Surat Terbuka Untuk Ibu Megawati

Publikasi: Kamis, 13 Rabiul Akhir 1438 H / 12 Januari 2017 16:47 WIB

megawatiOleh : Ustadz Fathuddin Ja’far, MA.

Assalamu ‘ala manittaba’al huda…

Keselamatan untuk orang yang mengikuti petunjuk Allah..

Saya tergelitik juga untuk menulis surat terbuka ini kepada anda ibu Mega setelah membaca transkrip pidato politik anda pada Hut ke-44 PDI Perjuangan di JCC Jakarta, Selasa 10/01/2017 kemarin.

Saya yakin 100% isi pidato tersebut mencerminkan isi hati dan jalan fikiran anda, kendatipun orang lain yang menuliskannya. Ungkapan “….. kalau mau jadi Islam, jangan jadi orang Arab dan…..” adalah keliru besar. Ungkapan tersebut bisa saja berlaku pada agama lain yang anda sebutkan, akan tetapi tidak berlaku pada Islam.

Harus anda ketahui 5 hal penting berikut :

1. Agama Islam kendati pertama kali diturunkan Allah di negeri Arab, maka setelah Islam datang, bangsa Arab harus mengikuti ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah secara utuh dan orisinal. Jika tidak, orang Arab tidak dinamakan Muslim dan mereka tetap kafir atau musyrik seperti yang dialami oleh Abu Jahal dan Abu Lahab yang nota bene suku Quraisy Arab termulia saat itu dan sebagai paman Nabi sendiri.

2. Islam atau tidaknya seseorang bukan ditentukan oleh di mana tempat lahirnya, siapa ortunya, melainkan pengakuan dan ketundukannya pada semua ajaran Islam kendati ia lahir, dibesarkan dan mati di negeri Cina atau lainnya di atas bumi ciptaan Allah ini. Karena agama Islam itu Allah turunkan untuk semua manusia sampai dunia ini kiamat/Allah hancurkan.

3. Ajaran Islam bukan untuk dijadikan objek oleh manusia, siapun dia dan dimanapun dia hidup, sehingga bisa menentukan faham dan corak keislaman yang dia inginkan, akan tetapi Islam sebagai subjek yang akan menentukan corak (nila ideologi, ibadah, akhlak, muamalah, kepribadian dan politik) seseorang. Sebab itu, Islam itu sebagai neraca dan timbangan, bukan sebagai bahan yang ditimbang oleh manusia manapun dengan timbangan otaknya atau tradisi yang berkembang. Islam itu yang menstandarisasi manusia, bahkan sebaliknya.

4. Tentang sorotan anda terkait ideologi tertutup dan seterusnya yang mungkin anda arahkan kepada tokoh-tokoh Muslim kebangkitan umat Islam jilid baru sekarang yang puncaknya pada tagal 2 bulan 12 tahun lalu, ditandai dengan jutaan kaum Muslimin tumpah ruah di Monas dan sekitarnya yang datang dari seantero negeri menuntut dipenjarakannya Ahok adalah keliru besar.

Anda mencoba membenturkan ulama, tokoh-tokoh kebangkitan Islam dan kaum Muslimin hari ini dengan Pancasila, NKRI dan sebagai sehingga penguasa yang sedang berkuasa dari PDIP dan partai sekuler lainnya mendapatkan legitimasi untuk membrangus ulama dan tokoh-tokoh Islam tersebut sebagamana yang dilakukan penguasa Orde Baru yang anda sendiri merasakan pahit getirnya.

Pikiran dan ungkapan anda tersebut sangat sudah tidak relevan dan sekaligus paradoks dengan yang anda ucapkan. Masyarakat sudah tahu mana yang maslahat untuk agama dan negeri dan mana yang mudarat.

Jika fikiran anda dan partai anda itu diyakini benar oleh kebanyakan masyarakat Indonesia dan ada maslahat buat agama dan dunia mereka di era Reformasi ini pasti partai anda sudah menjadi partai raksasa yang bisa meraup suara setiap kali Pemilu 50% lebih misalnya. Faktanya pernah sekali sejak mendapatkan 20% suara dan setelah itu merosot terus dengan tajam.

5. Terkait dengan ungkapan anda yang sangat sinis pada ulama dan tokoh-tokoh kebangkitan umat Islam saat ini yang anda tuduh menganut ideologi tertutup itu dan sadisnya lagi tidak segan-segan anda tuduh mereka sebagai para peramal masa depan dan bahkan anda sebutkan pula termasuk meramalkan kehidupan setelah fana (akhirat) yang nota bene mereka sendiri belum pernah melihatnya dapat saya pahami bahwa anda tidak beriman pada akhirat. Kalau saya salah mohon dikoreksi.

Ungkapan anda tersebut mirip dengan kaum yang mempertuhankan hawa nafsu sehingga Allah sesatkan mereka, tutup pendengaran, hati dan mata mereka. Akibatbya mereka tidak meyakini kecuali hanya kehidupan dunia.. Jika dibacakan pada mereka ayat-ayat Allah, khususnya tentang akhirat, mereka selalu berdalih : Hidupkan dulu nenek moyang kami yang sudah mati itu jika pemikiran akhirat itu benar. Padahal Allah yang menghidupkan mereka, kemudian mematikan mereka, kemudian mengumpulkan mereka sampai hari Kiamat yang tidak ada keraguan sedikitpun kejadiannya. Namun mayoritas manusia tidak mengetahuinya dengan ilmu. (Al-Jatsiyah : 23 – 26).

Kesimpulannya, Ibu Megawati sekarang sedang galau tingkat tinggi sehingga perpidato dengan sembrono, tidak faktual dan kurang cerdas. Ibu Megawati lupa pidatonya itu dilihat, ditonton dan dibaca bukan hanya oleh pengikutnya yang tergabung dlm PDIP yang tidak lebih dari 15% suara Pemilu, akan tetapi diperhatikan pula oleh yg 85% lainnya.

Adapun penyebab kegalauannya jelas disebabkan jagoan partainya saudara Ahok Gubernur DKI non aktif sedang terjerat kasus hukum penghinaan agama. Kalau sampai hakim nanti memutuskan Ahok bersalah maka tamatlah riwayat cita-cita Ibu Mega untuk menjadikan Ahok Gubernur DKI untuk periode ke 2.

Faktor kegalauan lain ialah situasi dan kondisi Indonesia semakin kacau balau dalam semua lini kehidupan setelah dipimpin lagi-lagi oleh jagoan PDIP yang sudah barang tentu jagoan beliau juga yakni Jokowi dalam dua tahun belakangan ini.

Benarlah apa yang dikatakan JK dulu diawal-awal Jokowi ingin mencalonkan diri jadi Presiden RI : Kalau Jokowi jadi Presiden hancur negara ini.

Ibu mega pasti lebih was-was lagi jika jagoannya ini tergusur juga dari kursi kepresidenan tentulah musibah besar bagi Ibu Megawati dan juga bisa-bisa PDIP mengalami kiamat kubro.

Yang jelas, masyarakat semakin tahu dengan jelas visi, misi, ideologi dan seni kepemimpinan yang dijalankan Ibu Megawati dan partainya PDIP seperti yang diungkapkan sendiri :

“Sungguh : kita adalah bangsa berkepribadian Banteng” . Naudzubillahi min dzalik.
Demikian apa yang menjadi sorotan saya terkait pidato Ibu Megawati di atas. Semoga menjadi maklum. Mohon maaf jika tidak berkenan…

Assalamu ‘ala manitta’al huda…

Fathuddin Ja’far

WNI ASLI/PRIBUMI