Sujud Sahwi dan Hukumnya

Publikasi: Kamis, 24 Rabiul Awwal 1436 H / 15 Januari 2015 09:08 WIB

sujud sahwiTulisan ini masih membahas kitab Fiqhul Muyassar fi Dhauil Kitabi wa Sunnah. Kali ini akan membahas dari bab ke 6 tentang “Sujud Sahwi dan Hukumnya.

Pembahasan pertama: Disyariatkannya sujud sahwi dan sebab-sebabnya.

Yang dimaksud dengan sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat sebagai tambalan (melengkapi) karena kurang, kelebihan jumlah rakaatnya atau karena ragu dan lupa. Tiga sebab itu lah yang menyebabkan disyariatkannya sujud sahwi. Rasulullah saw. bersabda;

Barangsiapa lupa dalam shalatnya, hendaklah melakukan sujud dua kali (sujud sahwi).

Para ulama telah ijma (sepakat) akan disunnahkannya sujud sahwi yang disebabkan tiga hal di atas.

Pembahasan kedua: Kapan sujud sahwi dilakukan.

Diwajibkankan sujud sahwi dalam kondisi sebagai berikut:

Pertama: Bila menambah gerakan dari jenis shalat, seperti menambahkan jumlah ruku’, sujud dan lainnya. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. pernah shalat mengimami kami 5 rakaat. Setelah selesai shalat, jamaah ribut mempertanyakan hal itu. Mendengar keributan para sahabat, Rasulullah bertanya, “Ada apa?”. Para sahabat menjawab, “Apakah engkau menambah jumlah rakaat?” Rasulullah menjawab, “Tidak” Para sahabat berkata,”Engkau telah shalat 5 rakaat.” Lalu Rasulullah menghadap kiblat dan sujud dua kali dan lalu salam.

Sujud sahwi dilakukan ketika ingat dan sadar bila shalat yang dilakukan kurang atau lebih jumlah rakaatnya. Dalam kasus di atas, Rasulullah saw. ingat ketika setelah shalat. Adapun bila dingatkan ketika masih dalam kondisi shalat, maka ia wajib duduk bila jumlah rakaatnya lebih meski ia sedang ruku’ pada rakaat ke 5. Karena bila ia teruskan rakaat ke 5 padahal ia mengetahui, maka sama saja ia menambah rakaat dalam shalat dan hal itu tidak boleh.

Diriwayatkan dari Imron bin Husain, bahwa Rasulullah saw. tiba-tiba memberi salam setelah rakaat ke 3 pada shalat ashar. Kemudian beliau berdiri dan masuk ke kamar rumahnya (karena rumahnya nempel dengan masjid). Lalu ada seseorang berkata kepada Rasulullah saw, “Apakah Anda mengqoshar shalat?” Kemudian Nabi menambahkan rakaat yang ia tinggalkan, lalu beliau salam dan sujud sahwi dua kali sujud. Setelah itu beliau salam.

Kedua: Ragu membaca suatu bacaan dalam shalat yang bila disengaja shalatnya tidak sah, atau ragu meninggalkan salah satu kewajiban shalat maka ia diwajibkan sujud sahwi. Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah, bahwa “Rasulullah saw. shalat dua rakaat, kemudian beliau berdiri dan tidak duduk (tasyahud) dan makmumnya pun mengikutinya. Setelah selesai shalat dan salam, kemudian beliau takbir dan sujud dua kali lalu salam.”

Kasus ini menunjukkan sujud sahwi dilakukan bila meninggalkan tasyahud awal, hal ini diqiyaskan bila meninggalkan gerakan atau bacaan lainnya maka ia diwajibkankan melakukan sujud sahwi.

Ketiga: Diwajibkankan sujud sahwi bila ragu jumlah rakaat, lupa sudah melakukan rakaat pertama, kedua atau ketiga ketika sedang shalat. Seseorang yang shalat dan ragu-ragu, baik ragu karena kurang rakaatnya atau lebih rakaatnya maka hendaklah ia tambal dengan sujud sahwi. Bila ragu jumlah rakaatnya, 3 atau 4, maka ambil jumlah yang paling sedikit. Jadi mengambil hukum itu kembali kepada posisi semula, seperti sebelum masuk masjid seorang muslim biasanya wudhu, lalu ia lupa sudah batal atau belum. Maka hukumnya dikembalikan pada posisi awal, yaitu itu dalam keadaan berwudhu. Tapi kalau ia ingin berwudhu lagi, maka itu adalah tajdidul wudhu (memperbarui wudhu), bukan mengganti wudhu karena batal. Dalam kaedah ushulul Fiqh dikatakan:

الاصل بقاء ماكان على ماكان

Hukum yang kuat, adalah tetap apa yang telah ada atas apa yang telah ada.”

Rasulullah saw bersabda, “Bila kalian shalat lalu syetan datang mengganggu sehingga ia lupa berapa rakaat yang sudah dilakukannya maka hendaklah nanti ditutup dengan dua sujud sahwi.

Bila ragu dan tidak bisa memilih alias blank, sama sekali tidak kebayang, maka dalam kondisi seperti ini ia harus mengambil yang kecil. Misal dalam shalat dzhuhur, bila ia lupa jumlah rakaatnya, sudah 3 atau 4, maka ia ambil yang 3 dan ditambah dengan satu rakaat. Setelah itu hendaknya melakukan sujud sahwi.

Rasulullah saw. bersabda, “Kalau kalian shalat dan tidak tahu apakah rakaat 3 atau 4 maka buanglah keraguan itu dan hendaklah ia bangun atas yang ia yakini lalu ia sujud sahwi kemudian salam.

Jika ia merasa yakin pada salah satu jumlah rakaat, maka jalankan berdasarkan yang ia yakini, kemudian ia tutup dengan sujud sahwi dan lalu salam.

Kapan Disunnahkan Sujud Sahwi

Sujud sahwi disunnahkan bila seorang muslim melakukan sesuatu yang tidak disyariatkan pada tempatnya ketika shalat. Seperti ia membaca ayat pada ruku’ dan sujud karena lupa, bukan karena disengaja. Bila disengaja maka shalatnya batal. Dalam kondisi seperti ini ia disunnahkan melakukan sujud sahwi. Bila dalam ruku’ ia lupa membaca ayat, lalu sadar maka bacaan ayatnya dihentikan dan dilanjutkan dengan membaca bacaan ruku’.

Tempat Sujud Sahwi dan Kapan Dilakukannya

Ada dua tempat dilakukannya sujud sahwi. Pertama; disyariatkan sebelum salam dan keuda; disyariatkan sujud sahwi setelah salam. Dalam hal ini, orang yang shalat bisa memilih sujud sahwi sebelum salam atau sesudah salam, karena hadits-hadits tentang sujud sahwi menerangkan kedua tempat itu.

Sifat Sujud Sahwi

Sujud sahwi seperti sujud shalat. Mengucapkan takbir lalu sujud, kemudian takbir dan mengangkat kepala. Hal itu dilakukan dua kali lalu salam.

———————————-

* Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF yang diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Sujud Sahwi dan Hukumnya.