Macam-Macam Sabar

Publikasi: Senin, 19 Rabiul Akhir 1436 H / 9 Februari 2015 14:05 WIB

sabarTulisan ini masih membahas Fikih Akhlak yang merujuk pada kitab “Tazkiyatun Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruhu Ulamaus Salaf” yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Muhammad Kan’an. Tulisan berikut masih akan membahas terkait sabar. Pada tulisan sebelumnya telah dibahas makna sabar dan hakikatnya.

Telah dijelaskan makna sabar pada pembahasan sebelumnya, yang secara umum adalah kemampuan diri untuk menahan sifat dan sikap berkeluh kesah, baik melalui lisan maupun melalui sikap terhadap cobaan-cobaan yang Allah berikan.

Adapun tulisan berikut akan membahas macam-macam sabar dilihat dari kaitannya;

Sabar dilihat dari hal-hal yang terkait dengannya terbagi menjadi empat bagian;

Pertama; sabar dalam melakukan perintah dan ketaatan sehingga bisa dilakukan dengan baik. Seperti menuntut ilmu, itu adalah bagian dari ketaatan. Bila tidak sabar dalam menuntut ilmu maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Sabar untuk menuntut ilmu atau memilih kerjaan urusan dunia. Bila tidak sabar dengan mementingkan uang dan pekerjaan maka ia akan memilih pekerjaan. Sabar perlu untuk memilih perkara prioritas. Karenanya dalam menjalankan ketaatan dan perintah perlu sabar, oleh sebab itu terkadang banyak orang berilmu tapi tidak dapat mengamalkan ilmunya. Orang tahu akan keutamaan dan kewajiban shalat berjamaah, tapi ia tidak melakukannya.

Kedua; sabar menahan diri dari larang-larangan dan hal-hal yang melanggar aturan Allah sehingga tidak terjerumus untuk melakukannya. Seperti sabar untuk meninggalkan tindakan korupsi dan kemaksiatan lainnya. Sabar pada bagian pertama adalah sabar melawan kemalasan, sedang sabar bagian kedua merupakan sabar melawan hawa nafsu.

Ketiga; Sabar terhadap keputusan-keputusan Allah sehingga tidak murka dan mengeluh. Seperti ungkapan, “Kenapa penyakit saya tidak sembuh-sembuh padahal telah berobat dan menghabiskan banyak biaya.” Ungkapan tersebut menunjukkan sifat tidak sabar, ia tidak sabar terhadap keputusan penyakit yang Allah berikan dan kesembuhan yang akan Allah berikan. Manusia hanya bisa berusaha, kesembuhan datang dari Allah.

Tapi dalam menuntut ilmu tidak boleh sabar karena malas untuk belajar, karena dalam menuntut ilmu seorang mukmin harus hirshun (rakus). Seperti ungkapan, “kenapa saya bodoh baca Al-Qur’an, sabar saja nanti juga saya bisa.” Pada ilmu seorang mukmin dianjurkan untuk rakus, tapi pada harta harus zuhud.

Keempat; Sabar menghadapi musibah, cobaan dan kesulitan akibat kelakuan orang-orang kafir. Tapi sabar bukan berarti diam, namun harus ada tindakan nyata.

Macam-macam sabar inilah seorang hamba harus melakukan perintah, harus meninggalkan larangan dan sabar atas takdir yang dihadapi.

Dilihat dari sisi lain, sabar terbagi menjadi dua macam, sabar ikhtiyarun (pilihan) dan sabar idhdhirariyun (terpaksa). Sabar karena pilihan jauh lebih sempurna dari sabar karena terpaksa. Sabar karena terpaksa banyak orang yang bisa melakukannya, tapi ia belum tentu dapat melakukan sabar karena pilihan. Oleh karena itu sabarnya Nabi Yusuf dalam menahan hawa nafsu ketika digoda oleh istri raja jauh lebih besar nilainya dari ketika ia sabar menghadapi perlakuan saudara-saudaranya ketika melemparkannya ke dalam sumur. Ketika dilemparkan ke dalam sumur, mau tidak mau harus sabar. Kedua hal itu tetap disebut sabar. Contoh lain, orang miskin mau tidak mau harus sabar. Sedang orang yang diberi kelebihan harta, ketika ia sabar tidak menggunakan hartanya untuk bermaksiat, tapi ia gunakan untuk di jalan Allah maka tentu nilainya lebih besar.

Manusia tidak akan terlepas dari sabar dalam semua kondisi kehidupannya. Karena manusia akan hidup di antara dua hal, pertama perintah yang harus ia lakukan dan kedua larangan yang harus ia tinggalkan. Ridha terhadap takdir dan bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah. Bila kondisi seseorang seperti ini maka sabar adalah sifat yang harus dimiliki sampai mati.

Apapun yang dihadapi oleh seorang hamba di dunia ini tidak akan lepas dari dua perkara, pertama sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan tujuannya; kedua adalah sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya. Kalau datang sesuatu yang sesuai dengan keinginannya perlu untuk sabar agar menggunakannya di jalan Allah. Bila datang sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya harus sabar pula. Dalam dua kondisi ini seorang muslim harus sabar.

Sabar yang sesuai dengan keinginannya seperti sehat, dapat pangkat dan dapat harta. Oleh karena itu ia harus sabar terhadap apa yang ia inginkan. Sabar terhadap apa yang telah diberikan memerlukan kesabaran yang ekstra. Seseorang yang diberikan harta banyak oleh Allah, ia harus sabar terhadap godaan-godaan dan agar tidak menggunakannya untuk kemaksiatan. Orang yang sakit akan lebih mudah untuk mengingat Allah dan berdzikir, tapi orang sehat biasanya lupa. Oleh karenanya janganlah seseorang menyandarkan diri pada apa yang diinginkan, seperti ketika ia diberi harta, ia berkata, “Entarlah kalau hartanya sudah banyak baru saya akan berinfak”. Hendaknya bila mendapatkan apa yang diinginkan tidak membuatnya menjadi sombong dan melakukan kebahagiaan yang tercela seperti pesta-pesta yang mubadzir.

Selain itu, hendaknya seseorang jangan tenggelam dalam mencari apa yang diinginkannya. Ingin harta, jangan tenggelam mencarinya siang malam tidak berhenti sampai melupakan ibadah. Kadang-kadang seseorang susah hidup dikarenakan syahwat keinginannya lebih dari kebutuhan. Terhadap ibadah ia tidak mau, tapi terhadap urusan dunia dia tenggelam mencari keinginannya.

Juga harus sabar dalam menjalankan hak-hak Allah, jangan karena mengejar urusan dunia sampai lupa terhadap hak-hak Allah. Boleh mengejar harta, pangkat dan lainnya tapi jangan sampai melanggar hak-hak Allah.

Seorang hamba juga harus sabar untuk tidak menggunakan nikmat Allah pada yang haram. Punya harta banyak, harus sabar untuk tidak menggunakannya pada yang diharamkan oleh Allah. Sebagian ulama salaf berkata,

“Kalau soal ujian, orang kafir dan mukmin bisa untuk sabar. Tapi tidak akan sabar ketika diberi kesehatan kecuali orang-orang yang jujur.”

Contoh nyata Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu ‘anhu, belum pernah terdengar beliau sakit keras. Beliau diberikan harta banyak tapi beliau tidak pernah tertipu, ia gunakan hartanya di jalan Allah. Abdurrahman bin Auf berkata;

“Kami pernah diuji dengan kesusahan, kami bisa sabar. Ketika kami diuji dengan kemudahan kami tidak dapat bersabar.”

Sekelas sahabat Abdurrahman bin Auf mengakui akan beratnya sabar terhadap ujian apa yang diberikan oleh Allah. Itu menggambarkan betapa beratnya ujian harta. Oleh karena itu, Allah selalu mengingatkan akan bahaya fitnah harta, istri dan anak-anak. Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun;

“Hai orang-orang beriman janganlah engkau dijerumuskan oleh harta, istri dan anak-anak kalian.”

“Sesungguhnya harta, istri dan anak-anak kalian adalah fitnah.”

Allah menyebut harta, istri dan anak-anak terkadang dengan sebutan musuh, fitnah dan hati-hati jangan sampai dilalaikan.

Adapun macam kedua yang berlawanan dengan hawa nafsu tidak akan lepas dari ketaatan. Seperti meninggalkan kemaksiatan itu tidak enak, shalat jamaah itu tidak enak. Dalam hal itu, pilih sabar untuk tetap melakukan ketaatan atau tidak. Terkait sabar terhadap hal-hal yang tidak disukai ada dua macam;

Pertama; Semua amal perbuatannya yang disifati dengan taat dan maksiat. Adapun ketaatan dibutuhkan sifat sabar dalam melakukannya karena karakter seorang hamba lari dari beribadah. Allah berfirman;

Tidakkah kamu lihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan?

Contohnya ibadah dalam shalat, di dalamnya terdapat persoalan malas untuk mengerjakannya. Malas untuk beribadah dan hatinya keras karena tidak ada dzikir dan banyak berbuat maksiat. Cenderung kepada perbuatan maksiat dan bergaul dengan orang-orang yang lalai. Pergaualan itu penting. Jangan lari dari pergaulan tapi cari pergaulan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Kaitannya dengan hal ini, seseorang perlu sabar dalam tiga kondisi; Pertama sebelum masuk kepada ketaatan perlu sabar, yaitu dengan meluruskan niat kemudian ikhlas karena Allah Ta’ala. Kedua; ketika masuk pada perbuatan ketaatan kepada Allah harus sabar terhadap hal-hal yang membuat lalai dan berlebih-lebihan. Artinya dimanage ibadahnya sesuai sunnah Rasulullah, jangan sampai kurang dan jangan sampai berlebihan karena itu akan menjadi perbuatan bid’ah. Selalu menyertakan niat yang lurus, jangan sampai anggota tubuhnya beribadah sementara hatinya tidak hadir. Hati dan pikiran harus selalu dikendalikan. Ketiga; Setelah selesai yaitu harus bersabar agar tidak melakukan hal-hal yang membatalkannya. Seperti cerita tentang apa yang telah ia lakukan, ia cerita di facebook bila malam harinya shalat tahajjud. Persoalannya setelah beribadah bukan memikirkan bagaimana beribadah lagi, tapi memikirkan bagaimana menjaganya agar tidak batal. Ia sabar tidak riya’, tidak kagum pada ibadahnya dan tidak menyombongkan ibadahnya. Sabar untuk hati-hati jangan sampai memindahkan rahasia menjadi terbuka, seperti shalat tahajud yang sudah benar dilakukan secara sendirian maka jangan diceritakan kepada yang lain di siang harinya. Jangan mengira sabar selesai setelah beramalnya selesai.

Begitu pula sabar terhadap maksiat, merupakan faktor terbesar yang dapat menolong seseorang dapat bersabar adalah memutus hubungan dengan yang biasa-biasa. Hal yang biasa-biasa ini bahaya, seperti ikhthilath (bercampur baur laki dan perempuan yang bukan mahram) dan lainnya. Faktor lainnya harus menjauhi dari majelis yang membicarakan hal-hal maksiat.

Kedua; Sabar yang tidak ada alasan seorang hamba untuk menolaknya, seperti terkena musibah. Dalam hal ini bisa saja musibah dan cobaan datang bukan karena akibat perbuatan manusia lainnya, seperti kematian dan sakit. Atau sabar terkait apa yang dilakukan manusia seperti dicaci atau dipukul orang lain. Macam pertama yang tidak terkait dengan manusia, seorang hamba memiliki 4 tingkatan;

Pertama; tingkat lemah, seperti mengadu dan mengeluh. Kedua; tingkat sabar, bisa sabar dan tidak mengeluh. Ketiga; tingkat ridha, menerima semua keputusan Allah. Keempat; syukur, ia mensyukuri musibah yang menimpanya. Seperti ketika diberi sakit, ia bersyukur dengan diberi sakit ia dapat beribadah dan lebih dekat kepada Allah. Ia mensyukuri terhadap yang memberikan cobaan di saat kebanyakan orang bersyukur terhadap rizki yang diberkan.

Adapun terkait dengan manusia, terdapat tiga tingkatan; Pertama; memaafkan. Hatinya lapang untuk tidak balas dendam. Kedua; dia yakin bila itu takdir maka ia sabar. Ketiga; berbuat baik terhadap orang yang berbuat jahat padanya. Jadilah seperti orang yang melempar buah mangga, buah manga dilempari dengan batu tapi mangga membalas melemparinya dengan buah.

Ketiga; Dia datang karena pilihannya sendiri, setelah ia mampu tentu tidak ada pilihan lagi dan tidak ada alasan untuk menolaknya. Seperti ketika muda ia memilih untuk merokok, ketika tua ia sakit yang tidak bisa ia tolak kehadiran penyakitnya akibat rokok. Itu adalah pilihannya sendiri. Agama Islam Allah turunkan untuk menjaga 5 kemaslahatan manusia yaitu agamanya, jiwanya, akalnya, hartanya dan menjaga keturunannya.

Oleh karena itu seorang mukmin harus sabar, bukan sabar yang bermakna sempit seperti yang banyak dipahami masyarakat bahwa sabar hanya ketika terkena musibah, tapi sabar ketika berbuat taat, sabar dari menahan untuk berbuat maksiat, sabar dari musibah dan sabar ketika menghadapi kejahatan orang-orang kafir.

————————————-

* Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF yang disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Macam-Macam Sabar (Seri Tazkiyatun Nufus).