Kaya dan Miskin, Pilih Mana?

Publikasi: Senin, 13 Zulhijjah 1433 H / 29 Oktober 2012 09:16 WIB

Oleh : Ust. Fathuddin Ja’far

Semua kita ingin kaya dan tidak ada yang mau miskin… Namun faktanya, orang miskin jumlahnya jauh lebih banyak beratus-ratus kali lipat dibanding orang kaya. Fakta ini bukan hanya di zaman kita sekarang, akan tetapi sudah terjadi sejak zaman awal perkembangbiakan anak cucu Adam ‘alaihissalam. Demikian pula, keinginan manusia agar kaya sudah ada sejak dahulu kala. Sama pula halnya dengan kebanggaan manusia terhadap harta dan menganggap kemuliaan dan keterhormatan itu ada pada orang yang banyak hartanya atau tinggi kedudukannya sudah muncul sejak beribu-ribu tahun silam.

Kita ditakdirkan Allah hidup saat ini di zaman paham materialisme sangat menggurita fikiran dan jiwa manusia. Paham ini tidak saja menimpa kalangan msyarakat awam terhadap ajaran Islam, akan tetapi telah pula menjalar ke dalam urat nadi kaum Muslim terpelajar. Maka, semangat ingin kaya dan meraih jabatan tinggi semakin menggebu-gebu. Semangat tersebut dapat kita saksikan di antartanya melalui berbagi aktivitas ekonomi dan bisnis multilevel marketing yang tak jarang dijalankan sampai larut malam, seminar-seminar dan training-tarining motivasi agar kaya semakin menjamur, kendati sebagiannya dengan menyalahgunakan penempatan ayat Al-Qur’an, hadits Rasul sallallahu ‘alaihi wasallam dan kehidupan para sahabat, franchise (waralaba) dan berbagai produk dan sistem bisnis elektronik yang sangat banyak dan berserakan khususnya di dunia maya. Bahkan, judi dan korupsipun berkembang biak di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia. Kalau ditelisik lebih dalam, maka salah satu penyebabnya adalah karena “semangat ingin kaya” atau apa yang sering disebut dengan keinginan meraih “passive income” berjuta-juta perhari, apalagi segelintir kecil dari mereka ada yang mencapainya. Yang tak kalah serunya dan sekaligus memprihatinkan ada pula yang berhasil kaya dan meraup uang milyaran rupiah melalui aktivitas keagamaan atau apa yang lazim disebut dengan“dakwah Islam dan politik Islam”.

Lalu, bagaimana Islam memandang kaya dan miskin? Sesungguhnya Islam memandang kaya dan miskin itu berdasarkan kaedah-kaedah berikut :

1. Kaya itu murni di tangan Allah.

Hanya Allah yang menentukan seseorang kaya atau tidak kaya. Sebab itu, kaya tidak ada kaitannya dengan kepintaran, pendidikan tinggi atau keturunan. Betapa banyak orang kaya raya, padahal kecerdasannya biasa-biasa saja, atau tidak tamat kuliah atau tidak pernah mengecap pendidikan tinggai atau orang tuanya bukanlah orang kaya. Maka kaya tidak bisa direkayasa manusia. Kalaulah manusia dapat merekayasa dirinya atau orang lain menjadi kaya, niscara kita akan menyaksikan orang yang paling kaya adalah yang paling pintar sekolahnya dan pertambahan jumlah orang kaya di dunia ini semakin tumbuh secara fantastis sehingga jumlah orang miskin semakin menipis atau mungkin sudah tidak ada. Dalam hal ini, Allah menjelaskan dengan tegas pada sembilan tempat/ayat dalam al-Qur’an, di antarantya:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang membentangkan rezki itu kepada orang yang Dia kehendaki dan Dia batasi. Sesungguhnya dalam (fakta) tersebut menjadi tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman,” (Arrum : 37). Lihat surat Arra’du : 26, Al-Isro’ : 30, Al-Qasash : 82 : Al-Ankabut : 62, Saba’ : 36 dan 39, Az-Zumar : 52 dan As-Syura: 12).

2. Ada tiga kategori terkait dengan rizki dalam bentuk harta.

Pertama, Allah pasti memberi rezki setiap makhluk yang diciptakan-Nya, sebagaimana firman-NYa :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh),” (Hud : 6).

Kedua, Kunci rezeki manusia itu 100 % di tangan Allah, tidak satupun makhluk termasuk manusia yang ikut menentukannya. Allah menjelaskan :

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

“Dan berapa banyak jumlah binatang (di bumi ini, semuanya) tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Al-Ankabut : 60)

Ketiga, Sebagaimana rezki binatang dan manusia Allah yang menciptakan dan menetukan jatah mereka, demikian pula halnya, kayanya seseorang berdasarkan kehendak Allah. Seperti apapun seseorang ngotot dan bekerja keras untuk kaya, klalau belum Allah menghendakinya, maka ia tidak akan kaya. Sebaliknya, jika Allah kehendaki ia kaya, kendati ia bekerja biasa-biasa saja, tidak tamat kuliah atau tidak keturunan orang kaya sekalipun, maka ia akan jadi kaya. Allah menjelaskan :

لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezki (menjadi kaya) bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan membatasi(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu,” (As-Syuro ; 12)

3. Di mata Allah, status kaya dan miskin sama saja, asalkan kita mampu memposisikan diri saat kaya atau miskin dengan tepat.

Kaya yang bersyukur dan miskin yang sabar sama-sma memilki status yang terhormat dan mulia di sisi Allah. Dalam sebuah hadits, Rasul Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan seorang Mukmin bahwa semua urusannya baik dan tidak aka nada hal tersebut bagi siapapun kecuali bagi Mukmin. Jika ia mendapat suatu kebaikan (harta), maka ia bersyukur, maka itulah yang terbaik baginya. Dan jika ia mendapat suatu keburukan (kemiskinan/masalah) maka ia sabar dan itulah yang terbaik baginya,” (Riwayat Imam Muslim).

Oleh sebab itu, seorang Mukmin tidak perlu ngotot untuk menjadi orang kaya dan membeci kondisi kemiskinan jika melanda dirinya serta tidak perlu alergi dengan kekayaan karena kedua-duanya (kaya dan miskin) sama-sama ujian dari Allah utuk membuktikan keimanan mereka. Allah menjelasakan :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (Al-Anbiya’ : 35)

4. Satndar kemulian masnusia di sisi Allah bukalah harta, kedudukan, warna kulit, suku, keturunan dan sebagainya, akan tetapi adalah ketakwaan kepada-Nya.

Artinya, baik orang kaya ataupun orang miskin sama-sama memiliki potensi meraih kemuliaan di sisi Allah, asalakan mereka bertakwa kepada-Nya, yakni mentaati semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya. Allah menjelaskan :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (Al-Hujurat : 13)

5. Allah mengingatkan kaum Mukmin melalui kisah Karun dan masyarakat di zaman itu agar tidak berkecil hati jika tidak ditakdirkan Allah kaya dan tidak berangan-angan menjadi kaya seperti orang-orang kaya di zamannya.

Hal itu karena balasan iman dan amal shaleh di akhirat jauh lebih baik dan lebih besar dibanding dengan kekayaan di dunia, sebesar apapun kekayaan tersebut. Sebab itu, orang yang berangan-angan kaya, apalagi ngotot harus kaya adalah orang terkena penyakit materialisme, alias cinta dunia dan belum mengetahui kedahsayatan nikmat syurga di akhirat. Allah menjeskan :

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79) وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ (80) فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81) وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (82) تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ (83)

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia (ingin kaya) : “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”(79) Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.”(80) Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).(81) Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan (kaya seperti) Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (82) Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.(83),” (Al-Qasash : 79 – 83)

6. Kehidupan dunia dan segala kesenagannya itu terlihat indah di mata manusia.

Dari 60 ayat yang Allah jelaskan tentang kehidupan dunia (الْحَيَاةُ الدُّنْيَا)dalam Al-Qur’an, semuanya menggambarkan kekerdilan dunia dibanding akhirat, kedahsyatan tipu daya dunia, ajang kebanggaan, melalaikan dari beribadah dan ekses-ekses negative lainnya. Sebab itu, Allah mengingatkan hamba-Nya yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan akhirat untuk selalu waspada terhadap tipudaya muslihat dunia agar tierhindar dari tipu daya tersebut. Allah menjelaskan :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (20) سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (21)

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(20) Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.(21),” Al-Hadid : 20 & 21)

Dari penjelasan ayat-ayat dan hadits di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kaya dan miskin itu murni kehendak Allah. Dia akan memilih siap hambanya yang diberikannya kekayaan atau sebaliknya. Kita tidak perlu ngotot untuk menjadi orang kaya atau memusuhi kemiskinan, karena keduanya sama-sama ujian dari Allah. Orang kaya bisa lolos dari ujian dan potensinya tidak lolos jauh lebih besar. Sebaliknya, orang miskin juga bisa tidak lolos dari ujian, akan tetapi potensinya lolos jauh lbeih besar. Demikian pula, derajat kemuliaan di sisi Allah tidak terkait dengan banyaknya harta. Baik orang kaya ataupun orang miskin sama-sama memiliki potensi untuk mulia di sisi-Nya. Yang penting kita memiliki kesiapan diri untuk menjadi orang yang bersyukur saat diuji Allah dengan kekayaan dan siap pula mental kita untuk sabar saat ditakdirkan Allah menjadi miskin, jika itu yang terbaik menurut Allah bagi kita.

Sungguh tidak ada orang kaya yang kekal di dunia ini dan tidak ada pula orang miskin yang lebih pendek umurnya karena kemiskinan. Umur kekayaan seseorang atau kemiskinannya maksimal hanya samapi ajalnya tiba. Kematianlah yang akan memupus kekayaan dan kemiskinan itu bagi setiap manusia. Allahu A’lamu bish-shawab…