Mahabbah Allah Kepada Hamba-Nya

Publikasi: Kamis, 28 Rajab 1437 H / 5 Mei 2016 13:26 WIB

cintaMTF-ONLINE.COM Tulisan ini masih membahas Fikih Akhlak yang merujuk pada kitab “Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruhu Ulamaus Salaf” yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnul Qoyyim al Jauziyah Abu Hamid al Gozali rahimahumullah
Tulisan berikut akan membahas terkait “Mahabbah Allah Kepada Hamba-Nya”.

Mahabbatullahi Azza Wajalla (kecintaan Allah kepada hamba-Nya) adalah sebuah hasil dari hamba cinta kepada Allah, karena tidak mungkin Allah mencintai kita tanpa kita juga mencintai-Nya atau bisa saja Allah cinta kita namun kita tidak mencintai-Nya yang pada akhirnya membuat Allah tidak cinta kepada kita.

Dalam sebuah hadits rasulullah saw

عن أنس بن مالكٍ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبَّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

“Tidak beriman seorang hamba sampai dia mencitaiku melebihi cintanya kepada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya”. (HR: Bukhari, Muslim)

Cinta kepada rasulullah bukan mengagung-agungkan berlebihan diri beliau, kita memang menghormati dan mencintai beliau tapi tidak sampai pada derajat Tuhan sebagaimana yang di lakukan oleh aliran-aliran sesat, tasawuf, syiah, dan sebagainya. Kita mengikuti ajaran rasulullah sebagai bukti cinta kita kepada beliau, bahkan bukti cinta kita kepada Allah dengan mengikuti rasulullah sallallahu alaihi wasallam.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”.(Ali Imran:31)

Jika rasulullah saja lebih utama kita cintai dari diri kita apalagi Allah Ta’ala tentu lebih utama kita cintai dari diri kita dan dari pada semua makhluk yang ada dimuka bumi ini. Sekarang kita lihat bagaimana perbandingan cinta Allah kepada kita dan cinta kita kepada Allah.

Baca juga update MTF lainnya:

Cinta Allah kepada kita Dia selalu menginginkan kita baik selamat dan mendapat berkah serta rahmatnya, bukan untuk diri-Nya, jadi Allah cinta kita bukan Allah punya kepentingan kepada kita. Berbeda dengan kita kalau cinta kepada Allah kita punya kepentingan untuk diri kita, bahkan kita cinta kepada manusia kita punya kepentingan. Contohnya kita cinta kepada guru kita karena kita punya kepentingan untuk mendapatkan ilmunya demikian juga cinta-kepada yang lainnya agar kita bisa mendapatkan manfaat dari mereka. Tapi Allah Ta’ala cinta kepada kita untuk kepentingan diri kita, maka Allah katakan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui”.(Al-Maidah:54)

Inilah sifat-sifat mulia yang Allah tanamkan kepada orang yang Allah cintai, makanya kita juga harus bisa mendeteksi apakah Allah juga mencintai kita, atau sudakah Allah mencintai kita, bagamana deteksinya? sudahkah Allah tanamkan tanda-tanda itu kepada kita?, cinta kepada orang mukmin, rendah hati kepada mukmin, tegas terhadap orang kafir, mau berjihad di jalan Allah cinta jihad dan lain sebagainya.

Muamalah kita terhadap manusia selalu ada kepentingannya bahkan bisa saja hari ini dekat besok jauh, kenapa.?? mungkin saja karena hari ini kita berpangkat dan status sosial kita tinggi, ketika itu semua hilang, maka hilang pula semua itu. Lihat pejabat bahkan presiden ketika dia sudah tidak menjadi presiden maka tidak di elu-elukan lagi, itulah sifat kebiasaan yang ada dalam diri manusia pasti punya keuntungan dan kepentingan namun Allah Ta’ala.

Ketika Allah ta’amul kepada kita Dia turunkan kalam dan wahyu-Nya Dia utus rasul-Nya agar kita mendapatkan untung yang besar dan derajat yang tinggi, bayangkan diantara contoh cinta Allah kepada kita adalah satu dinar atau dirham yang kita infakkan Allah balas menjadi 10 bahkan 700 kali lipat dan lebih dari itu, tetapi keburukan satu Allah balas dengan satu dosa. Kemudian keburukan itu gampang sekalai Allah menghapusnya.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

“Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)”. (Huud:114)

Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan secara otomatis akan menghapus dosa dan keburukan kita tanpa kita minta, apalagi kalau kita minta dengan istiqfar tentu lebih hebat lagi.

Allah ciptakan kita bukan untuk diri-Nya karena Allah tidak membutuhkan kita tetapi Allah ciptakan segala sesuatu di dunia dan akhirat untuk diri anda/kita. Kebaikan dunia tidak terhitung, seharusnya kita membelasnya tetapi Allah menciptakan kebaikan di dunia dan akhirat adalah untuk kita.

Oleh karena itu tentulah kita harus sadar untuk mencintai Allah swt dan mencari ridho-Nya sekuat tenaga. Apa saja yang Allah ridhai kita cari dan kejar dan apa saja yang Allah murkai kita jauhi dan hindari jangan sampai sebaliknya kita lebih mengutmakan dunia atas akhirat.

ada sebuah syair mengatakan, “iza kaburatin nufuusu tai’ibati: (manusia kalau sudah mempunyai cita-cita besar terkadang badannya susah untuk mengikutinya)”

Jadi cintai Allah sepenuh hati cari keridhoan-Nya sekuat tenaga itulah seharusnya semboyan kita sehingga tidak ada lagi bagi kita tidur yang terlalu banyak. Karena pada hakekatnya kita telah mengetahui dan sadar bahwa semua kebutuhan makhluk di alam semesta ini berada di tangan Allah mengapa kita tidak segera mencari ridho-Nya, mencari sesuatu yang terbaik dari Allah yaitu dengan mencari ridho-Nya jangan cari barangnya.

Mengapa terkadang orang lama bisa membaca al-Qur’an, atau bahasa arab,? padahal sebenarnya mudah, karena kebanyakan manusia tidak mencari ridho Allah hanya mengejar bahasanya. Demikian juga halnya dalam mencari rizki, subuh hari manusia sudah mencarinya seharusnya Allah lah yang di dahulukan karena rizki di tangan Dia. Kalau Allah senang pastilah Allah akan memberikan kita rezkinya tinggal kita selaku hamba yang sabar  karena terkadang skenario Allah itu hanya Dia lah yang mengetahuinya. Intinya kita mencari ridho-Nya kalau kita mati maka kitapun insya Allah mati dalam keridhoannya.

Inilah kunci-kunci hidup semua keperluan dan kebutuhan kita ada di tangan-Nya, padahal Allah itu adalah rabb yang paling dermawan bahkan Allah memberikan hamba sebelum dia meminta. Kita tidak pernah meminta oksigen tapi Allah memberikan kita, seandainya kita mau menghitung-hitungnya, 170 juta kita akan bayar setiap harinya, semua Allah berikan dan bahkan Allah memberi diatas harapannya bahkan Allah mensyukuri sekecil apapun amalan kita dan Dia tidak akan melupakan amalan kita sekecil apapun, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa dan kesalan kita sebesar apapun setiap hari Allah sibuk mengurusi kita namun terkadang kita malah cuek saja pada-Nya.

Allah tidak akan meresa sibuk karena banyaknya orang yang meminta, Allah juga tidak akan pernah merasa jenuh karena kita selalu meminta kepada-Nya sebaliknya Allah malah mencintai orang-orang yang senantiasa berdoa kepada-Nya. Apapun kesusahan yang kita dapatkan di dunia ini kita adukan kepada Allah, karena Allah senang kalau Dia dimintai bahkan marah kalau Dia tidak di mintai. Allah malu kepada kita dari sisi yang kita tidak malu kepadanya kadan-kadang. Bagaiman Allah malu dalam sebuah hadits dikatakan..”Allah malu kepada hambanya yang mengangkat tangan meminta sesuatu sebelum hamba-Nya turunkan dan Dia tidak kabulkan”

Hanya saja terkadang pengkabulan Allah itu macam-macam. ada yang langsung dan ada juga yang Allah tangguhkan sampai di akhirat atau dijadikan kompensasi kita terhindar dari keburukan sama saja hasilnya.

Allah menutup aib dan aurat kita dimana terkadng kita tidak bisa untuk menutupnya, Allah menyayangi dan merahmati kita yang kadang-kadang kita sendiri yang tidak menyayangi diri kita sendiri, contohnya hidup kacau itu adalah tanda kalau kita tidak sayang terhadap diri kita sendiri. Terkadang manusia enggan dipanggil Allah untuk mendapatkan nikmatnya, kebaikannya, kemuliaannya, keridhoannya, pertolongan-Nya, Allah utus Rasul-rasul-Nya agar bisa memahami dan meminta dengan benar kepadanya. Allah utus janjinya dengan mereka (para rasul) bahkan Allah turun pada sepertiga malam terakhir Allah sendiri yang turun dan berkata:

“Siapa yang meminta kepadaKu pasti akan kau berikan, dan barang siapa yang memohon ampun kepada ku maka aku akan ampuni”

Bagaimana mungkin kita tidak mencintai zat yang tidak ada kebaikan kecuali yang datang dari Dia, kita di beri gaji dan kerja di dunia saja sudah sangat senang, tidak ada yang lain yang bisa menjawab doa dan menghindarkan kita dari ketergelinciran mengampuni kesalahan-kesalahan kita, serta menutup aib dan aurat kita, yang menghindarkan kita dari bencana dan menjawab semua keinginan kita kecuali Allah.

Allah adalah yang laing berhak untuk di ingat, paling berhak di syukuri paling berhak di ibadahi, dan berhak di puji.

Allah menolong orang-orang yang membutuhkan dan bahkan Allah lebih senang kepada kita dari raja manapun di dunia ini. Allah yang paling dermawan ketika diminta Allah yang paling luas rahmat dan karunia-Nya ketika ia memberi, dan Allah paling besar rahmat-Nya ketika dimintai rahmat-Nya dan paling mulia untuk kita bernaung dan berlindung. Allah yang mencukupi ketika kita bertawakkal dan Allah lebih sayang kepada kita dari pada seorang ibu yang sayang kepada anaknya. Allah lebih senang menerima taubat seorang hamba yang bertaubat dari pada seorang yang kehilangan kendaraan dan makanannya kemudian ia mendapatkan lagi sebagaimana dalam sebuah hadits

Allah adalah raja yang tidak ada sekutu bagi-Nya Esa tidak ada tandingannya semua yang di dunia akan hancur kecuali Dia, tidak bisa di taati kecuali dengan izin-Nya, tidak seorangpun bermaksiat kecuali Dia mengetahuinya, kalau Dia di taati maka Allah akan bersyukur kepada kita dengan memberikan taufiq dan nikmat, kalau di maksiati maka Allah akan memberikan maaf dan ampunan, padahal hak dia untuk mengabaikan.

Allah adalah saksi yang paling dekat, pemelihara yang paling mulia yang paling memenuhi janji yang paling adil Allahlah yang membatasi diri dan hati kita. Dialah yang menguasai kita dan menentukan pengaruh-pengaruh, Allah juga bisa menghapuskan ajal hati bisa datang kepadanya, dan tidak adal rahasia bagi-Nya yang ghaib semua terbuka bagi-Nya, harusnya setiap orang merindukan untuk kembali kepada ALlah

bercahayalah wajah seseorang karena mendapatkan cahaya Allah swt akal kita lemah untuk memahami semua pemahaman tentang Allah swt dalil-dalil fitrah menunjukan bahwa tidak ada yang sama dengan Allah swt karena cahaya Allah kegelapan bisa bercahaya sehingga bumi dan langit ini bercahaya dan semua makhluknya menjadi baik, Dia tdak tidur dan tidak pantas untuk tidur Dia bentangkan semua kebutuhan manusia, diangkat kepadanya amalan malam sebelum siang dan amalan siang sebelum malam jadi dua kali amal kita diangkat kepada Allah, yaitu waktu sore dan subuh.

Allah tidak menampakan Diri-Nya kalaulah dia menempakkan maka kita tidak akan bisa memahaminya dengan sempurnya. Oleh karena itu cinta Allah adalah faktor yang menghidupkan hati dan gizi bagi tubuh kita, tidak akan mungkin hati bisa menikmati keindahan dan kelezatan serta hidup bahagia kecuali dengan cinta kepada ALlah. Apabila hati sudah kehilangan cinta Allah maka sakit dan sengsaranya jauh lebih buruk dari mata tidak bisa melihat cahaya.

Buta mata hati jauh lebih berat dari buta mata kepala, salah satu ciri buta mata hati tidak bisa mencintai Allah dengan benar begitu juga kalau kehilangan pendengaran itu kecil di bandingkan kehilangan pendengaran mata hati, karena itu lebih besar masalahnya. Begitu juga kalau anggota tubuh mata, telinga, hidung, dan hati sudah tidak bisa mencintai Allah swt semua anggota badan kita rusak, kerusakannya melebihi dari tercabutnya nyawa dari badan.

Oleh karena itu ruh kita jangan sampai hilang dari kecintaan kepada Allah swt masalah ini tidak bisa di benarkan kecuali bagi orang yang memiliki kehidupan seperti kata penyair orang yang sudah mati dilukai apapun dia tidak akan merasakan sakit, demikian juga bagi orang yang sudah mati hatinya, dia tidak akan merasakan cinta Allah lagi,

Atsar:

Fathul Muhsili berkata: “orang yang benar-benar mencintai Allah dia tidak akan merasakan lezatnya dunia dan dia tidak akan lalai sedikitpun dlam menngingat Allah walaupun hanya sekejap mata”

sebagian lagi berkata: “Orang-orang yang mencintai Allah hatinya terbang ke akhirat” banyak berzikir kepada Allah mencari sebab-sebab ridho Allah dengan semua jalan yang mampu dia lakukan dengan kesungguhan dan kerinduan”

sebagian ulama bernasyid: “Jadilah kamu terhadap Allah itu sebagai orang yang mencintai Allah agar Allah melayani kamu karena sesungguhnya orang yang mencintai itu dia kan melayani kekasihnya”

Jadi kalau kita ingin dimudahkan dalam segala urusan maka marilah kita mencintai Allah sebagaimana ajaran rasulullah banyak berzikir tinggalkan larangan Allah bukan hanya sekedar seperti lagu. “Saya cinta” tapi tidak solat dan sebagainya bagaimana mungkin Allah akan mencintainya.

Sebagin Istri para salaf menasehati anak-anaknya berkata: “Biasakan kalian mencitai Allah dan menaatinya karena karena orang-orang yang bertakwa itu tenang jiwanya dengan ketaatan kepada Allah, merasa nyaman lalu hilanglah kegersangan yang ada di dalam diri mereka, kalau mereka di lewati oleh ahlu maksiat mereka mengingkari tidak akan terpengaruh oleh lingkungan”

Ibnul Mubarak berkata: “kamu durhaka kepada Allah tetapi kamu mengira kamu mencintainya”

Kalau benar cinta kepada Allah maka jangan durhaka kepada ALlah, boleh jadi durhaka karena meninggalkan kewajiban ataupun durhkaa karena melaksanakan maksiat/larangan. demi Allah ini adalah peerbuatan yang sangat menjijikkan, kalau cintamu kepada Allah jujur dan benar maka kamu akan mentaati dia. karena orang akan mentaati orang yang dia cintai.

——————————

* Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok.