Keutamaan Orang yang Sabar Menghadapi Kematian Anaknya

Publikasi: Jum'at, 29 Jumadil Awwal 1436 H / 20 Maret 2015 11:17 WIB

tarbiyatul awladTulisan ini akan membahas kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam karya DR. Nashih ‘Ulwan rahimahullah. Tulisan ini akan membahas salah satu babnya, yaitu “Keutamaan orang yang sabar menghadapi kematian anaknya.”

Sebelumnya telah dibahas bahwa fitrah orang tua mencintai anaknya dan itu merupakan pemberian Allah Ta’ala. Tapi bukan termasuk pemberian Allah orang tua yang benci terhadap anak perempuannya, namun itu merupakan tradisi jahiliyah. Karena kecintaan dalam Islam, antara laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tua.

Orang jahiliyah banyak yang lebih cinta kepada anak laki-lakinya karena materi, laki-laki lebih mampu membela dan menghidupi orang tuanya dibandingkan wanita.

Keutamaan Orang yang Sabar Menghadapi Kematian Anaknya

Disebut anak adalah mereka yang belum baligh. Ketika seorang muslim mencapai derajat keyakinan yang tinggi dan ia beriman kepada hakikat ketentuan Allah baik dan buruknya, maka semua peristiwa yang menimpanya di matanya menjadi kecil. Sedangkan orang-orang yang membesar-besarkan masalah, baik masalah kematian, tidak mendapatkan keturunan dan kekurangan harta menunjukkan keimanannya kepada Allah lemah dan keyakinannya terhadap qadha’ Allah kecil.

Ini harus dijadikan semboyan hidup, iman semakin besar maka semakin kecil ia melihat masalah. Bila iman kecil maka masalah semakin besar. Hal ini menjadi barometer keimanan. Orang yang beriman akan ringan ketika menghadapi musibah yang menimpanya karena ia serahkan semuanya kepada Allah SWT. Hatinya menjadi tenang dan hatinya berisitirahat karena sabar terhadap cobaan, hatinya ridha terhadap ketentuan Allah dan ia tunduk terhadap takdir yang telah Allah tentukan.

Baca post lainnya:

Tapi hal ini tidak boleh disalah pahami dengan tetap sabar meski anaknya tidak bisa shalat dan mengaji. Terhadap kewajiban seorang muslim harus tegas dan teriak-teriak mendidik anak, tapi terhadap ujian ia harus tenang.

Dari starting poin keimanan itu, Rasulullah saw. mengabarkan bahwa orang-orang yang anaknya meninggal, lalu ia sabar dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga dengan nama baitul hamdi (rumah pujian).

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari dari Rasulullah saw. bersabda, “Apabila anak seorang muslim meninggal maka Allah berkata kepada malaikat-Nya, ‘Kalian telah mengambil nyawa anak hambaku?’ Malaikat menjawab, ‘Benar.’ Allah berkata, ‘Kalian telah mematikan buah hatinya?’ Para malaikat menjawab, ‘Benar, ya Allah.’ Allah bertanya, ‘Apa yang dikatakan hamba-Ku ketika itu?’ Malaikat menjawab, ‘Mereka memuji-Mu dan membaca istirja’.’ Allah berkata, ‘Bangunkan bagi hamba-Ku itu sebuah rumah di surga dan namakan rumah itu dengan baitul hamdi (rumah pujian).” (HR. Turmidzi dan Ibnu Hibban).

Ini merupakan musibah membawa surga, karenanya cara pandang seseorang kepada anak harus berimbang. Ketika anak dewasa atau ketika anak meninggal sebelum dewasa, maka menyikapi keduanya harus berimbang. Jangan sampai ada pikiran yang tidak berimbang dengan berfikir dan bersyukur anaknya meninggal sebelum dewasa karena tidak perlu kasih makan. Tidak boleh berfikir seperti itu karena perbuatan seperti itu menunjukkan ia tidak paham maksud Allah membangunkan rumah di surga untuk hamba-Nya.

Semua ini berlandaskan keimanan, merawat anak sampai dewasa juga karena keimanan sebab itu merupakan ketaatan kepada Allah dan merelakan anak yang meninggal ketika belum dewasa itu juga didasari keimanan kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian seorang hamba akan selalu dalam kebaikan. Rasulullah saw. bersabda;

“Allah kagum terhadap seorang mukmin yang dalam semua kondisi amalannya baik, apabila ia mendapatkan kebaikan ia bersyukur karena itu yang terbaik baginya. Kalau ia tertimpa keburukan ia sabar karena itu kebaikan baginya.”

Jadi semuanya harus berdasarkan keimanan sehingga bernilai di sisi Allah Ta’ala.

Sabar memiliki beberapa buah yang akan dipetik buahnya oleh orang yang sabar pada suatu hari tidak lagi bermanfaat harta dan anak, yaitu hari kiamat. Diantara buah dari sabar adalah dibukanya jalan menuju surga dan ditutup pintu neraka.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudry, Rasulullah saw. bersabda kepada seorang wanita, “Tidaklah seorang wanita dari kalian yang apabila ditinggal mati oleh 3 orang anaknya kecuali itu menjadi penghalang dari api neraka.” Salah seorang wanita berkata, “Kalau dua?” Rasul menjawab, “Dua juga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Jabir radhiallahu’anhu, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang ditinggal mati oleh 3 anaknya lalu ia sabar maka ia akan masuk surga.” Lalu sahabat berkata, “Kalau dua orang?” Rasul menjawab, “Dua juga.” Salah seorang perawi berkata, “Saya berpendapat kalau saja ketika itu ada yang tanya bagaimana kalau satu? Pasti Rasulullah saw. akan menjawab, “Begitu juga satu.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Di antara buah sabar juga bahwa anak yang meninggal akan dapat memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya di hari kiamat. Diriwayatkan dari Habibah, suatu ketika ia pernah berada di samping Aisyah. Ketika itu datang Rasulullah saw. dan bersabda, “Tidak ada dari dua orang muslim (suami istri) yang ditinggal 3 orang anaknya dan umurnya belum baligh kecuali akan didatangkan ketiga anaknya dan mereka berdiri di depan pintu surga lalu dipersilahkan masuk surga. Tapi anak itu berkata, “Tidak, kami tidak akan masuk surga sebelum kedua orang tuaku masuk surga.” Lalu dikatakan kepadanya, “Masuklah kalian ke dalam surga beserta dengan orang tua kalian.” (HR. Thabrani).

Diriwayatkan dari Abu Hasan, ia berkata, “Dua orang anak kecilku meninggal lalu aku berkata kepada Abu Hurairah, ‘Apakah Anda mendengar sebuah hadits yang membuat tenang kami ketika menghadapi anak-anak kami yang meninggal?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Benar, saya mendengarnya. Anak-anak kecil yang meninggal tidak akan pernah keluar dari surga. Mereka akan menggiring kedua orang tuanya dan mengambil pinggir kainnya serta memegangnya erat-erat dan tidak akan dilepas hingga masuk ke surga.” (HR. Muslim)

Semua itu adalah bukti bahwa anak dapat memberi syafaat kepada kedua orang tuanya. Berbahagialah orang tua yang ditinggal mati oleh anaknya karena ia mempunya aset di akhirat. Bila anak itu sampai dewasa, belum tentu ketika besar menjadi anak shaleh. Tapi dikeduanya pasti ada kebaikan.

Diantara sikap kepahlawanan yang dilakukan oleh istri-istri sahabat yang sabar ketika menghadapi kematian anak mereka, adalah seperti yang dialami oleh Ummu Sulaim. Kisahnya indah sekali dan ia memiliki kekuatan yang luar biasa. Kisahnya sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Ketika itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya, ia pun menyantapnya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, istrinya mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.” Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan dan membawa beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak tersebut lantas berkata, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan ‘Abdullah. (HR. Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

Anak Ummu Sulaim diberi nama Abdullah yang didoakan keberkahan oleh Rasulullah saw. Ia pun memiliki 9 anak dan semuanya hafal dan paham al-Qur’an. Musibah akan membawa berkah bila seseorang benar menyikapinya, bentuk musibah banyak macamnya yang semuanya harus dihadapi dengan sabar sehingga Allah berikan ganjaran oleh Allah. Allah berfirman,

Orang-orang yang sabar itu akan Allah berikan balasan tanpa batas.

Tanpa batas bisa berarti jumlahnya tanpa batas atau waktunya tanpa batas. Waktu tanpa batas seperti Nabi Zakaria, meski sudah tua tapi Allah tetap berikan ia anak. Semua ini adalah persoalan keimanan, sejauh mana seorang muslim menyandarkan masalahnya kepada Allah. Ketika ia sakit ia lebih menyandarkannya kepada Allah daripada kepada dokter. Ia menyerahkannya kepada Allah.

Jika benar dalam menyikapi musibah Allah akan berikan buahnya yang begitu luar biasa, seperti orang tua yang ditinggal mati oleh anaknya. Allah akan berikan rumah baitul hamdi di surga bagi orang tua yang sabar.

Apa yang Allah janjikan pasti ditepati. Dan tidak diragukan bahwa iman kepada Allah bila sudah tertanam kuat di dalam hati seorang mukmin maka ia akan melahirkan keajaiban, yang lemah bisa menjadi kuat, dari yang takut bisa menjadi pemberani, yang pelit bisa menjadi dermawan dan dari orang suka gelisah akan menjadi orang yang sabar tanpa mengeluh kepada manusia. Karenanya, kunci tarbiyatul aulad adalah keimanan.

Akan indah bila kedua orang tua memiliki senjata keimanan sehingga ketika tertimpa musibah tidak akan berkeluh kesah. Bila anaknya meninggal tidak akan pusing berbulan-bulan, tapi justru ia akan mengatakan Allah akan mengambil apa yang diberikan-Nya dan segala sesuatu itu ada ajalnya. Ia akan sabar menghadapinya sehingga Allah berikan pahala baginya. Ada do’a yang begitu indah,

Ya Allah mudahkanlah bagi kami menghadapi musibah dunia, berikan kepada kami keridhaan terhadap qadha dan qadar-Mu, bimbinglah kami di dunia dan akhirat karena Engkau sebaik-baik pembimbing.

====================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Keutamaan Orang yang Sabar Menghadapi Kematian Anaknya.