Pengertian Syuf’ah dan Dalil-Dalil Disyari’atkannya

Publikasi: Rabu, 17 Sya'ban 1434 H / 26 Juni 2013 09:38 WIB

Pengertian Syuf’ah

Syuf’ah secara bahasa diambil dari kata syaf’ yang artinya pasangan. Syuf’ah adalah hal yang sudah dikenal oleh orang-orang Arab pada zaman jahiliiyyah. Dahulu seseorang jika hendak menjual rumah atau kebunnya, maka tetangga, kawan serikat atau kawannya datang mensyuf’ahnya, dijadikannya ia sebagai orang yang lebih berhak membeli bagian itu. Dari sinilah disebut Syuf’ah, adapun orang yang meminta syuf’ah disebut syafii’.

Syuf’ah menurut fuqaha’ adalah keberhakan kawan sekutu mengambil bagian kawan sekutunya dengan ganti harta (bayaran). Sedangkan syafii’ mengambil bagian kawan sekutunya yang telah menjual dengan pembayaran yang telah ditetapkan dalam akad. Ada yang mengatakan, bahwa dinamakan syuf’ah karena pemiliknya menggabungkan sesuatu yang dijual kepada pemiliknya sehingga menjadi sepasang, setelah sebelumnya kepemilikannya terpisah. Dikatakan juga bahwa syuf’ah yaitu hak memiliki secara paksa yang telah tetap untuk partner lama dari partner yang baru karena disebabkan adanya persekutuan untuk menghindari bahaya (menghindari bahaya dan pertengkaran yang mungkin timbul). Hal itu karena hak milik syafii’ terhadap harta yang dijual hendak dibeli oleh orang lain menolak adanya madharat yang mungkin timbul dari orang lain tersebut).

Atau bahasa mudahnya, yaitu kita berhak mengalihkan saham. Misalnya ada 3 orang berserikat membuat sebuah usaha, maka salah seorang dari mereka punya hak untuk mengambil jatah syarikatnya dengan kompensasi nilai yang disepakati. Hal ini diperbolehkan dalam Islam dan pelakunya tidak berdosa, karena berserikat tidak harus sampai meninggal. Kecuali kalau kebersamaan syarikatnya terikat selama tiga atau beberapa tahun. Syuf’ah seperti itu berbeda. Misal kita membuat usaha bersama, tiba-tiba ia butuh uang dan ingin keluar dari serikat itu, ia pun menjual sahamnya. Maka hal seperti itu diperbolehkan, karena salah satu prinsip Islam adalah fleksibelitas.

Dalil Disyari’atkannya Syuf’ah

Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

قَضَى رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالشُّفْعَةِ فِي كُلِّ مَالٍ لَمْ يُقْسَمْ فَإِذَا وَقَعَتْ الْحُدُودُ وَصُرِّفَتْ الطُّرُقُ فَلَا شُفْعَةَ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan syuf’ah pada harta yang belum dibagi-bagi, maka ketika batasannya telah ditentukan dan jalan telah diatur, maka tidak ada lagi syuf’ah.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

قَضَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالشُّفْعَةِ فِى كُلِّ شِرْكَةٍ لَمْ تُقْسَمْ رَبْعَةٍ أَوْ حَائِطٍ. لاَ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَبِيعَ حَتَّى يُؤْذِنَ شَرِيكَهُ فَإِنْ شَاءَ أَخَذَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ فَإِذَا بَاعَ وَلَمْ يُؤْذِنْهُ فَهْوَ أَحَقُّ بِهِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan syuf’ah dalam semua persekutuan yang belum dibagi; baik rumah maupun kebun, tidak halal bagi seseorang menjualnya sampai memberitahukan kawan sekutunya. Jika ia mau, ia berhak mengambil dan jika mau, ia berhak ditinggalkan. Apabila dijual, namun belum memberitahukannya, maka ia lebih berhak terhadapnya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

جَارُ الدَّارِ أَحَقُّ بِالدَّارِ

“Tetangga rumah lebih berhak dengan rumahnya,” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwaa’ no. 1539).

Para ulama juga telah sepakat tentang tetapnya hak syuf’ah bagi sekutu yang belum melakukan pembagian pada sesuatu yang dijual, baik berupa tanah, rumah maupun kebun.

Dengan demikian menjadi jelaslah akan disyari’atkannya syuf’ah menurut sunnah dan ijma’.

Permasalahan ke-dua : Hukum-Hukum yang Terkait dengan Syuf’ah

  1. Tidak boleh bagi sekutu menjual bagiannya sampai memberitahukan atau menawarkan kepada sekutunya. Jika ia telah menjualnya tanpa memberitahukan lebih dulu, maka kawan sekutunya lebih berhak terhadapnya.
  2. Syuf’ah hanya berlaku pada tanah dan sesuatu yang tidak bisa dipindahkan, jika bisa dipindahkan, misalnya barang-barang, hewan dan sebagainya, maka tidak berlaku. (lihat pula pembahasan tentang syarat-syarat syuf’ah).
  3. Syuf’ah adalah hak syar’i, tidak boleh dicari helat (celah) untuk menggugurkannya karena ia disyariatkan untuk menghindarkan madharat dari sekutunya.
  4. Syuf’ah berlaku bagi para sekutu sesuai kadar kepemilikan mereka. Siapa yang berhak mendapatkan syuf’ah, maka ia mengambilnya dengan harga penjualannya baik secara tempo maupun kontan.
  5. Syuf’ah berlaku karena bagian yang berpindah dari seorang sekutu merupakan jual beli yang tegas atau semakna dengannya. Oleh karena itu, tidak ada syuf’ah pada sesuatu yang berpindah dari milik sekutu tanpa ada jual beli, seperti dihibahkan tanpa ganti, atau diwarisi atau diwasiati.
  6. ‘Aqaar (sesuatu yang tidak bisa dipindahkan) yang berpindah kepemilikan dengan adanya jual beli harus bisa dibagi. Oleh karena itu, tidak ada syuf’ah pada barang yang tidak bisa dibagi, seperti kamar mandi kecil, sumur dan jalan.
  7. Syuf’ah bisa dituntut segera setelah ia mengetahui sesuatu dijual. Jika tidak dituntut sewaktu dijual, maka menjadi batal. Kecuali jika ia belum tahu, maka tetap berlaku syuf’ahnya. Demikian pula masih berlaku, jika ia menundanya karena adanya udzur, seperti tidak tahu hukumnya atau udzur lainnya (lihat pula pembahasan syarat-syarat syuf’ah).
  8. Objek syuf’ah itu tanah yang belum dibagi dan belum dibatasi, serta apa yang ada di sana berupa pepohonan dan bangunan. Jika sudah dibagi, tetapi masih ada sebagian perlengkapan yang disekutui antara beberapa tetangga, seperti jalan, air, dan semisalnya, maka menurut pendapat yang paling shahih, syuf’ah tersebut masih berlaku.
  9. Si syafii’ harus mengambil semua yang dijual, tidak mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian. Yang demikian tidak lain untuk menghindarkan madharat dari pembeli.

Wallahu Ta’ala a’lam…