Pengertian Hibah (Pemberian) dan Hukumnya

Publikasi: Jum'at, 19 Rabiul Awwal 1436 H / 9 Januari 2015 21:20 WIB

hibah(MTF) — Tulisan ini masih membahas kitab “Al-Fiqhul Muyassar, Fi Dhou-il Kitabi Wassunnah”, (Fiqih Praktis, Sesuai Cahaya Al-Qur’an dan Assunnah). Tulisan ini akan membahas bab ke 23, yaitu Hibah dan Pemberian.

Pengertian Hibah

Hibah adalah pemberian sukarela, bukan hutang, dari barang yang boleh dipindahkan. Karenanya barang seperti wakaf tidak boleh untuk dihibahkan karena tidak boleh dipindahkan, begitu pula barang yang haram, baik berupa harta atau pun bentuk yang lain tanpa harus dibalikkan atau diganti. Hibah adalah pemberian mutlak.

Hukum Hibah

Hukum hibah adalah mustahab (sangat dianjurkan), dengan syarat tujuannya hanya mencari keridhaan Allah, bukan mencari ketenaran.

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, “Hendaknya kalian saling memberi hibah (hadiah) niscaya kalian akan saling mencintai.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Aisyah radhiaallahu ‘anha berkata, bahwa Rasulullah saw. menerima hadiah dan mendo’akan orang yang memberinya.

Hadits ini mengajarkan kepada umatnya untuk mendoakan pemberinya dengan mengucapkan jazakumullah khairan katsira ketika diberi sesuatu. Pelajaran lainnya dari hadits di atas, bahwa Nabi Muhammad saw. tidak menerima zakat, tapi beliau menerima hadiah.

Hibah dimakruhkan bila niatnya untuk riya, ingin dilihat, tenar dan saling membangga-banggakan pemberiannya.

Syarat Hibah

Terkait dengan hibah memiliki ketentuan-ketentuan berikut:

  1. Hendaklah yang menghibahkan orang yang diperbolehkan melakukan hibah yaitu merdeka, mukallaf (dewasa) dan rasyid (orang yang tidak kehilangan akal). Karenanya budak, anak-anak dan orang yang tidak berakal tidak boleh melakukan hibah.
  2. Tidak boleh karena terpaksa
  3. Barang yang diberikan harus yang diperbolehkan untuk diperjual belikan. Karenanya yang dilarang untuk diperjual belikan maka tidak boleh untuk dihibahkan, seperti khamr dan babi.
  4. Yang diberi mau menerima barang yang diberikan, karena hibah adalah akad kepemilikan. Seperti ucapan, “saya kasih engkau mobil, saya tidak mau”. Maka akad seperti itu tidak sah karena yang diberi tidak menerima.
  5. Hibah harus terlaksana saat itu juga, tidak boleh diundur-undur. Seperti ucapan, “Saya akan berikan kamu barang ini setelah setahun atau dua tahun.” Karenanya hibah harus naqdan (kontan). Hibah adalah akad kepemilikan yang tidak boleh diundur, tidak boleh ada syarat dan imbalan, harus murni pemberian.

Hal-hal yang terkait dengan hukum Hibah

  1. Orang yang diberi hibah harus izin untuk mengambil barang pemberiannya. Seperti ucapan, “Saya terima dan ambil pemberian kamu.”
  2. Orang yang memberi tidak boleh mengambil dan meminta kembali barang yang sudah diberikan. Karena Rasulullah saw. menggambarkan bahwa orang yang mengambil barang pemberiannya seperti anjing yang muntah lalu memakan muntahannya kembali. Diriwayatkan, bahwa bapaknya sahabat Nu’man bin Basyir pernah bersedekah dengan sebagian hartanya kepadanya. Lalu Nu’man melaporkan hal itu kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah anak-anaknya mendapatkan seperti apa yang kamu dapat?” Nu’man menjawab, “Tidak.” Rasul bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah dan berbuat adillah kamu kepada anak-anakmu.” Dalam riwayat lain, “Jangan engkau ceritakan kepadaku perbuatan dosa.
  3. Tidak boleh menolak hadian dan pemberian meskipun kecil.
  4. Disunnahkan memberikan do’a ketika menerima do’a sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw.

————————————-

* Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF yang diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Hibah dan Pemberian.