Diyat dalam Pandangan Islam

Publikasi: Ahad, 15 Rabiul Awwal 1437 H / 27 Desember 2015 06:35 WIB

(MTF) — Tulisan ini masih membahas kitab “Al-Fiqhul Muyassar, Fi Dhou-il Kitabi Wassunnah”, (Fiqih Praktis, Sesuai Cahaya Al-Qur’an dan Assunnah). Tulisan ini akan membahas bab tentang Diyat dalam Pandangan Islam.

Pertama; Pengertian Diyat

Secara bahasa diambil dari kata kata diyat (دِيَةٌ ) berasal dari kata “wadâ – yadî – wadyan wa diyatan”( وَدَى يَدِى وَدْيًا وَدِيَةً), yaitu apabila diberikan diyat bagi yang terbunuh, jamaknya diyaaat (denda). Secara defenisi, harta yang diberikan kepada yang menerima kejahatan dari orang yang berbuat kejahatan atau kepada walinya disebabkan oleh satu kejahatan. Jadi harta atau uang yang diterima dari pelaku kejahatan kepada orang yang dijahati atau kepada walinya. Diyat dinamakan juga al=aqlu, nama dari onta karena si pembunuh ketika mengumpulkan diyatnya dari onta lalu dia mengikat onta di halaman wali orang yang dia bunuh tersebut kemudian dia serahkan.

Kedua; Dalil Disyariatkannya Diyat serta Hikmahnya

Diyat adalah wajib berdasarkan kitab sunnah dan ijma’ para ulama, adapun dalam kitab sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surah An-Nisa, 92.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dan tidak patut bagi seorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah (hendaklah) dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) membebaskan pembayaran. Jika dia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang beriman, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Dan jika dia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barang siapa tidak mendapatkan (hamba sahaya), maka hendaklah dia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tobat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (An-Nisa 92)

Jadi Al-Qur’an yang telah mensyariatkan memberikan harta tertentu kepada orang yang dianiaya atau kepada keluarganya.

Baca update lainnya dari MTF:

  1. Seputar Hukum Diyat (Denda) dalam Islam
  2. Sumpah dalam Pandangan Syariat

Adapaun dari hadits, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيْلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَل

Barangsiapa yang keluarganya terbunuh maka ia bisa memilih dua pilihan, bisa memilih diyat dan bisa juga memilih pelakunya dibunuh (qishâsh),” (HR al-Jama’ah).

Hadits Amar bin Hazm dalam surat yang ditulis kepada nabi sallallahu alaihi wasallam menjelaskan batas dan takaran diyat.

Para ulama juga sepakat bahwa diyat itu juga wajib.

Adapun hikmah dari diyat adalah;

  1. Menjaga nyawa agar orang tidak mudah membunuh orang lain
  2. Menjaga darah seseorang
  3. Sebagai peringatan dan teguran terhadap orang yang mudah menumoahkan darah seseorang

Ketiga; kepada siapa wajib diyat dan siapa yang menanggunnya

Siapa yang menghilangkan manusia atau sebagian dari fisiknya maka ia tidak lepas dari salah satu dua perkara yaitu,

Jika kriminalitas yang dia lakukan merusak nyawanya dengan sengaja maka wajib diyat, kalau di maafkan oleh keluarganya diyat tetap tapi qisasnya yang dimaafkan, seperti sengaja memukul dengan alat-alat yang bisa mematikan. Kalau di maafkan oleh keluarga maka qishasnya batal. Adapun jika menghilangkan sesuatu maka wajib menggantinya. Allah menyebutkan “wala taazirotu wazirotun ukhro…..dosa itu tidak bisa ditanggung oleh orang lain”.

Adapun apabila pembunuhan itu terjadi karena salah atau mirip disengaja maka diyat wajib kepada si pembunuh, sebagaimana hadits Rasulullah di atas;

Membunuh karena kesalahan terjadi dalam banyak kasus. Melakukan kejahatan yang tidak sengaja mendapat udzur, pelakunya wajib dihibur dan diberi keringanan berbeda dengan orang yang melakukan dengan sengaja. Pelaku yang sengaja dia harus membayar diyat sebagai tebusan bagi dirinya karena dia wajib diqishos, kalau sipembunuh dimaafkan oleh keluarga yang dibunuh dia hanya mendapatkan keringanan membayar diyat dan tidak perlu dilakukan qisos.

Keempat; macam-macam diyat dan batasan pembayaranya

Pada dasarnya diyat itu harus dibayar dengan onta sebagaimana sabda Rasulllah, kehilangan setiap nyawa muslim harus dibayar dengan 100 onta, untuk satu orang seratus onta. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah, Adapun pembunuhan bersalah atau mirip dengan disengaja maka tetap dia harus dijilid dan ditambah 100 ekor unta.

Adapun jika disengaja maka dia harus mendapat qishas dan 100 ekor onta, sedangkan yang mirip sengaja atau tidak disengaja maka dia harus dijilid/pukul dan memberikan 100 ekor onta.

Diriwayatkan dari Amr bin Syuaib, dari bapaknya dari kakeknya berkata, “Dulu nilai diyat di zaman Rasulullah itu sekitar 800 dinar atu 8000 dirham. Demikian juga berlanjut sampai Umar menjadi khalifah dan dia berkhotbah,
“Ingatlah onta sekarang telah menjadi mahal, lalu di putuskan bagi orang kaya diyatnya dinaikkan menjadi 1000 dinar, bagi yang memliki uang perak 12000 yang sebelumnya 8000, bagi yang punya sapi 200 ekor, bagi yang punya kambing 2000 kambing.”

Oleh karena itulah dasar pembayaran diyat adalah onta, kalau tidak ada onta baru pillihan sebagaimana dikatakan umar, hal-hal yang telah disebutkan selain onta merupakan hal-hal yang dianggap senilai 100 ekor onta, disinilah ulama mengeluarkan qiyas. Hal ini merupakan bagian dari ijtihad, Umar tidak merubah tetapi membandingkan (qiyas).

Dalam Islam ada kelonggaran, tetapi itu semua hak dari ulama untuk menentukannya. Ketika umar menerapkannya para ulama tidak memprotes padahal para sahabat waktu itu ada dan mereka hanya diam. Maka inilah yang disebut dengan ijma sahabat.

Kelima batas-batas diyat

  1. Diyat untuk seorang muslim merdeka yang dibunuh adalah 100 ekor onta.
  2. Pembunuhan ahli kitab zimmih atau tidak, maka diyatnya separuh bagi muslim yang merdeka yaitu 50 ekor onta.
    hal ini berdasakan hadits dari Amr bin Syuaib bin Jiddi, Rasululullah berkata; “Denda onta terhadap ahlu zimmah mereka separuh dari denda seorang muslim,” dalam redaksi lain, “Diyat untuk orang yang sedang kontrak perjanjian dengan orang Islam maka separuh dari oarng muslim.”
  3. Diyat seorang wanita muslimah merdeka separuh dari diyat laki-laki muslim yaitu 50 ekor onta, sebagaimana disebutkan dalam kitab Ibnu Hazm.
  4. Diyat seorang Majusi yang merdeka, baik zimmi atau tidak, dan juga agama-berhala lain yaitu 800 dirham
  5. Diyat Majusi perempuan dan orang musrik lainnya separuh dari laki-laki mereka yaitu 400 dirham. Sebagaimana wanita muslimah separuh dari laki-laki muslim.
  6. Diyat untuk janin/kandungan apabila mati karena ibunya dibunuh kemudian janinnya juga mati maka diyatnya 10 persen dari diyat ibunya.
    .

————————————-

* Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF yang diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Diyat dalam Pandangan Islam.