Penyandera 1.300 Warga Irian Barat Adalah Teroris!

Publikasi: Rabu, 25 Safar 1439 H / 15 November 2017 12:57 WIB

(mtf-online.com) – Sejak Kamis (9/11) lalu, sekitar 1.300 orang disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Desa Kimbely dan Banti, Distrik Tembagapura, Jayapura, Timika, Papua. Polres Timika sendiri telah menetapkan 21 penyandera tersebut masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPR bidang Polhukam, Fadli Zon, mengecam tindakan itu sebagai aksi yang telah menciderai HAM. Bahkan menurutnya, KKB di Papua lebih tepat disebut sebagai kelompok terorisme, bukan kelompok kriminal.

“Apa yang mereka lakukan bukan lagi tindakan kriminal biasa. Melainkan bentuk tindakan terorisme. Sehingga mereka lebih tepat disebut kelompok teroris, daripada kelompok kriminal,” ujar Fadli dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/11).

“Masyarakat juga banyak yang menanyakan, mengapa mereka hanya disebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) bukan Kelompok Teroris atau Separatis,” sambungnya.

Menurut Fadli — yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Pemantau Otsus di Papua — kelompok tersebut diduga bagian dari Operasi Papua Merdeka (OPM).

Penyanderaan yang mereka lakukan, kata dia, tak hanya melanggar hukum Indonesia, melainkan juga mengancam hidup ribuan warga sipil di Papua.

“Saya mengecam keras tindakan penyanderaan oleh Kelompok Bersenjata OPM. Ini semacam test the water dari OPM,” tuturnya.

Fadli pun mendesak pihak Kepolisian dan TNI untuk segera membebaskan para sandera. Ia juga meminta kedua pihak sebisa mungkin menghindari konflik senjata, dan lebih mengutamakan cara persuasif dan preventif seperti melakukan dialog.

“Ini sudah lebih dari empat hari. Tentunya kondisi warga terisolasi sudah mulai kekurangan makanan. Kondisi fisik mereka juga pasti menurun,” kata Fadli.

Fadli mengatakan, gerakan prokemerdekaan Papua dalam tiga tahun belakangan semakin nyaring terdengar. Hal itu, kata dia, terlihat dari upaya internasionalisasi isu Papua, seperti United Liberation Movement for Wes Papua.

“Mereka tak hanya well organized, tapi juga well funded. Mereka aktif mencari basis dukungan di forum internasional. Seperti di Melanesian Spearhead Group (MSG), Pacific Island Forum (PIF), dan bahkan di forum dekolonisasi di the United Nations (UN),” kata dia

“Pemerintah jangan anggap enteng masalah Papua dan segera mengambil langkah ke arah penyelesaian. Jika tindakan penyanderaan didiamkan, maka akan berulang sebagai cara mencari perhatian internasional oleh OPM,” tuturnya.

Sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan, para anggota KKB ini diketahui sering naik dan turun gunung ke kampung-kampung. Kampung tersebut diketahui susah untuk dijangkau.

Setyo mengatakan, tempat persembunyian para kelompok ini berada di kampung-kampung yang saat ini para sandera disandera. Yakni di kampung Banti, kampung Kimberley dan Kampung Utikini, tentunya di pegunungan Tembagapura, Timika, Papua.

“Kelompok itu memang basisnya di situ, kan pernah saya ceritakan bahwa di kampung itu tinggal sekitar 300 orang pendatang. Ada orang jawa, ada orang Makassar, kemudian yang seribu orang itu adalah warga setempat,” ujar Setyo di kompleks Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (13/11).

“Pekerjaan mereka sehari-hari melakukan mendulang emas, dari tailing dari Freeport itu. KKB ini sudah mendapatkan nilai ‘ekonomi’ dari situ dalam tanda petik, mereka melakukan pemalakan, melakukan mendapatkan nilai ekonomilah. Makanya mereka ada di situ, tahu persis lah medannya di kampung-kampung itu. Dari hasil deteksi petugas, ada 21 orang itu yang ada di dalam kampung,” tambahnya.(rahman/eramulim/kmp)