Sunnah Mentahniq dan Mencukur Rambut Bayi Baru Lahir

Publikasi: Kamis, 12 Rabiul Awwal 1437 H / 24 Desember 2015 13:26 WIB

bukuMTF-ONLINE.COM, Tulisan ini akan membahas kitab Tarbiyatul Aulad fil Islamkarya DR. Nashih ‘Ulwan rahimahullah. Dalam tulisan ini akan dibahas salah satu babnya, yaitu “Sunnah Untuk Mentahniq Bayi Baru Lahir

Ada beberapa kewajiban seseorang ketika menyambut kelahiran seorang bayi, di antaranya;
Pertama: Menyebarkan berita gembira dan selamat
Kedua: Adzan dan iqomah
Ketiga: Disunnahkan untuk mentahniq anak yang baru lahir

Di antara hukum yang disyariatkan Islam adalah memberikan tahniq kepada bayi ketika ia beru lahir. At-Tahniq artinya adalah kurma yang dikunyah, kemudian diusapkan di langit-langit anak yang baru lahir, dengan cara mengambil sebagian jari dan memasukkan jari ke dalam mulut bayi yang baru lahir, kemudian digerakkan ke kiri dan ke kanan dengan gerakan ringan agar bayi itu bisa menelan. Apabila tidak mendapatkan kurma bisa saja dengan benda-benda yang manis, seperti gula yang sudah dicampur dengan air bunga dan lainnya.

Ini adalah dalam rangka menerapkan sunnah Rasulullah saw dan mengikuti beliau, diantara hikmahnya yaitu menguatkan otot-otot mulut bayi dan lidah bersamaan dengan dan dua grahamnya sehingga bayi siap menelan air susu ibunya dan bisa menelan susunya dengan kuat dan membuat kondisinya menjadi netral.

Dalam hal ini, orang yang paling utama melakukan tahniq adalah orang shaleh, dengan harapan anak kita menjadi shaleh. Diantara hadits yang dijadikan dalil adalah hadits yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata,

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ

“Pernah dikaruniakan kepadaku seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma.” (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (5467 Fathul Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad (4/399), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab karya beliau (8621, 8622))3

Dalam hadits di atas Rasulullah saw memberikan nama yang baik, lalu mentahniq dan mendoakannya.

Anas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, “Ketika putra Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu sedang sakit, lalu Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu ke luar rumah. Tak lama kemudian, sang anak meninggal dunia. Tatkala Abu Thalhah pulang, ia bertanya, “Apa yang dilakukan anakku?” Istrinya yang bernama Ummu Sulaim menjawab, “Ia sudah sangat tenang (Ummu Sulaim bermaksud bahwa anaknya telah meninggal. Sedangkan Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu memahami bahwa ucapan Ummu Sulaim tersebut menggambarkan bahwa anaknya telah sembuh).”

Lalu Ummu Sulaim menyediakan makan malam untuk Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu, kemudian ia pun makan malam. Selanjutnya Ummu Sulaim merias diri dengan dandanan yang paling baik untuk melayani suaminya. Setelah perasaan Abu Thalhah tenang dan enak untuk diajak berbicara, Ummu Sulaim mengatakan, “Wahai Abu Thalhah! Bagaimana pendapatmu jika seseorang meminjam suatu pinjaman keapda keluarganya, lalu keluarganya meminta kembali pinjaman tersebut, apakah kaum tersebut berhak menolaknya?” Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Tentu tidak.” Ummu Sulaim melanjutkan, “Ikhlaskan putramu. (maksudnya, putramu telah meninggal dunia. Oleh karena itu, mohonlah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala).” Abu Thalhah pun marah. Ia berkata, “Kamu tidak memberitahukan kepadaku dari tadi (maksudnya, telah melakukan jinabat lantaran telah bersenggama) baru kamu memberitahuku perihal anak kita?” Kemudian Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu mengadu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia menceritakan apa yang telah ia lakukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mengakui apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim, kemudian beliau bersabda, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi malam kalian berdua.

Di dalam riwayat lain disebutkan, “Ya Allah, berkahilah keduanya.” Selanjutnya Ummu Sulaim melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Abdullah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kemudian seseorang dari kalangan Anshar berkata, “Saya melihat sembilan anak, kesemuanya hafal Alquran.” Maksudnya, anak-anak dari Abdullah. Hal ini tidak terjadi kecualii lantaran dikabulkannya doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memanjatkan doa, “Ya Allah, berkahilah keduanya.” (Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani).

Dalam riwayat lain lalu Abu Tolhah berkata;” Bawalah kepada nabi Muhammad saw, kemudian dia juga membawa beberapa kurma, dan rasul bertanya, “apakah ada yang kamu bawa?” “ada beberapa tamr” jawabnya. Maka rasul mengambilnya lalu mengunyanya serta mentahniq anak tersebut dan menamakannya Abdullah. Muhammad bin Ali berkata; “dia mendengar ibu dari anak Ahmad bin Hambal (istri Ahmad bin Hanbal) bagaimana ketika ia melahirkan seorang anak lalu ditahniq” hadits ini menjelaskan bahwa tahniq juga diamalkan oleh para ulama tabiut tabiin.

Kempat : Disunnahkan mencukur rambut bagi anak yang baru lahir

Diantara hukum yang disyariatkan Islam bagi anak yang baru lahir adalah sunnah mencukur rambutnya(botak) pada hari ketujuh, dan bersedekah seberat rambut itu berupa emas dan perak untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan.

Hikmahnya ada dua

  1. Hikmah kesehatan, mencukur rambut akan menguatkan dia karena udara akan masuk ke pori-pori kepalanya, dan bahkan akan menambah sensifitas penciuman dan pendengarannya.
  2. Hikmah sosial, karena bersedekah sebesar rambut dengan emas dan perak adalah pembelajaran bagi anak tersebut, dan membantu pada orang yang fakir dan menberikan manfaat serta merealisasikan fenomena taawun bagi lingkunagn masyarakat.

Islam telah menjadikan anak bermanfaat sejak lahir, bukan sebagaimana yang banyak kita temui di masyarakat kita yang lebih mengarah pada matrealistis, semakin banyak kado maka orang akan menganggap semakin sukses.

Bukannya datang memberikan doa agar barokah tetapi lebih dominan kepada barang materi seperti uang dan sebagainya, maka tidak jarang kita dapati mereka tidak mendapatkan barokah, tapi hanya mendapatkan keuntungan dunia saja.

Dalil ulama terhadap sunnah mencukur rambut dan bersedekah seberat rambut:

Imam Malik meriwayatkan dalam muwatta’ dari Jafar bin Muhammad dari ayahnya Fatimah menimbang rambut Hasan dan Husain, Zainab dan Ummu Kulsum lalu dia bersedekah dengan sebesar rambut itu berupa perak.

Ibnu Ishak menjelaskan dari Abdullah bin Abi Bakar dari Muhammad bin Ali bin Husain r a, berkata; Rasulullah mengakikahkan Hasan satu kambing, (maka boleh mengakikahkan anak laki-laki dengan satu kambing, hanya saja yang lebih utama 2 ekor) kemudian beliau berkata, “Wahai Fatimah, cukurlah rambutnya dan beredekahlah kamu seberat rambutnya berupa perak,” tatkala ditimbang maka didapatkan beratnya 1 dirham (uang perak).

Yahya meriwayatkan dari Bukhari dari Anas bin Malik, Rasulullah mencukur rambut Hasan dan Husain pada hari ketujuh dan bersedekah seberat rambut itu berupa perak.

Cabang dari mencukur itu disebut Qoza, Al-Qoza adalah mencukur sebagian rambut dan meninggalkan sebagian.
Al-Qoza dilarang oleh nabi secara jelas, sebagaimana riwayat dari Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْقَزَعِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qoza’.” (HR. Bukhari no. 5921 dan Muslim no. 2120)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْقَزَعِ. قَالَ قُلْتُ لِنَافِعٍ وَمَا الْقَزَعُ قَالَ يُحْلَقُ بَعْضُ رَأْسِ الصَّبِىِّ وَيُتْرَكُ بَعْضٌ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qaza’.” Aku (Umar bin Nafi’) berkata pada Nafi’, “Apa itu qoza’?” Nafi’ menjawab, “Qaza’ adalah menggundul sebagian kepala anak kecil dan meninggalkan sebagian lainnya.” (HR. Muslim no. 2120)

Adapun bentuk Qoza ada empat yang dilarang yaitu

  1. Mencukur hanya sebagian-sebagian
  2. Mencukur ditengah-tengah saja
  3. Mencukur sekeliling tetapi ditinggalkan di atasnya
  4. Semua dicukur dan hanya ditinggalkan sedikit dibelakangnya

Semua ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim rahimahullah, bahwa sunnah yang demikian itu merupakan kesempurnaan cinta Allah dan rasul-Nya kepada kita, karena ini merupakan perintah yang terkait dengan jiwa kita sendiri dan pada waktu yang sama Allah melarang untuk mencukur sebagian dan meninggalkan sebagian karena ini merupakan kezoliman terhadap kepala.

Lawan dari ini semua dilarang duduk di antara matahari dan naungan karena ini merupakan kezoliman kepada badan, sebagaimana rasul melarang kita memakai satu sepatu atau sendal.

Kita memilih apakah memakai atau tidak sama sekali, karena di dalamnya terdapat hikmah, rasul sangat menginginkan seorang muslim tampil dalam keadaan pantas ditengah-tengah muslim, memotong sebagian dan membiarkan sebagin bertentangan dengan keadaan yang ada lebih dari itu kepribadian muslim harus berbeda dari pengikut agama lain dan dari orang-orang fasik.

Sangat disayangkan banyak dikalangan bapak dan guru yang tidak paham dengan hukum-hukum ini, dan banyak dari mereka ketika kita bicarakan masalah ini mereka merasa asing. Mereka telah terbiasa dengan cara-cara yang tidak islami itu. Mereka tidak melihat dan mengamalkan kecuali yang dirahmati Allah

Perlu diketahui bahwa kebodohan tentang maslah ini bukan merupakan uzur masalah syariat keterbatasan mereka untuk mendidik anak-anak mereka dalam masalah agama tidak bisa dijadikan alasan kelak di hari kiamat nanti.

Hal-hal hukum yang telah disampaikan walaupun secara hukum syari merupakan sunnah tapi wajib untuk kita terapkan dalam keluarga kita. Kalau kita memudahkan /menyepelekan yang sunnah maka akan berdampak kepada hal yang wajib. kalau sudah terbiasa menyepelekan yang sunnah bisa jadi lama-lama akan terbiasa juga menyepelekan yang wajib dan beranggapan untuk apa.?

Kalau sudah menyepelekan yang fardu bisa jadi menyepelekan Islam secara keseluruhan, pada akhirnya bisa saja secara lahir dia seorang muslim tapi sudah terjebak kepada kekufuran, tersesat di tengah lautan kesesatan yang nyata dan dia terputus dari akar-akar keislamannya.

Maka hendaklah para orang tua dan guru menerapkan yang Sunnah-sunnah pada anaknya satu persatu agar kita mendapatkan ridho Allah, dan agar Islam terealisasi secara perkataan dan perbuatan. Semoga Allah menolong kaum muslimin dari musuh mereka dan mengembalikan kemuliaan, yang bagi Allah itu sangatlah mudah.

============================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Sunnahnya Tahniq dan Mencukur Rambut Bayi Baru Lahir