Permasalahan Iddah dalam Islam

Publikasi: Rabu, 6 Rabiul Awwal 1435 H / 8 Januari 2014 19:29 WIB

fiqih-iddahKita sudah membahas definidi iddah yaitu waktu tertentu yang harus wanita yang di cerai menunggu masa sampai ia boleh menikah lagi, inilah yang di maksud dengan iddah, dalilnya :

{وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [البقرة: 228]

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru(1). tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya(2). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah : 228)

(1)    Quru’ dapat diartikan suci atau haidh.

(2)    Hal ini disebabkan karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan Kesejahteraan rumah tangga (Lihat surat An Nisaa’ ayat 34).

Kemudian macam-macam iddah telah kita bahas yaitu iddah wafat (di tinggal mati) dan iddah firaq (cerai) sedangkan wanita yang di tinggal mati suaminya itu tidak lepas dari dua kondisi, kondisi pertama dia hamil, dan kondisi kedua dia tidak hamil, jika ia hamil maka ia harus menunggu sampai ia melahirkan, akan tetapi jika ia tidak hamil maka ia menunggu 4 bulan sepuluh hari.

Kemudian iddah talak yaitu iddah yang harus di jalakan oleh seorang wanita yang bercerai apakah karena fasakh atau karena talak, atau karena khulu’ itu di hitung setelah berhubungan, hal ini juga tidak lepas dari beberapa kondisi, kondisi pertama: ia hamil, yang kedua: ia tidak hamil dan yang ke tiga: tiadak ada haid lagi karena sudah menapous atau karena masih kecil. Jika wanita ini hamil maka maka masa iddahnya sampai ia melahirkan kandunganya, jika wanita ini tidak hamil akan tetapi ia masih haid  maka iddahnya harus melewati 3x masa bersih setelah di cerai, di sini quru’ di artikan bersih bagaimana bersih di hitung, mulai dari awal suci dan tidak di campuri, kemudian kondisi yang ke tiga yaitu: bagi yang tidak ada haid entah kerena masih kecil atau karena sudah menapous maka iddahnya 3 bulan.

Hukum yang di talak sebelum di gauli. Apabila seorang suami berpisah dengan istrinya karena fasakh atau karena talak ataupun karan khulu’  sebelum ia campuri maka tidak ada iddah bagi wanita ini sebagaimana Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسّ ُوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا } [الأحزاب: 49]

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah(1)  dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.”  (al-Ahzab : 49)

(1)     Yang dimaksud dengan mut’ah di sini pemberian untuk menyenangkan hati isteri yang diceraikan sebelum dicampuri.

Tidak ada perbedaan istri-istri yang mukminah ataupun yang ahli kitab. Jadi ahli kitab ataupun mukminat sama aja, karena Allah sebutkan mukminat disini karena yang dominan, yang mayoritas hal ini menurut ijtihad para ulama dan kita yakin ini yang mendekatkan kita kepada faham.

Kemudian masalah yang ketiga: konsekuen dengan iddah dan hal-hal yang terkait denganya. Pertama iddah talak  mak tidak lepas dari dua perkara. Pertama: Di sebut dengan talak roj’i, yaitu talak yang masih bisa balik atau ruju’ kembali tanpa akad nikah yang baru, kapan hal ini terjadi? Yaitu selama masa iddah, yaitu selama masa 3 quru’ tadi maka suami boleh kembali tanpa harus akad nikah lagi, kalau dia ruju’ setelah habis masa iddah maka ia harus akad lagi. Kedua: talak bain, talak ini adalah lawan kata dari talak roj’i kalau tadi boleh ruju’ yang ini tidak boleh ruju’ lagi.

Konsekuensi talak bain

konsekuensi dari talak roj’i sebagai berikut :

1. Wajib diberikan tempat tinggal dari suaminya selama tidak ada hambatan syar’i. Jadi selama dalam masa iddah itu wanita masih mendapatkan tempat tinggal.

2. Kemudian wajib di beri nafkah baik nafkah makanan ataupun pakaian. Jadi dalam masa iddah kewajiban suami normal.

3. Kemudian wanita wajib tetap tinggal di rumahnya selama masa iddah itu, tidak boleh keluar kecuali dhorurat seperti sakit, orang tua sakit dan sebagainya. Makanya Allah berfirman :

{أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ} [الطلاق: 6]

                “Dan tempatkanlah ia di mana saja kamu bertempat tinggal semampu kamu.” (at-Thalaq : 6)

{لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ} [الطلاق: 1]

Jangan kamu keluarkan mereka dari rumah dan mereka juga nggak boleh keluar rumah. (Tidak boleh di usir dan tidak beleh keluar sendiri dari rumah) kecuali jika ia melakukan penyimpangan. Terkadang masyarakat kurang paham masalah ini, mereka kira talak roj’i itu ya sudah pisah dunia akhirat.

Dalam kitab fikih kita bahas kenapa Allah masih kasih talak roj’i ini agar suami istri mengevalauasi diri, siapa tahu sebab perceraian itu di sebabkan hal-hal yang sepele atau hal-hal yang tidak prinsip atau hal-hal mungkin hanya masalah teknis.., semoga diantara mereka saling mengoreksi diri, makanya Allah kasih mereka tenggang waktu dan tetap satu rumah… bagaimana kalau dia tetap berhubungan suami istri? Nah itu bukti rujuk namaya karena rujuk itu bisa dengan perkataan ataupun berbuatan, diam-diam hubungan suami istri sudah rujuk namanya.

Ada cerita, seseorang datang kepada saya, orang ini bercerai kemudian berpisah rumah kemudian tiba-tiba datang suaminya kemudian dia layani suaminya dia kira karena ingin rujuk, habis itu kata suaminya nggak aku nggak mau rujuk, “ ha ente mau enaknya doang aku  kagak bener itu, itukan bukti rujuk yang terkuat itukan hubungan suami istri berati niatnya apa dong? Zina?. Kecuali kalau istri melakukan penyimpangan melakukan zina sama orang lain, ya udah usir aja dah, masa rujuk lagi dah nggak perlu di layani lagi, karan bisa aja hal ini terjadi,

4.       Haram hukumnya menerima khitbah dari orang lain dalam masa iddah. Jadi jangan sembarangan menerima khitbah orang dalam masa iddah, “suamiku nggak ada kemungkinan lagi ruju’ “ nggak ada ruksah pokoknya habiskan dulu msa iddah itu. Mungkin karena saking marahnya “Saya sudah seperti talak 3”  tetap tidak boleh, baru seperti kan?. Kenapa seperti itu karena pada masa iddah itu  talak roj’i itu masih dalam lingkungan suaminya, dan Allah mengatakan dan suami-suami mereka lebih berhak untuk kembali kalau mereka niatnya ingin islah . banyak orang balik lagi pada istrinya itu entah masa iddah ataupun setelah masa iddah alasan karena anak, ini keliru. Jadi alasanya harus islah , sebab kalau karena anak tidak ada islah ini percuma aja, akan tetapi kalau sudah ada islah barulah mantap untuk anaknya karena ada niatan islah.

Jadi ini misi pesan Allah ini harus di pahami, Allah takdirkan terjadi perceraian silahkan kalau memang begitu syar’i tapi kalau mau balik bagaiman acaranya? Niatnya apa? Islah… apa artinya islah? Yaitu memperbaiki diri masing-masing, suami memperbaiki diri, mengoreksi diri dan begitu juga istri karena biasanya nggak mungkin satu pihak saja yang berperan , kalau terjadi perceraian pasti ada satu diantara keduanya yang salah cuama presentasi kesalahan mungkin banyak yang mana dan dimana makanya intropeksi,

Konsekuensi Talak Bain

Kalau wanita yang dalam iddah ini talak bain maka tidak lepas dari dua perkara  pertama:  ia hamil atau yang kedua: ia tidak hamil,  jika wanita yang dalam masa iddah itu hamil sedangkan talak roj’i maka dia harus mendapatkan sebagai berikut: suami wajib memberikan tempat tinggal sama juga dengan tadi wajib memberi nafkah, harus tetap di rumah kecuali ada hajat, dalil dibolehkanya keluar karen ada hajat adalah hadits Jabir:

طُلِّقَتْ خَالَتِى فَأَرَادَتْ أَنْ تَجُدَّ نَخْلَهَا فَزَجَرَهَا رَجُلٌ أَنْ تَخْرُجَ فَأَتَتِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « بَلَى فَجُدِّى نَخْلَكِ فَإِنَّكِ عَسَى أَنْ تَصَدَّقِى أَوْ تَفْعَلِى مَعْرُوفًا

Jadi ada kasus pada masa Nabi Salallahu Alaihi Wasallam Jabir menceritakan bibinya pernah dicerai kemudian ia ingin memetik buah kurmanya lalu ia ditegur oleh seseorang, kamu jangan keluar kamukan masih dalam iddah lalu dia datang kepada Nabi mengadu kemudian Nabi mengatakan silahkan kamu keluar jika memang ada kepentingannya, mungkin tidak ada orang yang membantunya untuk memetikkanya.

Kemudian kalau dia tidak hamil maka dia mendapatkan sebagaimana yang hamil kecuali nafkah, dan hal-hal yang terkait dengan pakean tidak mendapatkanya dalilnya hadits fatimah binti qois ketika ia di talak suaminya talak bain ketika itu ia tinggal bersamnya kemudian Nabi mengatakan padanya kamu tidak dapat nafkah lagi kecuali kalau kamu dalam keadaan hamil.

Bagaiman iddahnya bagi wanita yang di tinggal mati suaminya. Bagi wanita yang di tinggal suaminya maka ia lepas dari hukum-hukum di bawah ini:

  1. Dia harus menghabiskan masa iddahnya di rumah di mana suaminya meninggal dunia walaupun rumah itu sewaan ataupun rumah yang di pinjam karen Nabi salAllahu alaihi wasallam berkata pada fari’ah binti malik: kamu tetap tinggal di rumah itu sampai habis masa iddah. Dalam riwayat lain tinggAllah kamu di rumah itu wafatnya suamimu. Tidak bopleh pindah kecuali ada udzur syar’i, contohnya: dia tidak aman tinggal di situ sendiri, atau mungkin ada paksaan tertentu, habis kontrakan kemudian di usir sama yang punya kontrakan misalnya mau nggak mau kan harus keluar, kalau ada kepentingan maka tidak masalah
  2. Harus menetap di rumahnya tidak boleh keluar kecuali ada hajat, dia boleh keluar di siang hari dan tidak boleh di malam hari, karena di malam hari itu kemungkinan besar ada kerusakan makanya ia tidak boleh keluar kecuali dhorurat kecuali waktu siang karena siang biasanya orang banyak keperluan
  3. Wajib baginya ikhdad selama masa selama masa iddah,
  4. Tidak ada nafkah karena hubunganya terputus karena mati. Siapa yang mau nafkahi orang suaminya aja dah mati, suaminya aja perlu nafkah doa ya kan? Apa lagi yagn hidup.

Ihdad

Definisi ihdad dan dalil di syariatkanya ihdad

Ihdad menurut bahasa : menghindar, terlarang, atau tidak boleh kemana-mana tapi ada istilah haddun wa muhiddun yaitu ketika wanita meninggalkan perhiyasan dan parfum.

Ihdad menurut syar’i ; wanita yang dalam masa iddah meninggalkan hiasan dan parfum dan hal-hal lain yang merangsang orang kalau melihat ataupun menciumnya dan bisa mendorog orang untuk melakukan hubungan suami istri

Dalil di syariatkanya ihdad, ikhdad wajib bagi wanita yang di tinggal suaminya karena kematian selama masa iddah:

لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تحد على ميت فوق ثلاث ليال إلا على زوج أربعة أشهر وعشر ا

“Tidak pantas bagi wanita yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk melakukan hiddad terhadap mayit di atas tiga malam kecuali terhadap suami setalah 4 bulan sepuluh hari.”

Dan hadits Ummu Atiyah; kami di larang melakukan ihdad di atas tiga hari lebih dari tiga hari berapa lamanya? Empat bulan sepuluh hari selama itu pula kami tidak melakukan celak, kami tidak pake parfum kami tidak memakai pakaian yang bertenun yang berhias-hias kecualai pakean biasa yang polos-polos. Itu tatacara, hukum bagi wanita yang di tinggal suaminya meninggal dunia. Wanita yang   melakukan hiddad harus melakukan hal sebagai berikut, menahan diri untuk tidak menempakkan hiasan dan miyak wangi sebagaimana di larangan juga memakai pakaian yang bewarna-warni mencolok, tidak boleh melakukan celak, tidak beleh memakai hiasan termasuk emas dan parak dan selainya, berlian dan sebagainya, tidak boleh juga memakai sesuatu apapun dari pewarna. Kuku apalah yang lainya? Karena hadits Ummu Salamah marfu’  tidak memakai pakaian-pakaian yang berhias dan sebagainya. Kemudian ia wajib menetap di rumah yang ia mulai iddanya tidak keluar kecuali ada hajat sebgaimana hadits yang kita sebutkan di atas.

Wallahu Ta’al A’lam