Kemenag: Liberalisme Lebih Berbahaya dari pada Radikalisme

Publikasi: Jum'at, 29 Muharram 1439 H / 20 Oktober 2017 21:53 WIB

Foto: Kantor Kemenag

(mtf-online.com), Jakarta – Kementerian Agama tidak setuju dengan istilah deradikalisasi untuk mencegah pemikiran radikal. Alasannya, kata Sekretaris Jenderal Kementrian Agama, Nur Syam, deradikalisasi hanya menstigma kepada satu kelompok saja, dalam hal ini agama Islam. Padahal perusak pola pikir tidak hanya radikalisme.

“Ada virus yang lebih berbahaya dari radikalisme yakni liberalisme. Sebab liberalisme dapat merusak moral bangsa. Sehingga Kemenag merumuskan pencegahan perusak pola pikir adalah dengan ‘Moderisasi Agama’,” katanya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Gedung Staf Kepresidenan, Kamis (19/10/2017).

Dia menjelaskan pencegahan radikalisme dan liberalisme dapat dimulai dari sekolah atau kampus. Pemberian pemahaman ideologi pancasila tidak hanya kepada murid melainkan juga guru. Lantaran guru rawan berpotensi radikal atau liberal.

“Kemenag berupaya melatih para guru agar memiliki wawasan kebangsaan. Sebab, disinyalir para guru mengarah ke radikalisme atau liberalisme,” paparnya.

Nur tak menampik, perguruan tinggi keagamaan kerap menjadi sasaran ideologi radikalisme dan liberalisme. Dia berpendapat, hal ini disinyalir akibat adanya pengajar yang justru mengajari kedua paham negatif tersebut.

“Dalam hal itu kami merumuskan sebuah kurikulum. Kurikulum tersebut berupa Pendidikan Islam Rahmatan Lil Alamin. Kurikulum tersebut berisi ideologi kebangsaan,” ujarnya.

Terkait konsep bela negara, Kemenag memberi dukungan untuk diterapkan melalui pondok pesantren. Para santri diajarkan tentang wawasan kebangsaan, wawasan kenegaraan, latihan kedisiplinan, dan latihan baris berbaris.

“Kegiatan itu dilakukan setelah bekerja sama dengan TNI. Sebagian santri juga dikirim untuk ikut bersama TNI belajar di wilayah perbatasan,” pungkas Nur. (rahman/kiblat)