan yang mana yang dinikahi. Dijelaskan dengan rinci siapa yang dinikahi dan dinikahkan dengan nama atau dengan sifat seperti anak pertama, anak kedua dan sebagainya. Ini harus jelas.

2. Dilakukan dengan keridhoan dari pasangan yang akan dinikahkan tersebut.

Jadi tidak ada istilah kawin paksa. Lalu bagaimana jika salah satunya tidak ridho? Harus dilobi agar ia bisa ridho. [Tidak menikahkan dengan paksa. Hadits dari Abu Hurairoh ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh menikahkan bujang atau dimintakan persetujuannya, atau juga perawan sampai mendapatkan izinnya.” (Mutafaqun ‘alaih).

Jadi kalau lelaki bujang, harus dimusyawarahkan. Tapi kalau gadis, harus mendapatkan izinnya. Kalau si gadis tidak mau, maka tidak bisa dinikahkan. Jadi siapa bilang Islam memperbudak wanita.

3. Ada wali dalam pernikahan. Tidak sah akad nikah bagi wanita kecuali oleh walinya.

Jadi kawin lari atau nikah kabur itu tidak sah nikahnya. Sekarang ini banyak yang menikah lari dari rumah, tanpa wali yang sah menggunakan wali hakim. Padahal wali hakim itu sifatnya cadangan jika memang wali yang sah tidak ada. Jadi tidak bisa sembarangan menggunakan wali hakim. Kecuali jika wali yang sah tidak didapatkan, dicari tidak ketemu atau sudah meninggal, atau berdasarkan perhitungan yang logis dan manusiawi wali yang sah tidak ada.

Dari Rasulullah SAW, “Tidak sah nikah kecuali dengan wali.

Dalam hadits lain disyaratkan wali yang cerdas atau sehat akalnya. Jadi jika walinya yang sah kurang akal, maka dapat menggunakan wali hakim.

Yang disyaratkan bagi wali adalah laki-laki, dewasa, berakal, adil dan walau hanya dilihat secara dhohir.

Walaupun kita tidak mengetahui hakikat akalnya, setidaknya terlihat bahwa akalnya sehat. Jadi, masya Allah, bukan hanya sholat yang harus sesuai dengan syaratnya, tapi menikah juga diatur sedemikian rupa syarat-syaratnya.

4. Ada saksi dalam akad nikah.

Tidak sah nikah kecuali ada saksi dua orang Muslim, yang sudah baligh, berakal, adil walaupun hanya secara dhohirnya saja. Bersabda Nabi SAW, “Tidak sah menikah kecuali ada dua orang saksi yang adil, dan selain daripada itu adalah bathil.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Hazm).

Tirmidzi mengatakan, “Ini diterapkan di sisi ahli ilmu dari kalangan sahabat, dan setelah itu seperti para tabi’in dan selainnya. Sampai mereka mengatakan tidak sah menikah kecuali disaksikan.” Hikmah disyaratkan adanya saksi adalah agar berhati-hati dalam masalah keturunan atau sebaliknya pengingkaran.

5. Kedua belah pihak harus terlepas dari faktor-faktor yang menghalangi mereka menikah, seperti garis keturunan atau sebab yang lain.

Sebab yang lain seperti misalnya, keduanya seibu persusuan, maka mereka diharamkan untuk menikah.  Kekerabatan yang dibangun atas dasar pernikahan. Contohnya kita menikah dengan Fulanah, maka adiknya tidak boleh untuk kita nikahi juga selama kita masih terikat pernikahan dengan Fulanah ini. Atau dengan ibu dari si Fulanah, misalnya,  atau perbedaan agama.

Dalam permasalahan ini, masyarakat kita sungguh parah sekali. Agama itu seakan tidak lagi dianggap dalam masalah pernikahan. Ada yang mengatakan berbeda agama tidak masalah asalkan bahagia bersama. Padahal kambing dan kerbau tidak beragama dan mereka menikah dengan bahagia, permasalahannya apakah kita sama dengan kambing dan kerbau? Masalahnya bukan terletak pada kebahagiaan, tapi ini adalah aturan Allah yang harus kita tegakkan.

Mengenai hikmah, pastilah ada walaupun kita tidak mengetahuinya. Lebih baik kita tidak tahu hikmahnya itu daripada kita tidak tahu soal agama. Karena hikmah adanya di belakang layar, mungkin kita tidak tahu apa yang ada di balik layar, tapi setidaknya kita tahu formalnya bahwa menikah berbeda agama itu tidak sah.

Faktor penghalang seperti nasab atau sebab. Urusan nasab sudah jelas tidak mungkin, seperti adik atau kakak, tidak mungkin kita nikahi. Keharaman untuk hal ini sangatlah jelas. Tapi unsur sebab, ini faktor mendasar juga, seperti sepersusuan, atau kekerabatan akibat pernikahan, dan lain sebagainya.

Ini adalah sebab-sebabnya; contoh lain adalah salah satu dari mereka sedang berpakaian ihram untuk haji atau umroh. Ibadah haji atau umrohnya harus diselesaikan dulu, baru dapat melangsungkan pernikahan. Jadi tidak boleh menikahkan seseorang dalam keadaan ihram berhaji maupun umroh. Karena bisa batal hajinya atau umrohnya karena pernikahan itu.

Rukun-Rukun Nikah

Rukun yang menjadikan tegaknya dan adanya nikah, diantaranya adalah :

1. Ada dua orang yang berakad, yaitu calon suami dan calon istri yang keduanya terlepas dari faktor penghalang pernikahan. Makanya benar juga, jika sebelum menikah ditanyakan terlebih dahulu mengenai faktor-faktor ini. Agar dipastikan kedua belah pihak terbebas dari faktor penghalang nikah. Tapi sayangnya di masyarakat kita, hal ini hanya menjadi sekedar formalitas saja tanpa diperhatikan fiqih syari’atnya.  Termasuk juga dalam faktor penghalang pernikahan adalah wanita-wanita yang diharamkan untuk dinikahi.

2. Ijab, yaitu lafadz yang keluar dari walinya atau yang mewakilinya, dengan lafadz menikahkan atau mengawinkan. Ini harus ada. “Saya nikahkan engkau” atau “Saya kawinkan engkau”, ini harus ada.

3. Qobul, yaitu lafadz yang keluar dari calon suami atau orang yang mewakilkannya,  Boleh tidak menikah diwakilkan? Boleh. Seperti ia mengatakan “Saya terima nikahnya” atau “Saya ridho dengan pernikahan ini”. Harus ijab terlebih dahulu, baru kemudian qobul-nya. Jadi runtunannya seperti itu.

Masalah ketujuh, yang diharamkan untuk dinikahi

Wanita-wanita yang diharamkan untuk dinikahi ada dua macam, pertama diharamkan selama-lamanya dan yang kedua diharamkan secara terbatas.

Jadi ada yang diharamkan berdasarkan batasan-batasannya, ada juga yang diharamkan untuk dinikahi selama-lamanya.

Pertama, yang diharamkan selama-lamanya.

Istilah-istilah dalam bahasa Arab-nya perlu kita hafalkan juga. Untuk menambah pembendaharaan bahasa Arab kita. Ada empat belas macam wanita yang diharamkan selama-lamanya untuk dinikahi. Mereka yang diharamkan karena sebab nasab terdapat tujuh macam. Yang dimaksud dengan “at ta’bid” yaitu yang tidak boleh dinikahi untuk selama-lamanya, bagaimana pun kondisinya. Ada tiga faktor mengapa ia diharamkan; hubungan kekerabatan, hubungan kekeluargaan melalui pernikahan, hubungan persusuan.

Jadi di antara yang empat belas sebab itu, tujuh dikarenakan sebab nasab. Dan sisanya disebabkan oleh yang lainnya. Dan sebab ini terbagi oleh tiga lagi, yaitu kekerabatan, hubungan kekeluargaan karena pernikahan, dan hubungan persusuan.

Pertama, yang diharamkan karena kekerabatan
1. Ibu, nenek dari ibu dan nenek dari bapak kita. Karena dianggap sebagai asal kita. Dalam hal waris juga dikenal masalah ini, ada asal atau pokok dan juga ada cabang.

2. Anak perempuan, cucu dari anak perempuan dan cucu dari anak lelaki kita. Karena ia dianggap sebagai cabang kita. Jadi kebalikannya, kalau tadi ke atas maka ini ke bawah.

3. Saudara perempuan kandung kita atau saudara perempuan dari bapak kita atau saudara perempuan dari ibu kita. Karena mereka dianggap cabang dari kedua orang tua kita.

4. Anak perempuan saudara kandung laki-laki kita, anak perempuan dari saudara laki-laki kita yang sebapak, atau anak perempuan dari saudara laki-laki kita yang seibu. Jadi, anak perempuan dari saudara tiri kita baik dari pihak bapak maupun dari pihak ibu, tidak boleh untuk dinikahi.

5. Anak perempuan dari saudara perempuan kandung kita, atau sebapak atau seibu.

6. Bibi (Ammah), yaitu saudara perempuan bapak kita, semisal juga bibi dari bapak ataupun dari ibu kita. Mereka dianggap sebagai cabang dari kakek dari pihak bapak.

7. Bibi (Kholat), yaitu saudara perempuan ibu kita, semisal juga bibi dari pihak ibu kita atau bibi dari pihak bapak kita.
Mereka ini diharamkan untuk dinikahi apapun kondisinya.

Firman Allah, “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ..” (QS. An Nisa [4]:23).]

Ini diantara ayat-Nya yang mengharamkan mereka untuk dinikahi.

Kedua, diharamkan karena sebab hubungan pernikahan sebagai berikut:

1. Istri dari ayah kita, semisalnya adalah istri dari kakek kita, baik dari pihak ibu maupun bapak. Mereka dianggap sebagai istri-istri pokok kita. Firman Allah, “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” (QS. An Nisa’ [4]:22).

2. Istri anak lelaki kita, atau istri dari cucu kita, baik dari anak lelaki maupun dari anak perempuan kita. Mereka termasuk istri-istri cabang kita. Firman Allah, “.. (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), ..” (QS. An Nisa’ [4]:23).]

Hukum ini tidak berlaku untuk anak angkat. Karena anak angkat statusnya sudah dibatalkan oleh Allah, sehingga tidak berlaku hukum syara’ seperti sebagaimana anak kandung, baik dalam nikah, waris dan seterusnya. Ini telah dibatalkan dengan dinikahkannya Rasulullah dengan Zainab yang merupakan istri dari anak angkat Rasulullah.

3. Ibu dari istri, semisalnya adalah semua pokoknya seperti nenek dari istri kita. Firman Allah ta’ala, “.. ibu-ibu istrimu (mertua), ..” (QS. An Nisa’ [4]:23).

Mereka yang tiga ini, diharamkan karena ada akad nikah. Artinya, tanpa ada akad nikah, maka tidak berlaku hukum di atas. Jika kita tidak menikah dengan istri kita, maka tidak ada hukum di atas.

4. Anak perempuan istri kita, termasuk juga anak tiri kita, mereka diharamkan atas suami ibunya. Jadi jika kita menikah dengan janda yang punya anak, tidak boleh kita menikahi anaknya itu. Firman Allah, “.. anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, ..” (QS. An Nisa’ [4]:23).]

Tapi jika baru terjadi akad saja dan belum dicampuri istri kita, maka masih boleh menikahi anaknya. [Tidak disyaratkan apakah anaknya tinggal bersama ibunya atau tidak, namun biasanya anak tiri ikut dengan ibunya. Anak tiri dari istri menjadi haram jika si suami sudah berhubungan suami istri dengan ibunya itu. Namun bisa saja ada kasus dimana ia belum mencampuri istrinya itu, lalu bercerai, maka ia diperbolehkan untuk menikahi anaknya itu jika ia mau. Firman Allah, “.. tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), ..” (QS. An Nisa’ [4]:23).

5. Diharamkan bagi anak seorang wanita, suami ibunya. Bapak tiri juga diharamkan, kebalikan dari yang sebelumnya. Termasuk juga suami anak dari suami ibunya, dan kakek dari sisi suami ibunya itu.

Ketiga, diharamkan karena persusuan ada tujuh macam, yang dua diantaranya disebutkan oleh Al Qur’an dan lima disebutkan oleh Sunnah Rasulullah.

Adapun yang diharamkan dalam Al Qur’an:
1. Ibu susuan, yaitu wanita yang telah menyusuinya. Termasuk ibu dari wanita itu, baik dari pihak ibu maupun bapaknya.

2. Saudara perempuan sepersusuan, yaitu perempuan yang sama-sama menyusui dari ibu kita atau kita yang menyusui kepada ibunya. Atau ada wanita lain yang sama-sama menyusui kita dan perempuan tersebut. Atau bisa juga, dia menyusui kepada istri bapak kita atau sebaliknya kita menyusui kepada istri bapaknya. Firman Allah, “.. ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ..” (QS. An Nisa’ [4]:23).]

Jika kita melihat di sini, ada pengaturan keturunan terhadap manusia. Agar kita tidak asal bercampur begitu saja. Nah, hukumnya tidak harus dengan ibu kandungnya saja tapi bisa juga dengan istri dari bapak.

Adapun yang disebutkan dalam Sunnah Rasulullah ada lima, sebagai berikut:

1. Anak perempuan dari saudara laki-laki sepersusuan.
2. Anak perempuan dari saudara perempuan sepersusuan.
3. Saudara perempuan bapak dari saudara sepersusuan. Yaitu dia yang sepersusuan dengan bapak kita.
4. Saudara perempuan ibu dari saudara sepersusuan. Yaitu dia yang sepersusuan dengan ibu kita.

Jadi ternyata saudara sepersusuan bukan hanya kita saja, tapi juga kedua orang tua kita maka akan berlaku hukum haram untuk menikah ini. Jadi ini perlu untuk kita perhatikan, jangan sampai kita menikah dengan wanita yang diharamkan kepada kita.

5. Anak perempuan dari sepersusuan. Yaitu perempuan yang menyusui dari istri kita.

Jadi ada anak kandung, dan ada juga anak sepersusuan. Keduanya berlaku hukum yang sama dalam masalah nikah. Karena suami ibu sepersusuan sudah dianggap sebagai bapaknya.

Jadi, jika kita ingin mengangkat anak angkat yang hukumnya seperti anak kandung, disusui dulu. Dan hukum ini dapat berlaku pada hukum-hukum yang lain. Anak angkat itu anak yang tidak ada kaitan nasab dan tidak ada kaitan susu. Jika anak itu ada kaitan susu, maka ia menjadi anak sepersusuan.

Ada dalilnya dari Aisyah ra, bersabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya anak sepersusuan itu diharamkan sebagaimana diharamkan anak kandung.” (Mutafaqun ‘alaih).]

Sehingga terkait juga kepada anaknya, mantunya dan seterusnya. Karena masih terkait dengan sepersusuan itu.

Juga hadits dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah menjelaskan mengenai anak perempuannya Hamzah ra, “Sesungguhnya ia tidak halal lagi bagiku, karena ia anak perempuan saudaraku dari sepersusuan. Diharamkan sepersusuan itu seperti diharamkan yang di dalam rahim.” (Mutafaqun ‘alaih).