Asmaul Husna Al-Hafizh (Maha Memelihara)

Publikasi: Selasa, 12 Jumadil Awwal 1436 H / 3 Maret 2015 09:03 WIB

المقصد الأسنى فى شرح أسماء الله الحسنى(MTF) — Tulisan berikut akan membahas salah satu bab dari kitab “Al-Maqshadul Asna fi Syarhi Ma’ani Asmaaillah al-Husna” karya Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah. Tulisan berikut akan membahas nama Allah Ar-Hafizh (Maha Memelihara).

Sebelumnya telah dibahas nama Allah Al-Kabir, yaitu Yang memiliki kebesaran. Al-Kabir bisa dilihat dari dua sisi, sisi badan dan sisi wujud. Ada ungkapan, “Ia seorang yang kabir”, artinya usianya lebih tua. Tapi hal seperti itu tidak berlaku bagi Allah, itu hanya untuk makhluk selain Allah. Sebab Al-Kabir-nya Allah adalah abadi, tidak didahului oleh suatu apapun. Beda dengan manusia, kabir (tuanya) manusia mungkin di tempat tertentu ia menjadi orang paling tua, tapi di tempat lain belum tentu dia paling kabir (tua). Al-Kabirnya Allah abadi, terus menerus dan tidak akan berakhir. Sementara kabirnya manusia akan berakhir.

Al-Kabirnya Allah Ta’ala, semua yang ada di alam ini bersumber pada wujud Allah Ta’ala, kalau tidak ada Allah maka alam ini tidak akan ada.

Adapun nama Allah Al-Hafizh, yaitu yang Maha Memelihara. Makna itu tidak akan dapat dipahami kecuali setelah memahami makna al-hifzh (pemeliharaan). Tidak akan dapat memahami dahsyatnya pemeliharaan Allah jika tidak mengetahui bagaimana pemeliharaan Allah terhadap manusia dan seluruh alam.

Makna al-hifzh bisa dipahami dari dua sisi;

Pertama: Allah meneruskan wujud yang ada dan mengekalkannya. Misal matahari, manusia habis menua dengan umur terbatas sementara matahari sudah lama tua tapi tidak habis-habis. Dari sejak Allah ciptakan matahari yang menurut data sains, umur bumi dan matahari sudah mencapai 37 milyar tahun. Meski sudah tua, tapi cahayanya tidak habis-habis. Allah berfirman;

Dialah (Allah) yang telah menciptakan malam, siang, matahari, dan bulan. Masing-masing itu beredar di dalam garis edarnya,” [Al Anbiya`: 33]

Artinya, sinar dari bulan mengambil cahaya matahari. Matahari dan bumi yang Allah ciptakan tidak ada habisnya. Inilah yang disebut dengan kehendak Allah meneruskan wujud yang ada dan mengekalnya.

Hal serupa juga terjadi dengan akhirat, Allah ciptakan akhirat kemudian Allah kekalkan. Allah berfirman;

Mereka kekal di dalamnya (surga),” [Al-Baqarah: 25)

Adapun pemeliharaan manusia terbatas. Contoh kecil ketika seseorang melihara anak yang hanya puluhan tahun saja, ia merasa capek. Itu hanya memelihara fisiknya tidak memelihara nyawanya. Hal ini menunjukkan pemeliharaan manusia lemah sekali, beda dengan pemeliharaan Allah yang sempurna pemeliharaannya, Allah sangat bisa memelihara hingga detail-detailnya. Allah lah yang menjaga langit dan bumi, malaikat dan semua yang ada, baik yang panjang sekali masa keberadaannya seperti matahari dan bumi, atapun yang tidak lama masa keberadaanya seperti manusia. Jadi bila ada sesuatu yang umurnya habis bukan berarti Allah tidak dapat memeliharanya, tapi itu adalah sistem yang Allah ciptakan. Seperti masa tumbuhan pohon toge, yang Allah hanya beri masa hidup beberapa hari dan lain sebagainya. Begitu pula dengan hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan lainnya. Semua itu Allah yang memelihara, baik yang lama umurnya atau yang pendek umurnya.

Kedua: Bagaimana cara Allah memelihara? Pemeliharaan juga dilakukan oleh Allah dengan menciptakan sesuatu yang berlawanan antara satu dengan yang lain. Seperti air dan api, kalau tidak ada air mungkin seluruh alam akan habis terbakar dan sebaliknya, air bisa hilang dengan adanya api. Kedua-duanya saling berlawanan dengan karakter yang Allah ciptakan. Begitu pula Allah telah menciptakan antara panas dan dingin. Disebut suasana panas karena panas mengalahkan dingin dan sebaliknya. Semua bentuk yang ada di alam ini terdiri dari sesuatu yang berlawanan, namun saling membutuhkan. Kalaulah tidak ada yang berlawanan niscaya kehidupan di alam ini akan habis.

Allah ciptakan sesuatu yang berlawanan dalam diri manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan semua yang ada di alam ini. Kalaulah Allah tidak memeliharanya niscaya akan pecah dan hancur. Seperti halnya ketika Allah menjaga jari-jari manusia yang tetap utuh dan tidak terlepas dari tangan. Bila tidak Allah pelihara, bisa saja jari-jarinya terkena virus sehingga jari-jarinya lepas dan masih banyak contohnya. Semua itu adalah Allah yang memeliharanya dengan sistem Allah ciptakan sesuatu yang berlawanan. Sekiranya Allah tidak memeliharanya, mungkin anggota badan manusia akan terlepas dan terurai susunannya. Allah memelihara dengan cara membuat keseimbangan dan kekuatan. Seperti jari, meski kita tarik tidak akan putus jari-jemarinya karena Allah beri kekuatan.

Allah juga menyuplai yang lebih dominan sehingga mendatangkan kekuatan dan dapat melawan. Seperti panas yang dominan akan dapat menghilangkan lembab dan dapat mengeringkan sesuatu. Cara lain Allah berikan dengan menyuplai air kepada yang lemah, seperti rasa haus akan hilang dengan minum air. Allan juga beri keseimbangan antara panas dan dingin pada tubuh manusia. Bila dingin lebih dominan pada tubuh manusia maka ia akan demam, begitu juga sebaliknya. Hal itu karena terjadi ketidak seimbangan. Allah ciptakan sempurna makanan dan obat-obatan dan Allah ciptakan juga pengetahuan tentang bagaimana cara memakai obat-obatan tersebut serta cara memanfaatkan makanan dan minuman. Yang demikian itu semuanya cara Allah memelihara makhluk-Nya.

Begitulah cara Allah dan sebab yang Allah ciptakan untuk menjaga manusia dari kehancuran internis. Lalu bagaimana Allah memelihara makhluk-Nya dari ekstern? Makhluk juga menghadapi sebab-sebab kehancuran dari luar, seperti dari binatang buas atau dari orang-orang jahat. Untuk memelihara dari ekstern Allah ciptakan alat-alat detektor yang memberi peringatan dari dekat, Allah beri penglihatan berupa mata untuk melihat hal-hal berbahaya. Ketika ia melihat hal yang membahayakan maka makhluk itu dapat menghindarinya. Selain mata Allah juga ciptakan telinga untuk mendengarkan hal-hal yang mengancam dan tidak kelihatan oleh mata. Begitu juga Allah ciptakan tangan untuk melindungi diri dari bahaya, tangan dapat bergerak dan memegang senjata serta memiliki kekuatan. Allah juga ciptakan alat-alat untuk menjaga dari serangan, seperti baju besi dan lainnya. Juga Allah ciptakan senjata yang mematikan seperti pedang dan lainnya. Bila itu belum cukup untuk menjaga dari ancaman ekstern, Allah ciptakan kaki bagi manusia dan hewan, Allah ciptakan sayap bagi burung yang dapat digunakan sebagai senjata terakhir untuk kabur. Sungguh sempurna pemeliharaan Allah dan tinggilah kekuasaan Allah.

Ada juga ciptaan Allah yang dipelihara dengan kulit yang selalu basah seperti rumput yang merambat, ada juga yang dipelihara oleh Alalh dengan duri seperti binatang landak dan ada juga yang Allah pelihara dengan kulit seperti kelapa. Seandai kelapa kulitnya seperti kulit semangka, maka ketika jatuh pasti akan hancur. Sebaliknya, Allah pelihara semangka yang tidak kuat jatuh dengan menumbuhkannya di bawah. Ada pula yang Allah pelihara dengan tanduk, taring dan kuku. Bahkan setiap tetes air yang jatuh Allah pelihara sehingga tidak menguap habis semuanya. Air yang di bumi tidak pernah habis. Air yang diletakkan di sebuah bejana dan ditinggalkan beberapa waktu maka akan didominasi oleh udara, maka udara itu akan mencabut sifat airnya. Bila dicelupkan jari dan diangkat maka air itu akan jatuh ke bawah. Tapi kalau dia terpisah dan jumlahnya sedikit maka ia akan didominasi oleh udara dan lama-kelamaan akan habis menguap. Sedangkan apabila air itu dominan seperti danau atau laut, maka air itu tidak akan pernah habis menguap meski kondisinya panas. Udara tidak akan mampu menghilangkannya. Proses yang demikian tidak terjadi dengan sendirinya, tapi itu karena sistem yang Allah ciptakan untuk memeliharanya melalui para malaikat yang ditugaskan. Dalam sebuah hadits dijelaskan;

Tidaklah turun satu tetes air kecuali ada malaikat yang menjaganya hingga air itu sampai ke bumi.”

Inilah kebenaran dan kesaksian keimanan seorang hamba terhadap apa-apa yang dapat dilihat, telah menunjukkan kepada jalan yang benar untuk beriman kepada Al-Qur’an dan Sunnah, tidak sekedar taklid (ikut-ikutan).

Pembahasan seputar bagaimana cara Allah memelihara langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya butuh waktu panjang. Dengan pengetahuan sistem tersebut, setidaknya dapat mengetahui bagaimana dahsyatnya Allah dalam dalam memelihara.

Namun demikian, meski mengetahui bahwa Allah yang memelihara tapi seorang muslim diperintahkan oleh Allah untuk bertawakal. Karenanya disunnahkan setiap ke luar rumah membaca do’a untuk bertawakal, sebab setiap orang tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam.

Perhatian:

Pemeliharaan (Hafizh) bagi seorang hamba adalah dengan menjaga angota tubuhnya dari perbuatan maksiat kepada Allah. Ia pelihara agamanya dari dorongan kemarahan dan syahwat, serta dari tipu daya setan. Pada dasarnya manusia sedang berada di pinggir jurang kehancuran, manusia juga dikepung oleh faktor-faktor yang dapat menghantarkan kepada kehancuran sehingga ia harus selalu memelihara supaya tidak terjerumus pada kehancuran. Semua itu dapat terpelihara dengan ilmu, oleh karenanya seorang muslim diwajibkan menuntut ilmu dari buaian ibu sampai liang lahad.

==========================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Asmaul Husna Al-Hafiz (Maha Memelihara).