Evaluasi Iman

Publikasi: Selasa, 23 Zulqa'dah 1433 H / 9 Oktober 2012 08:42 WIB

إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ” (ال عمران :102)

Kaum Muslimin sidang Jumat rahimakumullah,

Mari kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah yang Allah SWT jelaskan dalam Al Qur’anul Karim dan dijelaskan pula oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam sunnah atau dalam hadits beliau. Pada saat yang sama kita juga harus bisa meninggalkan, semua larangan Allah SWT yang dijelaskan dalam Al Qur’anul Karim dan yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga jelaskan dalam hadits-hadits beliau. Dengan demikian, insya’ Allah, taqwa kita semakin meningkat kualitasnya di sisi Allah SWT. Dengan demikian derajat kemuliaan yang Allah SWT janjikan bagi orang-orang yang bertaqwa bisa kita raih. Insya’ Allah, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحخرات :١٣)

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS. Al Hujurat:13)

Shalawat dan salam kita panjatkan kepada nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul Allah SWT yang terakhir, tidak ada lagi yang datang setelah beliau. Jika ada manusia atau sekelompok manusia yang mengatakan ada nabi atau rasul yang turun setelah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, ketahuilah itu adalah sebuah klaim kebohongan yang tidak boleh kita yakini. Jika kita yakini maka akan rusak aqidah tauhid kita, laa ilaha ilallah muhammadarrasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah menyampaikan umur kita pada awal tahun baru Hijriyyah ini, 1433 Hijriyyah. Tidak ada lain yang lebih baik untuk kita lakukan kecuali selalu mengevaluasi keimanan kita kepada Allah SWT dan keimanan kita kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, lalu keimanan kita kepada kitab Allah SWT, keimanan kita kepada Malaikat Allah SWT, keimanan kita kepada Hari Kiamat, Hari Akhir, keimanan kita kepada Allah SWT baik dan buruk yang telah Allah SWT tentukan atas kita.

Kenapa iman yang menjadi konsentrasi kita? Karena iman itu adalah dasar pondasi dari segala kehidupan kita. Jika iman kita baik di sisi Allah SWT baik secara teori maupun secara praktik, insya’ Allah amal ibadah kita baik, akan baik di sisi Allah SWT. Bila mana iman kita rusak atau tidak maksimal, maka akan mempengaruhi pula terhadap amal-amal ibadah kita yang lain. Bahkan dapat membatalkan amal ibadah kita yang lain, kalau ada pelanggaran-pelanggaran keimanan yang kita lakukan, pelanggaran-pelanggaran yang menyebabkan keimanan kita batal. Seperti syirik, misalnya kita masih mempercayai keris dimana dalam keris itu ada sesuatu kekuatan yang bisa menolak bala, yang bisa mendatangkan manfaat terhadap burung-burung yang kita pelihara, burung perkutut dan sebagainya. Atau semacam tulisan jimat-jimat yang dibuat oleh orang-orang para ahli perdukunan. Kalau kita meyakini itu, bahwa di dalam sesuatu itu ada kekuatan yang bisa mendatangkan manfaat dan mudhorat, berarti ketahuilah bahwa iman kita telah batal.

Oleh sebab itu jama’ah Muslimin rahimakhumullah, batalnya keimanan itu bisa disebabkan oleh keyakinan seperti tadi. Keyakinan yang keliru terhadap sesuatu. Keyakinan yang tidak sepantasnya diyakini terhadap sesuatu, yang seharusnya diyakini hanya kepada Allah SWT. Seperti yang memberikan mudhorot dan manfaat itu hanyalah Allah SWT. Bahkan jika kita meyakini bahwasanya jika bukan karena dokter ini atau karena tabib ini anak saya mati atau anak saya sakit, itu juga merupakan sebuah keyakinan yang keliru. Karena yang menyakitkan dan menyembuhkan adalah hanya Allah SWT.

Atau juga keyakinan-keyakinan yang meyakini bahwa ada hukum di dunia ini yang lebih hebat, lebih baik atau bahkan sama dengan hukum Allah SWT, sama dengan Al Qur’an atau sama dengan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam; keyakinan semacam ini juga akan merusak keimanan dan aqidah kita. Oleh karena itu, Allah SWT menjelaskan dalam banyak ayat. Dan juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan dalam banyak hadits beliau, betapa pentingnya kita mengevaluasi keimanan kita ini. Agar kita tidak terjebak dalam keyakinan yang keliru dan tidak sesuai dengan ajaran Allah SWT dan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Bahkan Allah SWT memberikan sebuah penegasan kepada nabi kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Dalam firman-Nya, Allah SWT jelaskan:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (الزمر :٦٥)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar:65)

“Wahai Muhammad,” teguran ini ditujukan kepada nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan tentunya teguran ini juga berlaku bagi kita, umat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Dengan jelas-jelas Allah SWT berfirman, “Telah diwahyukan kepada engkau, wahai Muhammad, dan kepada nabi-nabi sebelum engkau, kalau engkau menyekutukan Allah dengan apapun dan dengan siapapun, batal-lah semua amal ibadahmu,” yang maknanya batal-lah sholatmu, batal-lah puasamu, batal-lah zakatmu, batal-lah infaqmu, batal-lah sholat Dhuha-mu, batal-lah bacaan Qur’an-mu. Semua yang kita lakukan batal, “tidak ada yang tersisa. Kamu akan menjadi orang yang merugi,” di dunia dan di akhirat. Apa artinya ini? Ini menunjukkan betapa pentingnya kita mengevaluasi. Bagaimana supaya iman kita ini tidak batal. Karena iman itu bisa batal sebagaimana sholat kita bisa batal, wudhu juga bisa batal, dan sebagaimana puasa kita bisa batal.

Oleh karena itu jama’atul Muslimin rahimakumullah, hati-hati terhadap masalah keyakinan agar tidak membatalkan keimanan.

Yang kedua, yang dapat membatalkan keimanan itu juga bentuk ucapan. Kalau ada ucapan kita yang menyerempet-nyerempet syirik, yang menyerempet-nyerempet kepada kekufuran, yang dikatakan dalam Al Qur’an sebagai ‘kalimatul kufr’. Yaitu kalimat yang tidak bisa ditafsirkan kecuali adalah kufur, ini juga membatalkan keimanan kita. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengatakan, “Maukah jika kutunjukkan jalan yang jika kalian bisa menjaganya, kalian akan masuk surga?” Lalu para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Jawab Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Jaga lisanmu, jaga di antara dua geraham kalian ini (yaitu lisan), dan jagalah kemaluan.”

Betapa banyak orang yang Allah SWT masukkan ke dalam neraka dan tidak dinilai lagi amal ibadahnya karena ‘kalimatul kufr’, kalimat kekufuran yang ia ucapkan. Kalimat kufur yang diucapkan seperti tadi misalnya ia mengucapkan, “Al Qur’an ini tidak ada gunanya.” Walaupun hanya satu ayat. “Al Qur’an ini percuma, hadits yang ini tidak sesuai dengan jaman.” Kalau itu diucapkan berarti sudah membatalkan komitmen syahadat kita, “Asyhadu anla ilaha ilallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.”

Karena konsekuensi dari syahadat kita tadi mengharuskan kita meyakini bahwa apa yang datang dari Allah SWT, hukum Allah SWT, apakah itu aqidahnya, apakah itu ibadahnya, apakah itu syari’atnya, apakah itu akhlaqnya.. jauh lebih baik dari ciptaan manusia siapapun. Bahkan juga lebih baik apa yang datang dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Oleh karena itu hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berfungsi untuk menjelaskan Al Qur’an yang diwahyukan kepada beliau.

Tidak boleh kita berucap bahwa agama ini adalah agama ketinggalan jaman. Batal aqidah kita, jika kita katakan bahwa Islam ini agama ketinggalan jaman, Al Qur’an ini percuma, bahwa Al Qur’an ini cuma jimat. Coba kita lihat orang-orang atheis, orang-orang sekuler, orang-orang liberal, selalu menuduh-nuduh Al Qur’an, selalu meremeh-remehkan Al Qur’an, merendah-rendahkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Walaupun terlihat kecil, jika itu terjadi dalam ucapan kita maka batal aqidah kita dan iman kita juga sudah batal.

Yang ketiga, yang membatalkan keimanan itu juga dapat dalam bentuk perbuatan. Walaupun dalam keyakinan kita, kita yakin bahwa Allah Maha Esa, tapi kita berbuat seperti orang-orang katakanlah Trinitas. Kita buat begini.. (membuat salib) ini juga batal. Saya lihat pemain bola pernah meniru-niru itu. Katakanlah ia kagum kepada pemain bola kelas dunia, dan karena ia Kristen tentu ia mengekspresikan kehebatan dia dengan cara Trinitas. Yang seperti ini juga dapat membatalkan. Karena kita diajarkan untuk mengangkat dua tangan, “Allahu akbar” atau kita katakan “Asyhadu anla ilaha ilallah.” Nah inilah ajaran kita, bukan begini (membuat salib).

Atau kita dengan sengaja pergi ke tempat-tempat ibadah orang lain, lalu kita ruku’ pula, lakukan pula ibadah-ibadah yang mereka lakukan seperti meniup lilin dan sebagainya. Walaupun kita tidak meyakini itu benar, tapi perbuatan kita itu tidak dapat ditafsiri selain daripada perbuatan kekufuran. Oleh karena itu, orang-orang yang melakukan perbuatan walaupun ia tidak ucapkan walaupun ia tidak yakini kebenarannya, tapi ia meniru-niru ibadahnya orang kafir atau tata cara hidupnya orang kafir, ia juga telah membatalkan aqidahnya dan keimanannya.

Oleh karena itu, jama’atul Muslimin rahimakumullah, mari kita berhati-hati. Karena aqidah dan iman ini bisa batal sebagaimana sholat dan ibadah yang lain juga bisa batal. Kalau seumpama kita riya’, na’udzubillah, dalam sholat Jum’at ini maka yang batal hanya ibadah Jum’at ini saja. Nah, ingat ini perbedaan riya’ dengan syirik. Syirik membatalkan seluruh amal ibadah, hingga tidak ada yang tersisa. Kecuali jika kita bertaubat, kembali kepada Allah SWT dan mengulang kembali syahadat kita. Tapi kalau riya’ hanya membatalkan ibadah kita yang kita lakukan saat itu. Sholat Jum’at riya’, batal sholat Jum’atnya namun yang lainnya tidak. Tidak sholat Shubuhnya, sholat Asharnya, berpuasa tidak, berinfaq juga tidak. Tapi kalau kemusyrikan-kemusyrikan tadi, kekufuran-kekufuran tadi, itu akan membatalkan semua amal kebaikan kita. Oleh karena kaum Muslimin rahimakhumullah, mari kita wanti-wanti.

Kemudian juga, iman itu juga bisa naik dan bisa turun. Jika tadi kita bicara iman bisa batal, sekarang iman bisa naik bisa turun. Bagaimana kita memperbaiki keadaan iman kita agar selalu naik? Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjelaskan melalui ketaatan. Iman akan bertambah kualitasnya dengan ketaatan-ketaatan yang kita lakukan. Dengan sholat Jum’at yang kita lakukan sebelum khotib naik mimbar, atau sebelum mu’adzin mengumandangkan adzan. Sebab kalau mu’adzin menyuarakan adzan dan khotib sudah naik mimbar, tidak akan dicatat lagi oleh malaikat sebagai sholat Jum’at. Semua ibadah ini, baik caranya,waktunya kita lakukan dengan disiplin, ini juga akan meningkatkan kualitas iman kita.

Oleh karena itu, ibadah kita harus dilipatgandakan. Apakah ibadah hajji dan kita berdzikir mengingat kepada Allah SWT, kita puji Allah SWT dalam hati kita. Atau dengan ibadah lisan, kita membaca Al Qur’an, kita berdzikir, kita bertasbih, kita melakukan ucapan yang baik-baik, berikan nasihat. Atau amal perbuatan, kita ruku’, kita bersujud. Atau dengan harta yang kita berikan di jalan Allah SWT. Semua ini akan meningkatkan kualitas keimanan kita.

Tapi sebaliknya, kalau maksiat yang kita lakukan, iman akan turun derajatnya kualitasnya, sedikit demi sedikit jika kita tidak bisa me-rem diri kita dalam bermaksiat kepada Allah SWT. Dan bahkan bukan hanya bisa berkurang, bahkan bisa habis dan bisa minus, kalau kita tidak bisa mengendalikan diri kita terjebak dalam durhaka kepada Allah SWT, durhaka kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, durhaka kepada orang tua. Kalau maksiat-maksiat itu terus kita lakukan dan tidak kita rem, ketahuilah walaupun kita melakukan amal ibadah juga namun kualitas keimanan kita semakin hari semakin buruk.

Oleh karena itu, jama’atul Muslimin rahimakhumullah, perlu kita manage diri kita. Perlu kita manage waktu kita. Perlu kita buatkan dalam hidup kita dua poin, yaitu amal kebaikan yang harus terus kita tingkatkan dan amal keburukan yang harus kita tinggalkan perlahan-lahan. Katakanlah masih terbiasa berbohong, cobalah tinggalkan kebohongan itu dalam segala hal. Kenapa berbohong itu buruk? Karena kata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, berbohong itu adalah sumber, induk dari segala kejahatan. Sedangkan kejahatan itu yang akan menggiring kita kepada neraka Allah SWT. Na’udzubillah.

Kita tidak mau, suatu hari kita beramal baik namun dibatalkan oleh amal buruk kita. Lalu bagaimana nanti hasilnya? Padahal timbangan Allah SWT nanti Maha Adil, bahkan Allah berfirman:

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (٥) فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (٦) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (٧) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (٨) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (٩) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (١٠) نَارٌ حَامِيَةٌ (١١)

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al Qaari’ah:5-11)

Yang perlu kita kejar adalah bagaimana melipatgandakan deposito amal ibadah kita dan kita tahan perlahan-lahan, step by step, selangkah demi selangkah, poin per poin, dosa-dosa dan keburukan-keburukan. Dengan demikian, insya’ Allah iman kita semakin hari semakin meningkat bahkan sampai tingkat dimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam katakan, kita rasakan lezatnya keimanan. Karena iman perlu dirasakan lezatnya, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda “Ada tiga perkara yang bilamana ada dalam diri seseorang, ia akan merasakan lezatnya keimanan. Pertama, hendaklah Allah dan RasulNya lebih ia cintai ketimbang yang lainnya termasuk dari dirinya sendiri. Kedua, tidak mencintai seorang Mu’min kecuali karena Allah SWT.” Bukan karena pangkatnya tinggi, bukan karena hartanya banyak. Tidak ada kecuali karena Allah SWT, ukhuwah Islamiyyah. “Ketiga, ia membenci segala macam bentuk kekufuran,” apakah itu kekufuran dalam keyakinan, kekufuran lisan maupun kekufuran perbuatan, ia membenci di dalam hatinya “sebagaimana ia membenci jika dilempar ke dalam api neraka.”

Oleh karena itu jama’ah Muslimin rahimakumullah, bahwa iman ternyata bisa batal dan iman bisa naik bisa turun, dan iman harus dirasakan manisnya sehingga kita bisa mudah untuk meningkatkan amal ibadah kita dan menge-rem dosa-dosa yang kita lakukan selama ini.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم ……

إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. أما بعد.

Kaum Muslimin rahimakumullah, kunci dari berbagai program kehidupan kita, keberhasilan kita untuk menerapkan program-program keimanan, program amal ibadah kita, program pekerjaan kita, adalah manajemen waktu. Tanpa kita memanage waktu kita dengan baik, semua itu hanya tinggal khayalan. Tinggal konsep-konsep yang manis untuk dipikirkan, untuk diucapkan, untuk diteorikan, tapi akan gagal dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu Allah SWT berfirman :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr:1-3)

Kita berdoa kepada Allah SWT, semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang selalu memperbaiki keimanan kita, selalu tingkatkan amal sholih kita, dan selalu memberikan tausiyah dan mau dinasihati oleh Al Qur’an dan oleh Sunnah dan juga oleh ucapan-ucapan para ulama kita.