Nafsu yang Menyuruh Kepada Keburukan

Publikasi: Senin, 15 Safar 1436 H / 8 Desember 2014 07:34 WIB

Pemateri : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

 

hawa nafsu- mtf-online.comArtikel di bawah ini  yaitu membahas kitab tazkiyatun nafs. Pembahasan kali ini masih membahas macam-macam nafsu.

Nafsu dalam al-Qur’an ada tiga.

Nafsu yang Berarti Syahwat

إِنَّ    النَّفْسَ    لَأَمَّارَةٌۢ    بِالسُّوٓءِ    إِلَّا    مَا    رَحِمَ    رَبِّىٓ    ۚ    إِنَّ    رَبِّى    غَفُورٌ    رَّحِيمٌ    ﴿يوسف:٥٣﴾

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Yaitu nafsu yang ada dalam diri kita yang menyuruh kepada keburukan dan inilah nafsu yang tercela karena dia menyuruh kepada segala bentuk keburukan dan kejahatan, dan ini adalah karakter dan tidak satu orangpun bisa terlepas darinya kecuali dengan bantuan Allah Ta’ala. Makanya jika kita ingin melawan hawa nafsu maka kita haurs minta kepada Allah. Nafsu ini seperti yang Allah ceritakan dalam al-qur’an yaitu tentang istri Aziz yang menggoda Nabi Yusuf.

وَمَآ    أُبَرِّئُ    نَفْسِىٓ    ۚ    إِنَّ    النَّفْسَ    لَأَمَّارَةٌۢ    بِالسُّوٓءِ    إِلَّا    مَا    رَحِمَ    رَبِّىٓ    ۚ    إِنَّ    رَبِّى    غَفُورٌ    رَّحِيمٌ    ﴿يوسف:٥٣﴾

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”

Allah juga berfirman dalam ayat yang lain .

وَلَوْلَا    فَضْلُ    اللّٰـهِ    عَلَيْكُمْ    وَرَحْمَتُهُۥ    مَا    زَكَىٰ    مِنكُم    مِّنْ    أَحَدٍ    أَبَدًا    وَلٰكِنَّ    اللّٰـهَ    يُزَكِّى    مَن    يَشَآءُ    ۗ    وَاللّٰـهُ    سَمِيعٌ    عَلِيمٌ    ﴿النور:٢١﴾

“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kalaulah tidak karena rahmat Allah yang Allah berikan kepada kalian, maka kalian tidak akan bisa melakukan tazkiyatun nafs selama-lamanya seorangpun tidak akan lewat dan Nabipun bisa lolos karena bantuan Allah Ta’ala begitu juga dengan orang shaleh mereka bisa lolos karena bantuan Allah Ta’ala. Begitu juga Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallah mengajarkan kepada kita ketika khutbatul hajjah Nabi berlindung dari kejahatan hawa nafsu (kami berlindung dari kejahatan diri kami, dan dari kejahatan amal kami) dari doa Nabi tersebut bisa kita ambil pelajaran jika nafsunya buruk maka amal juga pasti akan buruk.

Dan marilah kita bayangkan Nabi kita ketika khutbah hampir selalu berlindung kepada hawa nafsu ini. Dan perlu diketahui bahwa kejahatan itu sebenarnya ada pada diri kita, kalaulah manusia itu terlapas dari Allah maka dia akan dikalahkan oleh syahwatnya itu, jika hawa nafsu itu tidak terkendali maka akhirnya amal buruk yang akan muncul.

Jika seseorang ditolong oleh Allah untuk melawan hawa nafsunya maka dia akan selamat,  maka salah satu kuncinya adalah kita memohon kepada Allah untuk melawan hawa nafsu kita.

Kesimpulanya adalah nafsu itu hanya satu saja, cuma ada yang menyuruh kepada yang jahat dan ada yang sifatnya menyesal setelah berbuat jahat, ada yang tenang. Dan nafsu yang tenang inilah jika seseorang itu bisa dekat dengan Allah Ta’ala, jadi hati ini tidak tenang karena uangnya banyak akan tetapi hati ini bisa tenang dengan amal shaleh.

Jika orang selalu tidak tenang maka itu tanda ia jauh dari Allah. Orang yang hatinya tenang pasti itu karena Allah  jadikan kebenaran itu benar dalam hatinya  kebatilan itu batil dalam hatinya dia selalu termotivasi untuk selalu senang dan digambarkan dalam hatinya betapa indahnya kebenaran itu agar tidak terjatuh kepada kebatilan dan dia dibuat benci terhadap kebencian.

Jadi kesimpulanya adalah jika semua itu untuk Allah dan milik Allah berarti itu datang dari nafsu yang mutmaiinnah, artinya jika kita berbuat hanya untuk  Allah dan sesuai dengan syariat Allah berarti itu datang dari nafsu yang mutmainnah. Dan adapun nafsu yang menyuruh kepada keburukan setanlah yang menjadi petunjuknya. Jika nafsu mutmainnah malaikatlah yang menjadi petunjuknya. Nafsu yang menyuruh kepada keburukan setanlah yang menuntunnya dan membuat berangan-angan buruk dan menyuruh kepada keburukan-keburukan dan dia hiasi keburukan seolah-olah menjadi sesuatu yang indah, dia akan panjang angan-angan kebatilan akan terasa sangat indah baginya.

Nafsu yang mutmainnah maka akan mendorong kita kepada tauhid, ihsan yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah dia melihatnya jika tidak Alah melihat kita, jadi ihsan adalah sempurna dalam ibadah dan beramal, nafsul mutmainnah juga menghasilkan ketakwaan, tawakkal, taubat, inababah yaitu kembali kepada Allah, dan angan-anganya pun menjadi pendek, sangat siap menghadapi kematian dan menghadapi apa-apa setelah kematian.

Dan yang paling berat untuk nafsu mutmainnah ini yaitu melawan nafsul amarah bissu’ dan pendukungnya  karena setan dan nafsu amarah bissu’ ini tidak akan mau membiarkan begitu saja dan  mencari celah untuk merusak amalan, begitulah serunya peperangan antara kita dengan setan itu, setan tidak pernah berhenti memerangi kita dan tidak pernah capek akan tetapi kenapa diri kita harus capek melawan setan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh orang-orang yang arif: kalau saja aku tahu satu amalku yang sampai kepada Allah dan tidak terpengaruhi oleh setan dan syahwat, maka saya adalah orang yang paling bahagia menemui kematian di banding bahagia seseorang yang kehilangan saudaranya yang hilang dan lama tidak ketemu dan tiba-tiba ketemu.

Sedangkan Abdullah bin Umar berkata:

“Seandainya  aku mengetahui bahwa Allah telah menerima satu sujud saja dariku tentulah kematian lebih aku cintai dari pada orang yang lama hilang kembali.”

Ini menggambarkan betapa dasyatnya musuh kita dan betapa berhadap-hadapannya nafsu amarah bissu’ dengan nafsul mutmainnah, ketika nafsu mutmainnah bisa mendatangkan satu kebaikan saja maka nafsul amarah bissu’ ini muncul dan berusaha untuk merusaknya. Misalkan seseorang sudah bisa sampai ke medan jihad dan kemudian nafsu amarah ini akan merusak amalnya dengan menumbuhkan kekurang ikhlasan dalam beramal, misalkan menumbuhkan pikiran jihad sama dengan bunuh diri, nanti kalau berjihad anak kita jadi yatim atau istri akan diambil oleh orang lain.

Begitu juga dengan orang yang hendak berzakat atau bersedekah menumbuhkan dalam pikiran shadakoh hanya akan menimbulkan kemiskinan dan lain sebagainya. Maka dari itu kita harus bermuhasabah setiap hari dan memperbaiki –dan selalu memperbaiki.

Wallahu Ta’ala A’lam.