Imam Shalat Berjamaah

Publikasi: Selasa, 5 Jumadil Awwal 1436 H / 24 Februari 2015 08:16 WIB

shalat-berjamaah

Tulisan ini masih membahas kitab Fiqhul Muyassar fi Dhauil Kitab wa Sunnah. Kali ini akan membahas bab ke 8 tentang “Imam Shalat Berjamaah”.

Yang dimaksud dengan imam adalah terkait orang yang mengimami makmum.

Orang Yang Paling Berhak Menjadi Imam

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Dari Abu mas’ud Uqbah bin Amru Al Anshari Radhiallahu Anhu bahwasanya Nabi shallallahu slaihi wa sallam bersabda, ”Yang mengimami sebuah kaum adalah orang yang paling bisa membaca (aqra’) Al Qur’an. Jika mereka sama dalam hal bacaan Al Qur’an, maka yang mengimami adalah orang yang lebih tahu tentang as sunah. Jika mereka sama dalam hal as sunah, maka yang mengimami adalah orang yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka sama dalam hal hijrah, maka hendaklah yang mengimami adalah yang lebih dahulu masuk Islam. Janganlah seorang (tamu) mengimami orang lain (tuan rumah dll)  yang berkuasa (di rumahnya, di masjidnya, di majlisnya dll-edt), dan janganlah seorang (tamu) duduk di kursi yang dikhususkan untuk tuan rumah kecuali bila tuan rumah mengizinkannya”. (HR. Muslim, Kitab Al Masaajid, Bab Man Ahaqqu Bil Imamah)

Baca transkrip kajian MTF lainnya:

Berdasarkan hadits di atas dapat disimpulkan bahwa urutan-urutan orang yang paling berhak menjadi imam shalat berjamaah adalah sebagai berikut:

  1. Paling bagus bacaannya, meskipun umurnya lebih kecil, walaupun Islamnya lebih belakangan dan Islamnya lebih sedikit. Imam yang bagus bacaannya diutamakan karena bacaannya didengar, utamanya di shalat-shalat jahr. Bagus bacaannya adalah suara dan tajwidnya bagus serta paham fikih shalat. Bila ada orang yang lebih bagus bacaannya serta banyak hafalannya, dan ada orang yang sedikit hafalannya tapi lebih paham dengan fikih shalat maka orang yang lebih paham fikih shalat lebih diutamakan. Hal ini bila perbedaannya sedikit dan bacaannya sama-sama bagus, baik suara dan tajwidnya.
  2. Orang yang paling paham dengan Sunnah. Apabila ada dua imam tingkat kwalitas bacaannya sama, tapi salah satu lebih paham tentang Sunnah maka ia diutamakan.
  3. Orang yang lebih dahulu hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam. Apabila bacaan dan pemahaman Sunnahnya sama, maka dilihat mana yang lebih dahulu hijrahnya.
  4. Orang yang lebih dahulu masuk Islam. Bila bacaannya sama, paham Sunnahnya sama, hijrahnya sama maka dilihat siapa yang lebih dahulu masuk Islam.
  5. Siapa yang lebih tua. Umur menjadi kriteria kelima, karenanya tidak boleh hanya karena lebih tua atau karena pemilik masjid sementara bacaannya tidak bagus ingin menjadi imam, sementara pada saat bersamaan terdapat orang yang lebih bagus bacaannya.

Bila semua kriteria di atas sama semua di antara dua imam maka diundi, siapa yang menang ia diperbolehkan menjadi imam.

Begitupula imam shohibul bait (tuan rumah) itu lebih berhak menjadi imam dari tamu, hal itu bila kriteria di atas sama. Kecuali bila tamu itu adalah pemimpin umat Islam seperti khalifah, maka ia didahulukan dari tuan rumah bila ia memiliki kriteria yang lima di atas. Imam rawatib yang ditunjuk lebih diutamakan dari yang lain kecuali bila imam itu mempersilakan kepada tamunya.

Orang yang Diharamkan Menjadi Imam

Pertama; Wanita mengimami laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw., “Tidak akan menang suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.” Melalui hadits tersebut, para ulama sepakat wanita tidak boleh menjadi imam dan pemimpin suatu negeri. Untuk itu, posisi wanita dalam shalat berjamaah berada di belakang. Bila wanita menjadi imam shalatnya kaum lelaki, maka ia telah menentang ketentuan Sunnah. Rasulullah saw. bersabda;

Sebaik-baik shaf adalah lelaki dewasa, anak-anak baru wanita.”

Hadits di atas menjelaskan posisi wanita dalam shalat berjamaah dan juga menjelaskan akan bolehnya wanita melakukan shalat jamaah di masjid.

Kedua; Imam yang berhadats atau pakaiannya terkena najis sedangkan ia mengetahuinya maka ia haram menjadi imam. Adapun bila makmum tidak mengetahui bila imam berhadats sampai selesai shalat, maka shalat makmum tetap sah, sedangkan shalat imam batal dan berdosa.

Ketiga; Imam yang tidak bagus bacaan al-Fatihahnya, baik secara makhraj (tempat keluar huruf) atau ilmu tajwidnya. Seperti tidak mengidghamkan bacaan yang seharusnya diidghamkan, atau mengganti bacaan suatu huruf dengan huruf lain. Hal ini disebabkan al-fatihah bagian dari shalat. Rasulullah saw. bersabda;

Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah.

Salah-salah dalam membaca surat masih ditoleransi, tapi bila salah dalam membaca Al-fatihah tidak ditoleran. Karena menurut Imam Syafi’i bahwa al-Fatihah merupakan rukun shalat.

Keempat; Imam orang yang fasiq dan ahli bid’ah. Tidak sah shalat di belakangnya bila kefasikannya nyata dan menyeru kepada bid’ah yang menyebabkan orang kafir. Seperti orang yang menyerukan berwala’ kepada orang kafir, menyeru orang untuk meminta-minta di kuburan dan lainnya. Allah berfirman;

Apakah sama orang beriman dengan orang fasik? Tentu tidaklah sama.

Kelima; Imam yang tidak mampu lagi duduk, berdiri, ruku’ dan sujud. Bila ada orang yang lebih mampu darinya maka ia tidak boleh menjadi imam.

Orang yang Dimakruhkan Menjadi Imam

  1. Orang banyak salah dalam bacaannya, melagu-lagukan bacaannya tapi salah-salah. Ini terkait dengan kesalahan di luar bacaan surat al-Fatihah, karena bila salah bacaan Al-Fatihahnya tidak sah shalatnya.
  2. Orang yang menjadi imam tapi dibenci oleh makmumnya, atau kebanyakan makmum membencinya. Rasulullah saw. bersabda, “Tiga perkara shalat mereka tidak diangkat dari atas kepala walau hanya sejengkal (tidak dapat pahala); … orang yang meingimami suatu kaum sedangkan kaum itu benci kepadanya.
  3. Orang yang tidak fasih bacaannya, menyembunyikan atau tidak jelas bacaan hurufnya atau orang yang mengulang-ngulang bacaan hurufnya seperti orang yang gagap. Karena itu dapat menambah huruf yang menyebabkan perubahan arti.

==========================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Imam Shalat Berjamaah.