Tafaqquh Fiddin : Orang yang Paling Utama Memandikan Jenazah

Publikasi: Sabtu, 28 Zulhijjah 1437 H / 1 Oktober 2016 13:44 WIB

cara-memandikan-jenazahOleh : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

Artikel ini adalah transkrip dari ceramah tentang “Orang yang Paling Utama Memandikan Jenazah” yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA pada kajian rutin Majelis Tafaqquh Fiddin (MTF) setiap sabtu pagi, Pukul 07.000 – 10.00 WIB di masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh 1, Cimanggis, Depok.

Orang yang paling utama memandikan mayyit adalah orang yang dipercaya dan memahami cara memandikan mayyit. Laki oleh laki, perempuan oleh perempuan. Lalu siapa yang bertanggung jawab memandikan? Yang lebih utama adalah orang yang paling mengerti cara memandikan mayyit. Sunnah-sunnahnya dan tata caranya. Ia orangnya terpercaya, dan amanah. Diutamakan lagi sifat tadi terpenuhi dari kalangan keluarga. Alangkah baiknya setiap keluarga ada yang pandai memandikan jenazah, baik dari anggota laki maupun perempuan. Karena ketika Rosulullah meninggal yang memandikan keluarganya. contohnya Ali bin Abi Thalib. Termasuk juga orang yang utama memandikannya yaitu yang diwasiatkan kepadanya untuk memandikannya. Dari bapaknya, kakeknya, paman, bibi, dan dari kalangan keluarga dekatnya, serta yang memiliki hubungan keluarga.

Wajib memandikan mayit laki-laki adalah lelaki juga. Mayit wanita, juga dengan wanita. Dikecualikan suami istri. Karena setiap mereka boleh memandikan yang lain.

Aisyah Radhiyallahu anha berkata, “Kalau saya menghadapi perkara saya, saya tidak akan lari dari memandikan, tidak ada yang memandikannya, selain dari istri-istrinya. “
Dan diperjelas, Bahwa rosulullah berkata kepada Istrinya, “Bila engkau mati duluan, saya akan memandikan, dan saya akan mengkafankan.”

Asma’ bin Umais itu memandikan suaminya, yaitu Abu Bakar Asy-Syiddik. Maka dari dalil ini bila ada suami memandikan istrinya boleh, begitu juga sebaliknya. Tapi afdhalnya tetap yang dijelaskan tadi. Maksud pengecualian ini adalah tidak melanggar hukum. Sedangkan yang afdhal adalah pelaksanaan hukum yang terbaik. Jadi kerabat dekat dari keluarga, itu lebih utama dari pada yang memandikan mayat tersebut istri/suaminya. Namun sebenarnya ada juga yang lebih baik dalam memandikan. Yaitu karena ilmunya. Atau bahkan taqwanya lebih besar. Sedangkan keluarga mayyit kurang paham.

Tidak boleh memandikan orang yang mati Syahid, mati dalam peperangan. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan yang mati syahid diperang uhud untuk dikuburkan dengan pakaian apa adanya dalam kondisi mereka. Tidak dimandikan, juga tidak dishalatkan. Mayyit syuhada juga tidak dikafani, tidak dishalatkan, tapi dikuburkan dengan apa adanya pada pakaian itu. Karena hal itu akan menjadi saksi pada hari kiamat.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap luka yang diderita muslim di jalan Allah akan dibiarkan seperti semula pada hari Kiamat. Luka tusukan nanti tetap mengucurkan darah yang warnanya seperti darah (dunia) namun baunya seperti Kasturi”. (HR. Bukhari)

Bila ada anak yang mati keguguran keluar dari perut ibunya sebelum sempurna, atau sebelum ditiupkannya ruh maka dia tidak perlu dimandikan. Tapi kalau sudah ditiupkannya ruh, yaitu umur kandungan 4 bulan, maka harus dimandikan, dishalatkan. Karena bila telah 4 bulan dia hakekatnya sudah menjadi manusia sempurna.

Hukum mengkafankan, dan bagaimana caranya
Mengkafankan mayyit wajib. Karena rosulullah shallallahu alaiihi wasallam pernah memerintahkan kepada sahabat untuk mengkafani salah seorang sahabat yang terjatuh dari kudanya lalu meninggal. Rosullah mengatakan kafani dia dalam dua pakaian. Yang wajib adalah menutup semua badan. Kalau tidak ada pakaian kecuali hanya pakaian yang pendek dan tidak cukup semua badan, diutamakan menutup bagian kepalanya.

Kemudian ditaruh kakinya itu sesuatu yang bisa menutupinya. Seperti potongan kain atau kapas dan lain sebagainya. Karena Khabbab, dalam cerita saat mengkafankan Mushab Bin Umair, yang harus diutamakan adalah menutup kepalanya. Sebagaimana perintah nabi kepada Khabbab.

Kalau yang meninggalkan itu orang yang sedang berpakaian ihram dari laki-laki, kepalanya tidak boleh ditutup. Sebagaimana Rosulullah bersabda, “jangan dibuatkan khimar dikepalanya (penutup kepala/sorban)”. Dan hendaklah berpakaian yang tidak menutup kulitnya. Harus berpakaian seperti itu karena yang demikian itu tidak menjadi kesulitan dari si mayyit begitu juga keluarganya atau ahli warisnya.

Sunnahnya mengkafani laki-laki dengan 3 bentuk lipatan putih dari kapas. Yaitu kapas dilebarkan, lalu disambung hingga tiga lapis. Kemudian diletakkan diatasnya dalam keadaan telentang. Lalu ditarik bagian atas dan ditarik dari sebelah kiri, dan sebelah kanan. Kemudian tarik lagi dari sebelah kanan dan sebelah kiri, kemudian tiga lapis itu bisa menutupi.
Jadi sunnahnya sebelum mengkafani mayyit itu ditutup dulu dengan kapas. Yaitu dengan tiga kali, atau tiga lapis. Kemudian ditambah sedikit diatas kepalanya kemudian diikat. Kalau masih lebih ditaruh dikakinya, lalu diikat. Maka dengan memberi kapas itu, ternyata kafannya akan lebih kokoh dan kuat.

Bahwa Rosulullah dikafankan dalam tiga pakaian putih yang bersih, dan tidak ada kecuali semuanya kapas. Tidak ada didalamnya pakaian, tidak juga surban yang dimasukkan kedalamnya.

الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ

“Pakailah oleh kalian pakaian yang putih karena itu termasuk pakaian yang paling baik. Dan berilah kafan pada orang mati di antara kalian dengan kain warna putih.” (HR. Abu Daud no. 4061, Tirmidzi no. 994 dan Ibnu Majah no. 3566. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Jadi kita disunnah oleh Rosul berpakaian dalam keseharian memakai pakaian yang putih. Karena putih adalah pakaian yang terbaik. Kemudian dikafankan pula dengan kafan berwarna putih. Namun memakai pakaian putih hukumnya wajib bila sedang berihram. Dan kalau mati wajib menggunakan kafan putih.

Adapun wanita, menggunakan lima lapis. Jadi lebih tebal. Pakaian, sarung, jilbab, baju biasa, dan juga pakaian. Anak-anak cukup dengan satu lapis. Yaitu pakaian. Tapi boleh juga sampai tiga lapis. Dan anak yang perempuan yaitu dengan satu baju dan satu lapis.

Hukum mensholati mayyit
Shalat atas mayyit adalah fardhu kifayah. Kalau dilakukan oleh sebagian maka yang lain sudah gugur dosanya. Dalilnya, Rosullah menyuruh para sahabat untuk menyolati orang yang mati ketika dia masih ada hutang.”Shalatlah terhadap teman kalian.” Dalil yang lain yaitu ketika raja Najasyi (raja Ethiopia yang melindungi 70-73 sahabat yang hijrah ke Ethiopia) mati, maka rosul berkata, “Sesungguhnya saudara kalian sudah meninggal, maka berdirilah dan shalatlah kepadanya.” (HR. Muslim). Maka disini ulama memahami adanya shalat ghoib.

Wallahu Ta’ala A’lam

(saef/mtf-online.com)