Makna Tawakal Menurut Syariat

Publikasi: Selasa, 27 Muharram 1437 H / 10 November 2015 15:42 WIB

tawakalTulisan ini masih membahas Fikih Akhlak yang merujuk pada kitab “Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruhu Ulamaus Salaf” yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Muhammad Kan’an. Tulisan berikut akan membahas terkait “Tawakal”.

Tawakkal

Tawakkal adalah kejujuran seseorang menyerahkan hati kepada Allah dalam mencari kemaslahatan dan menolak kemudharatan terkait urusan dunia dan akhirat, bukan seperti yang dipahami oleh sebagian masyarakat yaitu berdiam diri dan pasrah.

Tawakkal merupakan urusan hati, serahkan semua keputusan kepada Allah dalam menentukan kebaikan dan menolak keburukan, baik urusan dunia atau akhirat. Tentu dalam mencari kebaikan dunia dan akhirat atau menghindari keburukan dunia dan akhirat, Allah sudah membuatkan sebuah sistem dan aturan. Untuk itu konsekuensi tawakkal haruslah mengikuti sistem Allah tersebut.

Tawakkal tidak cukup dengan hati saja. Sama halnya dengan iman yang memiliki tiga syarat, yaitu diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan beramal dengan amal perbuatan. Oleh karena itu, orang yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan cukupi kebutuhannya di dunia dan akhirat, baik dalam masalah din (agama) ataupun dunia. Oleh sebab itu jika seseorang merasa kurang cukup tentang masalah din (agama) dan dunia berarti ada yang salah dalam dirinya

Contohnya dalam masalah din (agama), ada seseorang yang tidak bisa-bisa membaca al-Qur’an, tidak khusyu-khusyu dalam shalat dan susah dalam melangkah dalam rangka mencari ilmu agama maka itu merupakan indikasi ada yang salah dalam dirinya. Hal semacam ini harus dipahami oleh setiap muslim.

Demikian juga halnya dalam masalah dunia, ada dua kemungkinan; salah satunya ada yang memang sudah benar tawakkalnya tetapi Allah masih mengujinya. Beda halnya dengan masalah agama yang tidak ada ujian karena masalah din (agama) merupakan masalah pokok.

Dalam masalah tawakkal tidak bisa dijadikan landasan dan alasan seseorang untuk bermalas-malasan. Lihatlah bagaimana burung dan ayam yang sudah bangun sebelum pagi dan keluar mencari makan.

Maka seorang muslim bisa mengambil contoh tawakkal dari hewan tersebut. Burung pergi berkeliaran mencari makanan, pergi yang bisa diartikan badannya pergi atau pikirannya pergi dan sebelum maghrib sudah pulang. Untuk itu, seorang muslim hendaknya jangan sampai menyalahi aturan yang Allah telah jadikan malam sebagai waktu istirahat.

Siapa yang cacat dalam mencari rezki berarti dia telah cacat sunnahnya, artinya agamanya cacat karena kalau tawakkalnya cacat maka imannya cacat.

Tawakkal itulah kondisi nabi dalam hidup, sedangkan ikhtiar adalah sunnahnya. Maka barang siapa yang mengamalkan kondisi nabi,  janganlah ditinggalkan pula sunnahnya,

Tidak mau mengambil sebab-sebab ikhtiar membuat syariat seseorang cacat, sedangkan meyakini sebab-sebab yang menjadi sebab rizki yang menentukan itu juga menjadikan cacat akidah seseorang. Jadi seseorang mendapatkan rizki bukan karena kerjanya, karena banyak yang tidak bekerja tetapi mendapat rizki juga, maka jangan dipertentengkan antara ikhtiar dan tawakkal

Tawakkal adalah urusan hati yang menyerahkan seluruhnya hanya kepada Allah, baik  masalah din (agama) atau pun dunia. Demikian pula halnya ikhtiar mengikuti petunjuk dari Allah

Perbuatan manusia ada tiga bagian, yang pertama adalah ketaatan yang Allah swt perintahkan kepada hamba-Nya yang menjadikan sebab masuk ke dalam surga dan terhindar dari neraka. Ini wajib dilakukan bersama tawakkal kepada Allah, kita minta tolong kepada Allah karena kita sadari tidak ada upaya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Segala apa yang dikehendaki terjadi maka terjadilah ia dan apa yang Allah tidak kehendaki terjadi maka tidak akan terjadi. Barangsiapa yang tidak mau melaksanakan kewajiban Allah di dunia maka dia berhak mendapatkan azab di dunia dan akhirat secara syara dan takdir, takdir mengikuti syariat Allah dan bagaimana syariat Allah itulah takdir yang terjadi.

Salah seorang ulama bernama Yusuf bin Asbat berkata, “Beramallah kalian amal seseorang yang tidak akan dia bisa selamat kecuali karena amalnya. Amalnya benar baik porsi maupun aturannya benar dan jangan berlebihan. Seseorang tidak akan ditimpai masalah kecuali yang sudah ditetapkan baginya, artinya antara tawakkal yang kuat dan amal yang benar adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Orang yang tawakkal saja tanpa amal namanya tawaakal berpura pura, orang yang beramal saja tanpa tawakkal namanya tajabbur alias sombong atau takabbur.

Kedua, apa apa yang Allah perlakukan menjadi sebuah sistem di dunia dan Allah perintahkan untuk dipenuhi seperti makan ketika lapar, minum ketika haus, panas mencari naungan dan mencari penghangat ketika dingin. Hal itu bisa juga disebut hukum kauniyah Allah swt, ini juga merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh seorang hamba.

Hal itu menjadi wajib dan harus dilakukan oleh seorang hamba, sebab sebabnya harus dilakukan, siapa yang tidak melakukannya sehingga mendapat mudarat padahal dia mampu melaksanakannya maka dia mengabaikan sistem Allah dan dia berhak diazab juga.

Contohnya, seseorang sudah merasa lapar tapi dia tidak makan sehingga sakit maag. Maka perbuatannya yang dapat mendatangkan mudharat bagi dirinya sendiri padahal ia bisa menghindarinya dengna makan maka dia berdosa juga.

Ada wajib syari dan ada wajib kauniyah, yaitu memenuhi kebutuhan hidup yang Allah sudah membuat sistemnya seperti itu kalau ngantuk harus tidur dan lapar harus makan. Ketika apa yang Allah jadikan di dunia suatu kebiasan di dunia secara umum seperti obat-obatan, ulama berbeda pendapat tentang obat-obatan mana yang lebih afdal ketika ditimpa penyakit berobat atau meninggalkan obat bagi orang yang bertawakal kepada Allah. Dalam hal ini ada dua pendapat yang mashur;

Imam Ahmad berkata bagi orang yang kuat tawakkalnya tidak berobat maka lebih utama, karena Nabi sallalu alaihi wasallam bersabda:

Ada 70 ribu dari ummatku yang masuk surga tanpa hisab, mereka itu adalah yang tidak tatoyyaru (menyandarkan nasib kepada pergerakan burung) meramal, tidak menyuruh diruqyah, tidak kay dan hanya kepada Alah mereka bertawakkal.

Hal ini dilakukan bagi mereka yang tawakkalnya kuat.S ebagaimana ketika Imam Ahmad ditawari dokter untuk sehat beliau menolak dan megatakan bahwa beliau merasa nikmat dengan sakit.

Pada dasarnya dalil dalam berobat itu ada, karena nabi kadang-kadang juga berobat, tidak mungkin nabi malakukannya kecuali itu merupakan hal yang baik.

Usamah bin Syarik radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Seorang Arab badui bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kita berobat?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Berobatlah, karena Allah telah menetapkan obat bagi setiap penyakit yang diturunkan-Nya kecuali satu penyakit!” Para sahabat bertanya: “Penyakit apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Pikun,” (H.R At-Tirmidzi IV/383 No:1961 dan berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Dan diriwayatkan juga dalam Shahih Al-Jami’ No:2930.)

Ulama menafsirkan seolah olah ini bertentangan padahal tidak, tergantung dari tawakkal seseorang karena secara umum manusia diperintahkan untuk berobat maka tergantung pilihan seseorang.

Mengenai hadits kay dan ruqyah maksudnya adalah untuk kita terhindar dari syirik karena yang menyembuhkan adalah Allah, jangan sampai kita beranggapan bahwa kay dan ruqyah inilah yang menyebabkan kita sembuh.

Imam Mujahid Ikrimah Nakhai’ mengatakan, “Tidaklah mendapat keringanan untuk meninggalkan sebab secara umum kecuali orang yang hatinya telah tenggelam kepada Allah dan tidak terikat oleh manusia.”

Ishaq bin Rahawai ditanya apakah boleh seorang bertempur tanpa berbekal? Dijawab oleh beliau, “Jika kualitasnya seperti Abdullah bin Jubair maka silahkan saja.”

inilah makna tawakkal, tawakkal adalah aktifitas hati yang berkaitan dengn iman. Kalau tawakkal cacat maka iman akan cacat dan tawakkal tidak bertentangan dengan ikhtiar, ikhtiar di lakukan bagi orang-orang yang belum kuat imannya.

Terkait masalah obat dan hidup kadang dijadikan paradok antara doa dan kerja, padahal doa adalah bagian dari kerja lisan dan kerja hati doa termasuk juga kerja makanya tergantung dari keyakinan kita.

Ada orang rejekinya datang ke rumah, ada orang yang berdoa dulu baru kerja, ada orang yang mengejar rejeki ketika dia tidak bergerak maka rejekinya tidak akan datang contohnya supir taksi, dia tidak akan mendapatkan rizki kecuali dia bergerak untuk mencarinya. Untuk itu doa tidak bertentangan dengan kerja. Makanya orang-orang terdahulu kerja sedikit tapi rizkinya banyak, itu disebabkan karena doa mereka. Berbeda dengan sekarang, kerja banyak tapi rizki sedikit karena berkah dari doanya tidak ada.

Nabi dinikahkan dengan Khadijah agar mendapatkan rizki yang banyak, dipersahabatkan dengan Usman dan Abu Bakar agar ada yang membantu dalam rizkinya sehingga Nabi bisa fokus dalam dakwah. Para nabi pun menjadi pedagang sebelum mereka menjadi nabi/rasul, jika ingin mendapatkan banyak rizki maka hubungan dengan Allah ditingkatkan sehingga Allah akan memberikannya;

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُوَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya,” (Ath-Tholaq: 2-3).