Character Building

Publikasi: Kamis, 21 Zulhijjah 1433 H / 8 November 2012 10:02 WIB

Oleh : Ust. Fathuddin Ja’far

character-buildingCharacter Building dikenal luas dalam dunia pengembangan sumber daya manusia sebagai proses pembentukan “karakter/watak” seseorang. Para ahli sepakat bahwa seseorang yang tidak berkarakter atau lemah karakternya mudah terpengaruh oleh lingkungan atau pergaulan. Jika lingkungannya buruk, maka ia akan mudah menjadi bruk pula. Demikian pula masyarakat atau bangsa yang tidak memiliki karakter mudah dijajah dan dieksploitasi oleh kaum imperialis untuk kepentingan ideologi, ekonomi dan berbagai kepentingan lainya. Sedangkan eksploitasi dan penjajahan itu adalah kejahatan dan kezaliman, apapun bentuknya dan sebesar apapun skalanya.

Di era globalisasi sekarang ini nampak dengan jelas betapa kuatnya domninasi negara-negara maju secara ekonomi dan teknologi terhadap negara-negara yang mereka namakan miskin atau berkembang. Dominasi tersebut sebenarnya “penjajahan” yang dibungkus dengan kalimat “Kerjasama Ekonomi, Budaya, Teknologi” dan sebagainya. Indonesia misalnya, dikenal dengan negara Muslim terbesar di dunia dengan penduduk Muslim sekitar 200 juta jiwa. Pada kenyataanya secara pemikiran, budaya, ideology, pendidikan dan hukum – semuanya -, sekularisme dan westernismelah yang mendominasi kehidupan umat Islam negeri ini sejak hampir 4 abad belakangan, mulai dari hal-hal yang menyangkut individu, keluarga, masyarakat sampai kepada sistem hukum dan pemerintahan. Demikian pula dengan ekonomi, maka sistem kapitalismelah yang diterapkan. Kalaulah bukan karena menara-menara masjid yang tersebar di wilayah Nusantara dan suara azan yang berkumandang setiap waktu shalat masuk khususnya di kota-kota besar, nyaris negeri ini kehilangan identitas keislamannya. Sebab utamanya tak lain umat Islam di negeri ini dan juga di negeri Muslim lainnya kehilangan “karakter” mereka sebagai Muslim yang sesungguhnya.

Sebagimana yang kita ketahui bahwa Islam hadir untuk membetuk “karakter” pengikutnya agar memiliki “karakter” yang kuat dan lurus. “Karakter” yang kuat dan lurus berfungsi untuk mempertahankan jati diri manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia di jagad raya. Dengan terpeliharanya karakter yang kuat dan yang lurus itulah umat Islam mampu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa karakter Islam, umat Islam akan merugi di dunia dan di akhirat.

Karena Islam itu datang dari Allah, maka konsep Islam dalam character building adalah yang terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Islam telah berhasil memerdekakan manusia Muslim selama lebih kurang 13 abad lamanya dari berbagai bentuk penjajahan dan eksploitasi yang dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia. Pada waktu yang sama, umat Islam hanya tunduk dan patuh kepada Tuhan Pencipta mereka, yakni Allah Subhanahu Wata’ala. Allah menjelaskan:

صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

Shibghah (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghah -nya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (Al-Baqarah : 138)

Sesungguhnya hakikat “Character Building” dalam Islam ialah suatu proses pembentukan karakter agar menjadi hamba Allah sejati. Sedangkan hamba Alah sejati ialah yang mentauhidkan (mengesakan)-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dan dengan siapapun dalam menjalankan kehidupan di dunia ini. Karakter hamba Allah sejati tersebut sesuai dengan fitrah dasar yang diciptakan Allah dalam diri manusia; yakni memiliki kecenderungan yang kuat untuk menerima dan menikmati semua kebenaran Allah seperti yang dijelaskan-Nya:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (yang demikian itu adlah) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada ciptaan (fitrah) Allah. (Itulah) agama yang lurus (Islam); tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar-Rum : 30)

Maka, Muslim yang berkarakter Islami ialah yang memiliki kepribadian yang kuat dan terlepas dari pengaruh berbagai sistem dan akhlak yang tidak sesuia dengan fitrah dasarnya. Pada waktu yang sama, nilai-nilai fitrah yang semuanya sudah tercantum dalam ajaran Islam, dapat pula ia terapkan dalam dirinya sehingga menjadi karakter dan kebiasaan hidup sehari-hari. Muslim seperti inilah yang bebas dan merdeka karena memiliki karakter yang kuat dan lurus serta tidak dapat dipengaruhi atau dikuasai oleh setiap pemikiran, budaya, atau trend yang berkembang dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan fitrah dasar manusia yang diciptakan Allah. Sebaliknya, Muslim yang tidak memiliki karakter yang kuat dan lurus mudah dijajah, didominsai dan dieksploitasi oleh pemikiran, budaya, atau trend yang berkembang dalam masyarakat kendati tidak sesuai dengan fitrah dasarnya.

Sebab itu, Rasul Sallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا

Janganlah kalian sekali-kali menjadi “imma’ah” (pak turut), maka kalian berkata : Jika manusia baik maka kami akan baik dan jika manusia zalim, maka kami akan zalim pula. Akan tetapi, kuatkanlah diri/mental kalian dan jika manusia baik, maka kalian harus baik dan jika manusia buruk maka kalian tetap tidak zalim/baik. (Riwayat Tirmidzi)

Rasul Muhammad sallallahu alaihi wasallam adalah yang paling kuat dan lurus karakternya. Sebesar apapun tantangan hidup yang dhadapi, Beliau tetap konsisten berada dalam kebenaran yang diturunkan Allah kepadanya, kendati seluruh masyakat memusuhinya dan bahkan mengancam akan membuhnuhnya. Sebaliknya, bujuk rayu tahta, harta dan wanita tidak sedikitpun menggoyahkan niat dan sikap Beliau dari berpegang teguh kepada al-Haq (kebenaran) yang Allah turunkan. Sebagai manusia, memang Nabi Muhammad pernah juga berfikir untuk sedikit toleransi terkait prinsip Tauhid dan Ubudiyah yang Allah gariskan sebagai taktik untuk melunakkan sikap musuh-musuhnya. Faktanya, Beliau ditegur Allah dengan firman-Nya:

وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا (73) وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75)

Nyaris mereka menyimpangkan engkau dari firman yang kami wahyukan kepadamu agar kamu mengada-adakan sesuatu terhadap kami dengan selainnya (Al-Qur’an). Dan saat itu (kalau terjadi), mereka akan angkat kamu sebagai sahabat dekat. (73). Dan jika tidak kami kokohkan perinsipmyu, sungguh engkau sedikit demi sedikit bersandar kepada mereka. (74) (Jika terjadi), maka Kami pasti menimpakan padamu (azab) berlipat ganda di dunia dan setelah mati, kemudian engkau tidak akan mendapat pertolongan Kami. (Al-Isro’ : 73 – 75)

Pertanyaan berikutnya ialah, bagaimana cara menanamkam karakter tersebut, apa saja langkah yang harus dilakukan dan apasaja keuntungan yang kita raih jika kita memiliki karakter Islami yang kuat dan lurus itu? Insya Allah jawabannya pada artikel berikutnya…
Allahu A’lamu bish-shawab…