Iddah dan Dalil Disyariatkannya

Publikasi: Ahad, 3 Rabiul Awwal 1435 H / 5 Januari 2014 17:47 WIB

fiqih-iddah1.       Pengertian Iddah:

Iddah menurut bahasa yaitu: Isim dari kata masdar adda yauddu addan iddatan di ambil juga dari kata bilangan atau hitungan karena mencakup jumlah masa bersih/masa haid dan bulan.

Sedangkan menurut syar’i: Sebuah nama yang di pakai untuk menentukan masa tertentu di mana wanita menunggu, jadi masa menunggu, ini semua karena ibadah kepada Allah  Ta’ala.

Kaum muslimin Rohimakumullah.. Ini bukti bahwa umat ini berislamnya banyak yang tidak terikat dengan Allah  Subhanahu Wa Ta’ala, berislamnya dengan kebiasaan, contoh “Kita shalatnya lebih baik di rumah katanya, padahal kita  ingin dapat 27 derajat di masjid” jadi aturan Allah  itu dibuat susah sama dia, jadi seakan-akan apa? Mereka menganggap Allah tidak bagus membuat aturan, mereka mengatakan “kenapa laki-laki shalat fardhunya di masjid  dan mendapat 27 derajat. kenapa kami di rumah?”  “Ya karena Rasulullah mengatakan shalat  yang terbaik bagimu di rumah, kalau beliau mengatakan yang terbaik, maka lebih dari 27 dong.”

Jadi apapun ketentuan Allah  Ta’ala kepada manusia, apakah sama atau tidak sama  dengan perempuan, maka  hal itu tidak ada masalah, jangan sampai ribut-ribut .  Orang-orang yang menghasung kesetaraan gender itu mengatakan  ”mana keadilanya ketika wanita dikasih haid tidak boleh ke masjid, itukan diskriminatif”. Kalau dia sadar dia makhluk Allah , ciptaan Allah,  apa kata Allah, maka  ikuti aja

Ini lah sebenarnya hakikat ati’uAllah  wa ati’urrasul. Ketaatan ini lah yang belum terbangun dalam masyarakat kita, sehingga banyak protes, kenapa? Berati ma’rifatullahnya yang kurang, ngajinya salah, kalau orang bangun rumah kan harus mulai dari pondasi dan tiangnya, tiba-tiba bangun atap bangun dinding bingung melayang-layang  di atas, ketika tanpa diawali dengan pondasi dan tiang past sebentar lagi roboh.

Jadi ada 3 alasanya pertama: kita memang ibadah kepada Allah  Subhanahu Wa Ta’ala, kalau Allah  kasih iddah bagi yang bercerai, maka ikuti aj, karena hal itu ibadah namanya. Yang kedua: sebagai  kesempatan atau pelajaran bagi laki-laki, agar jangan terburu-buru bercerai, kemudian: menguatkan atau membuktikan bukti kuat bahwa rahimnya kosong, tidak mengandung anak si suami. Iddah sebagai akibat talak atau wafat, jadi tidak terjadi iddah kecuali kalau terjadi talak atau wafat.

2.       Dalil Disyariatkanya Iddah 

Dari mana kita tahu dalilnya iddah?, Dari al-quran dari sunnah dari ijma’ para ulama, arti ijma’ di sini maksunya tidak ada ulama yang berbeda pendapat. Kalau di sebut ijma’ artinya apa? Tidak ada ulama perbeda pendapat, tapi kalau soal wali ada selisih pendapat karena memahami kata itu. Iddah itu di tentukan oleh suci atau haidnya itu, ulama berselisih pendapat, begitu juga dengan kata quru’ mengandung dua pendapat yaitu haid atau suci, akan tetapi iddah itu sendiri adalah ijma’ para ulama, dari Al-quran bisa kita baca ayat :

{وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ } [البقرة: 228]

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga quru’.” (al-baqoroh : 228)

Masa menunggu ini yang di namakan dengan masa iddah, Allah  juga berfirman dalam surat at-Talaq:

 { وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا} [الطلاق: 4]

“dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.  dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (at-Thalaq : 4)

Makanya ulama menkiaskan kasus ini dengan orang yang hamil tanpa nikah, tidak boleh menikah sebelum melahirkan, karena yang dikandungnya itu bukan anak dia dan nasabnya putus, anaknya nggak masalah tapi nasabnya putus, hal  ini nanti bisa kacau balau yang bener anak siapa ini?

Kemudian istri yang di tinggal mati suaminya maka ia menunggu selama 4 bulan sepuluh hari, sedangkan dalil dari sunnah Hadits dari Miswar bin Makhromah:

عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ أَنَّ سُبَيْعَةَ الأَسْلَمِيَّةَ نُفِسَتْ بَعْدَ وَفَاةِ زَوْجِهَا بِلَيَالٍ فَجَاءَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَتْهُ أَنْ تَنْكِحَ فَأَذِنَ لَهَا فَنَكَحَتْ.

“Bahwasanya  Subai’ah Bin Aslamiyah dia melahirkan setelah wafat suaminya beberapa malam setelah itu datang kepada Nabi Salallahu Alaihi Wa Sallam meminta izin kepada Nabi untuk menikah kemudian Nabi mengizinkan,”

Pokoknya kalau orang yang  hamil dicerai atau ditinggal suaminya mati, maka tetap menunggu sampai melahirkan.

3.       Hikmah Di Syariatakanya Iddah :

  1. Agar ada pembuktian lepasnya rahim wanita itu dari hamil (maksudnya dari janin yang ada di dalam rahimnya agar tidak konvesius keturunanya) agar tidak kacau balau keturunan.
  2. Agar memberi kesempatan untuk suami yang mencerai itu agar dia kembali atau menyesal, jika talaknya talak roj’i (talak yang masih bisa ruju’ kembali yaitu talak satu dan dua) tapi kalu sudah talak yang ketiga jangan kasih kesempatan mikir-mikir lagi sudah selesai perkara.
  3. Menjaga hak hamil ketika dia berpisah dari kehamilanya.

Macam-Macam Iddah

Macam-macam iddah terbagi menjadi dua yaitu iddah wafat dan iddah bercerai. 

1. Iddah wafat: yaitu apa bila meninggal suaminya maka hal ini tidak terlepas dari dua kemungkinan bisa jadi ia hamil dan yang kedua dia tidak hamil, kalau wanita tersebut hamil maka masa iddahnya berakhir dengan melahirkan itu sendiri walaupun hanya semenit atau berepa jam setelah wafat, jadi patokannya adalah melahirkan sebagai mana firman Allah :

{وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ} [الطلاق: 4]

Wanita-wanita yang hamil yang ditinggalkan suami-suaminya meninggal batas iddahnya adalah dia melahirkan kandungannya, dan dalil dari sunnah yaitu hadits di atas tadi, wanita yang mengadu kepada Nabi dia ditinggal suaminya mati dan kemudian dia melahirkan kemudian dia mengadu kepada Nabi untuk menikah kemudian Nabi mengijinkan maka kemudian dia menikah.

Kemudian kemungkinan yang kedua apabila wanita itu tidak hamil maka masa iddahnya empat bulan sepuluh hari, ini sama dengan wanita yang ditalak apakah ia sampai digauli ataupun belum sama saja iddahnya empat bulan sepuluh hari, karena keumuman firman Allah  Ta’ala ini menurut pendapat imam Ahmad kalau pendapat imam Syafi’i maka ada bedanya. Allah  berfirman :

{وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا } [البقرة: 234]

“Dan orang-orang yang di wafatkan dari kamu dan dia meninggalkan istri-istri maka istri itu menunggu untuk diri mereka empat bulan sepuluh hari.”  (al-Baqarah : 234)

Jelaskan tidak usah ditafsirkan lagi empat bulan sepuluh hari, jadi apakah dia dukhul ataukah belum, tidak masalah kemudian setelah habis masa itu tidak masalah kalau kalian hendak melaksanakan yang ma’ruf, apa maksudnya ma’ruf? Yaitu menikah lagi, jadi menikah itu ma’ruf, makanya al amru bil ma’ruf perintahkan menikah itu, makanya Allah  berfirman: “dan nikahkanlah yang bujangan itu”, ini perintah Allah  sunnah Rosulullah. Di dalam ayat di atas tidak membeda bedakan yang sudah dukhul ataupun yang belum jadi imam Ahmad mengambil pendapat ini.

2. Iddah firok (iddah karena cerai).

Yaitu iddah yang terjadi di sebabkan perceraian, perceraian itu bisa karena faskh, tolak, ataupun khulu’ setelah suami istri bercampur hal ini tidak lepas dari 3 kemungkinan pertama: perampuan itu hamil dan yang kedua perempuan tersebut tidak hamil dan yang ketiga dia belum haid karena umurnya kecil atau karena sudah tidak haid lagi,

  1. Kalau dia hamil iddahnya berahir dengan kelahiran hamilnya.
  2. Kalau dia tidak hamil yang masih haid maka iddahnya 3x suci setelah bercerai itu, jadi cerai itu harus dalam keadaan suci, maka bagi siapa yang hendak cerai maka hendaknya dia melihat kondisi istri kalau kondisi istri ii belum haid maka jangan di cerai dulu kalau kita dah campuri tunggu dulu ia haid kemudian besih setelah haid baru dia boleh cerai, jadi jangan asal ngamuk-ngamuk kemudian cerai… padahal nikah tidak semudah itu kan? Jadi cerai itu sah kalau dalam kondisi suci dan belum di setubuhi lagi, ini bagai wanita yang haid, jadi kit hitung suci pertama waktu di cerai suci kemudian haid kemudian suci kedua kemudian haid kemudia suci ketiga selesai masa ruju’ dan habis masa iddah. Luar biasa toleransi Allah  pada kita kita aja yang kurang mau toleransi pada Allah , dalilnya adalah firman Allah :

{ وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [البقرة: 228]

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru[1]. tidak boleh mereka Menyembunyikan apa yang diciptakan Allah  dalam rahimnya. jika mereka beriman kepada Allah  dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[2]. dan Allah  Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah : 228)

(1)Quru’ dapat diartikan suci atau haidh.

(2)Hal ini disebabkan karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan Kesejahteraan rumah tangga (Lihat surat An Nisaa’ ayat 34).

Kalau hamil maka dia harus mengakui kalau dia hamil, karena iddahnya akan berbeda, ternyata hamil baru sebulan… delapan bulan lagi nunggu dia ternyata punya pilihan juga maka dia harus sabar menunggu.

Kalau dilihat sudah tidak haid karena kecil umurnya atau karena ia sudah tua maka sehingga tidak haid lagi maka maka iddahnya cukup tiga bulan iddahnya, singkatnya  yang haid empan bulan sepuluh hari, dan yang tidak maka tiga bulan saja

Hukum Talak Sebelum Dukhul (Berhubungan)

Kalau suami menceraikan istrinya karena faskh, atau karena talak sebelum dia dukhul maka tidak ada iddahnya karena ada firman Allah :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَكَحْتُمُ الْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّونَهَا فَمَتِّعُوهُنَّ وَسَرِّحُوهُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا } [الأحزاب: 49]

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah[3]  dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.” (al-ahzab : 49)

(3)Yang dimaksud dengan mut’ah di sini pemberian untuk menyenangkan hati isteri yang diceraikan sebelum dicampuri.

Ayat dia atas tidak ada bedanya antara istri-istri kita mukmin ataupun dari ahli kitab, bisa jadi suatu masa kita menyerang amerika dan kemudia dapat istri orang-orang amerika atau orang eropa dan dianya masih kitabiyah siapa taukan? (para jamaah tertawa) kita kan bicara hukum jadi nggak bisa di sembunyi-sembunyikan bisa saja kejadian) dan hukum di atas adalah kesepakatan ahli ilmi di sebutkan mukminat di sini tidak ada kitabiyahnya karena mayoritasnya istri orang mukmin adalh orang Islam.

Wallahu Ta’ala A’lam