Hukum Gashab (Mengambil Barang tanpa Izin Pemiliknya)

Publikasi: Rabu, 13 Rabiul Awwal 1435 H / 15 Januari 2014 12:53 WIB

ghasabPengertian ghosob

Ghosob menurut bahasa: adalah mengambil sesuatu secara dholim (bukan haknya).Ghosob menurut istilah : menguasai hak orang lain secara dahlim permusuhan dan dengan cara yang tidak benar.

Contoh ghosob ini sangat banyak misalkan: merubah batas tanah, mencopet di kantong orang, setiap barang yang diambil dari seseorang dengan cara tidak halal atau dholim maka ini yang dimaksud dengan ghosob, misalkan: menipu, curang, khiyanat, minjam uang kemudian tidak mengembalikan, dan lain sebagainya.

Hukum Ghosob:

Hukum ghosob: haram menurut ijma’ kaum muslimin, allah berfirman:

{ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ } [البقرة: 188]

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui”. (al-Baqarah : 188)

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidak halal harta seseorang muslim kecualai dengan pemberian sukarela darinya”

من اقتطع شبرا من الأرض بغير حقه طوقه يوم القيامة إلى سبع أرضين

“siapa yang memotong sejengkal tanah yang bukan haknya maka di hari kiyamat akan maka akan di gantungkan padanya di hari qiyamat tujuh bumi”

Maka barang siapa yang telah melakukan hal ini maka hendaknya orang tersebut segera bertaubat kepada Allah kemudian yang kedua maka ia harus segera meminta untuk di halalkan pada saudaranya yang di geser patok tanahnya tersebut, meminta kehalalannya bisa dengan mengganti dengan membayarnya dengan harga tanah tersebut sesuai dengan harga tanah itu, atau dengan meminta maaf. Nabi salallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ ، وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang memiliki kdholiman terhadap khormatan seseorang atau yang lainya maka hendaklah ia meminta kehalalanya darinya hari ini sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham, jika ia memiliki amal sholeh maka amal sholeh itu akan di ambil sesuai kadar kedholimannya terhadap saudaranya, apa bila ia tidak memiliki amal sahaleh maka dia ambilkan keburukan dari orang yang ia dholimi kemudian di pikulkan kepadanya”.

Maka dari itu di akhirat tidak ada lagi minta maaf dan tidak berlaku lagi dinar, yang ada di sana barter antara kebaikan dan keburukan, kebaikan kita akan di ambil dan di berikan kepada orang yang kita dholimi ketika di dunia, dan apabila kita kita tidak punya kebaikan atau kebaikan kita ini sedikit maka lebih bahaya lagi, karena akan di ambilkan dari keburukan orang-orang yang kita dholimi di dunia dan kemudian akan di pikulkan kepada kita, sehingga keburukan kita semakin banyak dan kita akan di lemparkan kedalam neraka. Makanya Nabi kita bersabda; “apakah kalian tau orang yang bangrut itu? Berkata salah seorang sahabat “orang yang bangrut di antara kami yaitu orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta” kemudian Nabi bersabda lagi “ orang yang rugi diantara kalain di hari kiyamat yaitu orang yang datang dengan membawa pahala shalat puasa dan zakat, akan tetapi dia juga membawa dosa dengan mencaci fulan, memfitnah si fulan, memakan harta di fulan, mengalirkan darah si fulan, memukul si fulan, kemudian diambil kebaikan-kebaikan darinya kemudian diberikan kepada orang-orang yang didhalimi, sampai kemudian habis kebaikanya sedangkan belum selesai perkara itu kemudian diambillah keburkan dari orang-orang yang di dzaliminya kemudian keburukan itu di lemparkan padanya dan kemudian ia di campakkan kedalam neraka.

Inilah orang yang bangrut di akhirat, kalau bangrut di dunia ini mungkin kita masih bisa bangkit lagi akan tetapi bila bangrut di akhirat maka siapa yang akan menolong kita? hari itu tidak manfaat lagi harta dan anak. Kita akan di hadapkan kepada orang-orang yang kita dholimi di dunia, maka oarng yang paling banyak mendholimi orang di dunia maka ia akan di hadapkan di akhirat dan akan di adili sebagaimana dalam hadits. Misalkan koruptor negara maka allah akan hadapkan mereka dengan orang yang ia dholimi senegara ini, kalau karuptor lurahan maka akan di hadapkan orang ia dholimi sekelurahan tersebut.

Maka dari itu fikih muamalah kita ini kaitanya dengan akhirat, akhlak kita kaitanyanya akhirat, semuanya mengarahnya pada akhirat kalau kita ngaji ini tujuan akhirnya bukan untuk menyelamatkan kita di akhrat maka percuma aja kita ini ngaji, karena allah utus setiap Nabi agar menyelamatkan diri kita di akhirat.

Hukum-hukum yang terkait dengan ghosob

  1. Wajib mengembalikan apa yang di ambil dengan dhlim tersebut persis seperti yang di ambil, kalau barang yang di ambil itu sudah hancur atau rusak maka ia harus menganti sesuai dengan barang yang di ambil, atau sesuai harga barang yang ia ambil
  2. Mengembalikan barang yang di ambil tersebut berserta uang ganti ruginya. Misalkan seseorang mengambil motor saudaranya secara dhalim dalam maka secara otomatis lambat laun motor itu akan rusak, maka ketia ia bertaubat dan menembalikan maka ia kembalikan motor itu dan membayar ganti kerusakan barang tersebut selama ia gunakan.
  3. Jika uang misalkan yang di ambil dan uang itu sudah ia putar untuk buat rumah atau gedung atau yang alainya, maka ketika yang memiliki hak meminta untuk di hancurkan maka ia wajib menghancurkanya, misalkan pemimpin koruptor taubat dan kemudian uang yang ia ambil secara dholim sudah ia buat bangngun rumah di sana-sini kemudian yang memiliki hak minta untuk di robohkan maka harus di robohkan.
  4. Yang di curi apabila berubah, berkurang, turun nilainya maka si penngambil harus mengganti.
  5. Barang yang di ambil bisa jadi barang yang perselisihan atau memang pencurian atau yang lainya.
  6.  Semua pengambilan barang haram kecuali mendapan izin dari pemilik.

Dalam islam ghosob ini sangat berat hukumnya dalam islam maknya Allah ibaratkan orang yang makan harta anak yatim seperti orang yang memasukkan apai neraka kedalam perutnya, maka dari itu islam ini datang melindungi lima hal:

  1. agama
  2. jiwa
  3. Akal
  4. Harta

Islam ini mengatur seluruh aspek kehidupan, baik jiwa, akal, harta, semuanya islam atur, bahkan apa bila ada harta yang dua tahun tidak di fungsikan maka akan di ambil alih untuk negara dan akan di kelola oleh negara jadi tidak ada istilah harta tidak berpemilik, maka setiap ada permasalahan islam datang sebagai solusi, sampai masalah waris dan sebaginya, makanya Allah berfirman:

{مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ} [المدثر: 42 – 44]

 “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”. mereka menjawab: “Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,” (al-Mudatsir : 42-44)

Perhatikan ayat di atas tidak shalat dan tidak memberi makan orang miskin dosanya sama, kenapa bisa karena kita biarin orang-orang miskin sehingga mereka terlunta-lunta. Kita mampu kiatabisa dan kemudian kita biarkan mereka sehingga hal ini dalam islam bisa menghantarkan ke neraka

 

  1.  Harga diri.

Orang islam dalam hukum islam ini sangat menjaga harga diri, tidak boleh di fitnah bahkan yang memfitnah akan dapat dera 8o kali dan akan kesaksianya tidak di terima selam-lamaya begitulah  harga diri seorang mukmin saangat mahal dan terjaga, dan bahkan hancurnya ka’bah itu lebih sepele di banding setetes darah kaum muslimin yang di tumpahkan, bahakan Allah pernah menurunkan ayat untuk menjaga harga diri yaitu ayat yang berkenaan dengan hadits ifki, ketika orang munafiq menghina a’isyah, kemudian Allah menghukum mati bagi pembunuh karen isalam ini melindungi jiwa.

Wallahu a’lam bissowab