Hadhanah

Publikasi: Jum'at, 9 Rajab 1435 H / 9 Mei 2014 10:56 WIB

Pemateri : Ust. Fathuddin Ja’far, MA.

hadhanahTerkait masalah hadhanah kita telah bahas, bahwa merawat anak adalah suatu kewajiban.  Jadi pemahaman masyarakat di sini banyak yang menyimpang, karana di dalam Islam merawat anak adalah merawat lahir dan batin, iman dan ilmunya makanan, pakean dan tempat tinggalnya serta pendidikanya, itu semuanya pada dasarnya adalah kewajiban semuanya.

Hal itu semuanya adalah kewajiban yang tidak bisa diwakilkan, lebih lagi pada pembantu, ini jelas tidak boleh. Betapa banyak masyarakat kita ini yang berfikir yang penting telah kita kasih makan, kasih tempat tinggal, kemudian anak mereka, mereka carikan pembantu untuk merawat anaknya dan padahal pembantunya bukan orang yang baik dan shaleh sehingga mencemari si anak tersebut hingga anak tidak karu-karuan.

Makanya khadhanah ini adalah kuwajiban dipundak orang tua bukan yang lainya, mulai memberi makan dan mendidik makanya Nabi bersabda: “setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orang tuanya yang menjadikan ia yahudi atau nasrani atau majusi” maka dari itu hendaklah kita hati-hati dalam mendidik anak ini karena akan dimintai tanggung jawab di hadapan Allah.

Walaupun anak dimasukkan ke dalam pesantren itu hanya alat untuk transformasi ilmu saja sedangkan yang paling penting adalah dari orang tua, karena Allah telah tanamkan ketokohan pertama adalah pada orangtuanya. Maka walaupun kita telah menyekolahkan anak kita kesekolah Islam maka jangan samapai kita merasa telah lepas dari kuwajiban. Marilah kita tiru Nabi Ya’qub yang sampai sakaratul maut masih memanggil anak-anaknya dan berkata kepada anak-anaknya:

{ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ} [البقرة: 133]

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.

Baru Nabi Ya’kub tenang matinya setelah mereka mengatakan akan menyembah Allah dan tetap dalam Islam. Sedangkan banyak orang-orang di sekitar kita hanya akan tenang jika mau mati anak sudah punya rumah, sudah punya kerjaan tetap, dan lain sebagainya. Makanya dalam Islam mengatur masalah khadhanah ini mulai dari suami-istri yang akur damai maupun yang sudah bercerai.

Hukum-hukum yang terkait dengan khadhanah.

                Misalkan ada seseorang yang bercerai maka siapa yang berhak untuk merawat anak, maka jawab rasulullah adalah istri, kenapa demikian karena istri yang lebih sayang kepada bayinya, karena rata-rata perempuan itu lebih penyayang dari pada laki-laki, akan tetapi selam dia belum menikah jika ia sudah menikah maka perpindah hak mengasuh pada yang laki. Karena ia akan sibuk mengurusi suami barunya bukan anaknya. Sebagaimana kata nabi “kamu lebih berhak selama si wanita belum menikah lagi”.

Sekarang bagaiman jika  kedua-duanya dalam keadaan musafir atau salah satunya musafir jauh misalkan haji atau yang lainya keperluan yang tidak melanggar syariat, dan dalam perjalanan itu aman dan tidak ada bahaya, mungkin silaturrahmi keluarganya tiggal di London dan dia harus pergi kesana 3 bulan atau 4 bulan maka siapa yang berhak Khadhanah. Maka yang berhak khadhonah adalah bapaknya. Bapak lebih wajib hadhanah baik musyafir ataupun mukim, kenapa? Karena laki-laki biyasanya lebih pas dalam mendidik anak dan menjaganya.

Dan bagai mana sekarang bila musafirnya tidak jauh? Maka yang berkuwajiban khadhanah adalah ibu, kendati ibunya juga sedang bepergian juga tapi dekat, karena biyasanya ketika perjalanan pendek itu ibu lebih tahan dan lebih saying kepada anaknya. Akan tetapi bapaknya berhak untuk memonitoring kondisi-kondisinya.

Bagaimana jika safarnya jauh dan ada kebutuhan, dagang misalkan sedangkan jalanya tidak aman maka khdhanah di berikan kepada yang mukin diantara keduanya, misalkan ayahnya pergi jauh berdagang keluar negri maka ibunya harus mendidik anak itu. Dan aturan yang seperti ini berhenti sampai umur tujuh tahun.

Jamaah marilah kita perhatikan Islam menghendaki sampai umur tujuh tahun agar tidak disentuh orang lain dulu, haruslah orang tua yang mendidik dengan benar, bukan baru belajar jalan sudah ditaruh dipenitipan bayi, makanya dari umur kosong sampai umur tujuh tahun orang tua berhak mengajarkan imanya, ibadahnya, akhlaknya dan lain sebagainya, baru setelah itu tidak apa-apa ditempat lain, jika anak laki maka disuruh pilih mau ikut bapaknya atu ikut ibunya, maka ia si anak akan di khadhanahi siapa yang ia pilih ibu atau bapaknya. Jadi hal seperti ini Islam telah mengaturnya, bukan kepengadilan dan kemudian rebut-rebutan,

Kenapa ada hadits nabi mengatakan: “wahi anak laki-laki ini ayahmu ini ibumu pilih mana yang engkau suka tinggal kepadanya, maka anak itu mengambil tangan ibunya” begitulah nabi memutuskan perkara itu. Begitu juga Umar dan Ali, tidak boleh diberi pilihan samapi anak itu akil sekitar umur tujuh tahun, dan kita lihat umur tujuh tahun ini memang anak sudah mulai berfikir. Dengan syarat ibu itu benar-benar pantas dalam merawat anak itu, atau sebaliknya.

Kenapa umur tujuh tahun, karena umur tujuh tahun diawal diperintahkan untuk shalat sebagaimana sabda Nabi: “perintahkan anak kalian shalat umur tujuh tahun dan pukullah pada umur sepuluh tahun jika meninggalkan shalat” jadai sudah melekat perintah Allah. makanya parah juga jika orang tuanaya baru sholat umur 50 tahun. Karena anak akan mengatakan: “kenapa ibu pukul saya padahal ibu tidak shalat dan baru shalat kemaren.”

Jika si anak memilih bapaknya maka bapaknya wajib siang dan malam bertanggung jawab mendidiknya dan mengembangkan potesinya tapi tidak boleh melarang jika ibunya mau menemuinya, dan anak memilih anaknya maka anak itu disisi ibunya malam dan balik dari ibunya siang hari karena di waktu sian gitulah ditunaikanya kebutuhan-kebutuhan supaya anak itu belajar kehidupan dan bisnis agama dan lain sebagainya.

Sedangkan bagaimana dengan anak perempuan? Jika anak telah sampai tjuh tahun maka dia harus beresama bapaknya tidak pakai pilihan, kenapa demikian karena bapaknya lebih bisa menjaga dia dan lebih berhak dalam perwalian, karena dia telah hapir sampai umur pernikahan, sedangkan bapaknya adalah walinya, sedangkan anak gadis itu di khitbah melalui bapaknya. Dan bapaknya lebih tau siapa orang yang pas dari orang-orang yang datang kepadanya, akan tetapi tidak boleh melarang ibunya untuk menjenguknya, kecuali jika takut nanti akan dirusak akhlaknya dan agamanya,

Bagaimana jika bapaknya lemah dan tidak mampu merawat anak tersebut? Bisa karena kesibukanya atau karena telah lanjut usia atau sakit atau karena agamanya kurang, sedangkan ibunya lebih pandai dan mampu maka ibunya lebih berhak merawat anak itu. Demikian juga apa bila bapaknya nikah lagi dana anak itu tidak dibawa pada istri barunya atau istri barunya kurang merawatnya dan ayahnya tidak bisa memberikan hak anak itu sebaik mungkin,  maka ibunya lebih berhak merawatnya. Misalkan suaminya sibuk dan sianak harus tinggal bersama ibu tirinya sendangkan ibu tiri dikhwatirkan tidak bisa meberikan kwajibanya atau menyakitinya maka yang berhak adalah ibu kandungnya bukan bapaknya.

biaya hadhanah apakah dari ibunya tadi atau selain ibunya suatu hak yang wajib diberikan. dari harta anak yang di pelihara jika anak itu memiliki harta jika tidak maka dari harta bapaknya atau siapa saja yang berhak memberikan nafkah padanya jika bapaknya masih ada maka dari bapaknya jika tidak maka kakeknya.  Permasalahan siapa yang menafkahi dengan harta siapa akan kita lanjutkan pada bab nafaqoh pada kitab ini.

Wallahu A’lam Bis Showab  

(saef/mtf-online.com)