Hukum Seputar Shalat Jamak

Publikasi: Selasa, 27 Muharram 1437 H / 10 November 2015 10:25 WIB

shalatShalat Jamak

Pembahasan pertama tentang dalil disyariatkannya shalat jamak (menggabungkan) antara dua shalat dan kepada siapa saja yang dibolehkan melakukannya.

Setiap yang berlaku baginya shalat qosor maka berlaku pula shalat jamak seperti zuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya atau di salah satu waktu di antara keduanya

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu dia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِي الْمَغْرِبِ مِثْلُ ذَلِكَ إِنْ غَابَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada pada perang Tabuk, tatkala matahari telah tergelincir sebelum beliau berangkat maka beliau menjamak antara shalat zuhur dan ashar (jamak taqdim). Dan jika beliau berangkat sebelum matahari tergelincir, maka beliau mengundurkan shalat zuhur sehingga beliau singgah untuk shalat Ashar (lalu mengerjakan keduanya dengan jama ta`khir). Demikian pula ketika shalat maghrib, apabila matahari terbenam sebelum beliau berangkat, maka beliau menjamak antara maghrib dan isya (dengan jamak taqdim), dan jika beliau berangkat sebelum matahari terbenam maka beliau mengakhirkan shalat maghrib hingga beliau singgah pada untuk shalat isya, kemudian beliau menjamak keduanya (dengan jamak ta`khir).” (HR. Abu Daud no. 1220, At-Tirmizi no. 553, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 1344)

Ketika Rasulullah berada pada perang Tabuk yang jaraknya 700 km dari Madinah, Rasulullah pergi sebelum matahari tergelincir sebelum zuhur, beliau tidak shalat tetapi beliau menggabungkan antara shalat zuhur ke ashar. Begitulah beliau menjamak shalatnya. Sedangkan jika beliau berjalan setelah masuk waktu zuhur maka shalat zuhur dan ashar beliau kerjakan pada waktu zuhur, demikian juga maghrib dan isya.

Sebagai contoh; apabila beliau berjalan pada jam lima sore sebelum masuk waktu maghrib, Rasulullah melanjutkan perjalanannya dulu kemudian shalatnya diakhirkan. Akan tetapi apabila beliau berjalan setelah masuk waktu maghrib maka beliau shalat maghrib dan menggabungkannya dengan isya. Hal ini berlaku apakah beliau berjalan terus ataukah tinggal di suatu tempat untuk istirahat selama masih dalam keadaan musafir, karena jamak dan qasar adalah keringanan yang diakibatkan oleh safar. Oleh karena itu tidak dianggap padanya adanya perjalanan seperti perjalanan lain, tapi afdol (lebih utama) bagi yang singgah tidak dijamak, karena rasul tidak jamak ketika beliau menginap di Mina.

Salah satu contohnya; ketika berpergian ke Surabaya lalu kita singgah bermalam di Cirebon, saat singgah bermalam waktunya bertepatan antara isya dan maghrib. Jika demikian maka afdol tidak dijamak, meski jika dijamak juga tidak menjadi masalah. Ketika bermalam semalaman maka afdol tidak di jamak meski dijamak juga tidak masalah karena itu termasuk rukhsah. Dan dibolehkan juga jamak bagi orang yang mukim dan karena adanya penyakit sehingga sulit untuk melaksanakan shalat.

Shalat jamak taqdim dan ta’khir boleh dilakukan bukan hanya saat musafir, bedahalnya dengan jamak qashar yang hanya dilaksanakan ketika dalam perjalanan.

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata:

فَرَضَ الله الصَّلاةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُم – صلى الله عليه وسلم – في الحَضَرِ أَربَعًا، وَفي السَّفَرِ رَكعَتَينِ، وَفي الخَوفِ رَكعَةً.

“Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam sebanyak 4 rakaat dalam keadaan mukim, 2 rakaat dalam keadaan safar, dan 1 rakaat dalam keadaan takut (shalat khauf),” (HR. Muslim no. 687)

Rasululah pernah menjamak shalat zuhur dan asar serta magrib dan isya tanpa disebabkan takut dan hujan serta safar. Itu menunjukkan jamak dapat dilakukan tanpa ada udzur lain kecuali karena sakit, bisa juga karena takut (shalat khauf) disebabkan negerinya mau diserang atau hujan deras sehingga ia tidak bisa shalat jamaah secara berjamaah. Maka illat yang terakhir adalah sakit.

Maka di katakan juga “waink kuntum mardho aw ala safarin” Allah mengaitkan antara safar dan sakit, itu berarti kedua hal ini yang membolehkan kita melakukan shalat jamak.

Rasul pernah menyuruh orang yang istihadoh menjamak sholat, istihadoh adalah orang yang keluar darah terus tapi bukan darah haid.

Ibnu Abbas mengatakan ketika ditanya akan hal itu, kenapa nabi melakukan itu? Jawabannya adalah agar rasul tidak mempersulit ummatnya. Jadi istihadoh adalah darah yang keluar bukan pada masa haid (darah penyakit).

Ketika seorang menghadapi kesulitan maka ketika itu boleh dia menjamak sebagaimana sebuah kaidah usul yang mengatakan.

al masyaqqotu tajlibu taisir “kesulitan itu mendatangkan kemudahan”

Oleh karenanya sebab sakit atau tidak sakit, mukim atau sedang safar yang namanya kesulitan adalah sebuah alasan tersendiri yang bisa berlaku pada orang mukim ataupun musafir sehingga dia mendapatkan keringanan, diantara alasan lain yang membolehkan jamak yaitu,

  1. Hujan deras yang membuat baju jadi basah dan membuat kita sulit, karena dasar keringanan shalat jamak adalah kesulitan
  2. Terjadi badai pasir
  3. Angin kencang yang sangat dingin yang tidak pada biasaannya, begitu juga dengan unsur-unsur lain yang terkait dengan mukallaf

Masalah batas jamak yang di syariatkan maka yang boleh di jamak adalah zuhur dan ashar serta maghrib dan isya, adapun subuh tidak boleh dijamak dengan isya.