Mahar dalam Nikah

Publikasi: Jum'at, 16 Muharram 1434 H / 30 November 2012 14:22 WIB

Kita masuk kepada pembahasan berikutnya, Fiqih Manajemen Keluarga dengan kitab Fiqhul Muyassar. Kita masuk kepada bab yang kedua.

Bab Kedua. Terkait dengan Mahar, Hak dalam Perkawinan dan Kewajibannya, Walimatul ‘Ursy, dan Permasalahannya

Masalah Pertama, Definisi Mahar, Hukum dan Syari’atnya

Permasalahan mahar di Indonesia ini, sangat disepelekan. Sedangkan di Arab sana, permasalahan ini sangat dibesar-besarkan. Contoh yang sering diberikan sebagai mahar di Indonesia, seperangkat alat sholat.

a. Definisi mahar

Secara bahasa: diambil dari jujur, lawan dari dusta. Jadi, bukti dari kejujuran. Secara syari’at: harta yang wajib ditunaikan oleh suami kepada istrinya. Jadi sebelum menjadi istri, tapi si calon suami sudah diwajibkan untuk memberikan sesuatu. Ia muncul akibat adanya akad nikah. Jadi kewajiban menunaikan mahar adalah karena adanya akad nikah. Tanpa ada akad, maka tidak ada kewajiban menunaikan mahar.

Mahar juga Dinamakan sebagai shidaq, karena sebagai bukti dari kejujuran yang menjelaskan atau menyampaikan keinginan yang disampaikan dalam pernikahan. Dinamakan juga sebagai mahar, nikhlah, atau ‘uqru. Semua itu sama artinya.

b. Syari’atnya
Dasar hukum adanya mahar adalah Al Quran, Sunnah dan ijma. Kelak akan dijelaskan pada poin selanjutnya.

c. Hukumnya

Wajib bagi seorang calon suami untuk membayar mahar tunai selepas akad. Karena itu dikatakan secara kontan atau tunai. Kalau bisa, jangan dikredit. Mahar juga tidak boleh dibatalkan. Jadi tidak boleh dibatalkan dengan alasan apapun, karena mahar adalah bagian dari pernikahan.

Firman Allah berikut menunjukkan hal ini, “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS. An Nisa’ [4]:4).

Juga firman Allah, “Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.” (QS. An Nisa’ [4]:24).

Juga firman Allah Ta’ala, “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya.” (QS. Al Baqarah [2]:236).]

Artinya dalam ayat ini, tidak ada iddah. Wanita yang dicerai sebelum berhubungan suami istri, tidak ada iddah-nya.

Adapun dari hadits, diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad ra, seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “saya berikan diri saya ini karena Allah dan karena Rasul-Nya.” Rasulullah SAW bersabda, “Saya sudah tidak membutuhkan wanita (untuk dinikahi) sekarang.”

Jadi wanita ini datang kepada Rasulullah untuk minta dinikahi. Kisah nikahnya Rasulullah memang unik, ada yang dinikahkan oleh Jibril as, ada yang langsung dinikahkan oleh Allah, ada yang dinikahkan langsung oleh walinya. Tapi yang seperti itu bukan untuk kita. Kita tidak bisa seperti ini, mengatakan bahwa Allah sudah menikahkan kita kepada wanita itu misalnya, karena kita bukan nabi.

Berkata seorang lelaki yang ada di situ, “Nikahkanlah dengan saya.” Lalu bersabda Rasulullah, “Berikan dia pakaian ..” (Mutafaqun ‘alaih). Rasulullah memerintahkan sahabat itu untuk memberikan wanita itu pakaian sebagai maharnya.

Hadits lainnya diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, dari Rasulullah SAW melihat pada Abdurrahman bin ‘Auf terdapat bekas wewangian. (Kalau sekarang mungkin gaharu.)  Rasulullah bertanya, “Ada apa dengan wewangian ini?” Maka ia menjawab, “Ya Rasulullah, saya baru menikahi seorang wanita.” Maka Rasulullah bersabda, “Apakah maharnya?” Ia menjawab, “Seberat biji dari emas.”

Biji disini bisa sebesar bijih pasir, biji jagung atau biji durian misalnya. Karena Abdurrahman bin ‘Auf memang orang kaya, maka itu tidak mungkin maharnya kecil.

Lalu Rasulullah katakan, “Semoga Allah memberkahimu, buatkanlah walimahnya walaupun hanya seekor kambing.” (Mutafaqun ‘alaih).

Berdasarkan dalil yang disebutkan sebelumnya, maka ulama berijma bahwa disyari’atkan mahar dalam pernikahan. Kita juga bisa lihat dalam hadits yang terakhir, bahwa Rasulullah saja tidak tahu bahwa Abdurrahman bin ‘Auf telah menikah. Padahal beliau tergolong sahabat yang dekat dengan Rasulullah. Di sini terlihat bahwa ada permasalahan individu atau pribadi yang Rasulullah pun tidak mencampuri.

Masalah Kedua, Batasnya, Hikmahnya, Penamaannya

1. Batasan Mahar

Tidak ada batas sedikit maupun banyak, setiap sesuatu yang sah menjadi nilai atau imbalan, maka boleh digunakan. Karena itu ada hadits yang mengatakan walaupun dari cincin besi, ini boleh saja. Asalkan wanitanya mau diberikan mahar tersebut.

Alla ta’ala berfirman, “dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.” (QS. An Nisa’ [4]:24).

Dalam ayat ini Allah katakan “amwal”, tidak ada jenis barang tertentu. Secara bahasa yang dikatakan harta benda secara umum, Al Quran tidak membatasi dengan batasan tertentu. Dari hadits Sahal bin Sa’ad ra, Rasulullah SAW kepada pria yang hendak menikahi wanita yang menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah, “Berikanlah maharnya, walaupun kamu hanya punya cincin dari besi.” {Mutafaqun ‘alaih). Hal ini menunjukkan bahwa mahar boleh dengan harta yang rendah sekalipun nilainya. Tapi dengan catatan, asalkan wanitanya mau dengan mahar tersebut.

Adapun dalil yang menunjukkan kebolehan dengan jumlah yang banyak, firman Allah Ta’ala, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS. An Nisa’ [4]:20).

Ayat ini bicara mengenai rumah tangga yang bermasalah, sehingga tidak ada jalan lain selain bercerai dan menikah dengan wanita yang lain. Bukan berarti boleh sembarangan mengganti istri yang lama dengan yang baru. Nah, dalam kasus seperti ini maka si suami tidak diperbolehkan meminta kembali harta yang sudah pernah diberikannya kepada si istri. Jadi membaca ayat ini jangan sepotong-sepotong. Ayat ini bicara soal permasalahan dalam rumah tangga yang berujung pada perceraian. Padahal lelaki itu diharamkan untuk membujang terlalu lama, termasuk juga janda pun diharamkan untuk membujang terlalu lama. Sampai-sampai Allah berikan keringanan untuk wanita yang menjanda.

2. Hikmah Disyari’atkannya Mahar

Hikmah dari disyari’atkannya mahar adalah menyatakan kejujuran atau keinginan yang jujur untuk menggauli istrinya dengan pergaulan yang mulia dan membangun kehidupan rumah tangga yang mulia. Artinya nikah mut’ah tidak termasuk ke dalam bahasan ini, maka itu nikah mut’ah itu tidak dibenarkan. Kalau kita melihat dari definisi ini, terlihat ada keinginan untuk membangun rumah tangga yang mulia secara jangka panjang, walaupun berapa panjangnya kita pun tidak tahu. Sedangkan yang namanya nikah mut’ah atau kawin kontrak hanya berlaku sepanjang kontraknya saja.

Sebagaimana mahar juga memberikan kemuliaan bagi para wanita, dan memberikan otoritas kepada wanita. Dengan adanya mahar maka wanita memiliki otoritas, posisinya menjadi kuat dalam pernikahan itu.  Agar ia siap untuk menikah, didasari oleh kebutuhannya terhadap pakaian dan kebutuhan pokok lain.

3. Hikmahnya Kewajiban Mahar atas Pria

Islam menjadikan kewajiban mahar atas suami, agar istri terjaga dari penghinaan terhadap kemuliaannya dalam jalan untuk mengumpulkan harta sebelum mendapatkan mahar dari si lelaki. Jadi kalau seandainya wanita yang diwajibkan membayarkan mahar, maka ini merupakan penghinaan kepada wanita. Ia juga yang melahirkan, ia juga yang diperas hartanya. Padahal wanita itu bebannya sungguh berat dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Coba kita bandingkan, mana yang lebih berat dalam rumah tangga, beban suami atau beban istri? Jelaslah beban istri lebih berat, sementara suami bisa jadi jarang di rumah.

Dari sejak ia hamil selama 9 bulan, perutnya membesar harus dibawa kemana ia pergi tanpa bisa ditinggal, tanpa bisa dititip. Ini merupakan latihan terhadap kesabaran, yang luar biasa dari Allah. Allah menitipkan anak selama 9 bulan dalam perut si Ibu, agar setelah lahir ia juga yang merawatnya dan mendidiknya, bukan malah dibiarkan kelayapan kemana-mana. Seperti kasus yang baru saja terjadi, si anak pergi keluyuran selama 2 hari 2 malam tidak pulang, ketika mau pulang malah kecelakaan dan meninggal. Ini akibat dari tidak memahami pesan awal dari pernikahan itu, dan pesan selama proses yang terjadi setelah pernikahan.

Kalau kita melihat, kehamilan itu adalah sebuah proses yang sungguh luar biasa. Dari setiap sisi. Khususnya bagi si Ibu, akan mendapatkan sebuah pelajaran yang luar biasa. Lalu setelah melahirkan, tidak cukup sampai disitu. Tapi juga perlu untuk disusui, disapih sampai berumur dua tahun. Tidak cukup sampai disitu, tapi juga perlu diajarkan kepada anaknya itu nilai-nilai pelajaran yang baik dari Al Quran, Sunnah dan kehidupan para sahabat.

Karena itu, mereka yang mengatakan bahwa setelah menikah percuma gelar sarjana mereka, itulah orang yang perlu dikasihani. Seharusnya ia lebih mulia untuk berada di rumah daripada ia keluar mencari nafkah. Kecuali jika memang kondisi membutuhkan, karena memang Islam juga membolehkan istri untuk bekerja. Tapi ini dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan, karena suaminya sudah tidak mampu lagi. Tapi kalau suami masih mampu, ini beda perkara. Suaminya mampu ia minta bekerja, ketika suami tidak mampu malah meminta cerai. Saya banyak menangani kasus seperti ini khususnya setelah krisis moneter tahun 1998 yang lalu.
Karena dulu ketika di jaman jahiliyah itu, orang suka untuk menikahi anak yatim seperti yang dikisahkan dalam surat An Nisa, terutama anak yatim yang kaya. Orang itu berlomba-lomba menjaga anak yatim yang kaya. Setelah besar nanti, mereka nikahi tanpa mahar pula karena ia menganggap pengurusannya selama itu sudah merupakan biaya. Padahal biaya pengurusannya adalah dengan uang si anak yatim juga. Inilah curangnya kaum Jahiliyah pada jaman dahulu.

Tindakan semacam ini adalah merupakan penghinaan terhadap martabat wanita. Karena itu, Islam memberikan otoritas kepada wanita dengan mewajibkan mahar kepada pria. Bukan berarti ini adalah sebuah transaksi jual beli. Ada asbabul wurud-nya yang membelakangi persoalan semacam ini, ada kasus yang menyebabkan diturunkan syari’at semacam ini. Jika tidak seperti ini, maka wanita akan diperas lahir batin.

Dan ini selaras dengan syari’at Islam, yaitu bahwa laki-laki yang dibebankan kewajiban memberikan nafkah. Jadi kalau ada mahar yang besar jumlahnya, hak siapakah ini? Murni seratus persen hak si wanita. Jadi harta wanita, baik dari mahar, hibah orang tuanya, maupun dari warisan orang tuanya, bukanlah sesuatu yang menjadi hak suami. Kecuali jika memang diberikan dengan kerelaan oleh si istri. Jangan juga kita merayu-rayu agar diberikan kepada kita. Seorang wanita yang bertahan dengan hartanya, ia tidak berdosa. Karena itu ada ayat dalam Al Quran yang perintahkan wanita Muslimah untuk membayarkan zakat, disebabkan banyak kasus dimana wanita itu kaya.

Sumber harta wanita itu lebih banyak daripada laki-laki. Dari orang tua, dari suami, dari saudara laki-laki, dari paman-paman, juga dari bibi-bibi mereka. Sebenarnya kalau jujur, banyak sekali itu semua jika dikumpulkan. Allah menanamkan dalam setiap diri laki-laki, rasa kasih sayang untuk membela ekonomi seorang wanita tanpa mereka harus mencari susah-susah. Padahal dulu mereka dijadikan seperti barang dagangan, ketika masa jahiliyah sebelum datangnya Islam.

4. Kepemilikan Mahar

Mahar adalah sepenuhnya milik istri, tidak ada hak kepada siapapun termasuk orang tuanya. Walaupun orang tuanya mempunyai untuk menyimpankannya, atau mereka menyimpankannya didasari dengan perhitungan dari wanita itu dan kepemilikannya. Tidak serta merta karena harta mahar tersebut disimpan, dikelola atau digunakan oleh orang tuanya atau walinya lalu menjadi milik mereka. Tetapi harus ada perhitungannya karena mahar tersebut dimiliki sepenuhnya oleh wanita itu. Perhitungannya sama saja dengan perhitungan muammalah pada umumnya. Hal ini pernah dilakukan oleh Khadijah ra dahulu kepada Rasulullah SAW.

Allah berfirman, “Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An Nisa’ [4]:4).

Juga firman Allah, “Maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS. An Nisa’ [4]:20).

Begitulah Islam memberikan pengaturan yang luar biasa untuk memuliakan manusia, diantaranya wanita. Salah satunya adalah hak mahar adalah sepenuhnya kepemilikan perempuan dan kewajibannya adalah sepenuhnya beban laki-laki, agar dengan demikian wanita terjaga harga dirinya. Walaupun kita berikan satu gunung emas, tetap itu menjadi miliknya sepenuhnya. Jangan sampai ada niat untuk melakukan tipu daya agar dapat memperolehnya kembali, ini merupakan dosa besar. Wallahu Ta’ala a’lam.