Sumpah Dalam Pandangan Syariat

Publikasi: Senin, 17 Rajab 1437 H / 25 April 2016 15:49 WIB

(MTF) — Tulisan ini masih membahas kitab “Al-Fiqhul Muyassar, Fi Dhou-il Kitabi Wassunnah”, (Fiqih Praktis, Sesuai Cahaya Al-Qur’an dan Assunnah). Tulisan ini akan membahas bab tentang Sumpah Dalam Pandagan Syariat”

Bab Ke tiga terkait dengan Qosamah atau sumpah di dalamnya ada beberapa pembahasan

PEMBAHASAN PERTAMA,  PENGERTIAN HUKUM DAN HIKMAHNYA

Pengertian secara bahasa masdar (asal) dari kata uqsimu, aqsama yuqsimu iqsaaman wa qosaamatan artinya khalafa khalfan melakukan sumpah, secara syar’i adalah sumpah yang berulang ulang dalam dakwaan yang terbunuh yang masih terjaga dirinya, dinamakan demikian karena sumpahnya para wali yang terbunuh itu  maka mereka bersumpah 50 kali bahwa yang di tuduh membunuh benar-benar membunuh kerabat mereka.

Bagaimana gambarannya jika terjadi pembunuhan tidak diketahui pembunuhnya secara pasti, maka terjadilah sumpah pada kelompok yang di duga kuat mereka adalah pelakunya inilah namanya sumpah, dengan catatan apabila memenuhi syarat berikut (akan disebutkan nanti)

Jadi Al-Qosama adalah sumpah untuk menguatkan dari para wali yang terbunuh baik itu dari kakaknya, pamannya, orang tuanya mereka bersumpah untuk menguatkan bahwa diduga inilah si pembunuhnya.

Disyariatkan sumpah untuk nantinya siapa yang akan di terapkana qisos atau diyat kalau dakwaan itu tidak disertakan dengan fakta nyata atau pengakuan dari si pembunuh dan di lihat pula apakah ada “lautsu” (ada permusuhan yang nyata diantara orang yang terbunuh dan orang yang dituduh membunuh).

Jadi memang sudah di cari riwayatnya bahwa mereka sebelumnya berselisih tiba-tiba sehari setelahnya ada yang meninggal diantara mereka, inilah indikator lautsu.

Seperti kasus sengit kabilah-kabilah yang fanatik yang meminta balasan, contohnya dua kabilah bertikai dan ada salah satu diantara mereka yang meninggal akhirnya kabilah yang satu menuntut nyawa di balas nyawa, tiba-tiba ada yang mati dari kabilah lawannya.Ada juga ulama yang mengatakan tidak harus demikian tapi cukup faktor-faktor yang menguatkan saja atau indikasi-indikasi yang lain.

Dalil disyariatkan adalah hadits Sahl bin Abu Hasmah bahwa Abdullah bin Sahl dan Muhaisah bin Mas’ud keluar kepada Khaibar dari hasil yang di dapatkan lalu datanglah Khisoh maka dia mengabarkan bahwa Abdullah telah terbunuh dan dia lemparkan ke (faqiirin)nama sumur (bi’r),lalu orang Yahudi datang dan berkata demi Allah kamu yang membunuh dia, bukan kami yang membunuhnya, lalu dia datang kepada sekelompok Yahudi dan berkata demi Allah kalian yang membunuhnya kemudian mereka menjawab demi Allah kami tidak membunuhnya, kemudian dia pulang dan datang kepada kaumnya dan menceritakan hal tersebut lalu datanglah dia dan saudaranya Khaisoh yang lebih besar darinya dan Abdurahman bin Sahl dan berkata, rasulullah berkata kepada Huwaisoh Muhaisoh Abdu Rahman, apakah kalian bersumpah demi untuk menghalalkan darah saudara kalian dan dalam riwayat coba datangkan buktinya, mereka berkata: kami tidak punya bukti wahai rasulullah, lalu rasulullah berkata siapkah kalian bersumpah, mereke berkata, bagaimana mungkin kami bersumpah padahal kami tidak  melihatnya, maka rasulullah berkata: “Yahudi bersumpah untuk kalian” jadi kalau kalian tidak mau bersumpah dan tidak menyaksikan, maka panggillah Yahudi yang bersumpah untuk menegaskan bahwa kalian tidak melakukan, mereka berkata lagi: mereka kan tidak muslim wahai rasulullah, lalu raulullah saw bertindak dengan mengutus kepada mereka seratus onta, sampai masuk kedalam negeri maka berkata Sahl, “saya telah di jatuhkan oleh onta yang merah itu”.

Cerita ini dikatakan oleh para ulama menunjukan sumpah itu dibolehkan, dan sumpah itu terkait dengan hal yang belum pasti bagaimana cara memastikannya, sama halnya orang-orang yang menuduh istrinya berbuat serong di dalam al-Qur’an dikatakan kalau  dia tidak memiliki saksi maka dia harus bersumpah sebanyak lima kali, begitu juga kalau istri menolak atas tuduhan-tuduhan itu maka dia juga harus bersumpah bahwa dia tidak melakukan dan sumpah yang kelima dia mengatakan kalau dia salah dia akan dilaknat oleh Allah swt, kalau dia tidak benar dalam sumpahnya maka dia siap dilaknat oleh Allah swt.

Coba kita perhatikan apa hikmah di balik ini semua

Disyariatkan sumpah ini untuk menjaga darah agar tidak gampang orang menumpahkan darah karena islam sangat konsen dalam memelihara masalah darah. Sebab kalau tidak seperti ini bisa saja manusia melakukan pembunuhan dengan sembunyi-sembunyi lalu menghilang, tapi dalam islam ada cara cara lain kalau tidak ada saksi, dilihat orang ini memang ada konflik besar dengan yang terbunuh lalu dicari dan disuruh dia bersumpah, apakah dia melakukannya tau tidak.

Ketika terjadi pembunuhan yang banyak sementara saksi sedikit, karena biasanya ada pembunuh yang suka membunuh dengan cara sembunyi-sembunyi dijadikanlah sumpah ini sebagai cara menjaga darah. Artinya darah yang tertumpah dapat di ketahui siapa yang melakukannya dan di terapkan hukum atasnya, Apakah itu hukum qisas atau diyat kalau ternyata dia tidak sengaja tapi menyebabkan kematian maka dia mendapatkan diyat tapi kalau berencana maka dia mendapatkan qisas.

PEMBAHASAN KEDUA, SYARAT-SYARAT SUMPAH

  1. Adanya indikator kuat atau yang disebut al-Lautsun
  2. Yang dituduh mukallaf, sudah balik maka tidak sah tuduhan terhadap anak kecil dan orang gila
  3. Hendaklah yang menuduh juga mukallaf, tidak boleh di dengar tuduhan anak kecil dan orang gila
  4. Hendaklah yang di tuduh itu jelas orangnya, tidak boleh orang yang tidak jelas tau samar-samar, ada kemungkinan pembunuhan dilakukan oleh orang yang tertuduh itu kemungkinannya besar
  5. Tidak adanya pertentangan dalam tuduhan kepada terduga pembunuh
  6. Hendaklah tuduhan atau seruan untuk sumpah ini rinci sifat-sifatnya, jelas

PEMBAHSAN KE TIGA BENTUK/SIFAT SUMPAH

Apabila telah sempurna syarat-syarat dari sumpah itu, maka dimulai dari orang yang menuduh dibagi berdasarkan kadar waris dari yang terbunuh bahwa fulan adalah yang membunuhnya dan itu dihadiri oleh yang tertuduh sebagaimana hadits di atas.

Apabila ahli waris yang terbunuh tidak mau bersumpah dan tidak mau menyempurnakan 50 kali sumpahnya, yang dituduh hendaklah bersumpah 50 kali apabila mereka mau menerima sumpah dia sebagaimana sabda rasulullah saw: “maukah Yahudi itu bersumpah untuk kalian” sebagaimana cerita dalam hadits ketika yang menuduh saudaranya meninggal disuruh bersumpah tidak mau, karena alasan tidak melihat dan hanya menerka. Kemudian rasulullah menawarkan boleh tidak kalu Yahudi yang bersumpah atas kalian tidak melakukan.

Maka pada intinya keluarga yang terbunuh dulu yang menuduh bersumpah, kalau tidak sempurna atau tidak mau maka diminta yang dituduh untuk bersumpah, kalau yang tertuduh berani bersumpah sebanyak 50 kali bahwa dia tidak melakukan maka dia bebas.

Setelah dia bersumpah akan tetapi keluarga yang terbunuh tidak menerima, maka pemimpin atau hakim yang akan menentukan dan bisa di tebus dengan diyat yang di ambil dari baitul mall. Karena yang di tuduh telah berani bersumpah dan secara hukum telah lepas, hanya saja keluarga terbunuh tidak menerima.

Hal ini pernah dilakukan oleh rasulullah saw memberikan diyat kepada keluarga yang terbunuh dan diambil dari baitul mall ketika orang anshar tidak mau mengambil sumpah kesaksian dari Yahudi, karena tidak ada jalan lain lagi untuk membuktikan darah ini siapa yang menumpahkannya.

Baitul mall wajib mengeluarkan agar darah yang sudah tertumpah tidak sia-sia begitu saja. Kalau orang dibunuh/meninggal dalam kerumunan tidak tau siapa yang membunuh maka baitul mall yang bertindak menggantinya, ini pernah terjadi seperti yang diriwayatkan oleh Ali ra dia berkata kepada Umar “Pernah dulu terjadi orang terbunuh dalam kerumunan manusia di Arofah, wahai amirul mukminin tidak boleh menumpahkan darah seorang muslim kalau engkau tau siapa yang melakukannya maka hukumlah dia, dan apabila tidak diketahui maka berikan diyat kepada keluarganya melalui baitul mall”

Beginilah cara pandang para sahabat, makanya apa yang di putuskan oleh khulafau ar-rasyidin menjadi dalil juga bagi kita dalam menentukan suatu hukum setelah alqur’an dan sunnah sebagaimana sabda rasulullah

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang terpetunjuk sesudahku. Maka peganglah kuat-kuat dengan gerahammu.” (HR;Tirmidzi)

Jadi apa keputusan mereka itu juga menjadi dalil bagi kita kecuali kelihatan bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah,, tetapi ini suatu hal yang mustahil..

Wallahu a’lam bis sowwaab