Hukum Barang Titipan yang Rusak

Publikasi: Jum'at, 6 Zulhijjah 1434 H / 11 Oktober 2013 10:26 WIB

Pemateri : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

Kaum muslimin jama’ah Majelis Tafaquf Fiddin, kita bersyukur pada hari ini bisa berkumpul untuk meneruskan kajian pekannan kita. Kita masih mengambil refrensi dari kitab Fiqih Muyassar Fi Dhouil Kitab Was Sunnah, pembahasan kita sekarang adalah masalah Wadi’ah (barang titipan).

Dahulu bentuk titipan adalah barang, tetapi sekarang bentuknya uang.

Sekarang kita masuk pada bab, Bagaimana Kalau Terjadi Kerusakan Pada Barang yang Dititipakan?

Pada dasarnya haram hukumnya melakukan tindakan yang merusak harta orang lain, mengambil tanpa jalan yang benar, dan barang siapa yang bertindak berlebihan atas barang orang lain maka kemungkinan besar dia bisa merusaknya. Hal yang seperti ini diharamkan dan dia wajib mengganti, sama halnya dengan orang yang menjadi sebab rusaknya hartanya orang lain, seperti dia dititpin mobil, lalu dia pakai dan tabrakan sehingga mobil itu rusak, maka dia harus menggantinya dengan cara apapun. Seandainya titipan itu adalah binatang maka dia harus menjaganya agar binatang itu tidak merusak harta orang lain atau harta dia sendiri, karena kalau binatang itu merusak tanaman orang lain, maka dia harus mengganti.

Rasulullah telah memutuskan penjagaan barang dalam bentuk harta di siang hari dan dalam bentuk binatang dijaga di malam hari. Jadi harus dikandangkan seperti kehidupan di kampung, yang banyak sawah dan kebun orang lain. Dan apa yang dimakan oleh binatang itu di malam hari maka dia berkewajiban menggantinya, karena harta dan ruh kaum muslimin itu terhormat, tidak boleh kita ganggu, meskipun cuma satu pohon singkong, itu adalah harta kaum muslimin, haram dirusak, karena kata haram adalah ihtiroma yaitu dihormati. Haram hukumnya merusak harta orang, atau menjadi sebab rusaknya, celakanya harta orang lain.

Dan orang yang merusak, seandainya dia merusak nyawa orang, membunuhnya, maka hukumnya juga dibunuh, begitulah penghormatan Allah terhadap nyawa kita. Karena dengan membunuhnya itulah cara kita membela dia agar dia terlepas dari hukum Allah Ta’ala. Jadi hukum Islam tidak lah kejam, beda dengan hukum jahiliyah orang yang membunuh dibiarin aja, dicari-cari alasannya agar terhindar dari hukuman, sehingga dikemudian hari dia bisa mengulangi pembunuhan lagi, itulah hukum jahiliyah.

Rasul mengatakan “Barang siapa yang hartanya dirampas, dan dia membelanya kemudian terjadi pembunuhan maka dia syahid.”

Rasul juga mengatakan “Barang siapa yang mati karena mempertahankan hartanya maka dia syahid.”

Begitulah Allah menghormati harta kaum muslimin, baik harta kita maupun harta orang lain. Jadi harta orang lain tidak boleh kita sentuh dan harta orang lain pun tidak boleh kita ambil tanpa jalan yang haq.

Sekarang yang terjadi adalah negeri kita dirampok dengan perusahaan-perusahaan besar raksasa, perusahaan keuangan, pertambangan, energi,  seandainya mereka kita serang dan mati maka kita mati syahid. Inilah akibat jauh dari hukum Allah di negeri kita dijajah oleh orang-orang kafir, dengan banyak cara.

Siapa yang menghancurkan apa-apa yang diharamkan Allah milik orang lain, seperti alat-alat yang membuat orang lalai, salib, bejana-bejana minum khomer, buku-buku yang mengandung kesesatan dan bid’ah, kaset-kaset majalah-majalah porno, maka hal itu tidak perlu diganti. Tetapi di dalam hukum jahiliyah perkara-perkara atau barang-barang seperti itu dijaga oleh hukum jahiliyah.

Dan amar ma’ruf nahi mungkar di negeri kita dilindungi undang-undang, dilihat apa yang dirusak, ternyata barang yang dirusak adalah barang yang bermanfaat, maka melanggar hukum, kalau yang dirusak adalah hal-hal yang kebathilan maka tidak terkena hukum. Karena tidak ada hukum di dalam Islam kalau merusak hal-hal yang kemaksiatan. Seperti kita menghancurkan patung yang disembah-sembah dirumah orang kita lolos dari hukuman meskipun di rumah orang, karena yang kita lakukan adalah amar ma’ruf nahi mungkar. Itulah hebatnya hukum Islam, sehingga akhirnya kemungkaran itu akan berkurang sendiri karena semua masyarakat terlibat melidungi.

Tetapi tidak boleh dilakukan dengan sembrono, asal-asalan dalam menghacurkan hal itu, tetapi harus ada persetujuan dari pemerintah. Seperti kita ingin memberantas pelacuran, perda setempat mengeluarin surat keputusan itu, maka kita tidak terkena hukum. Tetapi pemerintahan negeri kita ini mereka tidak kenal hukum Allah, seharusnya mereka tunduk di bawah hukum Allah. Dan pelaksanaannya juga harus tertib, tidak boleh sembarangan membabi buta meskipun sudah dapat perizinan dari pemerintah, dikontrol oleh pemerintah, sehinggan tidak dimanfaatkan untuk merampok, demi menjaga kemashlahatan, menjaga kemafsadatan, menghidari dari fitnah dari kerusakan yang lebih besar.

Jama’ah Rahimahulllah ajaran Islam ini semakin kita pelajari semakin mantap, apa lagi dalam kondisi umat yang terombang ambing di tengah hukum jahiliyah, di tengah hukum buatan manusia yang tidak jelas ujung pangkalnya. Jangankan nasib di akhirat, nasib di dunia aja hukum Indonesia ini tidak jelas. Yang  mencuri pisang dipenjara empat tahun, yang mencuri triliunan dipenjara empat tahun.

Kaum muslimin Rahimakumullah, kita belajar fiqih mua’ammalah, fiqih a’ilah, fiqih ibadah, fiqih akhlak itu semua kaitannya dengan aqidah, kaitannya dengan hukum Allah, kaitannya dengan ketaatan kepada Allah, dengan kemashlahatan hidup kita, karena Allah tahu kemashlahatan dan kemudhoratan hidup kita. Oleh karena kita belajar jangan sampai terlepas dengan aqidah, kita shalat karena Allah, kita menerapkan hukum potong tangan karena Allah, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar karena Allah, sehingga tidak ada yang terlepas dari Allah Ta’ala.

Wallahu A’lam Bishshowab