Hukum Qashar Bagi Musafir

Publikasi: Sabtu, 14 Safar 1437 H / 19 Desember 2015 16:47 WIB

shalat qas(MTF) – Tulisan ini masih membahas kitab Fiqhul Muyassar fi Dhauil Kitabi wa Sunnah. Kali ini akan membahas  tentang “Hukum Qashar Bagi Musafir”

Qashar tidak boleh dilakukan jika seseorang tinggal karena suatu kebutuhan dan ia yakin urusannya tidak akan selesai selama 4 hari, bahkan diprediksi bisa saja seminggu. Contohnya ia mengontrol proyek yang diprediksikan tidak akan selesai dalam waktu 4 – 6 hari maka tidak boleh dia mengqoshar shalat.

Dalilnya sebagaimana Rasulullah sallalalhu alaihi wasalam tinggal di Mekah setelah beliau di Madinah, beliau shalat 21 rakaat kemudian shalat qashar karena beliau datang pada subuh hari ke 4. Setelah itu beliau tinggal di Mekah sampai hari tarwiyah, yaitu 4,5,6,7,8. Kemudian beliau shalat subuh lalu pergi ke Mina.

Siapa yang tinggal 4 hari seperti Rasulullah tinggal 4 hari di Mekah atau lebih kurang maka boleh mengqashar shalat, apabila lebih dari 4 hari maka disempurnkan.

Imam Ahmad menjelaskan, Anas bin Malik berkata, “Kami tinggal di Mekah sepuluh hari dan kami mengqashar shalat.” Pengertiannya sebagaimana yang dijelaskan karena berdasarkan waktu ia keluar ke mina serta arafah dan setelahnya.

Shalat boleh di Qashar jikalau seseorang mukim tapi dengan hajat tanpa niat iqomah lebih dari 4 hari maka hal tersebut boleh. niatnya tidak menetap di tempat itu tapi ternyata bisa lebih dari waktu itu, bisa lebih dari 4 hari maka tidak apa-apa karena niatnya tidak menetap. Sebab beda niat maka beda pula pelaksanaan.

Iqomah adalah niat ingin menetap pada suatu tempat 4 atau 5 hari atau lebih, kalaupun ingin ada hajat sesuatu bukan harinya yang menetapkan, tapi pekerjaan. Yang demikian itu berarti bukan niat iqomah karena iqomah atau menetap sudah diniatkan sebelum berangkat, sedangkan kendala yang menjadikan ia tidak tau kapan selesai urusannya atau tertahan karena adanya hujan besar, maka tidak mengapa walaupun dia tinggal di tempat tersebut beberapa tahun untuk melakukan qashar.

Ibnu Mundzir menjelaskan, ulama sepakat bahwa orang yang musafir boleh mengqashar shalatnya selama dia tidak menggabungkan dengan tinggal.

Baca Juga update MTF lainnya;

Keimpulannya, tergantung dari niat. Apakah ia hanya sekedar mencari pekerjaan/menunaikan suatu kewajiban maka hal tersebut bukanlah niat iqomah, karena bisa saja hal tersebut berlangsung selama 4 hari atau lebih hingga selesai dan ia tetap dibolehkan mengqashar. Tapi jikalau berniat tinggal ditempat tersebut lebih dari 4 hari maka tidak boleh mengqashar lagi.

Pembahasan yang kelima: Kondisi yang Menyebabkan Seorang Mushafir Menyempurnakan Shalat

Ada beberapa kondisi yang dikecualikan dari keharusan qashar dalam shalat, diantaranya;

1. Kalau dia menjadi makmum bagi yang mukim, maka dia harus menyempurnakan shalatnya.

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dijadikannya Imam adalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihnya.” (HR. Bukhari no.680, Muslim no.625)

Perkataan Ibnu Abbas ketika ditaaya tentang menyempurnakan shalat dibelakang imam yang mukim kemudian ia menjawab itulah sunnah Abu Qasim (nabi Muhammad saw).

2. Apabila dia ragu apakah yang menjadi imamnya orang musafir ataukah mukim, maka kita mengikuti dengan menyempurnakan. Qashar itu mengharuskan kepastian karena ia termasuk hukum pengecualian, yaitu hukum yang baru yang diakibatkan sesuatu, apabila sesuatunya itu tidak jelas maka harus disempurnakan shalatnya.

3. Bila teringat shalat yang dilakukan di negerinya sebelum berangkat ternyata belum berwudhu, atau dia teringat kalau shalatnya telah lewat, maka hal tersebut juga mengharuskan dia shalat dengan sempurna. Sebagaimna hadits rasulullah saw.

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ

Barang siapa yang lupa mengerjakan sholat, maka hendaklah ia melaksanakannya jika telah mengingatnya, tidak ada tebusan baginya kecuali itu,” (Shohih Bukhari, no.597 dan Shohih Muslim, no.684).

Dalam riwayat lain dijelaskan;

إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلَاةِ، أَوْ غَفَلَ عَنْهَا، فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Apabila salah seorang dari kalian tertidur hingga luput dari mengerjakan satu shalat atau ia lupa, maka hendaklah ia menunaikan sholat tersebut ketika ia ingat,” (Shahih Muslim, no.684).

Hukum pengecualian qashar harus berdasarkan keyakinan 100% sama hukumnya ketika seseorang ketiduran atau lupa mengerjakan shalat maka shalatlah ketika ia mengingatnya.

4. Apabila seorang musafir sudah takbiratul ihram mengaharuskan dia untuk menyempurnakan shalatnya lalu batal dan dia mengulanginya. Contohnya seorang musafir yang shalat di belakang orang yang mukim ia harus menyempurnakan mengikuti kondisi imam, kalau shalatnya batal lalu mengulang kembali maka ia harus menyempurnakannya (tidak qashar) walaupun dia musafir, karena ia mengikuti shalat yang harus disempurnakan (tidak qashar).

5. Apabila seorang musafir berniat untuk tinggal di tempat tersebut tanpa ada kaitannya dengan waktu dan pekerjaan tertentu, begitu juga apabila ia menjadikan negeri itu kampung halamannya/pindah karena niatnya maka hukum safar batal baginya.

Jika melaksanakan safar dikaitkan dengan waktu tertentu yang akan berhenti (selesai) atau suatu amalan yang akan selesai maka sesungguhnya ia adalah musafir dan ia boleh qashar. Artinya, semua itu bergantung kepada niat awal sebelum dia melaksanakan safar apakah mengerjakan pekerjaan atau pindah.

Wallahu a’alm bissowwab…

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Hukum Qashar Bagi Musafir

.