Dialog Ibu Guru PKI Atheis Dengan Wali Murid Muslimah

Publikasi: Selasa, 15 Zulqa'dah 1438 H / 8 Agustus 2017 15:21 WIB

(MTF) – Atheis/Komunisme Paham Yang Cetek, Tapi Berbahaya Bagi Msyarakat Awam

Masa orde lama berkuasa kabarnya paham komunis sedang berjaya. kaum wanita banyak anggak ( arogan ) karena berafiliasi pada Gerwani, dan banyak petani yang takabur setelah bergabung dalam organisasi BTI. Tentu masih banyak organisasi lain yang berafiliasi dengan paham komunis tadi, mulai dari organisasi seniman bernama Lekra, sampai organisasi buruh berlabel SOBSI.

Syahdan di tanah Jawa ada seorang ibu guru anggota Gerwani yang bersemangat mensosialisasikan ajaran atheis komunis yang menyesatkan.

Suatu hari, ia mengajari ideolagi pada anak didiknya. Karena yang ia ajar anak-anak, maka logika yang dipakai adalah logika anak-anak

” Coba anak-anak, mata kalian di pejamkan, dengan tangan ditaruh diatas meja ditengadahkan.”

Anak-anak yang masih ingusan itu langsung mematuhi perintah ibu guru mereka. Semua mata terpejam, tangan ditengadahkan, lantas ibu guru itu kembali memerintahkan:

“Sekarang mintalah kalian kepada Tuhanagar Dia memberikanmut-mutan ( permen ).”
” Wahai Tuhan…..,kami minta mut-mutan,”

Semua berucap mantap, lantas diam menunggu. satu menit, dua menit, tiga menit bahkan lima menit, Tuhan tak kunjung memenuhi permintaan.
Ibu guru lantas menukas:

” Anak-anak…., apakah Tuhan memberi apa yang kalian minta?”
” Tidaaaa…..aak!!!” jawab anak-anak serempak
Guru kembali berkata:

” Sekarang mintalah kalian kepada ibu guru agar di beri mut-mutan.”

kembali anak-anak mengajukan permintaan:

” Ibu guru tolong berikan kepada kami mut-mutan.”

Dengan sigap guru kader PKI ( Komunis ) taat itu bersegera membagikan mut-mutan sesuai permintaan.

Guru yang komunis bin atheis tadi lantas mengekspresikan misi yang sebenarnya dengan bicara:

” Tadi kalian minta mut-mutan kepada Tuhan, tapi Dia tak memberikan. Sebaliknya, ketika kalian minta kepada ibu guru, ibu segera memberikan. Kalian tahu apa sebabnya? Sebabnya, Tuhan memang tidak ada, sehingga tak mampu memberikan apa-apa. Sedangkan ibu guru ada, oleh karena itu dapat memberikan mut-mutan secara merata.”

Sepulang sekolah salah satu murid dengan bangga bercerita pada ibunya, tentang ibu guru yang baik hati, memberikan mut-mutan yang sama sekali tak pernah di berikan Tuhan. Mendengar ajaran menyesatkan, ibu murid yang aktivis organisasi keagamaan bersegera menemui ibu guru anggota Gerwani tersebut. Ibu murid dan ibu guru akhirnya terlibat dalam debat adu argumantasi.

Terjadilah sebuah dialog adu argumentasi antara ibu guru PKI atheis dengan orang tua murid muslimah. Ibu murid menerangkan bahwa bumi dan segala isinya adalah bukti ciptaan Ilahi, tapi ibu guru tidak mayakini. bagi ibu guru, apa yang disebut Tuhan sangat sulit untuk di buktikan. Tuhan hanya sebuah rekaan, sedangkan alam semesta hakekatnya ada dengan sendirinya, melalui proses alamiah tanpa ujung dan tiada pangkal.

Ibu guru PKI atheis nyerocos mengemukakan sederet pertanyaan
” Apakah Tuhan itu menjelma dalam wujud manusia, punya rambut, kuping, hidung dan penglihatan? Ataukah Tuhan itu seperti binatang, tumbuhan, atau seperti benda-benda langit di awang-awang?”

” Tidak. Tuhan tidak menyerupai apa-apa dan siapa-siapa. kalau Tuhan menyerupai sesuatu berarti dia bukan Tuhan. Tuhan berbeda dengan segala hal dari makhluk-Nya. Dia Esa dalam segala-galanya, baik dalam Eksistensi-Nya, Dzat-Nya, maupun Sifat-Nya,” jawab ibu murid.

Debat berlangsung lama, ibu murid telah banyak memberikan argumentasi, tetapi ibu guru atheis tetap tak meyakini
” Sekarang begini ” kata ibu murid
” Gambarkan aku alam dunia dilengkapi isinya.”

Ibu guru memang berbakat seni, oleh karenanya secara cepat menyelesaikan lukisan bumi lengkap dengan isi, mulai dari hewan sampai pepohonan, dari persawahan hingga pegunungan.

Setelah selesai, ibu murid langsung bertanya, pura-pura bingung
” Anda sendiri di mana?”

Ibu guru segera menambahkan gambar dirinya lantas berkata:
” Inilah saya.”

Ibu murid lantas menukas:
” Ini bukan anda, tapi hanya gambar anda.”

Ibu guru terperangah, terus menghapus gambar dirinya.

Tapi ibu murid kembali bertanya:
” Anda sendiri mana?”

Ibu guru kembali melukis dirinya. Namun ibu murid kembali berkata:
” Itu bukan anda, tapi hanya gambar anda. Anda dengan gambar anda jelas berbeda.”

Ibu guru PKI Atheis bingung tak mampu menjelaskan, lantas berkata pelan:
” Saya pencipta lukisan ini, oleh karenanya mustahil saya menjadi bagian dari gambar yang ciptakan ini. Karena eksistensi saya dan hasil karya saya jelas berbeda. Jika saya ada dalam gambar ini, itu pasti bukan saya, tetapi hanya sekedar gambar saya saja.”

Ibu murid lantas menimpali:
” Eksistensi Tuhan terhadap alam ciptaan-Nya, dapat di ibaratkan dengan eksisitensi anda terhadap gambar ciptaan anda. ( 1 ) Anda ada, tetapi tak mungkin menjadi bagian integral dari gambar ciptaan anda. Tuhan juga begitu, Dia ada tapi mustahil menjadi bagian dalam alam semesta hasil ciptaan-Nya. ( 2 ) Anda tetap ada kendati tak tercantum dalam gambar hasil lukisan anda. Begitu juga, Tuhan tetap ada kendati tak berada dalam alam hasil ciptaan-Nya. ( 3 ) Anda dapat berbuat apa saja terhadap gambar alam yang anda buat. Tuhan pun dapat berbuat apa saja terhadap alam yang Ia cipta. ( 4 ) Keberadaan anda tak bergantung pada gambar buatan anda. Tuhanpun keberadaan-Nya tak bergantung pada alam ciptaan-Nya ( 5 ) Terlepas apakah gambar itu sadar atau tidak bahwa anda ada, dan anda yang membuatnya, anda tetap ada. Begitu juga Tuhan, terlepas alam atau isinya ( termasuk anda ) sadar atau tidak bahwa Tuhan ada, Dia yang membuat anda, Tuhan tetap ada.”

Ibu guru yang Komunis bin atheis terbengong melongo, lantas menunduk malu. Logika dan rasionalitas yang ia junjung tinggi berpijak pada ajaran komunis yang atheis ( anti Tuhan ) ternyata keok ( kalah telak ) oleh logika ketuhanan yang lebih agung dari ibu si murid tadi. Akhirnya ia bingung, linglung, segera pulang kampung.

Sumber: ( Kisah Hikmah – Dhurorudin Mashad. 2002 )