Hukum Barang Temuan dan Penemunya

Publikasi: Selasa, 25 Muharram 1436 H / 18 November 2014 12:50 WIB

Pemateri : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

Luqothoh-temuan - mtf-online.comTulisan berikut akan membahas bab ke 21 tentang “Barang Temuan” yang diambil dari kitab Fiqhul Muyassar.

Ada beberapa pembahasan terkait barang temuan dan orang yang menemukan.

Makna Barang Temuan dan Pengertiannya

Barang temuan dalam bahasa Arab adalah اللقطة, secara bahasa bermakna sesuatu yang ditemukan kemudian diambil. Adapun secara syar’i bermakna mengambil sesuatu yang berharga dari barang yang tercecer untuk dipelihara setelah diumumkan.

Hukum Barang Temuan

أن النبي – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سُئل عن لقطة الذهب أو الورق (الفضة) فقال: (اعرف وكاءها وعفاصها ثم عَرِّفها سنة فإن لم تعرف فاستنفقها، ولتكن عندك وديعة. فإن جاء طالبها يوما من الدهر فَأَدِّها إليه)، وسأله عن ضالة الإبل فقال: (مالك ولها، دعها فإن معها حذاءها، وسقاءها، تَرِدُ الماء وتأكل الشجر حتى يلقاها ربها)، وسأله عن الشاة فقال: (خذها فإنما هي لك، أو لأخيك، أو للذئب) (1).

Nabi saw. pernah ditanya tentang barang temuan berupa emas atau perak. Beliau menjawab, “Kenalilah wadah dan pengikatnya, kemudian umumkanlah selama setahun. Bila tidak diketahui maka ia menjadi barang titipan bagimu. Apabila pada suatu waktu pemiliknya datang memintanya maka serahkanlah kepadanya.” Beliau juga ditanya tentang onta yang tersesat, maka beliau menjawab, “Onta itu bukan milikmu, biarkan ia karena onta itu dapat minum air dari sungai dan makan pepohonan hingga ia bertemu dengan pemiliknya.” Beliau juga ditanya tentang domba, beliau menjawab, “Ambil domba itu karena ia milikmu, atau milik saudaramu atau miliki srigala.”

Karenanya, dalam Islam tidak ada istilah saling berebut barang temuan karena semua telah diatur.

Macam-Macam Barang Temuan

  1. Barang yang tidak menjadi perhatian orang seperti sepotong roti, tongkat, maka boleh kita memanfaatkanya dan boleh dimliki tanpa harus di umumkan.
  2. Sesuatu yang tidak penting bagi penemunya, atau sesuatu yang bisa membuat penemunya susah merawatnya seperti unta, kuda, sapi, maka ini haram untuk menjadi hak miliknya sebagaimana hadits yang telah disebutkan di atas. Karena barangnya bergerak.  Begitu pula seperti kita menemukan anak onta atau anak sapi, maka jangan langsung kita ambil, karena itu berupa hewan yang bisa bergerak dan bisa kemungkinan bertemu dengan pemiliknya atau induknya.
  3. Barang yang boleh diambil akan tetapi harus diumumkan dahulu selama satu tahun seperti : emas, perak, dan barang berharga yang lainya. Seseorang boleh mengambilnya asalkan dia merasa sanggup untuk mengumumkanya dan bisa menjaganya, maksudnya orang tersebut merasa mampu bahwa dirinya bisa amanah, jika orang yang menemukan tersebut merasa tidak mampu untuk menjaganya maka tidak boleh mengambilnya.

Jika yang ditemukan adalah hewan yang dimakan, maka dia boleh memilih memakannya yaitu  membayar dengan nilai harga hewan tersebut atau dijual kemudian uangnya dikembalikan kepada pemiliknya apabila yang memiliki barang tersebut menemukanya, atau boleh juga barang tersebut dirawat dan membiayai uang perawatan tersebut dan nanti jika orang yang memiliki barang tersebut menemukan maka dia bisa menagih uang perawatan barang terebut.

Misalkan kita menemukan seekor kambing maka kita boleh mengambilnya dan merawatnya dengan uang kita dan jika nanti pemilik kambing itu menemukan kambing yang ada pada kita maka kita boleh meminta uang perawatan kambing tersebut. Akan tetapi jika hewan tersebut sudah terlanjur dia makan, maka pemilik hewan tersebut boleh menuntut minta ganti uang dengan senilai harga jual hewan tersebut.

Jika yang ditemukan adalah barang yang dikhawatirkan  bisa rusak seperti buah-buahan, maka dia boleh memakannya dan kemudian jika yang punya datang maka dia membayar barang tersebut, atau dia menjual barang temuan tersebut jika yang mempunyai datang maka dia menyerahkan uang dari hasil jualnya tadi.

Adapun jika yang ditemukan adalah uang, bejana-bejana, maka wajib dia menjaganya dan itu adalah amanat baginya dan dia wajib mengumumkanya pada manusia disekitar itu.

Seseorang dilarang mengambil barang temuan kecuali jika ia merasa aman atas dirinya dan dia mampu untuk mengumumkan kepada orang lain karena mengumumkan barang yang ditemukan itu adalah wajib. Jika kemudian ada orang yang mengaku kehilangan dan mensifati barangnya yang hilang dengan benar atau sesuai dengan sifat barang yang kita temukan maka wajib untuk memberikan barang tersebut akan tetapi jika telah satu tahun kita umumkan dan tidak ada yang mengaku maka bisa menjadi miliknya.

Orang yang menemukan barang itu jika sudah mengumumkan selama satu tahun dan tidak ada yang mengaku maka dia boleh menjadi miliknya dan boleh dia menggunakan dengan syarat dia tahu betul sifatnya dan jika pemiliknya datang memintanya maka tidak perlu fakta, pendukung, ataupun sumpah karena perintah Rasulullah langsung berikan tidak perlu sumpah-sumpah.

Jika orang gila, atau anak kecil yang menemukan barang temuan maka walinya yang harus melakukan hukum di atas jika menemukan barang haram seperti anjing misalkan maka kita boleh mengumumkan.

Barang Temuan Bayi

Jika menemukan bayi misalkan di jalan atau di pintu masjid atau anak kecil yang tersesat, tidak diketahui anak siapa tidak ada penjaganya tidak ada orang tuanya jika dalam kontek seperti ini maka kita wajib untuk mengambil anak tersebut. Karena kita wajib untuk menolong bayi tersebut dan membiayainya hukumnya adalah fardhu kifayah. Jika kita mengambil bayi itu berarti kita menjaga kehidupannya dan hendaknya orang yang menemukan membiayainya dan jika dia tidak mampu maka maka dia wajib menuntut kepada baitulmal, misalkan membuat surat permohonan. Yang menjadi pertanyaan sekarang negara kita mikirin tidak hal-hal seperti ini? Yang sehat saja tidak pernah kepikiran apalagi yang belum bisa berfikir dan masih anak-anak.

Jika di kemudian hari ada yang mengklaim mengaku sebagai orang tuanya, maka wajib untuk mengembalikan akan tetapi jika yang mengklaim lebih dari satu dan bukti tidak ada, maka yang menemukan tadi yang harus menjaganya dengan syarat yang menemukan adalah orang yang merdeka dan terpercaya          walaupun anak tersebut kemungkinan anak kafir (ditemukan di negara kafir). Kejadian seperti ini pernah terjadi pada zaman Nabi daud ada seorang wanita yang saling mengklaim bayi maka kemudian Nabi Daud memutuskan untuk memotong bayi tersebut menjadi dua maka kemudian salah satu dari mereka histeris dan menagis maka kejujuran dari salah satu dari mereka terlihat dan kemudian memberikan bayi tersebut kepada salah satu dari mereka.

Tidak boleh anak orang Islam disusui oleh orang kafir, atau orang fasik. Disyaratkan bagi yang menemukan bayi atau orang yang akan mengasuh yaitu berakal, baligh, merdeka, Islam, adil. Bayangkan dalam Islam ini untuk menemukan bayi aja syaratnya begitu berat apalagi mau jadi presiden yang akan menaungi beratus-ratus bayi. Jika yang menemukan adalah orang kafir, hamba, atau anak kecil, atau fasik maka tidak boleh. Bayangkan kalau menghadhonah seorang anak saja syaratnya seperti itu apa lagi mau menghadhonah 260 juta orang

 Wallahu Ta’ala A’lam  Bis Showab

 

(saef/mtf-online.com)