Ridha Terhadap Takdir Allah

Publikasi: Jum'at, 22 Jumadil Akhir 1437 H / 1 April 2016 22:30 WIB

Tulisan ini masih membahas Fikih Akhlak yang merujuk pada kitab “Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruhu Ulamaus Salaf” yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Muhammad Kan’an. Tulisan berikut akan membahas terkait “Ridha Terhadap Takdir Allah”.

Ridha terhadap takdir atau keputusam Allah adalah merupakan kunci utama kita mendapatkan ketenangan hidup. Kalau tidak, kita tidak akan mendapatkannya. Ketenangan yang secara hakikat dan sejati akan didapatkan kalau kita ridha dengan ketetapan Allah, karena tidak ada sesuatu pun yang ada di alam ini terjadi kecuali atas ketentuan dan keinginan Allah Ta’ala, bahkan dalam hadits dikatakan;

احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك، إذا سألت فاسأل الله، وإذا استعنت فاستعن بالله، واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك، وإن اجتمعواعلى أن يضروك بشيء قد كتبه الله عليك، رفعت الأقلام وجفت الصحف ”

Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapati-Nya di depanmu, ketika engkau memohon maka memohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka memintalah pertolongan kepada Allah, dan ketahuilah! Bahwa seandainya ummat bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak sanggup memberikan manfaat kepadamu. Kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah kepadamu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak sanggup mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah kepadamu. Telah di angkat pena dan tinta telah kering.” (HR: At-Tirmidzi)

Kesalahan kita sendiri tidak serta merta kita mendapatkan musibah. Salah satu contohnya ketika kita tersandung, seharusnya kita jatuh tapi kadang tidak jatuh. Begitu juga dengan salah menyetir mobil, seharusnya kita sudah menabrak, tapi hal itu tidak terjadi kalau Allah belum menghendaki. Bahkan terkadang kita justru merasa hebat mendapatkan musibah. Hanyasaja bukan berarti kita menafikan ikhtiar, karena ikhtiar itu adalah ibadah dan keputusan Allah itu menjadi hak paten-Nya yang tidak bisa di ganggu gugat. Hal ini berbeda dengan ilmu karena ini kaitannya dengan jalan hidup kita dalam menjalani kehidupan ini.

Maka kita jangan sekali-kali merasa akan lolos dari ketentuan Allah, dan bukan berarti pula kita menafikan ikhtiar sehingga hanya pasrah saja sepenuhnya tanpa ada usaha dengan beranggapan ini adalah keputusan Allah. Hal demikian juga salah. Karena ada aturan yang harus kita ikuti dan ada sikap yang harus kita bangun dalam diri. Aturan yang kita ikuti itu adalah sebuah ubudiyah/peribadahan kita kepada Allah Swt, seperti cara makan, apa yang harus dimakan? Itu semua cara ubudiyah kita kepada Allah Ta’ala, meski suatu saat Allah menguji kita (dengan sakit) padahal kita telah berhati-hati makan.

Perbuatan salah yang diperbuat tidak serta merta  menjadi penyebab mendapatkan musibah, begitu juga kehebatan kita dalam mengatur tidak serta merta juga menghindarkan dari musibah. Disinilah kunci ridha dengan ketetapan Allah, dan semua kehidupan ini kaitannya dengan ridha kepada ketetapan Allah. Jadi dua hal yang berbeda, ridha bi qodoillah adalah merupakan sikap yang harus kita bangun dalam kehidupan kita, tetapi ikhtiar dan bekerja secara sungguh-sungguh merupakan ubudiyah kepada Allah yang harus kita lakukan. Dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai, seorang hamba terbagi menjadi dua bagian:

  1. Orang yang derajatnya ridha
  2. Orang yang derajatnya sabar

Kalau kita bisa ridha maka itu merupakan suatu kelebihan karena ridha merupakan pilihan dari kita. Adapun sabar merupakan kewajiban kita sebagai seorang mukmin. Makanya tingkatan ridha lebih tinggi dari sabar, namun tanpa sabar ridha tidak akan tercapai. Contohnya orang yang sakit, mengapa dia tidak mengeluh, menyesali, putus asa dan berkeluh kesah karena dia sabar. Karenanya antara ridha dan sabar ini saling berkaitan.

Orang yang bisa ridha terkadang melihat apa hikmah dari cobaan yang diberikan kepadanya dari Allah Ta’ala, dan apa kebaikan yang tersimpan di dalamnya yang Allah berikan terhadap ujiannya. Dia tidak pernah menuduh cobaan-cobaan tersebut dengan pertanyaan mengapa, karena selama hidup kita masih di jalan Allah maka jangan pernah menyesali apapun itu keputusan dari Allah dan berputus asa.

Kalau kita keliru maka yang perlu di sesali adalah kita, bukan keputusan Allah Ta’ala. Orang yang ridha akan melihat di situ ada hikmah serta kebaikan, dia tidak pernah mengomel atas keputusan Allah malah, justru terkadang dari situ dia melihat kebesaran Allah Ta’ala dan kemuliaan Allah sehingga ia tenggelam ke dalamnya sampai dia tidak merasakan kesakitan. Begitulah keimanan para sahabat yang tidak merasakan sakitnya cobaan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditawari oleh murid-muridnya ketika sakit untuk berobat ke dokter. Mendapat tawaran itu beliau justru berkata bahwa dia menikmati sakitnya itu. Sangat jauh dengan kita. Begitulah gambaran orang-orang yang salih, mereka yakin benar dengan kabar dari Rasulullah yang mengatakan bahwa sakit adalah penghapus dosa. Dengan demikian, ketika bertemu Allah dia berada dalam keadaan bersih, ketika dia mati dalam kondisi sakit, dosa-dosanya diampuni. Begitulah perbedaaan cara melihat ahlu dunia dan ahlu akhirat.

Kondisi orang sepeti ini benar-benar bisa dicapai oleh orang yang ahli ma’rifah dan berilmu serta sudah mendalam cintanya kepada Allah Ta’ala, sehingga mereka bisa menikmati musibah. Mereka dapat melakukan demikian itu karena mereka dapat melihat bahwa musibah yang datang adalah dari kekasih mereka, yaitu Allah Swt.

Adapun perbedaan ridha dan sabar adalah kalau sabar merupakan upaya menahan diri dari sifat murka, marah, tidak ikhlas, berkeluh kesah, tidak terima namun sakitnya masih dirasa, dan berharap sakitnya segera hilang dan menahan anggota tubuh kita melakukan hal-hal yang mencerminkan kegelisahan.

Sedangkan ar-ridha adalah orang yang hatinya tenang karena mendapat musibah sehingga dia bisa menerima qodha itu selapang-lapangnya, meningalkan keluh kesah walaupun terkadang dengan ridha baginya maka akan meringankan beban sakitnya yang melahirkan optmisme akan keutamaan dari Allah. Kalau tingkat ridha seseorang sudah kuat bisa saja menghilangkan rasa sakit secara keseluruhan seperti ridhanya para nabi dan sahabat serta orang-orang shalih.

Kita bisa melihat bagaimana antara orang yang hidup untuk Allah, apakah mereka para mujahid, ulama, thalabul ilmi maka akan berbeda dengan orang yang hidupnya bukan karena Allah. Gambaran yang paling konkrit bisa dilihat di medan jihad, bagaimana mujahid berjihad di jalan Allah yang hidup karena Allah dan dengan Allah Ta’ala. Sementara orang kafir yang menjadi lawan mereka yang hidup untuk diri mereka dan untuk manusia, terputus dari Allah Ta’ala. Maka apa yang terjadi, ketenangan dan keridhoan hati mujahidin sangat luar biasa. Jangan mengira kalau negara-negara dunia ini berkumpul ditambah lagi dengan aliansi negara-negara Islam untuk memerangi para mujahidin kemudian mereka takut? Tidak, justru mereka akan senang.

Kalau kita bisa hidup dengan Allah maka akan ada perbedaan, ketenangan dan kebahagiaan akan selalu berada dalam diri kita, optimisme selalu dalam diri kita. Tidak pernah mengenal berhenti dan takut terhadap resiko-resiko di tengah jalan, itulah yang di alami oleh para mujahidin sepanjang masa.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا.

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha-bijaksana.” (Al-Fath: 4)

Allah akan turunkan ketenangan kepada mukmin yang mujahid kalau yang cinta dunia maka Allah tidak akan tenangkan, Jadi memang ridha bi qodhoillah adalah merupakan modal utama kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini apapun profesi kita. Sebagaimana di riwayatkan oleh imam tirmidzi dari anas dari Nabi saw bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya, maka barang siapa yang ridha dengan ketentuan itu maka dia kan mendapatkan keridhaan Allah dan siapa yang tidak suka maka akan mendapatkan murka dari Allah

Ibnu Masud berkata: “Allah Taa’a berdasarkan keadilan dan keilmuan-Nya telah menjadikan kesenangan dan kebahagiaan dalam yakin dan keridoan Allah”

Karenanya kalau kita ingin senang dengan sebenar-benarnya maka yakin dan ridholah kita kepada Allah. Allah akan menjadikan kegundahan dan kegelisahan dalam diri orang yang ragu-ragu. Ciri-ciri orang yang tidak yakin dia akan banyak keluh kesahnya.

Al-Qomah menjelaskan firman Allah;

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (At-Taghabun: 11)

Ayat itu menjelaskan bagaimana cara Allah memberikan hidayah kepada seseorang, yaitu apabila ditimpa musibah dan dia mengetahui bahwa itu dari Allah maka dia menyerah total kepada Allah dan ridha. Dengan itu maka dia akan mendapatkan petunjuk.

Berkata Abu Muawiyah Al-Atsur menjelaskan firman Allah ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(An-Nahl:97)

Siapa yang beramal dari golongan laki-laki dan perempuan maka Kami akan memberikannya kehidupan yang baik,

Orang ahli matrealisme akan membahas tentang hayatan toyyibah adalah ketika mendapatkan uang yang banyak, itulah motifator-motifator dunia. Padahal para ulama mendefinisikannya dengan ridha dan qonaah. Kalau kita bersungguh-sungguh dalam amal shaleh maka Allah akan tanamkan keridhoan terhadap keputusan Allah dan qonaah terhadap segala pemberian Allah. Qonaah adalah sikap merasa puas terhadap apa yang ada dan tidak rakus.

Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib melihat Adi bin hatim bersedih, kemudian Ali ra berkata: “Ada apa denganmu kenapa bersedih?” Adi Berkata: “Apa yang dapat melarang saya untuk tidak bersedih, anak saya semua telah terbunuh. Air mata saya sudah habis.” Berkata Ali: “Siapa yang ridha dengan qadha Allah yang sudah terjadi maka dia kan mendapatkan pahala, dan barangsiapa yang tidak ridha dengan keputusan Allah yang sedang berlaku padanya amalnya akan batal.”

Karena ridha dan tidak ridhanya kita, keputusan Allah tetap berjalan, tinggal kita yang memilih.

Abu Darda pernah melihat seseorang yang sedang sekarat, dia menderita sakit yang luar biasa tetapi masih saja dia memuji Allah. Lalu Abu Darda berkata; “Engkau benar, karena Allah ketika memutuskan suatu perkara/keputusan maka sesungguhnya Allah ingin kita ridha dengan keputusan tersebut.”

Imam Hasan berkata: “Barangsiapa yang ridha terhadap apa yang Allah putuskan maka Allah akan melapangkan dan berkahi. Jika dia tidak ridha maka Allah tidak akan ridha dan berkahi.”

Umar bin Abdul Aziz Berkata:”Tidak ada lagi yang membuat saya bahagia kecuali di tempat takdir qodho (takdir) Allah.” Dikatakan kepadanya (Umar bin Abdul Aziz), “Apa yang engkau inginkan dalam hidup ini?” Dia berkata: “Apa yang diputuskan oleh Allah, itulah yang saya inginkan.”

Abdul Wahid bin Zaid Berkata: “Ridha adalah pintu Allah yang mulia dan surganya dunia serta tempat jalan-jalan/rohahnya ahli ibadah.”

Sebagian ulama berkata: “Tidak akan dilihat nanti di akhirat tempat yang tinggi melebihi orang-orang yang ridha terhadap qodho Allah dalam segala kondisi, siapa yang Allah berikan ridha dalam dirinya berarti dia telah mendapatkan tempat yang paling tinggi.”

Salah seorang pengembala dari kalangan arab badui menjumpai binatang ternaknya mati semua, lalu dia berkata: “Apa yang membuat saya bersedih sedangkan saya adalah seorang hamba yang beribadah kepada Allah, semua ini adalah keputusan Allah. Kalaulah bukan karena cacian musuh-musuhku yang hasad, tidak ada yang bisa membuat saya bahagia kecuali mendapat cobaan dari Allah Ta’ala, bukan ketika memiliki binatang yang banyak itu.”

* Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok.