Asmaul Husna Al-Haq (Maha Benar)

Publikasi: Kamis, 28 Jumadil Awwal 1436 H / 19 Maret 2015 12:01 WIB

المقصد الأسنى فى شرح أسماء الله الحسنىTulisan berikut akan membahas salah satu bab dari kitab “Al-Maqshadul Asna fi Syarhi Ma’ani Asmaillah al-Husna” karya Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah. Tulisan berikut akan membahas nama Allah Al-Haq (Maha Benar).

Nama Allah Al-Haq, yaitu lawan kata dari al-Batil. Terkadang sesuatu itu akan jadi nyata dan mudah dipahami bila dilihat lawan katanya. Seperti siang dapat mudah dipahami karena adanya malam.

Apa saja yang dikabarkan tentang sesuatu hanya ada dua kemungkinan, yaitu batil mutlak atau haq mutlak dan haq dari satu sisi atau batil dari sisi lainnya. Sesuatu yang menyalahi dzatnya adalah batil mutlak dan sesuatu yang wajib adalah haq mutlak. Apabila dzatnya ada, tapi adanya disebabkan dzat lainnya maka ia disebut haq dari satu sisi dan batil dari sisi lainnya. Seperti manusia, keberadaannya adalah haq. Tapi dari sisi lain batil karena keberadaan manusia tergantung dengan Allah. Sesuatu yang dari satu sisi tidak ada wujudnya maka ia adalah batil, tapi dari satu sisi lainnya ia mendapat manfaat dari keberadaannya maka ia adalah haq. Namun dari sisi dirinya sendiri adalah batil. Sebagaimana firman Allah:

Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (Allah),” (Al-Qashash: 88)

Jadi dunia itu hanya ada 3 kemungkinan; Pertama Al-Haq yang adanya tidak tergantung dengan yang lain. Kedua batil karena tidak ada wujudnya. Ketiga karena keberadaannya tergantung dengan yang lainnya. Untuk itu, Al-Qur’an dikatakan Haq karena ia adalah kalamullah. Manusia dari satu sisi disebut Haq karena diciptakan oleh Allah. Hanya saja dalam menjalankan kehidupan manusia dapat mengikuti yang haq atau pun yang batil

Dengan ini dapat diketahui bahwa ada haq hakiki yang tidak tergantung dengan lainnya dan dari dzatnya pula diambil haq segala sesuatu, yaitu Allah Ta’ala.

Perkara haq bisa juga sesuatu yang sudah diketahui akal dan wujudnya ada serta sesuai dengan keberadaannya. Dari segi sisinya ada seperti minyak bumi, orang baru puluhan tahun lalu menemukan minyak bumi tapi bukan berarti sebelum ditemukan minyak lalu minyak itu tidak ada. Dari sisi akal dapat mengetahui sesuatu terhadap apa yang ada pada sesuatu juga bisa disebut haq. Oleh karen itu yang paling haq dari segala yang ada adalah Allah Ta’ala, sebab itu Allah yang paling haq di antara segala yang ada di alam ini. Ilmu yang paling haq adalah ilmu mengenal Allah Ta’ala, “Ketahuilah bahwa tiada tuhan kecuali Allah,” (Muhammad: 19). Ilmu mengenal Allah bahwa Dia sesuai dengan apa yang diketahui, sesuai dengan dzat-Nya dan tidak ada yang serupa selainnya. “Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya,” (Asy-Syura: 11).

Allah ada dan manusia ada, tapi keduanya berbeda. Adanya Allah tidak berawal sedangkan manusia berawal, adanya Allah tidak berakhir sedangkan manusia berakhir. Untuk itu, tidak lah sama ilmu mengenal Allah dengan ilmu selainnya. Manusia mengenal sesuatu selain Allah hanya ketika sesuatu itu masih ada, setelah sesuatu itu tiada maka keyakinan dan pengetahuannya akan berubah. Sebab itu, ilmu tentang sesuatu selain Allah tidak menjadi haq karena ia tidak ada dengan sendirinya, tapi ia ada karena ada yang lain, yaitu adanya Allah. Seperti orang kafir dan muslim, orang kafir tidak meyakini hari akhirat sedangkan orang muslim meyakininya, padahal keduanya sama-sama manusia. Hal itu disebabkan keyakinan itu tergantung kepada Allah. Allah katakan, “Allah yang menanamkan keyakinan itu dalam hati orang-orang beriman.” (Al-Mujadalah: 22).

Ada banyak ucapan yang sering diucapkan, perkataan haq dan perkataan batil. Maka perkataan yang paling haq adalah ucapakan “Tidak ada tuhan kecuali Allah.” Hal itu disebabkan ketuhanan Allah itu ada meski tidak ada manusia, ketuhanan Allah tidak tergantung dengan selain-Nya. Dalam sebuah hadits dikatakan;

Dunia itu terlaknat, dan terlaknat juga apa-apa yang ada di dalamnya kecuali orang-orang yang berilmu atau orang yang belajar, dan Dzikrullah juga yang semisalnya,” [Musnad Asy-Syaamiyyiin no. 163; Mu’jam Al-Ausath no. 4248]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa disebut al-haq bila ada wujudnya, baik bendanya atau wujudnya berupa ilmunya. Seperti manusia mengetahui bahwa Allah ada itu melalui ilmu-Nya sehingga ilmu untuk mengenal Allah adalah ilmu yang paling haq, baik al-Qur’an atau as-Sunnah.

Sesuatu yang paling haq dari segala yang haq yaitu yang wujudya tetap karena dirinya, tidak karena pengaruh dari lainnya. Ia (Allah) dahulu dan selama-selamanya. Mengenalnya merupakan sebuah haq, kesaksian atasnya juga merupakan haq dan semua yang ada ini karena adanya wujud haqiki Allah Ta’ala. Allah tanpa ada manusia tetap ada. Meski semua manusia tidak beribadah kepada-Nya maka itu tidak akan berpengaruh dan Allah tetap akan ada. Beda dengan manusia, bila tidak ada manusia lain yang hormat kepadanya maka ia akan kehilangan kewibawaannya. Itu menunjukkan bahwa Allah tidak butuh untuk disembah, tapi manusia lah yang butuh. Manusia beribadah karena manusia butuh kepada Allah.

Perhatian:

Dengan memahami nama Allah Al-Haq hendaknya manusia selalui melihat bahwa dirinya adalah batil, untuk itu janganlah manusia merasa butuh, berharap, berdoa, takut dan beribadah kecuali kepada Allah Ta’ala.

Seorang hamba meski haq tapi haqnya bukan karena dirinya sendiri, tapi haqnya karena adanya Allah. Keberadaan manusia karena Allah, bukan dirinya sendirinya karena dirinya sendiri batil. Kalaulah yang Maha Haq tidak menciptakannya maka ia tidak akan ada dan batil.

Batil bisa terbagi menjadi dua, batil dari sisi nilainya seperti ucapan dan keyakinan atau batil dari sistem penciptaan. Ciptaan Allah paling haq, tidak ada yang salah karena diciptakan oleh Maha Haq. Bila manusia menciptakan elektronik, perlu ujicoba dan sering salah. Ciptaan Allah sudah final, karenanya tidak ada teori evolusi manusia atau yang dikenal teori darwin. Karena sekali Allah ciptakan manusia haq, kun fa yakun. Darwin sendiri tidak akan bisa protes kenapa matanya ada di depan? Kenapa matanya tidak di belakang supaya terhindar dari copet?.

Maka seseorang yang mengatakan, “Saya adalah haq”, seperti yang sering dikatakan oleh ahli tasawuf dan filsafat. Mereka berpendapat, karena manusia diciptakan oleh Maha Haq manusia juga haq. Pendapat seperti itu salah kecuali bila ada dua takwil. Pertama, ia bermaksud haqnya itu dengan haqnya Allah, bukan hanya sendiri. Tapi takwil seperti ini jauh dari benar karena katanya sendiri tidak mengisyaratkan untuk itu dan ia bukan menjadi kekhususan manusia, tapi hanya kekhususan Allah. Maka bagaimana pula dikatakan bahwa setiap selain haq maka dia adalah haq?

Kedua, dia tenggelam dengan haqnya Allah sehingga ia tidak memberikan ruang selain Allah. Seperti kata syair, “Saya adalah orang yang menginginkan dan siapa saja yang menginginkan, saya dan kami menginginkan spirit yang masuk ke badan kami. Para ahli tasawuf ketika dominasi penglihatan mereka terhadap fananya diri mereka dari sisi dzat maka yang mengalir di lisan mereka adalah nama-nama Allah, juga dalam berbagai ucapan dan kondisi. Maka yang demikian ia disebut haq karena mereka menyaksikan yang haq dengan benar, selain itu hancur dalam dirinya.

Ada diantara mereka yang mendalami nama-nama Allah Ta’ala sehingga muncul ilmu tasawuf. Sebagian mereka ada yang dapat melepaskan diri dari selain Allah Ta’ala. Sebab itu, lisan dan perbuatan mereka tercermin nama-nama Allah Ta’ala. Hanya saja prakteknya seperti ini susah, salah-salah bisa sesat dalam hal ini.

Begitu pula dengan ahli kalam dan teologi yang terpengaruh dengan trinitas dan filsafat Yunani, yang diajarkan di universitas-universitas negeri, ketika mereka jauh dari mencari dalil dan fakta dengan perbuatan. Maka yang mengalir di lisan mereka nama Allah sebagai pencipta, kebanyak manusia melihat segala sesuatu selain Allah Ta’ala mereka memberikan kesaksian terhadap apa yang dilihat. Merekalah yang dikhitab oleh Allah, “Tidakkah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi Allah serta apa saja yang telah Allah ciptakan segala sesuatunya.” Adapun orang-orang yang jujur, mereka tidak melihat sesuatu kecuali Allah Ta’ala. Lalu mereka menyaksikannya. Merekalah yang dikhitab oleh Allah, “Tidakkah cukup bahwa Rab-mu menyaksikan atas segala sesuatu.” Dengan demikian, orang beriman akan menjadikan Al-Qur’an adalah haq.

Kesimpulannya, Allah adalah haq, haq yang nyata. Haq karena keberadaannya ada sendiri, tidak terkait dengan lainnya. Manusia haq juga, tapi keberadaannya terikat. Tanpa Allah manusia tidak haq. Dari sisi penciptaan manusia sudah haq, tapi dari segi keyakinan belum tentu, bisa haq dan bisa juga batil. Untuk itu, seorang mukmin diajarkan agar selalu berdo’a untuk ditunjukkan kepada al-haq (kebenaran) dan diberi kemampuan untuk melaksanakannya.

،اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ
،وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِساً عَلَيْنَا فَنَضِلَّ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang haq itu adalah haq dan berilah kami kemampuan untuk melaksanakannya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.

====================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Asmaul Husna al-Haq (Maha Benar).