Indahnya Aksi Bela Islam III 212

Publikasi: Sabtu, 10 Rabiul Awwal 1438 H / 10 Desember 2016 08:34 WIB

Oleh : Ustadz Fathuddin Ja’far, MA

بسم الله الرحمن الرحيم

aksi(MTF) Mendengar ada upaya-upaya untuk menghalangi Aksi Bela Islam III 2 Desember 2016 (212) dari pihak Kepolisian dan sebagainya, kami putuskan untuk nginap malamnya di sekitar Thamrin agar tidak terhalang untuk hadir.

Kendati beberapa hari sebelum hari H ada kesepakatan antara pihak Kepolisian dengan GNPF-MUI bahwa acaranya di Monas dan tidak ada lagi upaya menghalang-halangi umat Islam yang mau ikut, kami tetap putuskan harus menginap di sekitar lokasi sebagai upaya antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Subhaanallah… Dalam Aksi Bela Islam III tersebut kami melihat berbagai pemandangan yang sangat indah.

Pemandangan indah pertama ialah saat masuk ke dalam penginapan yang kami tuju untuk check in. Wajah-wajah berseri dari laki-laki dan perempuan berhijab memenuhi ruang lobby. Hatiku berkata : Wah.. Sepertinya kita punya niat yang sama nih.

Memang dua hari sebelum hari H, kami coba untuk ngetes pesan kamar di beberapa hotel dan penginapan di sekitar Thamrin ternyata sudah tidak bisa karena semua kamar sudah penuh.

Melihat situasi di lobby tersebut, kami semakin yakin bahwa para peserta 212 lah yang memenuhi hotel dan penginapan yang ada di sekitar Thamrin dan monas, khususnya saudara-saudara kita yang datang dari luar kota.

Pemandangan indah kedua ialah saat sholat subuh berjamaah di salah satu masjid di sekitar penginapan. Luar biasa.. Masjid yang bisa menampung sekitar 200-300 jamaah tersebut penuh sesak. Lagi-lagi wajah-wajah berseri peserta aksi 212 muncul lagi. Bahkan sandal-sandal hotel tempat menginap tersusun rapih di depan pintu utama Masjid. Dalam hati berkata : Subhanallah.. Mereka adalah orang-orang yang mencintai shalat subuh berjamaah.. ini adalah indikasi yang sangat positif.

Keindahan yang ketiga ialah saat sarapan pagi. Restoran yang digunakan sarapan pagi oleh tamu hotel penuh sesak oleh wajah-wajah ceria penuh optimis. Saat kami tidak mendapatkan kursi dan meja untuk sarapan, tiba-tiba ada dua orang pria kira-kira berumur 50 an berkata : Mas! Di sini aja duduknya kami selesaikan sekarang sarapannya. Terima kasih banyak pak, jawab kami… Dalam hatipun berucap : Wah.. Mulai nih ukhuwaah muncul kendati belum saling kenal secara fisik dan zahir, tapi sudah ada kontak batin yang murni.

Wal hasil, sampailah saat keluar dari hotel dan menuju lokasi. Ada yang bawa bendera bertuliskan : ….. Notaris….. Mendukung Aksi Bela Islam III dan lain-lain. Di halaman depan hotel setiap kelompok bertakbir sambil berfoto bersama dan terus berjalan dengan tenang menuju lokasi.

Keindahan keempat ialah saat menuju ke lokasi di mana-mana umat Islam sudah penuh sesak dan kami hanya bisa berhenti dan gelar sajadah di jalan utama samping Monas atau sekitar 300 m sebelum pintu gerbang Monas padahal jarum jam baru menunnjukkan pukul 8 an pagi.

Subhanallah, umat berduyun-duyun datang dari segala penjuru bahkan ada yang mengatakan di sebelah Timur stagnya sampai ke Cempaka Putih dan sebelah selatan sampai sebelum bundaran HI dari arah Semanggi.

Yang sangat menakjubkan dalam perjalanan menuju lokasi ialah para relawan yang menyediakan sarapan pagi dan minuman. Nyaris seperti saat berbuka puasa 10 hari terakhir Ramadhan di Masjid Nabawi dan sekitarnya. Semua berebut agar kita menerima tawaran kebaikan mereka.

Mereka berkata sambil senyum riang : Mas/Pak/Bu.. ini sarapannya dan ini air minumnya.. Bawa sekalian makan siangnya agar tenang ikut acaranya.. Berbagai macam makanan muncul.. Subhanallah.. Dalam hati berucap lagi : Ingat spirit ukhuwwah kaum Anshor melayani kaum Muhajirin saat mereka hijrah ke Madinah.. Subhanaallah.. Indahnya suasana ukhuwwah Islamiyyah saat itu..

Keindahan kelima ialah saat melihat seorang bapak dengan puluhan grupnya berdiri tegak sambil mengalungkan poster besar di lehernya dan poster tersebut menutupi dada sampai di bawah pinggang. Sepintas terlihat biasa-biasa saja. Namun saat dicermati tulisannya, masyaa Allah, luar biasa. (Lihat foto di bawah).

aksi bela islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lalu kami sempat mewawancara beliau sambil bertanya kenapa menuliskan tulisan tersebut. Beliau menjawab : Kami ini NU tulen, bukan NU fulan yang liberalis itu.. Agar umat Islam tahu siapa sebebarnya fulan itu..

Subhanallah… Sebagian umat ternyata sangat faham siapa panutan dan peminpin mereka yang benar dan siapa yang tidak benar…

Keindahan keenam ialah saat mengikuti acara sampai menjelang shalat Jumat. Langit Jakarta, khususnya seluas areal yang dipenuhi peserta 212 yang menurut sebagian analisa mencapai 7 juta lebih, berawan sehingga udara segar. Saat mulai terasa panas, langsung Allah turunkan hujan gerimis sehingga udara menjadi segar kembali.

Sepanjang acara, baik saat zikir, doa yang dipimpin Ust Arifin Ilham, bacaan awal surah Al-Kahfi oleh Syekh Ali Jabir, maupun saat Ust Bachtiar Nasir dan lain lain menyampaikan yel-yel dan orasi, semua hadirin sangat interaktif, khusyuk dan tak habis-habisnya menangis meluapkan harapan dan pertolongan dari Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya di hari Jumat yang mulia.

Allahu Akbar.. Sungguh pemandangan sangat indah dimana jutaan kaum Muslimin duduk dengan tertib menghadap Kiblat dalam suasana ruhiyyah/imaniyyah yang sangat tinggi dan luar biasa. Pasti suasana seperti itu menambah kuatnya iman pada Allah dan harapan dapat pertolongan Allah. Pada waktu yang sama pasti mengirimkan sinyal irhabiyy (tekanan ketakutan) ke dalam hati para musuh Allah dan musuh umat Islam.

Keindahan ketujuh ialah saat shalat jumat. Hujan mulai turun beberapa saat sebelum waktu shalat jumat masuk. Terdengar himbauan pembawa acara : Alhamdulillah rahmat Allah turun. Mari kita baca doa hujan. Semua hadirin membacanya dengan penuh khidmat. Tak satupun terlihat gelisah apalagi kabur mencari tempat berteduh.

Khutbah yang disampaikan Habib Rizieq Syihab menurut kami adalah puncak keindahan dan kekuatan acara 212.

Pertama, karena disampaikan saat hujan turun dan di hadapan jutaan umat Islam yang hadir. Semua kita sepakat, ini adalah shalat Jumat terindah dan teragung sepanjang sejarah umat Islam Indonesia. Belum tentu terulang lagi untuk kali kedua. Kita sebagai orang mencintai kebaikan untuk negeri ini, pasti berharap akan terulang lagi di masa-masa yang akan datang. In syaa Allah..

Kedua, isi khutbah yang sangat luar biasa mencakup hal-hal yang prinsip bagi umat Islam dan negara Indonesia jika ingin selamat di dunia dan akhirat seperti, kewajiban menegakkan hukum Allah (Islam) dalam sistem pemerintahan, tidak boleh ada hukum/sistem ciptaan manusia yang bertentangan dengan Hukum Allah, Hukum Allah harus di di atas hukum ciptaan manusia, keharusan menegakkan keadilan kepada setisp manusia, siapapun ia, Islam itu mengajarkan bagaimana cara hidup berdampingan dengan manusia yang berlainan agama sekalipun, umat Islam tidak perlu diajarkan cinta tanah air karena cinta negeri dan umatnya bagian dari ajaran pokok Islam dan seterusnya.

Lalu Biliau menyampaikan surah al Maidah ayat 49 dan 50 yang maksudnya : Manusia ini ciptaan Allah. Apa alasan untuk tidak menerapkan humum Allah? Yang menolak hukum Allah itu ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, bukan akal sehat. Allah akan timpakan selalu musibah ke atas negeri yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Selain hukum Allah adalah hukum jahiliyah yang zalim. Tidak akan ada manusia yang mampu membuat hukum menyamai hukum Allah dalam keadilan, kebenaran dan efektivitasnya, apalagi melebihinya. Prinsip seperti ini hanya bisa dinalar dan dipahami oleh orang yang memiliki keimanan pada Allah sampai tingkat yakin.

Ketiga, isi khutbah Habib yang sangat luar biasa di tengah khusyuknya jutaan jamaah, dihadiri pula oleh Presiden RI  wakilnya serta beberapa menteri senior pemerintahannya. Tentulah khutbah tersebut menjadi sangat dan  sangat istimewa karena bukan hanya berimplikasi dakwah tapi juga politik.

Kita melihat betapa ajaibnya kekuasaan Allah. Pada Aksi 411, Presiden Jokowi tidak mau bertemu dengan utusan umat Islam yang ikut aksi yang datang ke Istana Kepresidenan. Dalam aksi 212 pak Jokowi sendiri yang datang sambil membawa wakilnya dan beberapa menteri seniornya, seakan ia sudah menyiapkan akal dan mentalnya untuk menerima nasehat-nasehat Al-Qur’an melalui ulama dan tokoh aksi 212 yang selama ini selalu dianggap negara sebagai ulama dan tokoh keras atau fundamentalis.

Siapa yang menggerakkan hati mereka untuk hadir? Pastilah Allah. Allah hendak membantu Habib dan ulama lainnya dalam menunaikan kewajiban dakwah mereka kepada penguasa jahiliyah sekular agar mereka mendengar langsung nasehat-nasehat Al-Qur’an dalam suasana ibadah dan di tempat yang netral, khususnya terkait kewajiban manusia, apalagi yang mengaku Muslim, menerapkan hukum Al-Qur’an di atas muka bumi ini jika ingin selamat dari ancaman Allah di dunia dan akhirat.

Saat khotib menyampaikan khutbah yang luar biasa itu terlintas dalam fikiran bahwa Presiden dan rombongan, khususnya yang Muslimnya sangat besar kemungkinan terpengaruh sehingga hatinya berpihak kepada suara dan aspirasi umat Islam yang hadir, paling tidak dalam kasus Ahok.

Pada waktu yang sama, muncul pula ingatan betapa kuatnya gurita beberapa konglomerat Cina terhadap kehidupan politik sang Presiden Jokowi baik melalui cukong yang bernama Ahok atau yang lainnya.

Jika analisa ini benar, maka pak Jokowi sekarang sedang galau berat. Beliau sedang bimbang antara memilih seruan Allah dan umat Islam yang kekuatannya sangat riil. Atau memilih seruan kelompok kaya Cina dan bahkan juga Negara Tiongkok dengan ideologi komunisnya yang kekuatan uang dan politiknya juga sangat riil dan sudah dilihat dan dirasakan pak Jokowi sendiri.

Jika pak Jokowi memilih yang pertama, maka kemumgkinan (semua kehendak Allah) kekuasaannya akan hilang atau tetap bertahan karena mendapat dukungan dari sebagaian besar umat Islam. Namun jika ia niatkan membela Allah dan Al-Qur’an maka ia akan mulia di sisi Allah dan umat Islam, kendati kekuasaanya lenyap.

Sebaliknya, jika Beliau tetap berpihak (paling tidak dalam pemahaman sebagian besar umat Islam) kepada Ahok dan the gang, maka kemungkinan kekuasaannya juga akan hilang karena tidak sedikit umat Islam dan bahkan umat lain yang sudah muak dengan ketidak adilan hukum, ekonomi dan politik yang terjadi selama 2 tahun pak Jokowi memimpin Indonesia ini.

Tingkat kemuakan dan kekesalan saat ini sudah melebihi saat-saat sebelum rezim Soeharto tumbang Mei 1998. Tidak mustahil umat Islam melakukan gerakan people power. Apalagi pengalaman thn 1998 masih hangat dalam ingatan dan potensi itu saat ini jauh lebih besar dalam banyak sisi.

Kalau ini yang terjadi, khususnya pak Jokowi akan kehilangan kekuasaan juga dan sekaligus hina di mata Allah dan juga umat Islam dan masyarakat lainnya. Ingat Soharto! Betapa kharismatik, kuat dan berwibawanya ia selama 32 tahun. Allah cabut kekuasaannya dengan sangat mudah dan ia pun menjadi hina karena ditetapkan sebagai pesakitan sampai ia wafat.

Aksi Bela Islam III, 212 sungguh sangat indah dan menakjubkan. Percaya atau tidak dan suka atau tidak, Aksi 212 bukan hanya berimplikasi dakwah, namun juga politik yang luar biasa.

Inilah majelis ta’lim, pertemuan dan diakhiri dengan shalat Jumat raksasa umat Islam Indonesia sepanjang sejarah dan kita tidak tau apakah akan terulang kembali.

Aksi Bela Islam III, 212 menjadi pergerakan umat Islam kontemporer luar biasa. Terjadi di tengah tekanan berat dari segala arah dan penjuru, termasuk dari kelompok yang mengaku Muslim dan para duat ilallah.

Namun demikian, di antara efek positif Aksi Bela Islam III itu ialah tidak sedikit umat yang sadar dan kembali mencintai Islam, Al-Qur’an dan jihad fi sabilillah, khususnya terinspirasi oleh ribuan kaum Muslimin Ciamis yang hadir dengan berjalan kaki sejauh 270 km bahkan ada yang masih anak-anak.  Semua itu adalah berkah umat ini mencintai Al-Qur’an yang Mulia nan penuh Berkah.

Kita yakin apabila umat ini kembali kepada Al-Qur’an dan memegang teguh isinya, maka izzah/kemuliaan dan kemenangan umat Islam negeri ini dan negeri-negeri Muslim lainnya semakin dekat in syaa Allah, kendati mereka tidak memiliki senjata canggih, tidak menguasai ekonomi dan sebagainya sebagaimana yang dialami oleh generasi Islam pertama, yakni Sahabat Rasulullah dan sampai sekitar 12 abad berikutnya.

“Wahai orang-orang beriman.. Jika kalian menolong agama Allah, maka Allah pasti menolong kalian dan akan menguatkan pijakan kalia. Dan orang-orang kafir itu, maka bagi mereka celaka dan Allah menghapus segala amalnya. Yang demimian itu karena mereka membenci apa (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah. Maka itu Allah membatalkan semua amal mereka”. (Muhammad : 8 – 10)

Yaa Rabb.. Taqabbal…

(mtf-online.com)