Muslim di Afrika Tengah Terancam Dimusnahkan

Publikasi: Selasa, 15 Zulqa'dah 1438 H / 8 Agustus 2017 15:11 WIB

(mtf-online.com), Bangui – Bentrokan baru-baru ini di Republik Afrika Tengah menjadi tanda peringatan awal akan terjadinya genosida. Untuk itu, PBB meminta agar pasukan penjaga perdamaian dapat meningkatkan kehadiran di negara tersebut.

“Tanda-tanda peringatan dini genosida ada di sana,” kata Steven O’Brien pada Senin (07/08) di sebuah pertemuan PBB menyusul kunjungannya baru-baru ini ke Republik Afrika Tengah dan Republik Demokratik Kongo.

“Kita harus bertindak sekarang, tidak mengurangi usaha PBB, dan berdoa agar kita tidak menyesalinya,” imbuhnya.

O’Brien mengatakan sudah waktunya untuk memberi wewenang peningkatan pasukan dan polisi yang bertugas dalam program MINUSCA di Afrika Tengah.

Kepala penjaga perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix pekan lalu mengatakan telah mempertimbangkan untuk mengirim sebuah permintaan ke Dewan Keamanan PBB untuk mengirim lebih banyak pasukan untuk MINUSCA.

Republik Afrika Tengah yang menjadi salah satu negara termiskin di dunia, telah terlibat dalam peperangan antara milisi Muslim dan Kristen pada tahun 2013. Sebelumnya Presiden Francois Bozize digulingkan oleh sebuah koalisi kelompok militan Muslim yang disebut Seleka.

Mereka pada gilirannya digulingkan oleh intervensi militer yang dipimpin oleh mantan penguasa kolonial Perancis. Peristiwa tersebut memicu kekerasan sektarian paling berdarah dalam sejarah negara tersebut karena sebagian besar milisi Kristen melakukan pembalasan dendam.

Orang-orang Kristen, yang berjumlah sekitar 80 persen dari populasi, mengorganisir kelompok yang kerap bertindak main hakim sendiri yang dijuluki “anti-balaka”.

BACA JUGA Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath Dibebaskan
Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki 12.350 tentara dan polisi di lapangan untuk membantu melindungi warga sipil dan mendukung pemerintahan Presiden Faustin-Archange Touadera yang terpilih tahun lalu.

Sementara pemerintahan Touadera tetap memegang kendali di Bangui, otoritasnya lemah di luar ibukota tempat mantan kelompok Seleka dan pejuang anti-balaka bentrok.

Sembilan pasukan penjaga perdamaian MINUSCA telah terbunuh tahun ini, membuat kekhawatiran bahwa negara tersebut kembali ke pertumpahan darah yang meledak pada tahun 2013 menyusul penggulingan Bozize.

O’Brien mengungkapkan kengeriannya ketika berkunjung ke sebuah gereja Katolik di kota selatan Bangassou. Di wilayah tersebut terdapat 2.000 pengungsi Muslim sejak tiga bulan yang lalu yang dikelilingi oleh milisi Kristen anti-Balaka yang mengancam akan membunuh mereka.

“Risikonya sangat tinggi dan kita harus fokus dengan benar apakah akan memindahkan mereka ke tempat lain atau tidak,” katanya.

Setengah dari populasi negara tersebut, atau 2,4 juta orang, membutuhkan bantuan pangan untuk bertahan hidup. Negara ini juga menampung setengah juta pengungsi.

“Risiko masuk ke dalam krisis kemanusiaan berskala besar sudah dekat,” kata O’Brien. (saef/kiblat/World Bulletin)