Aqiqah dan Hukum-Hukumnya

Publikasi: Kamis, 5 Sya'ban 1437 H / 12 Mei 2016 14:01 WIB

akikahMTF-ONLINE.COM, Makna Aqiqah

Aqiqah secara bahasa maknanya al-qoto’ yang terputus, dalam bahsa arab maknanya ketika sesuatu itu terputus, tidak mau berhubungan, komunikasi dan lan sebagainya, semakna dengan ungkapan uququl walidain artinya memboikot atau memutuskan hubungan terhadap orang tua.

Secara syari’ arti aqiqah yaitu menyembelih hewan berupa kambing ketika bayi yang di lahirkan berumur tujuh hari, dalilnya sangat banyak baik secara istihbab (nama lain dari sunnah yang dicintai dilakukan oleh rasulullah) diantaranya:

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَعَ اْلغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَاَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا وَ اَمِيْطُوْا عَنْهُ اْلاَذَى

Dari Salman bin ‘Amir Adl-Dlabiy, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tiap-tiap anak itu ada ‘aqiqahnya. Maka sembelihlah binatang ‘aqiqah untuknya dan buanglah kotoran darinya (cukurlah rambutnya)“. [HR. Bukhari juz 6, hal. 217]

Diriwayatkan dari ashabus sunan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama” [HR Abu awud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 dll dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani dan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah hlm. 97]

Dijelaskan dalam kitab-kitab sunan itu bahwa setiap yang lahir itu tergadai dengan aqiqahnya, bagaimana cara aqiqahnya? disembelih untuknya hewan pada hari ketujuh dari kelahirannya, jadi ketika dia lahir hari sabtu maka di sembelihkan pada hari jum’at karena sepekan 7 hari. diberi nama pada hari itu dan di cukur rambutnya pada hari itu juga.

Baca juga update MTF lainnya:

Dari Imam Ahmad. seorang bayi laki-laki itu ada dua ekor dan cukup dua ekor, sedangkan anak perempuan satu ekor.

Sebagaimana Hadits dari rasulullah,

عَنْ اُمّ كُرْزٍ اَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنِ اْلعَقِيْقَةِ فَقَالَ: نَعَمْ. عَنِ اْلغُلاَمِ شَاتَانِ وَ عَنِ اْلجَارِيَةِ وَاحِدَةٌ، لاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ اَمْ اِنَاثًا.

Dari Ummu Kurz (Al-Ka’biyah), bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka jawab beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Tidak menyusahkanmu baik kambing itu jantan maupun betina“. [HR. Tirmidzi, dan ia menshahihkannya, juz 3, hal. 35, no. 1550]

Dari Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Tsamroh dari nabi saw..

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى.

Dari Samurah bin Jundab, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tiap tiap anak tergadai (tergantung) dengan ‘aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke-7, di hari itu ia dicukur rambutnya dan diberi nama“. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 106, no. 2838]itulah hadits-hadits yang jelas menerangkan tentang akikah]

Pendapat para ulama tentang di syariatkannya aqiqah

Ada tiga pendapat yang berkaitan tentang masalah aqiqah ini

Pendapat pertama; aqiqah sunnah dan sangat di anjurkan/disenangi ini adalah pendapat imam Malik, Syafii dan sahabatnya Imam Ahmad Ishak Abu Tsaur dan banyak ulama-ulama fiqih lainnya selain dari mereka, dalilnya sebagai mana yang telah disebutkan sebelumnya.

Tetapi ada juga diantara mereka mengatakan wajib akan tetapi pendapat yang mengatakan wajib terbantahkan, karena seandainya aqiqah itu wajib maka pastilah akan di uraikan dalam agama ini secara gamblang karena sangat di butuhkan sebagaimana shalat tidak boleh di sembunyi-sembuyi kalau tidak di lakukan akan menjadi masalah,  dan kalau itu wajib maka pastilah rasul akan menguraikan masalah tersebut dengan penekanan-penekanan yang cukup, sehingga terbangunlah hujjah dan tidak ada lagi alasan udzur yang berlaku.

Buktinya rasul mengaitkan aqiqah itu dengan ucapan mahabbah (senang) rasulullah saw bersabda bila kalian di beri anak kalau kalian ingin malakukan perbuatan nusuk (ibadah) yang dicintai maka silahkan (aqiqah). Kalau seandainya wajib maka rasul tidak akan seperti ibu membicarakannya.

Walaupun rasulullah saw, melakukan (aqiqah) setelah ulama menganalisa ternyata berbeda tentang cara beliau melakukannya dengan shalat dan puasa yang mana ini menunjukan istihbab, karena seandainya wajib maka tidak ada toleransi. Contohnya shalat yang tidak ada toleransi,dari sinilah para ulama kelompok pertama ini berkeyakinan kalau aqiqah merupakan perbuatan yang sunnah dan di cintai oleh rasulullah saw.

Pendapat kedua; mengharuskan dan mewajibkan, mereka adalah kelompok Imam Hasan al-Bashri dan Laits bin Saad dan yang lainnya. Dalil yang mereka gunakan adalah sebagaimana yang di riwayatkan oleh Buraidah dan Ishak bin Rahwaih, rasulullah saw, mengatakan bahwa manusia nanti di tampilkan pada hari qiyamat bersama aqiqahnya sebagaimana di tampilkan bersama shalatnya, mereka juga mengambil dalil yang sama dari hadits bahwa setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, mereka berargumen bahwa setiap anak akan terhindar dari memberi syafaat kepada kedua orang tuanya sampai kedua orang tuanya memberikan ia aqiqah. Inilah menurut mereka yang wajib.

sekarang pertanyaannya bagaimana bagi orang yang tidak mampu seandainya aqiqah itu wajib?

Pendapat ketika; mengingkari syariat aqiqah yaitu sebagian mazhab fiqih ulama-ulama yang berpegang pada Imam Hanafi dalil mereka adalah pernah suatu ketika rasulullah saw, di tanya tentang aqiqah beliau menjawab bahwa baliau tidak senang dengan aqiqah, ada sebuah riwayat ketika Fatimah akan melahirkan dan ingin mengakikahkan anaknya dengan dua ekor domba, lalu rasulullah saw mengatakan tidak usah kamu aqiqahkan dan potonglah rambutnya dan bersedekahlah kamu seberat rambutnya itu dengan uang perak ini juga yang mereka jadikan dalil.

Ada satu poin yang hebat dari rasulullah saw yaitu bahwa beliau sangatlah mengetahui kondisi orang, kemudian rasulullah juga ketika ada seseorang yang datang menanyakan sesuatu kepada beliau, beliau akan melihat kondisi orang tersebut maka syariat ini tidak ada yang membebankan bagi orang mukmin, dan tidaklah berkurang keimanan kita tatkala tidak mampu untuk malakukan suatu amal. Karena sesungguhnya Allah maha tau, yang berkurang adalah ketika mampu namun tidak kita lakukan karena agma memberikan kita kemudahan.

Walaupun demikian secara dzohir hadits-hadits yang di jelaskan oleh para fuqoha tersebut adalah merupakan penekanan untuk melakukan sunnah tersebut yang berbeda dari mereka adalah dari cara pandang saja, maka jumhur ulama memandang bahwa aqiqah merupakan sunnah lalu bagaimana dengan hadits yang mewajibkan diatas,? ternyata setelah di analisa hadits-hadits tersebut tidak ada dasarnya yang kuat.

Kesimpulannya aqiqah sunnah ini merupakan pendapat jumhur ulama adapun yang mewajibkan hanyalah sebagian kecil saja, demikian juga yang mengharamkan sangatlah sedikit

wallahu a’alam bissowwab

================

*Tulisan di atas ditranskrip dari audio rekaman kajian MTF disampaikan oleh Ust. Fathuddin Ja’far, MA dan diadakan setiap Sabtu Pagi di Masjid Al-Ikhwan, Bukit Cengkeh I, Cimanggis, Depok. Untuk mendengarkan audio rekamannya, klik Aqiqah Dan Hukum-Hukumnya