Asmaul Husna Al-Wakil (Maha Mewakili)

Publikasi: Kamis, 5 Jumadil Akhir 1436 H / 26 Maret 2015 11:53 WIB

المقصد الأسنى فى شرح أسماء الله الحسنىTulisan berikut akan membahas salah satu bab dari kitab “Al-Maqshadul Asna fi Syarhi Ma’ani Asmaillah al-Husna” karya Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah. Tulisan berikut akan membahas nama Allah Al-Wakil (Maha Mewakili).

Al-Wakil adalah yang diwakilkan kepadanya berbagai perkara. Sering dikatakan, ni’mal mawla, ni’man nashir wa ni’mal wakil (sebaik-baik penjaga, sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pemelihara).

Ni’mal wakil, yaitu seorang hamba mewakilkan seluruh perkara baik yang mungkin terselesaikan dan tidak bisa terselesaikan. Seperti perkara karena malas untuk beribadah atau perkara cuek terhadap makanan yang halal dan haram. Bila dilihat dalam kehidupan, perkara-perkara itu terbagi menjadi tiga;

  1. Perkara yang dapat dipahami dan diselesaikan dalam waktu cepat. Seperti perkara tidak bisa membaca Al-Qur’an. Perkara ini kecil karena bisa dipelajari dengan metode cepat baca Al-Qur’an.
  2. Perkara yang mungkin dapat diselesaikan tapi membutuhkan waktu, seperti perkara pendidikan anak. Mendidik anak, meski susah tapi jangan berhenti setahun atau dua tahun dan jangan putus asa dalam mendidik anak karena seorang muslim tidak tahu kapan Allah akan memberikan taufik sehingga anaknya menjadi shalih.
  3. Perkara besar, seperti bencana alam dan sakit bertahun-tahun.

Semua penyelesaian perkara itu butuh sandaran dan sandaran terbaik adalah Allah. Pertanyaannya, sudahkah seorang muslim menyandarkan perkaranya kepada Allah. Dalam hal penyandaran urusan kepada Allah, ada dua hal yang perlu diperhatikan:

Rasulullah saw. bersabda, “Orang cerdas itu adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk sesudah mati,” (HR. Tirmidzi).

  1. Seorang mukmin harus bisa mengendalikan hawa nafsunya. Seorang mukmin harus dapat mengendalikan sifat malasnya, ia menahan untuk makan dari yang haram, ia menahan kecenderungan untuk hidup berpoya-poya dan ia menahan kecenderungan untuk melakukan perbuatan maksiat.
  2. Seorang mukmin harus beramal untuk setelah mati, baru setelah itu tawakal kepada Allah. Seorang mukmin harus bisa memastikan bahwa perbuatannya bernilai untuk akhiratnya. Bila ia ingin melakukan acara, ia dapat menilai apakah acara itu bernilai akhirat atau tidak. Di acara itu ada baca Al-Qur’an, dzikir atau tidak. Bila ada nilai akhiratnya maka ia boleh melakukannya, tapi bila tidak ia harus menghindarinya. Untuk itu, sebelum beramal seseorang harus menilai apakah perbuatannya bernilai akhirat atau tidak.

Kedua hal itu adalah sikap orang yang cerdas dan keduanya bertentangan dengan sikap orang yang lemah, yaitu mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah. Ia mengetahui bahwa Allah adalah Maha Pengampun, tapi ia tidak mau melakukan jalan untuk mendapatkan ampunan Allah. Inilah yang disebut dengan berangan-angan kepada Allah.

Allah adalah Maha Al-Wakil bila seluruh perkara diwakilkan kepada-Nya. Tapi bila seseorang cuek, tidak mau mendekati Allah maka Allah juga tidak akan mau menjadi wakilnya. Persoalan yang diwakilkan itu terbagi menjadi dua, yaitu yang diwakilkan hanya sebagian perkaranya dan sesuatu yang diwakilkan semua perkara yang tidak bisa diwakilkan kecuali kepada Allah. Seperti nyawa, tidak bisa nyawa diwakilkan kepada orang. Kesehatan juga tidak bisa diwakilkan kepada dokter, buktinya semakin banyak dokter tapi orang sakit juga semakin banyak. Begitu pula masalah rezki, tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Karenanya masih ada orang miskin. Dengan demikian, seorang mukmin harus mewakilkan semua perkara kepada Allah.

Yang diwakilkan juga terbagi dua; Pertama terbagi kepada yang berhak, tapi bukan karena dzatnya sendiri hanya saja karena sifatnya perwakilan. Maka yang seperti ini tidak sempurna karena ia butuh kepada perwakilan dan perwalian. Kedua, diwakilkan kepada yang berhak karena dzatnya sendiri. Suatu perkara yang tidak akan beres kecuali diwakilkan kepadanya dan hati pun bertawakal kepadanya, bukan karena perwalian dan perwakilan dari sisi yang lain. Ini yang disebut dengan wakil yang mutlak, karenanya Allah adalah Al-Wakil yang mutlak. Perwakilan seseorang kepada-Nya karena ia butuh kepada Allah yang Maha Al-Wakil.

Bila ada yang mengumumkan, “Siapa orang yang mau selesai urusannya, silahkan datang ke sini.” Pastilah akan banyak orang berdatangan. Sedangkan Allah, tanpa diumumkan Dia tetap Al-Wakil.

Adapun sikap seorang hamba, sudah sejauh manakah ia mewakilkan diri dan kehidupannya, keluarganya dan umatnya kepada Allah. Bila ada ancaman, ia akan mewakilkan kepada Allah. Untuk itu, orang yang merasa mendapatkan ancaman besar seperti syiah, itu karena ia tidak pernah mewakilkannya kepada Allah. Karenanya dalam sebuah do’a, Rasulullah saw. mengajarkan, “Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kami harapkan. Jangan Engkau wakilkan diri saya kepada diri saya sendiri tanpa-Mu walau hanya sekejap mata atau kurang dari itu.” Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya mewakilkan sekecil apapun urusannya kepada Allah. Biarkanlah Allah yang mengatur.

Wakil itu sendiri terbagi kepada yang mampu memenuhi semua yang diwakilkan kepadanya dengan sempurna tanpa sedikitpun kekurangan. Ada juga yang tidak mampu memenuhi semuanya. Wakil yang mutlak yaitu yang semua perkara bisa diwakilkan kepadanya dan dia akan melaksanakannya dengan sempurna, dan hanya Allah yang bisa melakukan itu.

Dari sini dapat diukur, sejauh mana pemahaman seseorang terhadap nama Allah Al-Wakil. Bila ia mewakilkan seluruh urusannya maka pemahamannya terhadap Al-Wakil tinggi. Tapi bila ia mewakilkan perkaranya hanya ketika ingat saja, itu menunjukkan sebatas itu pemahamannya terhadap nama Allah Al-Wakil. Karena sikap dan pemahamannya itu paralel.

Jika Allah Al-Wakil maka semua perkara dapat terselesaikan, hanya saja terkadang polanya tidak dipahami oleh manusia. Seseorang sudah bertawakal kepada Allah tapi kenapa masih seperti ini? Itu menunjukkan bahwa polanya Allah tidak mau seperti itu. Allah berbuat sesuai yang dikehendaki. Sehingga jangan karena seseorang sudah mewakilkan seluruh perkaranya lalu ia mau hasilnya seperti yang ia minta, maka yang seperti itu tidak wakil karena pola dan bentuknya terserah kepada Allah, bagaimana Allah akan menyelesaikan urusannya. Oleh sebab itu, Al-Wakil itu terkait dengan iman kepada Allah. Bila imannya tipis, hanya tawakal kepada Allah tanpa usaha maka ia akan menjadi orang yang suka menghujat Allah.

Jadi seseorang harus secara totalitas menyerahkan urusannya kepada Allah, termasuk hasilnya. Dan diiringi dengan mengendalikan hawa nafsunya dan beramal maksimal untuk setelah mati, yaitu akhirat.

====================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Asmaul Husna Al-Wakil (Maha Mewakili).