Asmaul Husna Al-Ba’its (Maha Pembangkit)

Publikasi: Sabtu, 15 Jumadil Awwal 1436 H / 7 Maret 2015 09:36 WIB

المقصد الأسنى فى شرح أسماء الله الحسنى(MTF) — Tulisan berikut akan membahas salah satu bab dari kitab “Al-Maqshadul Asna fi Syarhi Ma’ani Asmaaillah al-Husna” karya Al-Imam Al-Ghazali rahimahullah. Tulisan berikut akan membahas nama Allah Al-Ba’its (Maha Pembangkit).

Nama-nama Allah tersusun urut seperti urutan kehidupan. Dari nama Allah Ar-Rahman sampai Al-Majid hingga kini masih dirasakan oleh makhluk-Nya, sedangkan Al-Ba’its baru dapat dirasakan di masa depan (di akhirat). Nama Allah Al-Ba’its banyak diingkari oleh orang-orang kafir karena mereka hanya mempercayai sesuatu yang masuk akal, tidak untuk hal yang ghaib. Nama Allah dari Ar-Rahman sampai Al-Majid membuat hati seorang mukmin menjadi nyambung, telinganya digunakan untuk mendengar yang baik dan matanya digunakan untuk melihat yang benar sehingga ia dapat mengambil kesimpulan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah.

Al-Ba’its adalah Dia yang menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati pada hari kebangkitan. Memahami nama Allah Al-Ba’its lebih susah dari pada memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah ada di depan mata dan tercatat dengan detail meski Rasulullah saw. sudah tiada. Sedangkan memahami Al-Ba’its maka berarti membicarakan hari esok, sehingga orang kafir tidak percaya adanya hari kebangkitan. Mereka tidak percaya bahwa Allah akan membangkitkan manusia dari alam kubur. Seperti disebutkan dalam ayat Al-Qur’an,

Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (Al-Isra: 49).

Bagaimana mereka dapat memahami nama-nama dan perbuatan Allah yang akan datang sedang mereka tidak bisa memahami nama-nama dan perbuatan Allah yang sekarang dapat dirasakan? Di hari kebangkitan akan dikeluarkan semua rekaman perbuatan setiap manusia, Allah berfirman;

Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya),” (An-Nur: 24-25).

Kebangkitan adalah kejadian berikutnya, dikatakan “Penciptaan pertama dan Penciptaan terakhir (di hari akhir)” Ketika pertama kali manusia diciptakan disebut dengan penciptaan pertama dan setelah mati akan ada penciptaan kedua di akhirat. Ciptaan fisik yang sekarang hanya berlaku di dunia karena terbatas. Seperti halnya elektronik yang mungkin umurnya hanya 5 tahuan, setelah itu menjadi sampah. Sedangkan an-nasy’atul akhirah (penciptaan terakhir) adalah abadi.

Memahami nama Allah al-Ba’its sangat terkait dengan pengetahuan hakekat al-ba’ats (kebangkitan) dan  pengetahuan ini yang paling rumit karena tidak nyata. Kebanyakan manusia memahaminya hanya berdasarkan wahm (keragu-raguan serta prasangka) dan khayalan-khayalan yang tidak jelas. Mereka hanya memahami bahwa manusia akan mati kemudian akan dibangkitkan setelah tiada seperti ketika diciptakan diawal. Allah Ta’ala berfirman;

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (Al Baqarah: 28)

Dugaan mereka bahwa yang mati itu tiada adalah kesalahan karena kematian itu tidak meniadakan, maksudnya ruhnya tidak akan hancur dengan hancurnya jasad. Sejak Allah ciptakan ruh, maka sampai hari kiamat ruh itu akan tetap ada. Untuk itu, dugaan mereka bahwa penciptaan kedua itu sama dengan penciptaan pertama adalah sebuah kesalahan. Karena penciptaan pertama selain Adam, Hawa dan Isa, itu proses penciptaannya melalui proses bertemunya sperma dan ovum. Dan tentu penciptaan kedua berbeda. Allah katakan, “An-Nasy’atul Ula wa an-Nasy’atul Akhirah“. Sehingga dugaan bahwa kematian adalah ketiadaan adalah batil. Karena kuburan itu menjadi lubang ke neraka atau lubang ke taman surga. Orang yang mati adakalanya bahagia seperti yang Allah katakan, “Mereka yang mati itu sebenarnya tidak mati, tapi mereka hidup di sisi Rab dan diberi rizki, mereka gembira terhadap karunia yang diberikan oleh Allah.” Atau mereka sengsara di dalam kubur. Ruh mereka tetap hidup merasaka kenikmatan yang Allah berikan atau kesengsaraan.

Rasulullah saw. pernah menyeru kepada orang kafir yang telah tewas di perang badar, “Sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah, lalu apa kalian juga mendapatkan janji yang dijanjikan tuhan kalian?” Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana engkau bisa berbicara dengan orang yang sudah mati?” Rasul bersabda, “Kalian tidak bisa mendengar apa yang aku katakan kepada mereka karena mereka tidak Allah beri kemampuan untuk menjawabnya.

Kesaksian batin manusia menunjukkan bagi orang yang memiliki mata hati (iman) bahwa manusia itu ciptaan untuk selama-lamanya dan tidak ada jalan untuk kesudahannya. Terkadang gerakan jasadnya berhenti tidak bergerak sehingga disebut mati, tapi suatu saat nyawanya akan dikembalikan lagi ke jasadnya sehingga hidup lagi jasadnya. Meski jasadnya tidak berasal dari jasad yang sekarang. Rasulullah saw. bersabda;

Semua bagian tubuh anak Adam akan dimakan tanah kecuali tulang sulbi yang darinya ia mulai diciptakan dan darinya dia akan dibangkitkan.” [HR. Bukhari, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad]

Syaikh Abdul Majid Az-Zandani pernah membakar tulang punggung manusia dengan 1000 derajat tapi tidak hancur. Maka ketika dikubur tulang itu tidak akan dimakan tanah sehingga dari situlah Allah akan ciptakan. Untuk membahas permasalahan ini tidak bisa diuraikan hanya dalam tulisan singkat.

Al-Ba’its adalah masa yang akan datang, kita tidak bisa memahami al-Ba’its sampai kita memahami dan menghayati nama-nama Allah sebelumnya seperti ar-Rahman, ar-rahim dan lain sebagainya sampai dengan nama Allah Al-Majid. Dengan beriman kepada hari akhir akan menjadi manusia luar biasa dan unik, seperti Nabi Muhammad yang memiliki keimanan luar biasa dan memiliki sahabat yang paling baik. Tapi beliau tidak menikmati dan terlena dengan dunia, padahal kekuasaan ada di tangannya.

Banyak manusia sejak zaman dahulu mempunya banyak problem, problem intinya adalah tidak percaya kepada hari kebangkitan. Allah berfirman;

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah,” (Al-Hajj: 5).

Memahami apa yang telah lalu merupakan modal untuk memahami apa yang akan datang. Persoalan krusial pada manusia karena mereka ragu atau bahkan tidak percaya pada hari kebangkitan. Bila manusia tidak percaya adanya hari kebangkitan, hari akhirat dan lainnya akan sangat berpengaruh kepada kehidupannya. Seperti orang kafir, mengapa mereka masih kafir? Itu disebabkan mereka tidak percaya pada hari kebangkitan dan pembalasan. Begitu pula orang mukmin dan muslim, kenapa mereka masih lalai? Hal itu karena mereka masih kurang yakin terhadap hari kebangkitan dan pembalasan. Jadi bila ada orang yang tenang-tenang saja menikmati kehidupan dunia maka itu disebabkan mereka lalai terhadap adanya hari kebangkitan dan pembalasan. Untuk itu di dalam Al-Qur’an diungkapkan kafirun, munafikun dan ghafilun. Mereka punya hati tapi tidak paham juga, mereka memiliki mata tapi tidak digunakan untuk melihat. Kehidupan mereka seperti binatang ternak, hanya makan dan makan. Mereka dilalaikan oleh dunia. Sebab itu, memahami nama Allah dari Ar-Rahman sampai Al-Majid merupakan kata kunci untuk memahami nama Allah al-Ba’its.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Al-Ba’its adalah Yang menghidupkan makhluk pada hari dibangkitkan, Yang membangkitkan semua makhluk dari kubur, yang akan membongkar semua isi hati perbuatan manusia. Al-Ba’ts juga disebut dengan kejadian berikutnya (an-nasyatul akhirah). Karena kejadian manusia itu ada dua, kejadian pertama ketika manusia diciptakan dari sebelumnya tidak ada yang disebut dengan nasyatul ula, kemudian setelah mati dan dibangkitkan lagi maka disebut dengan nasyatul akhirah. Merupakan pendapat yang batil bila manusia mati maka akan tiada dan selesai perkara, karena yang mati itu hanya fisiknya sedangkan ruhnya tidak. Sebab itu ada azab kubur, nikmat kubur dan alam barzakh (alam yang memisahkan antara alam dunia dan akhirat).

Sebenarnya sangat mudah memahami bagaimana Allah membangkitkan. Orang-orang kafir pada zaman dahulu selalu berkata;

Kalau kami sudah menjadi tulang-belulang apakah kami akan dibangkitkan?

Bagi orang kafir hal seperti itu tidak masuk akal karena mereka tidak memahami nama-nama Allah sebelum al-ba’ts. Jika telah memahami nama-nama Allah sebelum al-Ba’ts maka sangat sederhana memahami kebangkitan yang kedua. Proses kebangkitan kedua tidak sama dengan proses lahir yang pertama. Proses kelahiran pertama manusia harus menunggu bertemunya sperma dan ovum terlebih dahulu, sedangkan proses kelahiran kedua tidak perlu menunggu bertemunya sperma dan ovum karena ruhnya sudah ada. Manusia dibangkitkan kedua dengan menciptakan fisik baru manusia melalui tulang sulbinya. Adapun di surga nanti tidak akan ada nenek-nenek dan kakek-kakek karena semua penghuni surga umurnya sama. Itu disebabkan di surga tidak lagi dihitung masa terakhir umurnya sebab tinggal selama-lamanya di dalamnya, tidak seperti di dunia. Di dunia, kehidupannya terbatas. Jadi tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa kematian itu meniadakan dan selesai perkara, buktinya di kubur ada malaikat mungkar dan nangkir, manusia di kubur juga ditanya siapa Tuhan-mu, Apa kitabmu, dll? Kalau setelah mati tidak ada lagi kehidupan tentu tidak akan ada pertanyaan semacam itu.

Adapun orang-orang menduga bahwa hari kebangkitan itu tidaklah sama dengan penciptaan kedua maka dugaan itu salah, karena kebangkitan kedua dibentuk dengan bentuk yang lain, tidak sama dengan proses penciptaan pertama. Bahkan kalau dilihat dari proses penciptaan manusia, maka beberapa kali Allah proses ciptakan. Allah ciptakan manusia dari sesuatu yang manusia tidak tahu. Allah ciptakan manusia dari segumpal darah, kemudian Allah jadikan segumpal daging, kemudian Allah jadikan makhluk yang lain. Itu merupakan bentuk lain yang tidak mirip. Hal ini yang disebut dengan nasy’atul ‘ula (penciptaan yang pertama). Bahkan sperma itu sendiri merupakan ciptaan dari tanah. Kemudian Allah kembangkan menjadi sperma dan menjadi segumpal darah, dari segumpal darah Allah jadikan segumpal daging, kemudian Allah berikan ruh setelah sempurna proses penciptaan manusia. Begitu mulianya penciptaan ruh dalam diri manusia karena itu merupakan perbuatan Allah sendiri. Allah katakan, “Ketika Aku tiupkan ruh pada Adam maka semua malaikat ruku dan sujud.” Itulah kemuliaan ruh sehingga para malaikat sujud padanya atas perintah Allah. Namun demikian, jangan didalami urusan ruh karena itu urusan Allah. Setelah ruh ditiupkan, kemudian Allah ciptakan alat-alat perasa. Tanpa ruh tidak akan dapat merasakan sesuatu. Setelah anak lahir dan berumur 7 tahun, ia bisa membeda-bedakan (tamyiz). Itu merupakan ciptaan Allah. Kemudian Allah sempurnakan akal setelah berumur sekitar 15 tahun. Itu semua bagian dari ciptaan Allah dan setiap ciptaan ada fasenya seperti dijelaskan dalam surat Al-Hajj ayat 5 di atas.

Allah juga memberikan kekhususan bagi para wali Allah (orang-orang yang dekat dengan Allah), itu juga merupakan sebuah peningkatan dalam penciptaan, dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa. Itu merupakan proses nasy’ah (pengembangan) juga. Allah juga berikan kekhususan nubuwah (kenabian) kepada manusia, hal ini juga merupakan penciptaan dan peningkatan. Semua itu bagian dari kebangkitan (al-ba’ts). Oleh sebab itu, Allah menggunakan kata al-ba’ts untuk menjelaskan diutusnya para rasul. Allah berfirman;

Dial ah (Allah) yang telah mengutus kepada kaum yang umi seorang rasul,” (Al-Jumu’ah: 2).

Allah bangkitkan dari manusia biasa menjadi manusia luar biasa. Hal ini termasuk juga ba’ts sebagaimana Allah membangkitkan manusia pada hari kebangkitan nanti. Sebagaimana sulitnya anak-anak yang masih dalam fase buaian (bayi) untuk memahami hakekat pembeda sebelum tamyiz (bisa membedakan). Kesulitan itu juga dialami oleh anak-anak yang masih dalam masa tamyiz untuk memahami hakekat akal karena akalnya belum sempurna.

Kewalian yang diberikan oleh Allah itu merupakan sebuah proses yang di luar kemampuan akal kita. Sebagai contoh kecil ketika kita membaca kisah para sahabat dan ulama salaf. Seperti ibnu Hajar al-Asqolani baru sadar (bertaubat) ketika berumur 42 tahun dan beliau meninggal sekitar umur 60-65 tahun. Namun umur yang 25 tahun itu ia gunakan untuk menulis hingga 17 jilid, perjilid berisi sekitar 500 halaman. Bila dipikir itu seolah tidak masuk akal, pada hari belum ada komputer, menulis pakai tinta celup dan belum ada listrik. Tapi beliau bisa menghasilkan karya monumental hanya dalam waktu 25 tahun yang belum tentu kita bisa membacanya sampai selesai ketika hidup. Hal ini susah dilakukan kecuali oleh wali Allah dan susah dipahami oleh akal.

Karakter manusia suka mengingkari sesuatu yang belum sampai ilmunya dan tidak masuk akal. Seperti orang yang tidak pernah baca Al-Qur’an, hadits dan ilmu syar’i lainnya karena disibukkan dengan masalah dunia maka ketika diajak belajar Al-Qur’an akan susah. Bahkan ada orang yang menolak sesuatu yang belum dilihat secara langsung seperti orang-orang atheis, mereka menolak hari kebangkitan karena mereka tidak melihat dengan mata kepala. Seperti umat Nabi Musa yang berkata kepadanya;

Hai musa, kalau benar Allah itu ada tolong perlihatkan sehingga kami bisa melihat dengan mata kepala kami?

Mereka tidak mengimani dengan hal-hal yang ghaib. Karakter manusia mengingkari kelebihan yang Allah berikan kepada para wali dan nabi-Nya. Begitulah urutannya mereka mengingkari hari kebangkitan. Sesuatu urusan dunia yang tidak diketahui saja banyak manusia tidak percaya, apalagi urusan ghaib. Ketika dikatakan, “Si fulan mempunya penghasilan 50 milyar dalam sehari.” Pasti banyak manusia yang tidak percaya, apalagi bila penghasilan di hari biasa hanya 200 ribu. Hal itu disebabkan ilmu mereka belum sampai. Oleh sebab itu Allah ceritakan masalah ghaib di dalam Al-Qur’an dan sunnah rasul-Nya supaya ilmunya sampai kepada manusia. Maka kunci untuk mudah beriman kepada yang ghaib harus sering membaca Al-Qur’an dan Sunnah rasul.

Kalaulah orang dewasa bercerita tentang keajaiban-keajaiban kepada orang yang belum dewasa, pastilah hal itu akan diingkari oleh anak itu karena ilmu belum sampai kepadanya. Siapa yang beriman kepada sesuatu yang belum sampai ilmu padanya maka ia bisa beriman kepada yang ghaib. Seperti kisah Abu Bakar, ketika Rasulullah saw. menceritakan proses isra’nya selama semalam bisa pergi dari masjidil haram ke masjidil aqsha hanya semalam, sebelum shubuh sudah kembali. Bila secara teori, perjalanan dengan naik onta dari masjidil haram ke masjid al-qasha butuh waktu sebulan. Secara logika seolah tak mungkin, tapi Abu Bakar tetap mempercayainya. Bahkan Abu Bakar berkata ketika ditanya oleh kafir Quraisy, “Jangankan jalan sampai masjidil Al-Aqsha hanya dalam waktu semalam, sampai langit ketujuh pun saya percaya.”

Oleh sebab itu, iman kepada yang ghaib merupakan kunci kebahagiaan. Sepintar apapun seseorang, dan sekaya apapun seseorang itu jika tidak beriman kepada yang ghaib maka dia tidak akan pernah merasa bahagia. Hal itu wajar, karena mereka tidak akan masuk surga disebabkan tidak mengimani yang ghaib. Kebahagiaan yang hakiki itu adalah ketika sudah masuk surga.

Jarak masa fase akal dengan akal sangat jauh sekali. Seperti manusia biasa dengan para wali Allah itu sangat jauh jaraknya, begitu juga para wali Allah jauh sekali jaraknya dengan para Nabi, apalagi dengan hari kebangkitan tentu sangat jauh. Hanya saja, perubahan fase-fase itu dalam satu kesatuan dan fase-fase itu merupakan tangga menuju kepada kesempurnaan. Pada akhirnya di sisi Allah nanti apakah Allah akan menerima dan menolaknya? Bila diterima berarti ia dinaikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Orang yang tidak mengerti kebangkitan dan hari penciptaan maka ia tidak akan paham pengertian dan makna nama Allah Al-Ba’its. Pembahasan seputar nama Allah Al-Ba’its bisa diulas dalam tulisan yang singkat.

Perhatian:

Hakekat kebangkitan ialah kembali kepada proses menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan menciptakan mereka kembali. Bodoh terhadap ilmu akhirat dan hari kebangkitan adalah kematian yang sangat besar. Dan ilmu tentangnya adalah kehidupan yang sangat mulia. Allah telah menyebutkan tentang ilmu dan kebodohan dalam Al-Qur’an sebagai kehidupan dan kematian. Siapa yang dirinya meningkat dari kebodohan kepada pengetahuan maka ia telah berpindah dari satu kejadian ke jadian yang lain, dari kematian kepada kehidupan yang baik. Kendati pun bagi seorang hamba ada pintu masuknya yaitu ilmu dan do’a kepada Allah, keduanya bagian dari proses supaya bisa hidup yang sesungguhnya. Karenanya, orang yang tidak menuntut ilmu dan tidak mau berdo’a maka ia telah mematikan dirinya sendiri. Seorang hamba tinggal memilih, mau hidup atau mati. Bila ingin hidup maka ia harus menuntut ilmu dan jika ingin mati maka cukup dengan meninggalkan ilmu. Orang yang menuntut ilmu berarti ia menuju tingkat para nabi dari segi ilmunya, karena ilmunya para nabi diwariskan kepada para ulama. Adapun dari segi martabat, manusia biasa tidak akan mungkin menyamai derajat para nabi.

Kesimpulannya, seorang hamba tidak saja butuh pada iman, karena seseorang dapat masuk surga disebabkan iman dan amal mereka. Amal tidak akan diterima oleh Allah melainkan didasari dengan ilmu yang benar. Waallahu a’lam.

====================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Asmaul Husna Al-Ba’its (Maha Pembangkit).