Kesaksian Seorang Suami yang Disertai Sumpah dan Laknat (al-Li’an)

Publikasi: Rabu, 13 Zulqa'dah 1434 H / 18 September 2013 22:06 WIB

Defenisi li’an :

Secara bahasa adalah masdar dari la’an diambil dari kata la’nu yang berarti mengusir dan menjauhkan. Secara syari’at adalah kesaksian-kesaksian yang dikuatkan dengan sumpah disertai dengan mengusir atau menjauhkan dari sisi suami dan dengan marah dari sisi istri berdiri pada batas menuduh istri berbuat serong, berbuat zina, hal itu yang disebut dengan li’an karena sumpah yang kelima dilakukan oleh suami bahwa Allah Ta’ala akan menyertai dia kalau dia berbohong, pasti diantara keduanya ada yang berbohong dan diantara keduanya akan  mendapatkan laknat.

Hal ini masalah yang terjadi di rumah terdapat kegoncangan, dan hal ini banyak terjadi, banyak media yang digunakan untuk berbuat serong, baik laki-laki maupun perempuan.

Kalau suami menuduh istri berselingkuh tapi dia tidak punya saksi, maka syaratnya dia bersumpah empat kali, “Demi Allah saya melihat” diucapkan empat kali, dan yang kelima  “Demi Allah seandainya saya yang salah, saya yang akan mendapatkan laknat”

Dalil disyari’atkan li’an :

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوٰجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمْ فَشَهٰدَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهٰدٰتٍۭ بِاللّٰـهِ ۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ الصّٰدِقِينَ ﴿النور:٦﴾
وَالْخٰمِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللّٰـهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ الْكٰذِبِينَ ﴿النور:٧﴾

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.”  (an-Nur : 6-7)

Hukum pidana itu bisa diterapkan apabila ada saksi, apabila tidak ada saksi maka harus bersumpah empat kali dan ditutup dengan yang kelima “Demi Allah seandainya saya yang salah, saya yang akan mendapatkan laknat” kalau dia merasa dalam posisi benar.

عنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( سَأَلَ فُلَانٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَرَأَيْتَ أَنْ لَوْ وَجَدَ أَحَدُنَا اِمْرَأَتَهُ عَلَى فَاحِشَةٍ, كَيْفَ يَصْنَعُ? إِنْ تَكَلَّمَ تَكَلَّمَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ, وَإِنْ سَكَتَ سَكَتَ عَلَى مِثْلِ ذَلِكَ! فَلَمْ يُجِبْهُ, فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ أَتَاهُ, فَقَالَ: إِنَّ اَلَّذِي سَأَلْتُكَ عَنْهُ قَدِ ابْتُلِيتُ بِهِ, فَأَنْزَلَ اَللَّهُ اَلْآيَاتِ فِي سُورَةِ اَلنُّورِ, فَتَلَاهُنَّ عَلَيْهِ وَوَعَظَهُ وَذَكَّرَهُ، وَأَخْبَرَهُ أَنَّ عَذَابَ اَلدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ اَلْآخِرَةِ. قَالَ: لَا, وَاَلَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا كَذَبْتُ عَلَيْهَا, ثُمَّ دَعَاهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَوَعَظَهَا كَذَلِكَ, قَالَتْ: لَا, وَاَلَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ إِنَّهُ لَكَاذِبٌ, فَبَدَأَ بِالرَّجُلِ, فَشَهِدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ, ثُمَّ ثَنَّى بِالْمَرْأَةِ, ثُمَّ فَرَّقَ بَيْنَهُمَا  (

“Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Si fulan bertanya: Dia berkata, wahai Rasulullah, bagaimana menurut pendapat baginda jika ada salah seorang di antara kami mendapati istri dalam suatu kejahatan, apa yang harus diperbuat? Jika ia menceritakan berarti ia telah menceritakan sesuatu yang besar dan jika ia diam berarti ia telah mendiamkan sesuatu yang besar. Namun beliau tidak menjawab. Setelah itu orang tersebut menghadap kembali dan berkata: Sesungguhnya yang telah aku tanyakan pada baginda dahulu telah menimpaku. Lalu Allah menurunkan ayat-ayat dalam surat an-nuur (ayat 6-9). beliau membacakan ayat-ayat tersebut kepadanya, memberinya nasehat, mengingatkannya dan memberitahukan kepadanya bahwa adzab dunia itu lebih ringan daripada adzab akhirat. Orang itu berkata: Tidak, Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak berbohong. Kemudian beliau memanggil istrinya dan menasehatinya juga. Istri itu berkata: Tidak, Demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, dia (suaminya) itu betul-betul pembohong. Maka beliau mulai memerintahkan laki-laki itu bersumpah empat kali dengan nama Allah, lalu menyuruh istrinya (bersumpah seperti suaminya). Kemudian beliau menceraikan keduanya.”

Jadi setelah suami bersumpah, maka istri diminta untuk bersumpah juga.

Hikmah disyareatkannya li’an :

  1. Hikmahnya agar suami terhindar dari aib istrinya.
  2. Agar tidak rusak hubungan keluarganya.
  3. Agar terbebas dari anak yang bukan anak darinya.

Maka dengan li’an inilah agama dan hubungan kekeluargaan akan terjaga. Solusi bagi masalah kekeluargaan, dan menjaga suami agar terhindar dari denda menuduh  istri dengan sembarangan.

Dan apabila seorang istri tidak berani untuk bersumpah maka sang istri difonis telah melakukannya dan mendapat hukuman.

Wallahu  A’lam Bisshowab