Asmaul Husna Al-Muhyi Al-Mumit (Maha Menghidupkan dan Mematikan)

Publikasi: Kamis, 25 Rajab 1436 H / 14 Mei 2015 07:10 WIB

المقصد الأسنى فى شرح أسماء الله الحسنىTulisan berikut  akan membahas salah satu bab dari kitab “Al-Maqshadul Asna fi Syarhi Ma’ani Asmaillah al-Husna” karya Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah. Tulisan berikut  akan membahas nama Allah Al-Muhyi Al-Mumit (Maha Menghidupkan dan Mematikan).

Nama Allah Al-Muhyi adalah Yang Maha Menghidupkan. Berbicara tentang menghidupkan berarti berkaitan dengan nyawa. Sedangkan Al-Mujid kaitannya dengan barang, mengadakan sesuatu barang yang sebelumnya belum ada. Dari sesuatu yang ada itu Allah hidupkan sehingga Dia disebut dengan Al-Muhyi. Setelah manusia dihidupkan, kemudian mati dan hancur maka Allah yang Maha Al-Mu’id akan mengembalikannya. Oleh sebab itu disebut penciptaan dua kali, yaitu penciptaan fisik, bukan penciptaan ruh karena penciptaan ruh hanya sekali. Ketika telah Allah tiupkan ruh maka ruhnya tidak akan mati karena manusia mati pada hakekatnya yang mati adalah jasadnya. Ruh adalah energi yang membuat fisik manusia bergerak, oleh sebab itu orang mati tidak bisa bergerak. Allah menghidupkan dari yang mati, beku dan kaku menjadi hidup dan bergerak.

Seperti biji padi yang ditanam. Satu biji padi yang dibiarkan tidak akan tumbuh, ia baru akan tumbuh ketika ditanam di tanah. Allah lah yang menghidupkan padi itu. Begitu juga telor, telor yang dibiarkan tidak akan bergerak-gerak. Tapi ketika dierami oleh induknya maka mulailah ada kehidupan. Fisiknya yang tidak ada, hanya terdiri dari putih telor dan kuningnya Allah rubah menjadi bulu, mata, tulang, kaki dan lainnya. Tidak cukup sampai di situ, Allah lalu meniupkan ruh untuk menghidupkannya. Tanpa ruh ia hanya akan seperti boneka dan patung. Ketika Allah cabut nyawanya, maka matilah ayam itu. Itu lah sebabnya Allah disebut Al-Muhyi Al-Mumit. Antara nama Allah Al-Mubdi’ Al-Mu’id dengan Al-Muhyi Al-Mumit berbeda, tapi saling berkaitan. Al-Mubdi’ mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada. Adapun yang ada menjadi bergerak Allah kasih nyawa maka disebutlah Allah Al-Muhyi. Adapun yang ada bernyawa kemudian mati ketika dicabut nyawanya maka disebutlah Allah Al-Mumit.

Bila manusia mengingat proses itu, maka ia tidak akan berani berbuat macam-macam kepada Allah karena kunci nyawanya ada di tangan Allah. Ruhnya berada di tangan Allah Ta’ala. Contoh kecilnya saja, ketika manusia tidur di malam hari maka ketika itu Allah tahan sementara nyawanya. Bila Allah kirm lagi nyawanya maka ia bisa hidup kembali, tapi bila ditahan terus maka ia akan mati. Untuk itu tidak dianjurkan untuk tidur lama-lama. Adapun ashabul kahfi yang tidur hingga ratusan tahun, itu adalah Allah yang menidurkan untuk menyelematkan mereka dari sistem kufur yang bertahan 3 abad lebih. Karenanya, normalnya manusia tidak boleh tidur lama-lama.

Orang yang tidur tetap saja argo meternya dihitung dalam keadaan hidup, artinya ia tetap ada kewajiban untuk beramal. Bila tidurnya lama maka banyak kewajiban yang tidak dapat dilakukan. Seharusnya ia dapat berdzikir, beramal dan lainnya namun itu semua tidak bisa dilakukan karena tidur.

Bila aturan manusia tidur 8 jam maka kewajiban yang dapat dilakukannya sangat sedikit, bahkan shalat shubuh juga terlewatkan. Maka wajar bila shalat shubuh hanya satu baris, itu pun tidak penuh. Aturan demikian salah resep.

Manusia yang tidur dan tidak beraktifitas maka dianggap mati, atau orang tidak tidur tapi tidak berdzikir dan beribadah, waktunya hanya digunakan untuk nonton maka itu juga dianggap mati.

Al-Muhyi dan Al-Mumit berkaitan dengan Al-Ijad, karena yang Allah adakan itulah yang Allah hidupkan dan matikan. Apa yang ada kemudian Allah hidupkan maka proses itu disebut menghidupkan atau Al-Muhyi, dan proses mematikan dari yang hidup disebut dengan Al-Mumit. Allah berfriman;

الَّذِى    خَلَقَ  الْمَوْتَ    وَالْحَيَوٰةَ    لِيَبْلُوَكُمْ    أَيُّكُمْ    أَحْسَنُ    عَمَلًا    ۚ    وَهُوَ    الْعَزِيزُ    الْغَفُورُ    ﴿الملك:٢﴾

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (Al-Mulk: 2).

Kenapa dalam ayat di atas Allah terlebih dahulu menyebut kata kematian, baru kemudian kehidupan? Itu disebabkan sebelum manusia ada, manusia mati dan baru kemudian Allah hidupkan. Sebelum ruh ditiupkan dalam jasad manusia, meski sudah ada jasadnya maka ia tetap mati. Itu semua bertujuan untuk menguji manusia siapa yang paling baik amalannya. Karenanya, jangan banyak tidur.

Di dunia ini ada dua hal yang membuat banyak orang kehilangan banyak kebaikan, yaitu tidur dan nonton. Apalagi sekarang nonton dapat melalui telapak tangan berupa HP. Ada orang shalat, baru saja selesai salam shalat ia langsung memegang HP untuk membaca pesan dan lainnya. Waktu kebaikan untuk berzikir menjadi hilang gara-gara nonton.

Dalam penelitian, masyarakat yang paling banyak nonton adalah masyarakat Rumania. Rumania merupakan negara yang paling banyak menghasilkan novel dan film-film sehingga rata-rata warganya bisa nonton sampai 8 jama dalam sehari. Bila dikalkulasi, tidur 8 jam dan nonton 8 jam maka waktu sisanya tinggal sepertiga lagi. Itu belum ditambah waktu yang digunakan ditoilet dan sebagainya. Sehingga waktu yang digunakan untuk kebaikan hanya tersisa sedikit saja, bahkan tidak tersisa.

Oleh sebab itu, seorang hamba harus selalu ingat bahwa hidup itu terbatas, sebentar lagi akan mati karena Allah Maha Al-Muhyi dan Al-Mumit. Untuk itu, berikan yang terbaik untuk Allah. Maksimalkan waktu yang ada. Waktu 24 jam itu tidak bisa ditambah, tapi bisa berkurang. Waktu bisa berkurang dengan nonton, bengong dan lainnya. Setiap hari Allah putar waktu 24 jam itu.

Maka orang yang bisa memaksimalkan waktunya dengan amal shaleh ia akan menjadi orang yang sukses, adapun selain itu disebut gagal. Rasulullah saw. bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang,” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ketika sehat ia tidak mau shalat jama’ah ke masjid, akhirnya ia pun terkena strok. Ketika telah terkena strok dan ingin ke masjid, ia tidak lagi bisa berjalan.

Aturan di negeri ini menciptakan waktu kosong sangat berbahaya. Dalam sepekan ditetapkan libur dua hari, jadi hampir 1/3 atau 25% dari waktunya hilang. Yang dimaksud di sini adalah setting waktunya, karena hari libur orang libur juga ibadahnya. Bekerja boleh libur, tapi ibadah tidak boleh libur. Untuk itu, lebih baik polanya diganti dengan istirahat. Karenanya perlu untuk setting hidup yang membuat hidup lebih hidup menjadi hidup yang sebenarnya untuk ibadah.

Libur tanggal merah bila ditotal bisa puluhan hari libur, kalau dalam sepekan 2 hari libur maka dalam satu bulan 8 hari libur sehingga dalam satu tahun 96 hari libur, itu belum termasuk tanggal merah karena naiknya Isa Al-Masih dan lainnya. BIla waktu liburnya itu digunakan untuk jalan-jalan sheingga ibadahnya terlupakan, maka banyak hari dilewatkan untuk hal sia-sia.

Karenanya umat Islam perlu komunitas untuk melawan itu, yaitu dengan cara tiada hari libur. Hari istirahat ada, misal satu hari dalam satu pekan maka itu boleh. Istirahat dari mencari uang, tapi ibadah dan dakwah tetap jalan dan meningkat. Bahkan kalau perlu, waktu untuk mencari uang dua hari saja, sisanya digunakan untuk beribdah dan dakwah.

Waktu seperti ini perlu disetting, kalau tidak maka ketika mati nanti akan menjadi masalah. Allah berfirman;

يٰٓأَيُّهَا    الَّذِينَ    ءَامَنُوا۟    لَا    تُلْهِكُمْ    أَمْوٰلُكُمْ    وَلَآ    أَوْلٰدُكُمْ    عَن    ذِكْرِ    اللّٰـهِ    ۚ    وَمَن    يَفْعَلْ    ذٰلِكَ    فَأُو۟لٰٓئِكَ    هُمُ    الْخٰسِرُونَ    ﴿المنافقون:٩﴾

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi,” (Al-Munafiqun: 9).

Itu disebabkan jaminan surga hanya diperuntukkan bagi orang beriman yang beramal shaleh. Allah berfirman;

إِلَّا    الَّذِينَ  ءَامَنُوا۟    وَعَمِلُوا۟    الصّٰلِحٰتِ

Kecuali orang-orang beriman dan beramal shaleh,” (Al-‘Ashr: 3)

وَأَنفِقُوا۟    مِن    مَّا    رَزَقْنٰكُم    مِّن    قَبْلِ    أَن    يَأْتِىَ    أَحَدَكُمُ    الْمَوْتُ    فَيَقُولَ    رَبِّ    لَوْلَآ    أَخَّرْتَنِىٓ    إِلَىٰٓ    أَجَلٍ    قَرِيبٍ    فَأَصَّدَّقَ    وَأَكُن    مِّنَ    الصّٰلِحِينَ    ﴿المنافقون:١۰﴾

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Al-Munafiqun: 10).

Oleh sebab itu, sebelum kematian datang hendaknya gunakan waktu untuk beramal shaleh karena kematian tidak bisa dimajukan dan diakhirkan.

إِنَّ    أَجَلَ    اللّٰـهِ    إِذَا    جَآءَ    لَا    يُؤَخَّرُ    ۖ    لَوْ    كُنتُمْ    تَعْلَمُونَ    ﴿نوح:٤﴾

Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui,” (Nuh: 4)

Dari dua nama Allah Al-Muhyi dan Al-Mumit ada dua pokok yang dapat ditanamkan pada diri seorang muslim, yaitu Allah telah berikan manusia kehidupan maka harus disyukuri. Dan Allah Al-Mumit yaitu manusia akan Allah matikan maka apa yang harus disiapkan oleh manusia? Maka jawabnya adalah dengan beramal shaleh. Tidak ada yang dapat mematikan dan menghidupkan kecuali hanya Allah. Maka tidak ada lagi peluang untuk main-main, karena argo meternya jalan terus. Dipakai untuk tidur dihitung dan ketika dipakai untuk ibadah juga dihitung, begitu pula ketika dipakai untuk lainnya. Semuanya akan dihitung dan kalkulasinya akan diberikan dalam bentuk kitab. BIla amalnya bagus maka kitabnya akan diberikan dari sebelah kanan. Tapi bila seseorang membuang-buang waktu banyak dan lalai maka bukunya  akan diberikan dari sebelah kiri. Karenanya hidup ini tidak ada yang menakutkan selama waktunya diisi dengan amal shaleh. Berapapun banyaknya amal, terpenting waktunya digunakan untuk iman dan amal shaleh, bukan untuk hal-hal yang melalaikan. Tidak perlu minta dipanjangkan umurnya, apalagi minta panjang umur tapi tidak minta sehat. Sehingga ketika dipanjangkan umurnya 20 tahun, tapi Allah berikan ia sakit lumpuh sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa meski umurnya panjang. Hendaknya orang berdo’a supaya umurnya diberkahi dan dapat berbuat taat kepada Allah. Jangan sampai hidup tanpa tujuan. Oran jaman sekarang, orang sudah pensiun justru waktunya habis digunakan untuk hal sia-sia. Padahal seharusnya, ketika mau finish, ibadahnya dikebut. Oleh sebab itu, orang pensiun itu perlu untuk dicuci otaknya agar tidak ada pensiun-pensiun, tapi yang ada amal dan amal. Sehingga ketika diambil oleh Allah ia dalam keadaan husnul khatimah.

============================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Asmaul Husna Al-Muhyi Al-Mumit (Maha Menghidupkan dan Mematikan).