Hal-Hal yang Disunnahkan dan Diharamkan dalam Khotbah serta Shalat Jum’at

Publikasi: Kamis, 29 Muharram 1437 H / 12 November 2015 11:15 WIB

shalat jumatTulisan ini masih membahas kitab Fiqhul Muyassar fi Dhauil Kitab wa Sunnah. Kali ini akan membahas tentang “Hal-Hal yang Disunnahkan dan Diharamkan dalam Khotbah serta Shalat Jum’at”.

Khotbah merupakan rukun dari rukun shalat jum’at, tidak sah salat jumat apabila tidak dilaksanakan khotbah karena Rasulullah melakukannya terus menerus tanpa meninggalknanya.

Diantara sunnah-sunnah khotbah yaitu,

  1. Mendoakan Kaum Muslimin dan Para Pemimpinnya

Mendoakan kaum muslimin untuk kebaikan dunia dan akhirat mereka dan doa untuk para pemimpin kaum mislimin supaya mendapatkan kebaikan dan taufik.

Rasulullah berkhotbah pada hari jum’at dan mengisyaratkan dengan telunjuknya kemudian diaminkan oleh jamaahnya. Beliau berdo’a untuk kebaikan pemimpin, dalam kondisi pemimpin benar maka doa bagi mereka adalah taufik dan kebenaran, tapi bagaimana dengan pemimpin kita sekarang? Maka didoakan untuk taubat atau boleh kita memakai doa nabi nuh.

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا

“Dan Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi,” (Nuh: 26).

Pemimpin sekarang tidak bisa dikatakan ulil amri dan orang yang menjilat kepada pemimpin sekarang adalah orang yang mata hatinya telah buta

  1. Disunnahkan yang Menjadi Khotib Juga Sebagai Imam

Hendaknya yang menjadi khotib dan shalat sekaligus satu orang, dia harus mengeraskan suaranya dan dilakukan khotbah kesatu dan kedua serta shalat oleh satu orang. Kemudian dia harus berkhotbah dengan berdiri sebagai mana firman Allah swt:

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepada-nya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,” dan Allah Pemberi rezeki yang terbaik,” (Al-Jumuah: 11).

عَنْ جَابرِ بن سَمُرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النّبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يخطُبُ قائماً، ثم يَجْلِسُ ، ثمَّ يقومُ فَيَخْطبُ قائماً، فَمَنْ أنْبَأَكَ أَنهُ كانَ يخطُبُ جالساً فَقَدْ كَذَبَ (رواه مسلم)

“Sesuai dengan hadits dari Jabir bin Samrah ra, ia berkata: ”Bahwasanya Rasullah saw berkhutbah jum’at dalam keadaan berdiri, lalu duduk antara dua khutbah, kemudian berdiri lagi dan berkhutbah dalam keadaan berdiri, barang siapa yang membawa berita bahwa beliau berkhutbah dalam keadaan dukuk maka ia telah berdusta,” (HR. Muslim).

  1. Hendaknya Berkhotbah di Atas Mimbar

Dan hendaklah di atas mimbar atau tempat yang lebih tinggi karena Rasulullah berkhotbah di atas mimbarnya yang tinggi. Berkhotbah dari tempat tinggi lebih cepat di pahami oleh orang yang mendengarkan ketika disampaikan, dan lebih cepat dalam memberikan pelajaran.

  1. Disunnahkan Duduk Sejenak Di antara Dua Khotbah

Hendaklah dia duduk diantara dua khotbah sedkit/sebentar sebagaimana perkataan Ibnu Umar r.a:

Rasulullah saw. berkhotbah dua khotbah dan beliau berdiri serta memberi jeda sebentar dengan duduk di antara keduanya. Jadi duduk berfungsi untuk memberikan jeda/pemisah antara khotbah yang satu dengan khotbah yang kedua.

  1. Disunnahkan Memendekkan Khotbah

Disunnahkan memendekkan khotbah dan khotbah yang kedua lebih pendek dari khotbah yang pertama sebagai mana hadits Ammar yang diriwayatkan secara marfu’

لِمَا صَحَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ قَالَ : إِنَّ طُولَ صَلاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ ، فَأَطِيلُوا الصَّلاةَ وَأَقْصِرُوا الْخُطَبَ ( رواه مسلم)

Sesuai dengan hadits Rasulallah saw beliau bersabda, ” Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan pendeknya khutbah merupakan tanda kedalaman fiqihnya. Maka panjangkanlah shalat dan pendekanlah khutbah,” (HR. Muslim).

  1. Disunnahkan Bagi Khotib untuk Mengucapkan Salam Ketika Menghadap ke Makmum

Disunnahkan bagi khotib mengucapkan salam kepada makmum ketika khatib menghadap mereka, sebagaimana Jabir r.a meriwayatkan;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَعِدَ الْمِنْبَرَ سَلَّمَ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah naik mimbar biasa mengucapkan salam,” (HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).

  1. Disunnahkan Duduk Sampai Selesai Muadzin Mengumandangkan Adzan
  2. Disunnahkan Khotib Memegang Tongkat dan Semisalnya
  3. Disunnahkan Khotib Melihat Pada Makmum

Hal-Hal yang Diharamkan Ketika Jum’at

  1. Diharamkan berbicara ketika imam sedang berkhutbah

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ: (أَنْصِتْ) وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Jika kamu berkata kepada temanmu, “Diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari jumat, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaihi)

  1. Dilarang melangkahi pundak orang yang duduk ketika imam telah khotbah

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لاَ يُجْلَسُ بَيْنَ رَجُلَيْنِ إِلاَّ بِإِذْنِهِمَا

“Tidak boleh diduduki (tempat) di antara dua orang kecuali dengan izin keduanya,” (HR. Abu Dawud dan dihassankan Al-Albani)

Adapun imam tidak masalah dia melangkahi pundak apabila susah melangkah ke depan.

  1. Dilarang memisahkan kedua orang lalu menempati tempatnya

Dari Ibnu Umar r.a, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; bahwa beliau melarang mengusir seseorang dari tempat duduknya dan orang lain menempatinya, tetapi lapangkan dan perluas. Dan Ibnu Umar tidak suka ada seseorang yang pindah dari tempat duduknya (atas kemauannya sendiri) lalu beliau duduk di tempatnya itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jumat ke jumat lain menghapuskan dosa-dosa selama dia telak melakukan hal-hal yang dilarang, termasuk memisahkan orang yang duduk berdampingan berdua.

Bagaimana Seorang Dikatakan Mendapatkan Shalat Juma’at

Dianggap mendapatkan jumat apabila mendapatkan rakaat bersama imam. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً فَقَدْ أَدْرَكَ

“Barangsiapa yang mendapatkan satu raka’at dari shalat Jum’at, maka ia mendapatkannya,” (HR An Nasa’i dalam Sunan-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Man Adraka Shalat Rak’atan Min Shalat Al Jum’ah, no. 1408, dengan sanad yang shahih. Hadits ini dishahihkan Al Albani di dalam Al Ajwibah An Nafi’ah, op.cit, hlm. 48.).

Pendapat ini dirajihkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, lihat Majmu’ Fatawa, op.cit, 23/330-332.

Hal-hal yang berhubungan dengan shalat sunnah dalam jumat

Tidak ada shalat sunnah sebelum shalat jumat, tetapi siapa yng shalat sebelum shalat jumat maka tidak mengapa. Namun itu merupakan shalat sunnah mutlak, dengan syarat sebelum masuk waktu maka tidak mengapa dilaksanakan, nabi pun mendorong untuk melaksanakan itu tetapi ia bukan shalat qobliyah jumat.

Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang tidak terkait dengan keadaan, kapan dan dimana pun bisa di lakukan, tetapi tidak dianggap cacat kalau dia meninggalkan karena sunnah yang ada pada jumat itu adalah setelah jumat 2 rakaat atau 4 atau 6 rakaat sebagaimana perbuatan yang pernah dilakukan Rasulullah saw.

Adapun yang riwayat shalat 6 rakaat setelah jumat itu dari Ibnu Umar, beliau melihat Rasulullah melaksanakan 6 rakaat yang merupakan sunnah fi’liyah yang tidak megapa kita mengikutinya.

Dari hadits hadits itu maka kita bisa memahami bahwa shalat sunnah setelah jumat paling sedikit dua rakaat dan paling banyak adalah 6 rakaat,

Ibnu Taymiyah rahimahullah: berpendapat kalau sahlat diselesaikan di masjid maka 4 rakaat, dan jika di rumah maka shalat 2 rakaat, demikian shalat bergantung tempatya,

Pelaksanaan Shalat Jum’at

Shalat jumat itu dua rakaat dikeraskan bacaannya, karena Rasulullah melakukan hal tersebut dan perbuatan Rasulullah adalah sunnahnya dan ahli ilmi bersepakat tentang itu. Disunnahkan rakaat pertama membaca surah al-Jumu’ah setelah al-Fatihah dan rakaat kedua surah al-Munafiqun atau surah al-A’la dan yang kedua al-Ghosyiah. Hal demikian pernah dilakukan oleh Rasulullah sallallahu alahi wasallam.