Nama Allah adh-Dhorun Nafi'(Allah Yang Menciptakan Kebaikan dan Keburukan)

Publikasi: Selasa, 24 Zulhijjah 1437 H / 27 September 2016 13:17 WIB

ust fathuddinArtikel ini adalah transkrip dari ceramah tentang “Nama Allah adh-Dhorun Nafi'(Allah Yang Menciptakan Kebaikan dan Keburukan)” yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA pada kajian rutin Majelis Tafaqquh Fiddin (MTF) setiap sabtu pagi, Pukul 07.000 – 10.00 WIB di masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh 1, Cimanggis, Depok.

Nama sifat Allah Ad-Dharru An-Nafi’, yaitu Maha Pemberi mudharat (bahaya) dan Maha Pemberi  Manfaat. Maksudnya dari Allahlah muncul kebaikan keburukan, kebermanfaatan dan kemudhorotan. Seseorang mendapatkan kebaikan kecuali dengan izin Allah, begitu juga sebaliknya, mendapat keburukan kecuali atas izin Allah. Semua itu ada ditangan Allah Ta’ala dan dinisbatkan kepada-Nya karena dia yang menciptakan dua hal tersebut. Tapi bukan berarti Allah menyuruh kita untuk berbuat buruk. Dari sinilah banyak orang yang terjebak, karena tidak bisa membedakan.

Allah menciptakan neraka, bukan berarti Allah menyuruh kita masuk neraka. Sama halnya sebuah pemerintah membuat penjara, bukan berarti rakyatnya disuruh masuk penjara. Penjara dibuat adalah untuk orang yang jahat. Begitu juga dengan neraka, diciptakan untuk orang yang jahat. Tidak bakal ada penjara kalau tidak ada penjahat.

Mengenai kebaikan dan keburukan, manusia tidak akan lepas dari tiga hal. Yaitu, din (agama), dunia, dan akherat. Ada kebaikan dunia, dan keburukannya. Ada kebaikan din, dan keburukannya. Dan ada kebaikan akherat, juga keburukannya.

Diantara keburukan dari manusia adalah mendapat kedzaliman dari manusia, seperti disakiti dan dihina. Dan ada pula kebaikan melalui perantara malaikat. Karena tugas malaikat macam-macam. Ada malaikat mencabut nyawa kita, membagi rejeki di antara kita. Ia tidak memberikan langsung kepada manusia Tapi dengan berdoanya malaikat pada pagi hari.

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا

“Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”

اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)”

Jadi kebaikan dan keburukan bisa datang dari manusia, malaikat, serta benda-benda yang ada. Bahkan batupun bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan. Bisa mendatangkan rejeki, dan bisa menjadi sebab datangnya musibah.

Semua itu datang dengan perantara. Tapi ada kebaikan-kebaikan yang tanpa perantara. Yaitu ditiupkannya ruh oleh Allah kepada tubuh manusia dan menciptakan alam semesta. Tidak ada sekutu dalam penciptaan tersebut.

Namun jangan dikira bahwa racun bisa membahayakan dengan sendirinya. tetap ada izin dari Allah juga. Memang racun adalah buruk, dan buah-buahan bagus untuk tubuh. Tapi jangan dianggap yang menyehatkan itu adalah dari buah, dan yang membahayakan adalah racun. Itu semua atas izin Allah ta’ala.  Dia yang menciptakan dan Dia yang memberi izin.

Semua ciptakaan Allah hingga benda-benda luar angkasa, tidak ada yang bisa memberi keburukan dan kebaikan kecuali atas izin Allah. Semua itu Allah jadikan sebagai sebab manfaat dan mudharat saja. Dan apa yang terjadi pada manusia adalah atas izin-Nya. Bukan dari benda/ciptaan itu sendiri.

Dari awal ciptaan benda apa saja sudah Allah rancang sebagai sebab datangnya kebaikan dan keburukan yang tergantung dari pemanfaatan benda/ciptaan-Nya.

Suatu benda benar-benar memberi keburukan namun bisa dihilangkan fungsinya dari benda tersebut, sebagaimana kisah nabi Ibrahim. Ia dibakar tapi atas izin Allah sifat membakarnya api Allah hilangkan. Dan Nabi Ibrahim tidak merasa terbakar. Makanan dan minuman bisa menghilangkan lapar dan dahaga. Tapi sama Allah bisa saja dicabut kemanfaatan itu terhadap manusia.

Maka alangkah baiknya kita sadar bahwa senantiasa ada kekuasaan Allah yang mengendalikan kehidupan kita. jangan sampai ada perasaan kitalah yang mengendalikan hidup kita sendiri, meski itu hanya kedipan mata. Maka orang yang berilmu/paham agamanya, semua gerakan jari/tubuh itu atas kehendak Allah Ta’ala. Itu sebuah kepastian, baik dia suka maupun tidak. Disinilah kita belajar keikhlasan. Jadi hasilnya tidak ada kekecewaan setelahnya jika hasilnya diluar kehendak manusia.

Selain keikhlasan, kesabaran juga perlu. Karena pada dasarnya skenario Allah itu terlihat tidak bagus, susah, pedih, dan mustahil. Contohnya lihatlah para Nabi. Nabi Muhammad mendakwahi kaumnya hingga 23 tahun. Kemudian Makkah bisa ditaklukkan. itu tidak terbayang oleh Nabi. Sebelumnya Nabi perang melawan musyrikin. Padahal pasukannya kalah jumlah. Tapi Allah menangkan atas mereka. Itu semua butuh kesabaran.

Kemudian setelah keihlasan dan sabar, perlunya istiqomah dalam beramal. Terus menerus melakukan amalan tanpa ada rasa bosan. Walaupun sebenarnya kita tidak tahu kemana Allah arahkan diri kita melalui ibadah-ibadah yang disyariatkan.

Terakhir yang harus dimiliki adalah tekad yang kuat.

Sebagaimana Ulul azmi minarrusul. Mereka lebih baik lagi dari pada Nabi. Rosul Ulul azmi ajarannya sama, Tuhannya sama, dekatnya kepada Allah sama, kaumnya sama , Tapi mereka memiliki tekad yang kuat. Salah satu ulul Azmi, yaitu Nabi Nuh Alaihi salam. Bisa kita bayangkan 950 tahun ia mendakwahi kaumnya siang malam tanpa henti dan hanya dapat pengikut sedikit. Jika itu tidak memiliki tekad yang kuat dia tidak akan mampu selama itu.

Manajemen manusia tertinggi adalah dengan meyakini bahwa semua kehidupan ini digerakkan oleh Allah tanpaada manusiapun yang campur tangan dalam urusan-Nya. Makanya kita tawakkal saja pada Allah. Kita percayakan segala urusannya pada Allah.

Ada para ulama yang membahasakan seperti, “Penulis yang menulis dengan penanya manusia itu, tangannya adalah Allah Ta’ala. Perkataan itu jangan sampai disalah pahamkan. Karena maksudnya adalah yang menggerakkan tangan manusia tersebut atas kehendak Allah ta’ala. Hal ini sejalan dengan hadist Qudsi.

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya”.

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248, dan lainnya.

Maksudnya orang yang benar-benar mendapatkan cinta Allah harus melalui tahapan-tahapan. Orang bisa saja dekat kepada Allah bila menunaikan semua perintah-Nya. Tapi belum tentu Allah cinta. Makanya ia perlu juga mengamalkan sunnah-sunnah Rosul.

Para ulama terdahulu saat mencari ilmu hingga beribu-ribu kilometer dan mil. Padahal tangannya seperti tangan kita. Namun kekuatan mereka tidak seperti kita. Itulah berkat kecintaan mereka kepada Allah, dan Allah mencintai mereka. Hingga seolah tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya Allah yang menggerakkan dan memberi kekuatan yang lebih dari pada manusia biasa.

Karya para ulama terdahulu hasilnya dipakai hingga hari kiamat. Tidak ada matinya manfaat dari karya mereka. Sebab ada campur tangan Allah didalamnya.

Demikianlah pembahasan Ad-dhorru An-naa fi’ yang harus kita pahami. Kesimpulannya Ad-Dhorru An-Nafi’’ artinya Allah ciptakan kebermanfaatan dan kemudharotan, kebaikan dan keburukan yang tidak akan berpengaruh kepada manusia kecuali atas izin Allah Ta’ala. Tinggal pilihan ada pada kita. Apakah kita mau memilih yang baik atau yang buruk, memilih yang ada manfaat terhindari dari mudharat, atau justru yang ada mudharat dijauh dari manfaat?

Maka lebih baik kita sandarkan diri kita pada Allah. Tidak seperti orang yang sok tahu dalam kehidupan ini. Termasuk orang yang tidak mengambil hukum Allah adalah orang yang sok tahu.

“Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah”. (QS. Al-Baqoroh: 140).

Orang-orang yang tidak mau tadabbur terhadap Al-Qur’an adalah orang yang sok tahu. Seolah dia tidak butuh. Padahal Kitab Allah adalah segala sumber. Dan orang-orang yang meninggalkan perintah Allah termasuk orang yang sok tahu. Padahal semua kebaikan adalah untuk dirinya. Bukan untuk Allah Ta’ala. Dan semua keburukan yang ada didunia ini adalah bahaya dan kehancuran pada diri kita.

Wallahu Ta’ala A’lam

(saef/mtf-online.com)